
Selama satu minggu berada di kampung halaman, Nadia mengisi hari-harinya dengan membantu Mamaknya menunggui padi di sawah. Beberapa hari lagi padi tersebut akan dipanen. Namun, Nadia tidak berani menggunakan suaranya yang keras untuk mengusir burung-burung yang memakan padi di sawah tersebut, karena jika ia menjerit bekas jahitannya masih terasa nyeri. Ia hanya memukul bunyi-bunyian yang dipasang di sawah tersebut.
Saat sedang sendiri kadang ia teringat pada nasib yang menimpanya. Kenapa ia tidak mati seketika saja saat penusukan itu. Kenapa ia harus hidup dan menjadi perempuan yang tidak sempurna. Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang boleh dikatakan mandul seperti dia. Bahkan seorang duda yang sudah mempunyai seorang anak pun kini berpaling, tidak mau menyapanya lagi.
"A'ang, yuk pulang. Sudah hampir dhuhur, burungnya juga sudah mulai berkurang karena hari sudah semakin panas," ajak Nindya tiba-tiba yang membuat Nadia kaget.
"Ayo, tapi jangan cepat-cepat jalannya, A'ang belum bisa jalan cepat," pinta Nadia.
"Iya, Ang. Ini juga enggak cepat," sahut Nindya.
Saat telah memasuki perkampungan, Nadia melihat anak-anak yang di antara mereka ada yang seusia Tiara.
"Tiara," lirih Nadia yang masih bisa didengar oleh Nindya.
"Tiara siapa, Ang? Anak kecil itu namanya Keysha bukan Tiara."
"Anak itu mirip Tiara, anak dosen A'ang," jawab Nadia.
"Oo, A'ang lagi kangen sama Tiara ya?" tanya Nindya lagi.
"Iya," jawab Nadia singkat sambil tersenyum.
"Kangen sama papanya juga, kan?" goda Nindya.
"Apaan sih kamu, jangan ngaco!" sergah Nadia.
Nindya malah tertawa, "Hahaha, A'ang. Kangen juga Nindy enggak apa-apa kok," Nindya masih terus menggoda sang kakak.
"Mana boleh? Pak Rasya itu selain dosen juga berasal dari keluarga konglomerat. A'ang mana berani mempunyai perasaan rindu sama dia. Memangnya siapa A'ang? Cantik enggak, cuma gadis kampung miskin yang mencoba peruntungan kuliah karena beasiswa. Apalagi kondisi A'ang sekarang sudah kehilangan sebelah peranakan. Menyukai pemuda yang setara derajatnya dengan kita saja A'ang tidak berani. Apalagi orang yang bagaikan raja seperti dia," tutur Nadia menahan sesak di dadanya.
Nindya terperangah mendengar ucapan kakaknya, "A'ang kenapa jadi pesimis begini sih? Mana A'angnya Nindy yang semangat 45nya membara dulu?" sergahnya. "Ang, jodoh, rezeki, mati kita itu sudah diatur sama Allah dan sudah tertulis di kitab Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini, Ang," imbuhnya.
"Entahlah, Nindy. Enggak usah bahas itu lagi ya. A'ang masuk kamar dulu ya," ucap Nadia menghindari pembahasan saat mereka sampai di dalam rumah.
Nadia mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, membaringkan tubuhnya miring membelakangi pintu, air mata yang sejak tadi ditahannya kini menyeruak sudah tidak dapat dibendung lagi. Dalam hati ia selalu menanamkan kata 'Allah Maha Adil', tetapi kenyataan yang dialaminya saat ini seakan-akan mengkhianati kata tersebut. Bukannya ia menyesali perbuatannya yang telah menolong dua nyawa. Nyawa sahabat yang baru setengah tahun dikenalnya dan calon anak yang berada di dalam kandungannya. Hal inilah yang mendorong alam bawah sadar Nadia untuk bangun dari komanya.
Ya, kamu adalah pahlawan, Nadia. Pahlawan yang telah menyelamatkan nyawa Tania dan bayi yang dikandungnya. Pahlawan buat Tiara yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya. Mungkin masih banyak lagi orang-orang yang membutuhkan jasamu.
Setengah harian Nadia mengurung diri di dalam kamar. Hingga saat keluarganya hendak makan malam bersama ia pun belum keluar juga.
"Nindy, A'ang kamu seharian tidak keluar dari kamar, apa dia sakit lagi?" tanya Mimik.
"Nindy tidak tahu, Mik. Tadi sebelum masuk kamar, A'ang cerita tentang Tiara," jawab Nindya.
"Kalian makanlah dulu, Mimik panggil A'ang Nadia sebentar," ucap Mimik meninggalkan ruang makan.
Mimik membuka pintu kamar Nadia, terlihat olehnya Nadia yang dengan wajah sembab sedang duduk berselonjor kaki dan bersandar pada sandaran ranjang.
__ADS_1
"Nadia, boleh Mimik masuk?" tanya Mimik sembari membuka pintu. Nadia hanya diam, tetapi anggukan kepalanya menandakan bahwa ia mengijinkan mimiknya masuk.
Mimik melangkah mendekat dan duduk di sisi ranjang. Disentuhnya kening anak perempuan paling besarnya tersebut. "Luka kamu masih sakit, kok enggak makan?" tanyanya yang hanya mendapat gelengan dari Nadia. "Makan ya, Sayang. Mimik bawakan ke sini nasinya?" tawarnya. Kali ini Nadia mengangguk.
'Yang sakit hati Nadia, Mik,' batin Nadia.
Mimik kembali keluar dari kamar Nadia menuju ke ruang makan untuk mengambilkan makanan. Ia mengambil sebuah piring, kemudian langsung mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, tidak lupa mengambilkan segelas air putih. Mimik langsung kembali ke kamar putrinya tersebut. Meletakkan piring dan gelas yang dibawanya di meja.
"Dimakan ya, biar cepat sehat. Mimik makan di belakang. Jangan pikirkan Tiara lagi," suruh Mimik kemudian langsung keluar meninggalkan Nadia.
Nadia segera menyantap makanannya, karena ia memang sudah lapar sejak siang tadi perutnya belum kemasukan apa-apa.
Setelah menyelesaikan makannya, Nadia membawa piring kotornya ke dapur, kemudian kembali lagi masuk ke kamarnya. Kembali duduk dan termenung. Tiba-tiba ponselnya berdering. Diraihnya ponsel pintarnya tersebut, terlihat akun Rayan, Prima dan Tania di sana. Nadia menggeser ikon berwarna hijau. Kini terpampang di layar ponselnya wajah Tania, Rayan dan Prima.
"Hai semua, aku rindu kalian," sapa Nadia pada ketiga sahabatnya.
Prima menampakkan wajah dengan mata berkaca-kaca. "Kalian kompak banget sih ninggalin aku sendirian," gerutu Prima.
"Aku 'kan enggak mau ganggu kemesraan kalian," sanggah Nadia.
"Iya, Pim. Lagian di Jakarta aku nggak ada kegiatan apa-apa," timpal Tania.
"Iya, tapi sekarang Mas Yayan juga ikut pergi," tutur Prima yang sudah mulai menangis.
Nadia dan Tania menampilkan wajah terkejutnya.
"Alhamdulillah, sehat. Masih satu bulan lagi Mas. Memang Mas Rayan jadi ngambil S2 di mana?" jawab dan tanya Tania.
"Aku kuliah di Australia, Tan. Baru berangkat kemarin sore," jawab Rayan. "Oh iya, Tiara merindukan kalian lho, terutama kamu, Nanad. Kemarin lusa dia sempat tidak mau makan kalau tidak disuapi sama kamu," imbuhnya.
Mata Nadia kembali berkaca-kaca, "Aku juga merindukannya. Kapan ya aku ketemu sama dia lagi?" sahut Tiara.
"Kamu benaran mau menunggu sampai semester depan, Nanad? Apa lukamu masih sakit untuk melakukan aktivitas?" cecar Prima. "Aku di sini sendirian, mau melakukan apa-apa jadi malas. Mau gabung sama teman-teman yang lain nggak enak, enggak terbiasa," keluhnya.
"Aku enggak tahu, Pim. Mungkin besok-besok kalau sudah enakan aku akan kembali ke Jakarta. Sekarang mungkin Mamak dan Mimik juga masih kangen sama aku secara aku belum lama sadar dari koma, dan juga liburan kemarin aku enggak pulang," tutur Nadia.
Tiba-tiba wajah Edos menyembul di layar ponsel Tania. "Tidak ada yang kangen sama aku nih?" tanyanya.
"Kalau kujawab aku kangen sama kamu, nanti ada yang nangis guling-guling," sahut Nadia tertawa.
"Eh, mana bisa dia nangis guling-guling? Orang perutnya besar gitu. Yang ada dia cuma bisa nangis telentang hahaha," timpal Edos tertawa melirik ke arah Tania.
"Wah, hebat dong Tania bisa telen tang. Enggak sekalian saja telen gunting, obeng atau kunci Inggris, Tan? hahaha," timpal Rayan tanpa bisa menahan tawa membuat yang lain ikut tertawa.
"Ih, ini suami apaan sih? Senang benar istri sendiri dibuli," Tania mencebik mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, kami cabut dulu ya. Sudah malam, tapi kami masih ada sedikit urusan tentang telentang hahaha," pamit Edos.
__ADS_1
"Ih, tapi aku masih kangen sama mereka, Yank," ucap Tania protes.
"Masih bisa disambung besok lagi, Say. Sudah malam," bujuk Edos pada istrinya. Lalu seketika gambar mereka menghilang.
"Mas Rayan juga pamit ya, Nanad, Ayang Pipim. Ada keperluan," pamit Rayan.
Prima juga memutus video callnya. Hati Nadia bergetar sejak mendengar penuturan Rayan kalau Tiara kangen sama dia. Hingga obrolan mereka berakhir pun bayangan anak kecil itu masih saja bercokol di pikirannya. Nadia membuka kembali ponselnya, mencari foto Tiara di galery foto. Ia menemukan sebuah foto dirinya bersama Tiara saat di mall. "Mama Nanad juga kangen kamu, Tiara," lirihnya.
Sementara itu di rumah Pak Baskoro, Nina sedang menidurkan Tiara, tetapi anak itu belum mau tidur juga.
"Nina, Mama Nanad tapan cini?" tanya Tiara pada Nina.
"Non Tiara kangen sama Mama Nanad ya? Besok Papa mau jemput Mama Nanad. Sekarang Non Tiara bobo dulu ya," jawab Nina.
'Duh ... sampai kapan aku harus berbohong sama anak kecil ini? Tiap malam sebelum tidur aku selalu membohonginya.' Nina membatin.
"Becok teyus?" cebiknya cemberut.
"Kalau Mbak Nina yang jadi papanya non Tiara ya pasti udah Mbak Nina jemput tuh Mama Nanad, tapi Mbak Nina kan tidak tahu rumah Mama Nanad dimana? Mbak Nina juga tidak bisa naik mobil. Kalau Mbak Nina nyusul Mama Nanadnya naik bus, nanti malah Mbak Nina tersesat. Terus Non Tiara udah kehilangan Mama Nanad, malahan kehilangan Mbak Nina juga dong nanti," tutur Nina panjang lebar.
Mata Tiara masih awas, ia menunggu penuturan Nina selanjutnya.
"Sekarang Non Tiara bobo ya, mau Mbak Nina bacakan cerita atau Mbak Nina ninaboboin?" tanya Nina menawarkan.
Tiara menggeleng.
"Terus Non Tiara mau apa?" tanya Nina lagi.
"Mau Mama Nanad boboin," jawab Tiara.
"Duh ... bakal enggak kelar-kelar nih kerjaan dapur," gerutu Nina.
"Cana Nina dapul, Aya mau cendili," ucapnya merajuk.
"Duuh ... malah ngambek lagi dia," ucap Nina frustrasi.
Tiara malah menangis sesenggukan. Nina akhirnya keluar dari kamar Tiara. Mencari keberadaan Bu Nastiti yang ternyata sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama suaminya.
"Bu?" terdengar panggilan Nina yang diikuti tubuhnya yang berjalan tergesa-gesa.
"Ada apa, Nin?" tanya Bu Nastiti.
"Nina tidak tahu lagi musti bagaimana untuk membujuk non Tiara supaya bobo. Dia terus saja menanyakan Mama Nanad," jawab Nina.
"Ya sudah, biar ibu yang membujuknya. Kamu kembali ke dapur saja," timpal Bu Nastiti.
"Terima kasih, Bu," sahut Nina.
__ADS_1
"Ibu ke kamar Tiara dulu ya, Pak. Atau Bapak mau kita bareng ke kamar Tiara?" tawar Bu Nastiti.