Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Pangeran Kodok vs Putri Kepompong


__ADS_3

Nadia membuka matanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, ruangan yang terasa asing baginya. Ini bukan kamarnya di Indramayu. Bukan kamarnya di rumah Bu Nastiti. Bukan pula kamar Rasya suaminya, apalagi kamarnya di rumah Mbak Rumi. Kamar yang dihias indah. Di setiap sudut dihias dengan buket bunga segar, bukan imitasi seperti di kamar pengantinnya yang ada di rumah mamak Indramayu.


Di mana suaminya? Nadia melirik jam yang bertengger di dinding, sudah hampir jam lima. Ia pun bangkit menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum kehabisan waktu untuk sholat ashar.


Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi. Mengambil mukena parasut di dalam tas selempang nya dan segera melaksanakan sholat ashar.


Selesai ia melaksanakan sholat, Rasya juga belum menampakkan batang hidungnya. Nadia pun keluar dari kamar memperhatikan setiap sudut ruangan yang ia lewati, benar-benar sesuai yang ia rancang saat itu.


Nadia turun ke lantai bawah dengan bertelanjang kaki karena ia tidak tahu di mana Rasya meletakkan sepatunya. Ia ingin melihat danaunya sekarang terlihat seperti apa. Nadia keluar dari pintu utama.


"Neng, mau ke mana atuh?" Tiba-tiba bibi mencegahnya.


"Eh, Bibi istrinya Mang Dudung ya? Saya mau ke danau, Bi. Tetapi tidak tahu sepatu saya di mana." Nadia menebak sebelum menjawab pertanyaan Bibi Titin.


"Sebentar, Neng. Bibi ambilkan sandal jepit biar tidak sakit terkena kerikil kakinya Eneng," cegah Bi Titin yang langsung masuk ke dalam vila. Lalu keluar lagi dengan membawakan Nadia sepasang sandal jepit. "Ini, Neng dipakai," ucapnya menyerahkan sandal jepit kepada Nadia.


Nadia pun menerimanya dan langsung memakainya. "Bibi tahu dimana suami saya?" tanyanya pada bibi.


"Tadi sepertinya lagi melihat kebun belakang vila sama Mamang, Neng," jawab Bi Titin.


"Memangnya ada apa di kebun belakang, Bi?" tanya Nadia penasaran.


"Mang Dudung lagi ngambil durian, Neng," jawab Bi Titin.


"Durian? Di daerah bukit seperti ini memang durian bisa tumbuh dan berbuah, Bi?" tanya Nadia.


"Bisa, Neng. Itu malah jenis durian Bawor yang dibeli langsung dari Banyumas," tutur Bibi Titin menjawab pertanyaan Nadia.


"Ya sudah, Bi. Saya mau ke danau dulu ya, barangkali nanti Mas Rasya mencari," pamit Nadia.


"Iya, Neng silakan. Bibi juga mau meneruskan memasak," sahut Bi Titin.


Jalan menuju danau yang semula berupa jalan setapak sekarang sudah diubah menjadi jalan berundak. Saat sampai di danau, Nadia terkejut melihat danau itu saat ini. Danau yang dulu tergenang air dan dapat dipancing ikannya, sekarang permukaan airnya telah ditutupi oleh tanaman bunga teratai.



Nadia duduk berongkang-ongkang kaki di sebuah jembatan yang dibuat melayang di atas danau. Menikmati pemandangan danau dengan hamparan bunga teratai yang berwarna merah muda. Menghirup udara bebas polusi dengan bebas dan sinar matahari yang berwarna keemasan.


Setelah matahari berwarna jingga dan pasukan kodok mulai menabuh genderang mereka, Nadia memutuskan untuk kembali ke villa saja, sebelum azan maghrib datang berkumandang. Ia kembali meniti jembatan kayu ke pinggir danau, lalu menaiki jalan setapak yang sudah dibuat cor di sisi kiri dan kanan serta paving di tengahnya.


Nadia masuk ke dalam vila dan langsung naik ke lantai dua menuju ke dalam kamarnya. Lalu melangkah menuju ke balkon.


Senja Jingga makin merona di ufuk senja, cahayanya yang temaram nampak teduh menggantikan kilat keemasan yang mulai meredup. Burung pipit berkicau kembali ke sarangnya, disambut oleh anak-anak mereka yang menanti induknya membawa makanan. Para tukang angon juga menggiring ternak mereka ke kandang.


Nadia berdiri di atas lantai balkon vila impiannya bersama Rasya dulu yang menghadap ke arah danau dengan tanaman teratai tumbuh liar di depannya. Di kejauhan nampak hamparan perbukitan dengan kebun teh nan hijau dan luas. Nadia menghirup dalam-dalam udara yang masih jernih sore itu, suasana sejuk yang berbeda 180° dengan Jakarta. Juga di tempat kelahirannya, meskipun di kampung tetapi udaranya terasa panas.


"Sayang," suara berat seorang laki-laki memanggil dari dalam vila, terdengar langkah kaki mendekat lalu memakaikan sebuah sweater di pundak Nadia. Sepasang tangan kekar tiba-tiba sudah melingkar di perutnya. "Sudah hampir maghrib, ayo masuk! tidak baik kita berada di luar," bisik Rasya tepat di telinga Nadia.

__ADS_1


"Aku masih pengen melihat matahari itu tenggelam, Mas. Sebentar lagi ya!" ucap Nadia memohon.


"Ya udah, sebentar saja Mas tunggu di sini," ucap Rasya akhirnya mengalah, namun tidak mengubah posisi tangannya. "Kamu suka, Sayang?" tanyanya.


Nadia mengangguk, "Suka," ucapnya tulus menoleh ke arah suaminya tersebut dengan seulas senyum yang menawan.


Tiga menit kemudian matahari yang berwarna jingga tersebut mulai menyembunyikan diri di balik lazuardi. Berjanji akan terbit kembali esok hari dengan wajah yang cerah, memberikan harapan sepada setiap makhluk penghuni bumi.


"Sudah ya, Sayang? Sudah Maghrib," ajak Rasya yang sejak tadi dengan setia menunggu sang kekasih hatinya menikmati matahari hingga tenggelam.


Nadia mengangguk, tiba-tiba ia merasa tubuhnya melayang. "Mas, aku bisa jalan sendiri!" teriaknya.


"Diam! Nggak usah teriak!" seru Rasya dengan suara tak kalah tinggi.


Ia membawa Nadia masuk ke dalam kamar di vila tersebut. Kamar yang sepertinya sengaja dihias untuk sepasang pengantin baru. Di sebuah kasur yang berukuran queen size dengan sprei berwarna pink dan taburan kelopak bunga mawar berwarna merah di atasnya. Laki-laki itu membaringkan Nadia dengan lembut di atas kasur tersebut. Lalu ia berbaring miring di sampingnya. Mencium kening dan seluruh wajah si gadis dengan penuh kasih sayang.


"Mas, kita belum sholat Maghrib loh," Nadia mencoba mengingatkan.


"Sebentar saja, kita tidak akan melakukan anuan sekarang kok, nanti saja habis sholat isya'," sahut Rasya yang tidak pernah puas memandangi gadisnya.


"Tapi nanti tongkat sakti punya Mas bangun," cebik Nadia.


"Kalau bangun tinggal dimasukin, beres," sahut Rasya enteng.


"Itu sama juga anuan, Mas," ucap Nadia. Ia memejamkan matanya juga ketika bibir mereka kembali bertaut. Tiba-tiba Nadia mendorong tubuh Rasya sehingga tautan bibir mereka terlepas.


"Ada apa?" tanya Rasya heran.


"Memangnya kamu enggak suka durian?" tanya Rasya.


"Suka kalau makan sendiri, kalau orang lain yang makan, kita cuma disisain baunya ya mual," ungkap Nadia.


"Masih banyak kok di bawah, tapi sekarang kan sudah maghrib. Mas juga belum mandi, kamu belum mandi juga 'kan?" tutur Rasya diakhiri pertanyaan.


"Belum," jawab Nadia menggelengkan kepalanya.


"Kita mandi terus sholat maghrib, nanti kita makan durian bareng, oke?" ajak Rasya.


"Baiklah. Aku yang mandi dulu ya," ucap Nadia .


"Baiklah, Tuan Putri," sahut Rasya mencolek hidung Nadia. Ia melepaskan pelukannya.


"Terima kasih, sang Pangeran," ucap Nadia sembari bangkit dari tempat tidur. "Kodok," imbuhnya berlari cepat menuju ke kamar mandi.


"Awas kamu, Nanad! Bakalan aku habisi nanti malam karena sudah menyebut suamimu yang tampan ini Pangeran kodok," ancam Rasya.


Rasya masih menghitung di dalam hati sambil telentang di atas kasur springbed. Ia memastikan dalam beberapa hitungan pasti Istrinya itu akan menjerit meminta tolong.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar mandi, Nadia sudah melepas semua pakaian yang membalut tubuhnya. Nadia masuk ke dalam kolam yang telah berisi air busa. Dan menggosok setiap bagian tubuhnya yang dapat ia jangkau dengan busa tersebut.


Mata Nadia seperti menangkap sesuatu di depannya di pojok sana. Nadia pun menoleh ke arah sudut bak berendam di depannya. Sesosok mahluk yang ia sebut namanya tadi hadir di hadapannya tersenyum menatapnya. Ini benar-benar nyata? Nadia masih shock, tetapi ia butuh pertolongan. Rasanya ia mau menangis saat itu juga. Kalau ia berlari keluar, maka mahluk itu akan menikmati tubuh polosnya.


"Kalau mahluk itu benar-benar jelmaan pangeran kodok bagaimana? Pasti ia akan menikmati tubuhku yang polos ini," gumam Nadia masih dengan menatap kodok tersebut. Sialnya di kamar mandi tersebut belum ada handuk yang menggantung. Ia juga lupa untuk membawa handuk ke kamar mandi. Handuk yang ia bawa masih berada di dalam koper bersama pakaian suaminya.


"Mas!" panggil Nadia dengan suara keras. Namun Rasya di dalam kamar sana pura-pura tidak mendengar.


"Mas!" kembali Nadia menaikkan nada suara panggilannya. Kembali Rasya tidak menyahut.


"Mas Rasya, tolong aku!" kini Nadia memanggil nama suaminya dengan tangis yang memecah.


Sedangkan di ranjangnya, Rasya menutup mulutnya menahan tawa. "Rasain!" umpatnya lirih.


"Mas, tolong aku. Aku takut," rintih Nadia dalam tangisnya.


Rasya pun tidak tega untuk membiarkan istrinya menangis lebih lama. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci tersebut.


"Ada apa, Sayang. Kenapa teriak-teriak?" cecar Rasya menahan tawanya.


"Itu," jawab Nadia menunjuk ke kodok yang bertengger di pojok bak berendam.


"Oh itu, bukannya tadi kamu yang panggil?" sergah Rasya bertanya.


"Ih, buang!" pinta Nadia.


"Makanya jangan suka manggil Mas dengan sebutan pangeran kodok! Jadi datang beneran kan kodoknya," gerutu Rasya mengambil kodok tersebut dan mengembalikannya ke pinggir danau.


Setelah kodok itu dibawa pergi oleh Rasya, Nadia bangkit dari bak berendam dan membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower.


Nadia melangkah mengendap-endap keluar dari kamar, takut ada yang memergoki tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar mencari koper yang berisi pakaiannya dan suami. Namun, ia tidak menemukannya sama sekali.


Perhatiannya beralih pada lemari pakaian yang ada di kamar tersebut. Mungkin saja Rasya menaruh kopernya di dalam lemari, pikirnya. Ia pun membukanya, ternyata di dalam lemari tersebut tidak ada koper maupun pakaiannya, yang ada hanya tumpukan selimut dan beberapa sprei.


Nadia melolos selembar sprei berbahan katun nan lembut. Ia melilitkan sprei tersebut untuk membalut tubuhnya. Ia lalu duduk di tepi ranjang dan merogoh ponsel dari dalam tas selempangnya yang terletak di atas nakas. Nadia menelpon Rasya.


"Ada apa, Sayang. Mas habis buang kodok tadi ke tepi danau," ucap Rasya pada sambungan teleponnya.


"Mas, koper kita dimana? Aku mau ganti baju, tetapi tidak menemukan koper kita di dalam kamar," tanya Nadia manyun.


"Waduh, di mana ya? Tadi mang Dudung yang angkat dari mobil, Sayang. Tunggu sebentar Mas cari Mang Dudung dulu ya," jawab Rasya menenangkan istrinya. Ia pun memutus panggilan secara sepihak.


Rasya melangkah menuju ke dapur untuk mencari Mang Dudung ataupun Bi Titin istrinya. Namun, kedua-duanya tidak satupun yang nampak batang hidungnya. Pasti mereka telah kembali ke rumah mereka.


Rasya pun naik ke lantai dua. Ia menahan tawa saat mendapati istrinya dengan tubuh berbalut sprei seperti kepompong. "Mang Dudungnya sudah pulang ke rumahnya, Sayang. Ini sudah maghrib soalnya," ucap Rasya pada Nadia.


"Terus sampai kapan aku jadi kepompong seperti ini? Terus nanti sholatnya gimana?" Tanya Nadia.

__ADS_1


Rasya pun malah tersenyum genit mendekat ke arah Nadia. "Mas malah lebih suka kamu tidak memakai apa-apa, Sayang," ucapnya.


"Cari dong, Mas! Mungkin di lantai bawah," pinta Nadia.


__ADS_2