
Pagi hari usai menyantap sarapan, mereka sudah ditunggu oleh dua orang tour guide laki-laki dan perempuan di lobi hotel. Mereka diangkut ke dermaga dengan menggunakan mobil box terbuka. Di dermaga mereka bergabung dengan kelompok lain yang semuanya terdiri dari sekitar 25 orang. Dari dermaga menuju ke tempat tujuan paket pertama yaitu ke pulau Sangiang mereka dibawa dengan menggunakan perahu motor.
"Beneran kamu enggak pengen nyemplung, Yank?" tanya Rasya agak sedikit keras karena suara motor yang keras mengalahkan suara mereka pada Nadia sekali lagi saat mereka dalam perjalanan ke pulau Sangiang.
"Iya beneran, aku takut soalnya aku enggak bisa berenang," jawab Nadia dengan suara keras pula.
"Ya udah enggak apa-apa, nanti kamu jagain barang-barang punya Mas saja," timpal Rasya.
Tibalah mereka di pulau Sangiang. Sebelum melakukan kegiatan snorkeling mereka melengkapi pakaian dengan atribut menyelam. Setelah itu mereka berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Lalu satu persatu dari anggota tim terjun ke air. Sebelum menyelam ke air, mereka merentangkan kedua tangan bergandengan satu sama lain membentuk lingkaran. Nadia hanya menonton dari atas perahu motor.


Setelah selesai kegiatan di pulau Sangiang, mereka melanjutkan perjalanan tempat tujuan wisata berikutnya seperti pulau Tunda dan beberapa pulau lainnya.
Kira-kira pukul tiga sore, Rasya dan Nadia tiba kembali di hotel.
"Sayang, mau pulang langsung hari ini langsung atau besok pagi saja?" tanya Rasya saat mereka istirahat dengan duduk di kafe menikmati secangkir kopi sambil melepas lelah.
"Kalau pulang hari ini langsung apa Pak Rasya tidak capek? Soalnya besok aku kan harus kembali masuk kuliah," jawab Nadia yang selalu saja mementingkan kuliah.
"Kita istirahat saja sebentar, nanti jam 5 kita pulang," timpal Rasya. "Atau kamu mau cari pernak-pernik lebih dulu buat oleh-oleh mungkin?" tawarnya.
"Enggak ah Pak, di Jakarta juga banyak," tolak Nadia.
Rasya bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan kepada Nadia, "Ayo, kita istirahat sekarang saja!" ajaknya.
Nadia menerima uluran tangan tersebut dan bangkit meninggalkan kafe menuju ke kamar mereka masing-masing.
Pukul lima lebih sedikit mereka telah siap meninggalkan Anyer. Rasya kini tengah mengemudikan mobilnya dalam perjalanan menuju ke Jakarta.
"Nanti kalau capek istirahat saja, Pak. Aku enggak mau kita seperti Tania dan suaminya saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di Jakarta," ucap Nadia mengingatkan.
"Iya, Sayang. Nanti kita istirahat di rest area saat melewati jalan tol sekalian sholat maghrib." Rasya menimpali sambil tetap fokus menyetir.
Sampai di rest area KM 39 Mereka beristirahat hingga waktu masuk waktu sholat isya, mereka melanjutkan perjalanan setelah melaksanakan sholat isya'.
Kira-kira pukul sepuluh malam mobil yang dikemudikan oleh Rasya memasuki halaman rumah Pak Baskoro. Mobil berhenti di depan teras pintu masuk rumah. Nadia saat itu tengah tertidur pulas, tetapi Rasya tidak enak untuk membangunkannya. Maka ia keluar sendirian dari dalam mobil, melangkah menuju ke pintu rumah.
Rasya mencoba membuka pintu rumah, ternyata sudah dikunci. Ia memencet bel beberapa kali, tetapi belum ada yang mau membukakan pintu. "Apa Nina sudah tertidur?" gumamnya.
Rasya berinisiatif untuk menelpon Nina supaya membukakan pintu untuknya. Telpon berdering, tetapi tidak juga diangkat oleh sang empunya.
"Halo, Mas Rasya. Ada apa?" tanya Nina dalam sambungan telepon.
__ADS_1
"Aku di teras depan Nin. Tolong bukakan pintu depan dan kamar Nadia," pinta Rasya.
"Baik, Mas. Tunggu sebentar," jawab Nina.
Dua menit kemudian terdengar suara orang sedang membuka kunci pintu. Rasya menghampiri mobilnya kembali dan mengangkat Nadia ala bridal style, membawanya masuk ke dalam rumah.
"Tapi kamarnya Mbak Nadia masih dipakai Mbak Prima, Mas. Tadi dijemput Pak Supri karena non Tiara rewel lagi sejak tadi sore," ungkap Nina sambil menutup dan mengunci kembali pintu depan sebelum Rasya sampai ke Kamar Nadia.
"Coba tolong kamu bukakan pintunya saja, kalau dikunci nanti terpaksa Nadia aku bawa ke kamarku," pinta Rasya.
"Baik, Mas. Tunggu di sini saja, tidurkan Mbak Nadia di sofa dulu," sahut Nina.
Nina meninggalkan Rasya yang tengah membaringkan Nadia di sofa ruang tengah.
"Selalu saja ngebo kalau tidur," gumam Rasya membelai lembut puncak kepala Nadia yang terbalut kerudung.
Tidak lama kemudian Nina kembali muncul dari arah kamar Nadia. "Dikunci, Mas. Sudah aku gedor-gedor tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar," ucapnya.
"Ya sudah, tolong kamu bukakan pintu kamarku saja," pinta Rasya lagi.
"Baik, Mas," sahut Nina.
Nina mendahului Rasya melangkah menaiki tangga menuju ke lantai dua tempat keberadaan kamar anak sulung majikannya tersebut, lalu membukakan pintu kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar untuk merapikan tempat tidur. Tidak berselang lama Rasya pun ikut masuk ke dalam kamar tersebut dan membaringkan Nadia lalu menyelimutinya di tempat tidur yang telah dirapikan oleh Nina.
"Aku tidur di kamar Rayan juga tidak apa-apa," jawab Rasya yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Oh, kebetulan tadi sudah Nina bersihkan barangkali Mbak Prima mau memakainya. Ternyata Mbak Prima enggak mau tidur di kamar Mas Rayan. Ia lebih memilih tidur di kamarnya Mbak Nadia. Kalau begitu Nina permisi mau melanjutkan tugas ya, Mas Rasya," pamit Nina setelah berbicara panjang lebar.
"Iya, Nin. Terima kasih ya," sahut Rasya.
Nina mengangguk lalu keluar dari kamar Rasya. Rasya bangkit melangkah menghampiri pintu lalu menutupnya. Ia menyeret langkahnya menuju ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama tidur.
Keluar dari kamar mandi Rasya berdiri termangu memandangi wajah Nadia yang masih saja terlelap. Ia memikirkan kembali ucapannya pada Nina akan tidur di kamar Rayan. Ia mendekati tempat tidur, naik ke atas kasus springbed dan ikut menyusup ke dalam selimut bersama Nadia.
"Ngapain tidur di kamar Rayan? Mending di sini tidur bareng kamu ya, Sayang," ucapnya sambil menciumi pipi gadis tersebut dengan gemas. Mumpung dia sedang tidur ngebo, kalau dia sadar pasti bakalan ngamuk tidak terima, pikir Rasya. Ia lalu mengganti lampu utama dengan lampu tidur. Beberapa saat kemudian Rasya pun ikut terlelap dengan memeluk gadis itu dengan nyaman.
Nadia terjaga karena alarm alaminya membangunkannya pada waktu subuh. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu yang remang-remang. Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kamar. Ia kenal kamar ini, karena waktu itu saat kembali dari Indramayu Rasya juga membawanya ke kamar ini. Hah, Pak Rasya?
Nadia terlonjak kaget ketika teringat tentang Rasya. Seketika ia menoleh ke samping kirinya, seorang makhluk tampan sedang tertidur lelap sambil memeluknya dengan nyaman.
"Pak Rasya!" Nadia refleks memekik sambil mendorong tubuh kekar itu, tetapi tidak secuilpun tubuh itu bergeser.
"Ngapain teriak sih, Sayang? Kupingku belum budek. Kayak di hutan saja deh," gerutu Rasya masih dengan mata terpejam malahan mengeratkan pelukannya.
"Kenapa Pak Rasya bawa aku tidur di kamar Pak Rasya lagi? Bapak kan sudah tahu aku ini calon istri orang," protes Nadia agak sedikit menurunkan volume dan nada bicaranya.
__ADS_1
"Yang bilang kamu calon istri kerbau siapa hemm?" sergah Rasya yang malah makin membuat Nadia gedek. "Kamar kamu sudah duluan dipakai sama Prima dan dikunci dari dalam," ungkapnya yang sudah membuka mata.
"Kan masih banyak kamar yang lain," cebik Nadia.
"Kamar lain yang jarang ditempati, Nina belum sempat membersihkannya, Sayang. Lagian kamu sudah terlanjur tidur sama Mas kok, protes juga tidak ada gunanya 'kan." tutur Rasya memberikan penjelasan.
"Pokoknya lain kali enggak ada maaf buat Pak Rasya. Singkirkan tangan bapak! Aku mau ke kamar mandi," cebik Nadia mengerucutkan bibirnya.
'Lain kali aku pastikan kamu sudah menjadi istriku, Sayang,' sahut Rasya dalam hati sambil melepas pelukannya. Ih, Rasya ngarep bener. Author aminin saja deh, Sya. Aamiin ....
Nadia segera bangkit dari tempat tidur langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Sesaat kemudian ia keluar dan menghampiri lemari tempat ia menaruh mukena milik Celine yang dibelikan oleh Rasya. Ia mengambil satu mukena dan dua buah sajadah.
Nadia kembali memandang ke arah Rasya. "Kenapa belum bangun juga sih, Pak? Ini kesempatan untuk Bapak menjadi imam saya sebelum saya menjadi milik orang lain loh," tawar Nadia berlebihan.
"Bentar lagi," ucap Rasya. Ia segera bangkit, tetapi sebelum masuk ke dalam kamar mandi ia menoleh kembali ke arah Nadia. "Tolong siapkan pakaian solat buat Mas!" pintanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nadia melangkah menghampiri lemari tempat tadi mengambil mukena dan sajadah, mendorong lemari tersebut merupakan pintu penghubung ke arah walk in closet. Ia mencari sesuatu yang diminta oleh Rasya, sarung, baju Koko dan kopiah. Ia keluar lagi dengan membawa seperangkat alat sholat laki-laki tersebut dan menaruhnya di atas kasur springbed.
Nadia menggelar dua buah sajadah yang diambilnya, lalu memakai mukena dan duduk di atas sajadah yang ada di belakang sambil menunggu sang imam.
Sesaat kemudian Rasya keluar dari dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya langsung di samping tempat tidur. Nadia merasa risih melihat hal tersebut. Ia menundukkan kepalanya. Sementara Rasya hanya tersenyum usil mengetahuinya.
Mereka sholat subuh berjamaah. Usai sholat Nadia keluar dari kamar turun ke lantai bawah menuju dapur untuk membantu Nina yang sedang memasak.
Hari ini Nina memasak buntil daun talas dengan isian ikan teri dan parutan kelapa agak muda. Ada juga tempe goreng dan sambal terasi goreng bagi yang suka makan pedas. Karena yang tidak tahan dengan rasa pedas di rumah tersebut hanya Rasya dan Tiara.
Sebenarnya dulu waktu sekolah sangat suka sekali makan pedas, bahkan pernah ikut tantangan makan cabe terpedas di dunia. Setelah ikut tantangan tersebut malah berakibat lambungnya terkena gastritis kronis dan sampai sekarang ia harus menghindari makanan kesukaannya tersebut.
Selesai membantu Nina, Nadia pergi ke kamarnya, tetapi ternyata masih terkunci. Ia mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali mencoba untuk membangunkan Prima.
"Pim, Pipim, bangun donk! Aku mau ambil pakaian dan mandi," ucap Nadia.
"Nadia? Kapan kamu sampai?" Tanya Bu Nastiti tiba-tiba sudah berada di belakang Nadia.
Nadia menoleh ke arah suara yang begitu familiar di belakangnya. "Eh, Ibu. Sampai tadi malam, Bu," sahut Nadia tersipu.
"Ibu ke dapur dulu ya, Nad. Mau ngecek menu sarapan," pamit Bu Nastiti yang langsung meninggalkan Nadia. Tidak berselang lama pintu kamar di depan Nadia dibuka. Seseorang melongok di ambang pintu.
"Nanad, kamu sudah pulang?" ucap Prima bertanya.
"Iya, aku mau ambil pakaian gantiku dan mandi di dalam," sahut Nadia.
"Masuk saja, maaf tadi aku masih di kamar mandi," timpal Prima.
Nadia masuk ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah.
__ADS_1