
Matahari mulai tergelincir ke arah barat. Cuaca yang cerah membuat tubuh menjadi gerah. Apalagi dengan temperatur udara yang berubah-ubah, membuat orang di dalam ruangan tanpa AC serasa tidak betah.
"Jadi gimana? Mau beli gaun dimana? Mas Rayan katanya mau antar kita ke butik," tanya Prima saat mereka usai semua kelas hari ini, mengingat pesta itu tinggal dua hari lagi. Saat ini mereka sedang mengisi suplemen di kantin Bu Ida.
"Enggak ah, aku enggak mau beli di butik. Entar pingsan lihat harganya. Lagian enggak enak digratisin terus sama Mas Rayan," Nadia menolak untuk membeli gaun di butik dan juga merepotkan Rayan. "Anterin aku ke Tanah Abang saja, Yuk. Aku lihat di online shop harga 300 ribuan sudah dapat bahan yang halus dan nyaman dipakai," pinta Nadia.
"Kenapa tidak sekalian order saja di toko itu?" cetus Prima.
"Aku takut pengirimannya lama, udah gitu takut kecewa juga kalau yang datang ternyata enggak sesuai dengan yang kita mau," jelas Nadia. "Yuk!" ajaknya lagi.
"Harus sekarang?" tanya Prima sambil bermain ponsel.
"Enggak, tahun depan," jawab Nadia ketus.
"Pestanya 'kan besok malam, Nad. Kenapa harus nunggu tahun depan?"
"Aduh," ucap Nadia mengetok jidatnya sendiri.
"Hehehe, iya-iya. Habisin makanannya dulu, kasihan kan sudah dipesan," sahut Prima.
"Ya, iya lah. Masa sudah dipesan dianggurin, mana harga anggur lagi mahal. Apalagi kalau sudah basi dan jadi minuman, hahaha," seloroh Tania.
"Ayo makan! Jangan banyak berbicara nanti tersedak," Prima mengingatkan sahabatnya.
Setelah menghabiskan makanan dan membayarnya, Prima dan Nadia meninggalkan kantin, melangkah menuju ke tempat parkir.
"Pasti kamu enggak bawa helm 'kan?" tebak Prima mengingat sahabatnya tadi pagi berangkat dengan berjalan kaki.
"Iya lah, masa jalan kaki pakai helm? Kayak ulat pohon jeruk saja. Hahaha ...." Nadia menjawab pertanyaan Prima dengan gurauan. Prima hanya menggelengkan kepala.
Sebelum mereka sampai di area parkir motor, seseorang menghentikan mobilnya di samping mereka. Kaca mobil nampak sedikit demi sedikit terbuka, menampilkan wajah seorang pemuda yang mereka kenal.
"Mau kemana kalian?" tanya Rayan.
"Mau pulang, Mas," sahut Nadia.
"Masuk mobilku!" perintah Rayan yang tidak percaya dengan jawaban Nadia.
"Motorku?" tanya Prima.
"Tinggal! Ambil nanti atau besok!" titah Rayan lagi.
Tidak mau memperpanjang waktu, Nadia dan Prima pun membuka pintu mobil belakang Rayan dan masuk.
"Kenapa di belakang semua? Aku ini kayak sopir kalian saja," keluh Rayan.
Nadia dan Prima merasa sedikit kesal dengan dengan ucapan Rayan.
"Terus Mas Rayan mau kita yang nyetir?" sergah Nadia.
"Bukankah Mas Rayan memang lagi butuh lowongan jadi sopir ya? Ini kan kesempatan kamu mas," sambil tersenyum devil Prima mengingatkan calon kekasihnya karena dia pernah bilang lagi mencari lowongan menjadi sopir. cieee ... calon kekasih.
"Bilang saja kalian tidak mau menemani aku," sergah Rayan mulai melajukan mobilnya. "Kalian mau kemana sih sebenarnya?" tanyanya.
"Tanah Abang," jawab Nadia dan Prima kompak.
"Tanah Mas saja, ya?" goda Rayan.
"Terserah Mas Rayan deh," sungut Nadia.
__ADS_1
Tidak ada gunanya meladeni orang yang lagi suka-sukanya membelak-belokan omongan lawan bicaranya. Hingga Rayan memarkirkan mobilnya dengan cantik di depan sebuah bangunan elite nan megah.
"Kok di sini sih, Mas? Aku kan minta diantar ke pasar Tanah Abang," protes Nadia.
"Ini tanah Mas. Sama aja 'kan Mas sama Abang? Ayo turun! Kalau enggak mau turun aku kunci dari luar!" sahut Rayan santai disertai ancaman. Rayan langsung membuka pintu mobil di sampingnya dan melenggang pergi tanpa mempedulikan kedua gadis yang dibawanya.
"Aku enggak mau turun ah, Prima. Nanti kalau uang aku enggak cukup buat bayar gaunnya, terus aku disuruh menggantinya dengan bekerja rodi di butik itu tanpa dibayar, gimana? Ih ngeri," ucap Nadia bergidik ngeri membayangkan hal buruk yang akan dialaminya.
"Kamu ini parno banget tahu, Nad. Kamu mau kita dikunci di dalam mobil enggak bisa keluar? Terus di sini kita kehabisan oksigen dan menghirup gas beracun apa gitu namanya aku lupa, terus meninggal. Kamu pernah lihat enggak sih berita di televisi, ada orang yang meninggal di dalam mobil yang terparkir?" sergah Prima. Nadia jadi tambah bergidik ngeri mendengar penuturan sahabatnya tersebut. "Yuk ah turun!" ajak Prima yang membuka pintu di sampingnya dan langsung ngacir menyusul Rayan ke dalam bangunan megah tersebut membuat Nadia melongo.
"Kalian ini sebelas dua belas ya," gerutu Nadia.
Dengan sangat terpaksa, Nadia pun akhirnya ke luar dari mobil, menutup pintu dan menyusul mereka berdua. Nadia berhenti melangkah sejenak, menatap bangunan megah tersebut 'Kumala butik' tertulis mengkilap di plakat bagian atas. Ia kembali melangkah. Namun, hingga langkahnya masuk ke dalam butik ia tidak menemukan salah seorang pun baik Prima atau pun Rayan di dalam butik tersebut.
'Sialan mereka, pasti sengaja mengerjai aku,' batin Nadia mulai kesal.
Rasanya Nadia ingin pulang saja, tetapi dia belum hapal jalan kembali pulang ke rumah kost nya. Ia mau pesan ojek online atau taksi online untuk mengantar, tetapi ia belum sempat memasang aplikasinya. Ponsel kentangnya cuma muat untuk telepon, SMS, WhatsApp messenger dan aplikasi google lainnya serta aplikasi bawaan ponsel. Rasanya Nadia ingin menangis saja saat itu juga. 'Kan bisa minta petunjuk arah jalan pakai google map, Nad. Mana Nadia kepikiran sampai ke situ? 'Kan ceritanya lagi kesal.
Nadia sudah mencoba menelepon dan mengirim chat WhatsApp tetapi di jawab sama oleh Prima dan juga Rayan, 'di dalam butik.' Di dalam butik di mananya?
"Selamat datang, Kak. Silakan dipilih. Kakak mau cari apa?" Seorang Pramuniaga butik menyapanya.
"Aku mau cari gaun buat dipakai ke acara perayaan ulang tahun perusahaan, Mbak," jawab Nadia.
"Oh, silakan, Kakak. Kebetulan kami lagi mengadakan diskon besar-besaran. Mari ikut saya!" sahut Pramuniaga tersebut mempersilakan.
Seketika sudut bibir Nadia tertarik ke atas membentuk lengkungan senyum. Matanya tampak berbinar. Ada harapan besar ia bisa memiliki gaun-gaun di butik tersebut.
Nadia menghampiri gaun-gaun pesta muslimah yang tergantung di hanger pajang. Ia mulai menyentuh tekstur bahan, model dan tentu saja menelisik bandrol gaun-gaun tersebut. Ternyata memang harganya tidak jauh beda dengan harga gamis yang ia beli di pasar.
"Baju-baju bagus begini kok harganya seperti di pasar ya? Apa yang punya enggak rugi? Buat kasih honor karyawan gimana?" gumam Nadia. Ia lalu mengambil tiga dress yang ia rasa ukurannya pas dengan tubuhnya untuk di coba di ruang pas.
Keluar dari dalam ruang pas, Nadia menyerahkan kembali blus dan celana yang dipilihnya kepada Pramuniaga butik yang masih dengan setia menunggunya.
"Ada lagi, Kak?" tanya pelayan butik tersebut dengan ramah.
"Emm ..., tolong Carikan kerudung segi empatnya sekalian ya, Mbak, yang cocok dengan warna dress ini," sahut Nadia menunjuk ke dress yang dipilihnya.
"Untuk ke pesta ya, Kak?" tanya Pramuniaga butik.
"Iya, Mbak," sahut Nadia.
Pramuniaga butik mengajak Nadia menuju ke bagian kerudung, mencocokkan salah satu kerudung dengan dress yang masih dipegangnya, dan meloloskan kerudung tersebut dari rak.
"Yang ini kayaknya cocok, Kak. Gimana menurut Kakak?" tanya Pramuniaga butik meminta pendapat Nadia.
"Iya, Mbak. Warnanya senada," sahut Nadia mengangguk.
"Ada lagi, Kak?" tanya Pramuniaga butik memastikan jika masih ada yang akan diambil oleh calon pembeli yang ada di hadapannya.
"Sudah cukup itu saja, Mbak," sahut Nadia.
"Baik, Kak. Mari ikut saya ke bagian kasir," ajak sang Pramuniaga.
Nadia membuntuti pramuniaga butik tersebut menuju ke kasir, lalu membayar jumlah total belanjaannya.
"Terima kasih, Kakak. Silakan datang kembali di lain waktu," ucap kasir sambil menyerahkan papperbag yang berisi belanjaan kepada Nadia.
"Sama-sama, Mbak."
__ADS_1
Nadia lalu mengirim pesan kepada Rayan dan Prima. Pesan yang sama untuk dikirim ke dua orang tersebut.
[Aku sudah mendapatkan apa yang aku cari, sekarang kalian keluar!]
Pesan WhatsApp tersebut langsung mendapatkan balasan dari Prima
[Aku dan Mas Rayan sudah di luar butik kok.]
Nadia bergegas ke luar dari dalam butik. Rayan dan Prima yang sedang duduk di teras, melihat Nadia keluar dari arah pintu segera berdiri dan melangkah.
"Belanja, Non? Berat ya belanjaan Nona? Perlu bantuan?" ledek Rayan mengikuti Nadia.
Nadia hanya menunjukkan mimik muka datar sambil terus melangkah ke arah mobil. Rayan dengan segera mendahului Nadia untuk membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Silakan, Nona-nona!"
"Terima kasih, Mang sopir," sahut Nadia tertawa, karena ia sudah tidak tahan untuk menahannya.
Rayan menutup kembali pintu penumpang dan melangkah memutari bagian depan mobil. Ponselnya berdering, ia segera menggeser ikon berwarna hijau.
"Iya, Mas?"
"...."
"Beres!"
Rayan segera memasukan ponselnya ke dalam tas selempang. Membuka pintu depan mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Mau diantar ke mana lagi, Nona?" tanya Rayan sebelum melajukan mobilnya.
"Pulang, Mang," sahut Nadia.
Mobil pun bergerak perlahan meninggalkan Kumala Butik.
********
Satu jam sebelumnya di ruang rektorat.
"Mas, Nadia minta diantar oleh Prima ke pasar Tanah Abang tuh. Katanya mau nyari dress buat dipakai di ulang tahun ARD's Corp besok malam," Rayan melaporkan apa yang diterima dari pesan WhatsApp Prima pada sang kakak, Rasya.
"Kenapa kamu enggak suruh Prima untuk ajak ke butik milik teman kamu saja, siapa namanya?" sergah Rasya tanpa beralih dari berkas yang dibukanya.
"Niken? Sudah, Prima sudah nawarin, tetapi dia bilang Nadia takut sampai di sana malah pingsan kalau lihat harga dress di butik. Prima juga bilang dia tidak mau merepotkan orang lain, kecuali kakaknya," sanggah Rayan.
"Hahaha, kamu ini kayak bukan adikku saja, Ray. Suruh pelayan butiknya buat menghapus satu atau dua digit angka yang ada di bandrol, biarkan dia membayar sendiri. Nanti kekurangannya Mas yang bayar," cetus Rasya.
"Eh, boleh juga ide kamu, Mas," puji Rayan.
"Sudah sana, seret mereka ke butik. Nanti keburu mereka naik motor ke Tanah Abang, 'kan jauh. Bisa-bisa jadi eksotis warna kulit mereka," suruh Rasya.
"Hahaha ..., Mas Rasya bisa saja. Biarpun eksotis tetapi kan manis," timpal Rayan disertai kekehan.
Rayan yang memang memarkirkan mobilnya di depan ruang dosen, segera keluar dari ruangan dan mengemudikan mobilnya tersebut meninggalkan kampus. Saat hampir sampai di area parkir motor, ia bertemu dengan Prima dan Nadia. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rayan pun menghentikan mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
TBC