
Satu minggu setelah acara refresing waktu itu, Nadia benar-benar fokus dengan ujian semester. Ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan Rasya. Rasya pun demikian, tidak mengganggu lagi kegiatan Nadia. Mereka hanya bertemu sesekali saat berpapasan di koridor atau di jalan kampus, tetapi tidak lagi saling bertegur sapa, hanya seulas senyum kecut yang ditampilkan di antara keduanya.
"Nanad, mulai nanti malam selama sisa waktu ujian ini aku mau numpang tidur di tempat kost kamu ya? Siapa tahu aku bisa ketularan kepintaran kamu," pinta Prima saat usai jadwal pertama ujian siang itu.
"Boleh, Pim. Aku malah senang ada teman belajar yang sekelas. Selama ini belajar bareng Nisa dan Mbak Devi yang beda jurusan jadi enggak nyambung." Nadia menyahut senang.
"Oke, nanti sore aku ke tempat kost kamu," timpal Prima. "Sekarang kita ke kantin yuk! Aku traktir makan bakso," ajak Prima.
Nadia pun tersenyum girang, "mau banget, apalagi bakso yang gedenya semangkok penuh," ucapnya ngelunjak.
"Yang kecil aja deh, Nad. Kalau yang besar aku takut nanti kamu enggak bisa menghabiskannya, secara badan kamu kan kurus," timpal Prima
"Dasar pelit, bilang saja enggak punya uang. Pakai takut aku enggak bisa menghabiskan lagi," cebik Nadia.
"Hehehe ... Namanya juga pengangguran, masih minta jatah dari orang tua," seringai Prima.
Mereka keluar dari kelas menyusuri koridor menuju ke kantin. Kembali Nadia dan Prima berpapasan dengan Rasya yang baru keluar dari tugas mengawasi ujian ruang lain. Nadia hanya mengulas senyum kepada dosen yang hari ini baru dilihatnya.
"Nanad, Pipim, gimana ujian pertama kalian? Lancar?" tanya Rasya.
"Alhamdulillah lancar, Pak," sahut Prima.
"Saya ke ruangan saya dulu ya, sudah saya pesankan bakso di kantin Mang Ujang," ungkap Rasya.
"Yah, enggak jadi kamu yang traktir donk, Pim," sesal Nadia.
"Terima kasih, Pak," seru Prima menoleh kepada Rasya yang sudah berada di belakang mereka. Rasya pun juga menoleh tersenyum mengangguk dan berlalu dari tempat tersebut.
Sampai di kantin bakso Mang Ujang, mereka menghampiri meja yang kosong dan duduk di kursi di sana. Seorang pelayan menghampiri, membawakan dua mangkok bakso tanpa mi, meletakkan di meja di hadapan Prima dan Nadia.
"Ini pesanan dari Pak Rasya buat Mbak Nadia dan Mbak Prima," ucap pelayan tersebut.
"Sambalnya mana, Man?" tanya Nadia pada pelayan tersebut yang dipanggil Maman karena di hadapannya dia tidak mendapati sambal kesukaannya secuilpun.
"Syarat dari Pak Rasya memang tidak boleh ada sambal kalau mau gratis, Mbak," sahut Maman yang sudah mau beranjak pergi untuk melayani pelan*gan lainnya.
"Huh, mana enak makan bakso tanpa sambal?" tanya Prima yang juga ikut kesal pada diri sendiri.
"Tenang, Pim. Tuh banyak cabe di balik gorengan hehehe," cetus Nadia terkekeh menunjuk ke arah nampan di meja sebelah yang berisi gorengan tahu, tempe dan sebagainya, di antaranya terselip banyak cabe rawit.
Nadia bangkit dari duduknya, mengambil nampan di meja di sampingnya yang berisi gorengan tersebut. Ia duduk kembali, "Dia yang punya gastritis kronis kok orang lain mau ikut dijadikan korban," imbuhnya menggerutu sambil memotong-motong cabe rawit yang diambilnya dengan sendok di dalam mangkok baksonya.
Kini mereka bisa menikmati memakan baksonya dengan lahap. Sore harinya sebelum waktu maghrib tiba, Prima sudah tiba di tempat kost Nadia untuk belajar bersama dan numpang tidur di tempat tersebut. Hingga malam ujian semester terakhir, Prima menginap di tempat kost Nadia.
Hari terakhir ujian semester telah usai. Nadia dan Prima tengah menikmati makan siang di kantin Bu Ida. Tiba-tiba ponsel Nadia bergetar, ia memang tidak mengaktifkan nada dering ponselnya karena takut saat mengerjakan ujian terganggu.
Nadia menaruh sendok di atas piring makannya. Ia merogoh ponsel dari dalam saku tasnya. Melihat siapa yang menelepon saat itu. Nama adiknya Nindya tertera di sana. Pasti Mamak yang telepon, pikirnya. Nadia pun menggeser ikon berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, Mak," sapa Nadia memberi salam pada mamaknya seperti biasa.
"Wa'alaikumussalam, Nad," jawab seseorang di ujung telepon sana yang ternyata benar sang mamak.
__ADS_1
"Ada apa, Mak? Telepon siang-siang begini. Nadia lagi makan siang di kantin, Mak," tanya Nadia sambil menjelaskan kegiatannya walau Mamak belum bertanya.
"Begini, Nad. Mamak menerima pengaduan dari pihak keluarga calon suami kamu. Mereka bilang kalau kamu semakin dekat dengan dosen duda itu, makanya mereka memajukan tanggal pernikahan kalian menjadi besok lusa," ungkap Mamak yang seketika membuat Nadia terlonjak kaget.
"Apa?! Besok lusa? Gimana bisa sih, Mak? Belum juga Nadia bertemu ataupun bicara lewat telepon dengan pria misterius itu," cecar Nadia tidak terima.
"Iya, kamu besok pagi sudah mulai libur 'kan? Mamak juga tidak bisa berbuat apa-apa, Nad. Mamak cuma menyampaikan pesan dari mereka. Semua mereka yang mengatur, kamu tinggal menjalaninya saja," tutur Mamak lagi.
"Mak?!" ucap Nadia merajuk.
"Besok pagi kamu harus pulang ke Indramayu, naik travel saja. Sudah ya, mamak tutup teleponnya. Kamu siap-siaplah! Minta antar ibu kost kamu siapa namanya? Jangan minta antar keluarga kaya itu! Assalamu'alaikum," tutur mamak panjang lebar lagi memberi perintah.
"Wa'alaikumussalam," jawab Nadia lemas. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam kantong tas.
Nadia sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskan sisa menu makan siangnya.
"Kenapa kamu jadi tidak bersemangat begitu? Ada apa dengan besok lusa?" cecar Prima yang hanya mendengar ucapan Nadia saja saat menerima telepon dari sang Mamak.
"Pernikahanku diajukan menjadi besok lusa, padahal belum juga aku mengenal calon suamiku. Kamu mau kan Pim, menemani aku ke kampung?" jelas Prima kemudian diakhiri permintaan.
"Maaf, Nanad. Ayah sama Bunda sudah punya program jauh sebelum ini. Mereka akan mengajakku liburan di kampung Bunda," jawab Prima menolak permintaan Nadia.
Nadia kini menjadi murung, "enggak ada yang sayang sama aku lagi," keluhnya. "Anterin aku pulang donk, Pim. Aku mau pulang sekarang," pintanya pada Prima.
"Iya bentar. Aku habisin nasi ini dulu," jawab Prima.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Prima menuruti permintaan Nadia. Ia mengantarkan gadis itu sampai di tempat kostnya. Nadia langsung masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di kasur. Sementara Prima mengemasi barang-barangnya yang masih tertinggal di kamar tersebut.
"Iya, enggak apa-apa, Pim. Mungkin memang karena dari awal aku ingin merahasiakan pernikahanku, sehingga kebetulan sahabatku pun tidak ada yang sempat hadir," timpal Nadia nampak muram.
"Aku pamit ya, Nad. Sampai ketemu lagi awal semester depan," pamit Prima.
Nadia bangkit dan duduk di tepi dipan. "In sya Allah kalau aku masih dibolehin terus kuliah sama suamiku nanti," timpalnya sedih.
Prima ikut duduk di samping Nadia, lalu memeluk sahabatnya sejak awal kuliah tersebut. "Jangan sedih gitu donk. Waktu itu kamu sudah pesimis tidak bisa lanjut kuliah, tetapi ternyata kamu sampai sekarang masih bisa kuliah 'kan. Aku yakin kamu pasti masih bisa lanjut kuliah sampai lulus," ucap Prima memberikan semangat kepada Nadia.
Nadia membalas pelukan Prima," Terima kasih, Pim. Telah menjadikan aku yang kampungan ini sebagai sahabat kamu," ucapnya.
"Jangan ngomong begitu, kamu enggak kampungan kok," timpal Prima menghibur. "Sudah ya, aku pamit. Calon pengantin masa sedih," pamit Prima sekali lagi.
Prima pun melepas pelukannya, dan melangkah ke luar dari dalam kamar Nadia dengan membawa barang-barangnya. Di depan rumah ia berpapasan dengan Mbak Rumi dan suaminya, Mas Har.
"Lho, Prima sudah mau pulang? Mana Nadianya? Kok enggak ikut keluar mengantar kamu?" Cecar Mbak Rumi pada sahabat anak kostnya tersebut.
"Iya, Mbak. Aku pamit ya, Mbak. Terima kasih udah dikasih tumpangan tempat tinggal gratis. Nadia di kamar lagi sedih, Mbak," jawab Prima.
"Sedih kenapa?" tanya Mbak Rumi penasaran.
"Besok lusa ia akan menikah dengan pria pilihan mamaknya, Mbak."
Setelah menjawab pertanyaan Mbak Rumi, Prima meletakkan barang-barang di bagian depan motornya. Lalu menyalakan mesin motornya tersebut. "Mari, Mbak!" ucapnya dan langsung membawa motornya pergi meninggalkan rumah Mbak Rumi.
__ADS_1
"Aku temui Nadia dulu ya, Mas," ucap Rumi pamit pada suaminya.
"Iya, Mas langsung ke kamar ya, mau istirahat," sahut Mas Har.
Rumi pun mengangguk lalu segera menerobos masuk ke dalam kamar Nadia. Nampak olehnya Nadia berbaring membelakangi Pintu. Rumi duduk di tepi tempat tidur.
"Nadia, Mbak yakin kamu tidak tidur. Prima bilang pernikahan kamu besok lusa, apa itu benar?" tanya Rumi.
Nadia membalikan badannya, matanya nampak sembab. "Iya, Mbak. Tadi mamak telepon kasih tahu. Mbak Rumi mau kan nganterin Nadia pulang ke kampung besok pagi?" Jawab Nadia diakhiri permintaan.
"Iya, kebetulan Mbak Rumi dan Mas Har mau menjenguk Haikal anak Mbak Rumi di pondok pesantren Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon. Searah 'kan dengan tempat tinggal kamu? Mas Har sudah pesan mobil travel, jadi kamu tidak perlu khawatir mau naik apa pulang besok pagi. Udah jangan sedih. Mbak yakin kok, kamu pasti bahagia," ucap Mbak Rumi menjawab pertanyaan Nadia, ia juga menghibur gadis tersebut dan mengelus-elus punggungnya.
"Iya kah, Mbak? Terima kasih ya, Mbak," ucap Nadia sedikit lega.
Mbak Rumi mengangguk, lalu ia meninggalkan Nadia untuk menemui suaminya di kamar.
Nadia sempat berfikir siapa sebenarnya orang yang suka mengadukan kegiatannya kepada keluarga pemuda yang telah mengkhitbah dirinya? Berarti selama ini kehidupannya ada yang mengawasi. Siapa sebenarnya calon suaminya? Mamak bilang pemuda itu sudah lama mencintainya, berarti Nadia sudah mengenalnya. Apa mungkin dia itu Radit? Karena sejak awal kenal dengan pemuda itu, sepertinya dia memang punya perasaan terhadap Nadia. Entahlah.
Malam harinya, Rasya pulang hingga larut malam. Saat ia masuk ke ruang tengah, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu menyala.
"Rasya, jam segini kamu baru pulang, Nak?" tegur Bu Nastiti yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan duda tersebut.
"Rasya lembur mengoreksi kertas hasil ujian mahasiswa, Bu," jawab Rasya tidak bersemangat.
"Kenapa tampang kamu kucel begitu? Kamu ada masalah? Duduk! Bicara sama ibu," cecar Bu Nastiti yang merasa curiga dengan sikap anak sulungnya.
Rasya pun duduk di sofa ruang tengah dengan malas. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Pandangannya kosong ke arah langit-langit plafon.
"Ada apa, Sya? Cerita sama Ibu!" Bu Nastiti masih berusaha menggali sesuatu yang masih disembunyikan oleh putra sulungnya tersebut.
Rasya menghembuskan napasnya pelan sebelum memulai bercerita. "Besok lusa Nadia akan menikah dengan pria pilihan Mamak yang sudah mengkhitbah dirinya, Bu," tuturnya.
"Apa?!" Bu Nastiti terlihat kaget.
"Rasya sudah pernah meminta Mamak untuk membatalkan khitbah itu. Rasya janji akan menikahi Nadia segera, tetapi Mamak tidak bisa memenuhi permintaan Rasya," ucap Rasya lagi.
"Ini yang selama ini Ibu takutkan, Sya. Berkali-kali Ibu minta kamu supaya melamar dia, kamunya malah bersikap plin-plan. Ibu pikir waktu kamu menjemputnya untuk Tiara waktu itu sekalian buat melamar dia," sesal Bu Nastiti malah menyalahkan sikap Rasya, membuat Rasya bukannya membaik malah semakin frustrasi.
Penyesalan memang datangnya selalu terlambat, kalau di awal itu namanya pendaftaran, wkwkwk. Apa hendak dikata? Nasi sudah menjadi bubur. Malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Semua yang terjadi pada manusia sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
Apakah kisah cinta Rasya-Nadia harus bernasib cinta tidak harus memiliki? Cinta adalah perasaan bahagia ketika melihat orang yang kita cintai bahagia? Ikuti terus **Titian Cinta Nadia 🙏
.
.
.
TBC
Terima kasih yang masih setia,😘😘😘**
__ADS_1