Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tanggung Jawab


__ADS_3

Setelah kemarin gagal masuk kuliah perdananya karena tubuhnya lemas akibat muntah-muntah, hari ini Nadia berusaha untuk berangkat. Saat ia keluar dari dalam rumah Rayan sudah menunggu di kursi kemudi mobil. Tania langsung masuk dan duduk di kursi penumpang.


"Mas Rayan, sudah dari tadi?" tanya Tania.


"Udah jamuran aku di sini, aku pikir kamu bakal berangkat gasik, soalnya tadi pagi aku dapat info dari temanku yang semester 1, jadwal mata kuliah kedua dimajukan jam tujuh," tutur Rayan. Ia mulai melajukan mobilnya.


"Kok Mas Rayan enggak kasih tahu aku sih?" cebik Tania.


"Kata siapa aku enggak kasih tahu kamu? Aku udah chat WA, tapi belum kamu buka, aku pikir kamu sibuk," sanggah Rayan.


Tania membuka kembali ponselnya, ternyata Rayan tidak berbohong, ia memang sudah mengirim pesan tentang apa yang diungkapkannya barusan.


Sampai di kampus, Tania juga masih bingung. Ia belum tahu ruangan kelasnya yang mana.


"Kenapa belum masuk juga, Tan?" tanya Rayan yang masih melihat Tania berdiri di samping mobil.


"Anterin, aku enggak tahu ruangannya yang mana?" Tania memohon dengan manja.


"Ck, aku ini serasa jadi baby sitter kamu bukan sopir mu," Rayan mencebik. "Coba lihat jadwalnya!" pintanya.


"Jadwal yang mana?" tanya Tania bingung karena ia merasa belum mendapat jadwal kuliah.


"Ck, amplop yang kemarin aku kasih ke kamu mana?" Rayan mencebik lagi. "Itu isinya jadwal kuliah dan kartu mahasiswa kamu," tuturnya.


"Oo," Tania membuka resleting tasnya, mengambil amplop yang kemarin diberikan Rayan padanya.


"Coba lihat!" pinta Rayan dengan paksa. Ia membaca jadwal tersebut, mencoba mencari jadwal kuliah Tania pagi hari ini. Rayan kembali memberikan kertas tersebut kepada Tania. "Ikut aku!" tukasnya segera berjalan cepat. Tania yang masih mengembalikan amplop ke dalam tas menjadi tertinggal.


"Tunggu donk, Mas Rayan!" seru Tania. "Kalau aku mual muntah lagi apa Mas Rayan mau tanggung jawab?" protes Tania.


Rayan menghentikan langkahnya. "Enak aja, aku nggak makan nangkanya malah kena getahnya. Kalau mau minta tanggung jawab ya sama suami kamu lah, Tan. Atau sama orang yang bikin kamu gamil," gerutunya.


Karena tidak sabar menunggu, Rayan menarik tangan Tania untuk mensejajarkan langkahnya menyusuri koridor. Mereka berhenti di depan pintu yang tertutup sebuah ruangan.


"Ini ruangannya, Tan. Aku ada urusan, nanti kalau udah selesai kamu telpon atau chat WA ya," ucap Rayan. Tania mengangguk.


Rayan mengetuk pintu tiga kali lalu membukakan pintu untuk Tania. "Assalamu'alaikum, saya mengantarkan mahasiswa baru, Pak," ucap Rayan pada sang dosen diikuti Tania yang merasa grogi di belakangnya.


"Silahkan duduk, Nona!" ucap Sang Dosen mempersilahkan duduk kepada Tania.


Tania segera mencari bangku yang kosong dan mendudukinya. Rayan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dosen kembali melanjutkan membahas materi kuliah pagi itu.


Suasana kelas terasa tenang, semua fokus mendengarkan ceramah sang Dosen yang tampan dan dingin itu, tak terkecuali Tania. Dosen tersebut seperti mempunyai kemampuan untuk menghipnotis mahasiswa yang diceramahinya hingga selesai.


"Tania, setelah ini kamu ke ruangan saya!" tukas Pak Rasya sebelum keluar dari ruangan setelah selesai memberikan materi kuliah.


"Baik, Pak!" jawab Tania.


Pak Rasya, dosen mata kuliah pengantar ilmu manajemen itu telah meninggalkan ruangan. Hari ini telah usai semua mata kuliah karena jadwal mata kuliah yang pertama, Bu Siska berhalangan hadir.


Para mahasiswa memanfaatkan waktu yang panjang ini, ada yang pergi ke perpustakaan, ada yang duduk-duduk di kantin sambil menikmati jajanan kantin, ada juga yang pergi jalan-jalan ke luar lingkungan kampus, seperti ke Mall dan sebagainya.


Dua orang mahasiswi, Nadia dan Prima duduk di samping kiri dan kanan Tania. "Hai, Tania. Aku Nadia," ucap Nadia mengulurkan tangan.


"Tania," ucap Tania menyambut uluran tangan mahasiswi tersebut.


"Prima," ucap Prima di sebelahnya lagi mengulurkan tangan. Tania menyambut uluran tangan gadis tersebut seraya menyebutkan nama.


"Kamu ceweknya Mas Rayan ya?" tanya Nadia yang hanya mengetes Tania saja.


"Bukan, aku cuma temannya doank kok," sanggah Tania.


"Ikut kita ke kantin yuk, Tan!" ajak Prima pada Tania.


"Tapi, tadi aku disuruh Pak Rasya ke ruangannya," sahut Tania. "Ada yang tahu ruangannya, enggak?" tanya Tania pada Nadia dan Prima.


"Tahu lah, Tan. Ayo kita antar! Yuk, Nadia!" ajak Prima.

__ADS_1


Mereka bangkit dari duduknya, melangkah keluar dari ruang kelas, menyusuri lorong dan dan menaiki anak tangga. Sampailah mereka di depan pintu sebuah ruangan. Tania melirik papan yang tergantung di atas pintu.


"Udah, Tan. Masuk saja, Pak Rasya ada di ruang rektor,ctakutnya Pak Rasya ada acara. Karena tadi jadwalnya dimajukan. Kita tunggu di sini," tutur Prima.


"Ya udah, aku masuk ya," pamit Tania. Dengan langkah ragu-ragu Tania mengetuk pintu, mengucap salam langsung masuk.


"Duduk!" perintah Rasya melirik sekilas perempuan yang baru saja masuk. Tania duduk di kursi yang ada di hadapan Pak Dosen tersebut.


"Saya tidak punya waktu banyak karena sebentar lagi ada meeting di perusahaan saya. Begini Tania, dua bulan lagi ujian semester. Ini tugas yang harus kamu buat untuk memenuhi nilai kamu yang tertinggal," tutur Pak Dosen menyodorkan selembar kertas pada Tania.


Tania mengambil kertas yang diberikan oleh Pak Rasya, membacanya sekilas.


"Kalau tidak ada yang perlu ditanyakan kamu boleh keluar," titah Pak Rasya.


"Ini dikumpulkan kapan, Pak?" tanya Tania.


"Paling lambat satu Minggu dari sekarang," jawab Pak Rasya.


"Sudah, itu saja, Pak." ucap Tania.


"Kamu boleh keluar," ujar Pak Rasya.


"Terimakasih, Pak. Saya permisi," ucap Tania. Tania berdiri, mengangguk lalu melangkah pergi, saat Tania memegang gagang pintu,


"Tunggu!" cegah Rasya.


Tania berhenti melangkah, melepas gagang pintu dan menoleh kembali pada Pak Rasya.


"Iya, Pak?" tanyanya.


"Apa hubungan kamu dengan Rayan?" tanya Pak Rasya.


"Ehm.., cuma sebatas hubungan kerjasama, Pak," jawab Tania.


"Hubungan kerjasama?" tanya Rasya menautkan kedua alisnya heran.


"Ayo!" ajak Tania pada Prima dan Nadia yang dengan setia menunggu mereka di luar ruangan.


Mereka kembali menyusuri koridor dan tangga untuk menuju ke kantin. Sampai di kantin mereka duduk di bangku yang kosong.


"Mau pesan apa, Tan?" tanya Nadia pada Tania.


"Ada bakso, enggak. Aku pengen makan bakso," jawab Tania.


"Aku bakso juga donk, Nad. Minumnya es jeruk peras," timpal Prima.


"Kamu mau minum apa, Tan?" tanya Nadia lagi.


"Sama punya Prima deh, Nad, es jeruk peras," sahut Tania.


"Tunggu di sini ya, aku pesankan," ujar Nadia. Ia meninggalkan Tania dan Prima.


"Prim, aku dapat tugas membuat makalah dari Pak Rasya, kamu punya contohnya enggak, aku kan belum tahu makalah itu kayak gimana?" ungkap Tania.


"Tenang, nanti pasti kami bantu. Aku ada filenya, buku referensi bisa pinjam di perpustakaan," sahut Prima.


"Beneran, kamu punya file contohnya?" tanya Tania menegaskan.


"Beneran, Tania. Tapi kalau kamu mau yang instan kamu bisa pesan. Teman satu kelas kita ada kok yang nyambi kerja bikinin tugas-tugas dosen, nanti aku kenalin," ungkap Prima.


Tania dibuat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Prima. "Yang bener, Prim?" Tania masih belum percaya. "Tugas-tugas dari dosen dijadikan ladang bisnis?" imbuhnya bertanya.


"Jaman sekarang apa sih yang enggak, Tan? Iya aku percaya kamu cewek yang cerdas, yang mandiri, yang mau membuat tugas dengan hasil jerih payahmu sendiri. Tapi tugas yang harus kamu buat itu tidak hanya dari Pak Rasya doank, Tania. Tugas dari dosen-dosen lain juga pasti akan menyusul," ceramah Prima panjang lebar.


Tania masih berfikir, ia merasa takut sampai ketahuan sama dosen kalau tugas-tugasnya bukan hasil karyanya sendiri. Tetapi bagaimana ia bisa mengerjakan kalau semua dosen memberikan tugas yang sama dalam waktu yang bersamaan pula.


"Ehmm.. iya, dech, Prim. Aku nurut kamu saja," pendirian Taniapun luluh. "Tapi mumpung dosen lain belum ngasih tugas, aku sih maunya tugas dari Pak Rasya kubuat sendiri," tutur Tania.

__ADS_1


"Terserah kamu dech, kan kamu yang mau menjalani. Kamu bawa laptop?" tanya Prima.


"Aku belum punya laptop, Prim," jawab Tania.


"Terus bagaimana ngopi filenya?" tanya Prima bingung dengan sikap teman barunya tersebut.


"Di rumah, ada kok punya papaku, nanti aku pinjam. Kamu mau kan, nanti mampir ke rumahku?" tanya Tania.


"Oke, nanti ajak Nadia sekalian," sahut Prima.


Nadia menghampiri mereka dengan membawa pesanan, dibantu oleh pelayan kantin. Ia meletakkan tiga mangkok bakso beserta es jeruk di meja di depan Tania dan Prima. Mereka mulai menikmati apa yang mereka pesan.


"Nadia, Tania mau mengerjakan tugas dari Pak Rasya sendiri katanya. Dia minta bantuan ke kita," ungkap Prima pada Nadia.


"Bagus itu, habis ini kita ke Perpus. Kalau di Perpus buku yang kita cari kurang kita ke toko buku," timpal Nadia mendukung Tania.


Tania merogoh ponselnya, mengirim chat WhatsApp pada Rayan.


Anda


[Mas Rayan, Aku butuh laptop dan printer.]


Pesan langsung terbaca,


Mas Rayan


[Printernya mau dikirim ke kampus atau ke rumah? Laptopnya ditunggu paling tidak 1 jam, harus diinstal dulu soalnya.]


Anda


[Printernya ditaruh di rumah lah, Mas. Memang enggak ada laptop yang udah siap pakai?]


Mas Rayan


[Ada, tapi bekas dipakai cowok, kamu mau?]


Anda


[Enggak ah, Terimakasih. Yang baru saja.]


Mas Rayan


[Oke, nunggu 1 jam enggak lama kok, Tan. 😀]


Anda


[😎😎😎]


Tania memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong tasnya. Ia kembali menikmati baksonya, dirasa kurang pas Tania menambah sambal.


"Sebagai salam persahabatan, aku akan traktir kalian," ucap Tania membuat Nadia dan Prima girang.


"Traktir tiap hari juga enggak apa-apa kok, Tan," sahut Prima


"Boleh, asal kalian yang ngerjain tugas-tugasku," Tania memberikan syarat.


"Aku bercanda kok, Tan," ucap Prima sambil mengacungkan dua jari, telunjuk dan tengah.


Setelah Tania membayar apa yang mereka makan, mereka pergi ke perpustakaan untuk mencari buku sebagai bahan referensi tugas membuat makalah untuk Tania.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2