Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Baju Ganti


__ADS_3

Hari pertama magang kembali di perusahaan Baskoro Groups. Ini adalah kali kedua Nadia magang di perusahaan tersebut. Bedanya waktu itu Nadia magang karena keinginannya sendiri di saat liburan, sedangkan sekarang ia magang karena dari pihak kampus yang mewajibkan PKL kepada setiap mahasiswanya di akhir semester enam. Dulu Nadia belum menjadi istri Rasya, jadian saja belum. Sekarang ia telah menjadi istri dari anak pemilik perusahaan tempat ia magang tersebut.


Dengan memakai celana baggy warna hitam, blus lengan panjang serta kerudung warna putih, dibalut dengan jas almamater di bagian luar, serta sepatu pantofel warna hitam. Nadia berangkat bersama suaminya ke kampus terlebih dahulu karena Rasya bertugas sebagai pendamping juga harus mengantarkan mahasiswa lainnya ke perusahaan tempat mereka memilih lokasi PKL.


Sampai di kampus Nadia berkumpul di kelas dengan teman sekelasnya. Pak dosen wali mengumumkan siapa dosen pendamping masing-masing. Hingga akhirnya mereka dijemput ke dalam kelas oleh dosen pendampingnya.


"Asa Nahdiana, Melani dan Arif Rahman ikut saya ya. Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Rasya memanggil ketiga mahasiswa dampingannya.


"Ah baik, Pak," sahut Melani antusias.


Nadia hanya memutar bola matanya jengah melihat tingkah teman satu kelasnya tersebut. Mereka bertiga bangkit dari tempat duduk mengikuti Rasya.


"Jika kalian membawa kendaraan sendiri, bisa diambil nanti siang ya. Hari ini hari pertama kalian PKL jadi hanya pengenalan tempat kerja dan tugas kalian di perusahaan saja. Besok pagi baru kalian sudah mulai praktek kerja," tutur Rasya sambil melangkah menyusuri koridor.


"Iya, Pak. Kebetulan saya bawa mobil sendiri tuh. Apa enggak apa-apa kalau ditinggal ya, Pak?" tanya Melani.


"Tidak apa-apa, di sini aman kok," sahut Rasya.


"Kalian tunggu di sini saja ya, saya akan bawa mobil saya masuk ke dalam sini saja," pinta Rasya yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari ketiga mahasiswa dampingannya tersebut.


Tak berselang lama sebuah mobil berhenti tepat di depan Nadia dan kedua temannya berdiri. Kaca jendela mobil depan perlahan terbuka.


"Ayo masuk!" perintah Rasya.


Melani menyerobot duluan membuka pintu depan samping kemudi dan duduk di samping Rasya. Nadia kembali memutar bola matanya malas, tetapi ia mengalah dan duduk di belakang kursi kemudi. Sementara Arif teman laki-laki yang satu lokasi PKL duduk di sampingnya.


"Pak Rasya ini sudah lama menduda, apa tidak ada niat untuk menikah lagi?" tanya Melani saat mobil telah melaju.


Rasya tersenyum lalu menjawab pertanyaan Melani. "Saya sudah menikah kok, Mel," jawabnya.


"Loh kapan, Pak? Kok saya tidak pernah mendengar beritanya? Saya jadi patah hati nih, Pak," tanya Melani.


"Sudah hampir dua tahun. Kami menikah secara sederhana hanya dihadiri keluarga saja, istri saya tidak suka pernikahan kami diketahui banyak orang," jawab Rasya sambil melirik kaca spion di depannya berharap Nadia juga memandang ke arahnya. Nadia hanya cuek saja tidak menggubris perbincangan mereka, sibuk dengan ponselnya.


"Dua tahun? Sudah punya anak, Pak?" tanya Melani.


"Tuhan belum kasih kepercayaan kepada kami," sahut Rasya.


"Mungkin istri Pak Rasya mandul. Coba Bapak nikahnya sama saya, pasti saya sudah melahirkan anak Bapak," timpal Melani percaya diri.


"Uhuk uhuk!" Seketika Nadia terbatuk.


"Kamu kenapa sih, Nad?" tanya Arif menyodorkan air mineral kemasan cup beserta sedotannya yang sudah ia tancapkan. Rasya hanya melirik ke arah kaca spion sambil fokus menyetir.


Nadia menerima air mineral pemberian Arif, dan meminumnya. "Tidak apa-apa kok, Rif. Mungkin ada yang menggunjingkan aku," jawabnya asal.


Sampai di halaman kantor Baskoro Groups, Rasya memarkirkan mobilnya. Ia mengajak ketiga mahasiswa dampingannya untuk duduk di kursi lobi.


"Sely, tolong hubungi Pak Andi HRD untuk datang ke lobi. Bilang kalau mahasiswa yang mau PKL sudah tiba," pinta Rasya pada customer servis.


"Baik, Pak," sahut Sely.


Beberapa saat kemudian datanglah seorang pria dengan usia beberapa tahun di atas Rasya. Ia langsung menjabat tangan Rasya dan ketiga orang mahasiswa, tetapi Nadia hanya mengangguk sambil menautkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Sepertinya saya sudah pernah bertemu dengan adik yang berkerudung ini. Kalau tidak salah adik ini temannya Mas Rayan yang dulu pernah magang di sini ya?" ungkap Pak Andi HRD bertanya.


"Iya betul, Pak. Saya Asa Nahdiana biasa dipanggil Nadia. Ingatan bapak masih tajam ternyata, padahal sudah dua tahun berlalu," sahut Nadia.


"Berarti adik yang dua ini pasti Arif dan Melani," tebak Pak Andi HRD.


"Benar, Pak. Saya Melani," sahut Melani.


"Saya Arif, Pak," sahut Arif.


"Mari kalian ikut saya," ajak Pak Andi HRD.


Nadia memandang ke arah Rasya, Rasya pun mengangguk.

__ADS_1


"Silakan kalian ikuti Pak Andi. Kalau ada perlu dengan saya, saya ada di lantai 12 ya," titah Rasya yang sebenarnya bertujuan untuk memberitahu Nadia.


Pak Andi membawa mereka ke lantai sepuluh. "Dalam surat permohonan kalian memilih tempat di divisi manajemen, tetapi karena di bagian itu penuh, maka saya akan pindah tempatkan kalian di divisi Litbang. Kalian tidak keberatan 'kan? Karena di divisi ini sedang kekurangan tenaga," ungkap Pak Andi saat mereka berada di dalam lift.


"Saya tidak apa-apa kok, Pak," sahut Nadia diikuti oleh kedua orang temannya.


Lift berhenti, mereka di bawa masuk ke dalam ruangan.


"Selamat datang, Adik-adik. Eh, Mbak Nadia juga ikut PKL di sini?" sapa Amir.


"Iya, Pak Amir," sahut Nadia. Ia mendekatkan jari telunjuknya ke bibir berharap Amir mengerti maksudnya. Amir mengedipkan mata sambil tersenyum tanda mengerti.


"Kalian sudah saling kenal ya. Mungkin Arif sama Melani belum kenal. Ini Pak Amir, kepala divisi Litbang," tutur Pak Andi memperkenalkan Amir kepada Arif dan Melani.


Amir pun menjabat tangan keduanya. "Mari saya antar ke kubikel kalian," ajaknya.


Selanjutnya Amir meminta tiga orang pegawainya untuk membimbing ketiga orang mahasiswa tersebut dan nantinya ketiga mahasiswa tersebut akan bertugas membantu tiga orang pegawai tersebut.


Karena ini hari pertama hanya pengenalan saja, maka pada pukul dua belas siang ketiga mahasiswa tersebut sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Arif mengajak Melani dan Nadia untuk naik taksi online saja ke kampus untuk mengambil kendaraan mereka. Mereka telah keluar dari kubikel.


"Maaf, sepertinya aku mau pulang langsung saja, karena aku kan tidak membawa kendaraan ke kampus," sahut Nadia.


"Ya sudah, ayo Mel, kita keluar nunggu taksi di halaman saja," ajak Arif.


Setelah Arif dan Melani hilang tertutup pintu lift. Nadia mengirim pesan kepada suaminya.


[Mas di ruang mana? Aku sudah boleh pulang]


Pesan tersebut langsung mendapat balasan dari Rasya.


SuamiQ


[Biar Amir yang mengantar kamu ke ruangan Mas. Kita pulang nanti sore.]


"Ah iya, Pak Amir," sahut Nadia.


Nadia mengikuti Amir masuk ke dalam pintu lift. Tidak berapa lama lift berhenti dan pintu terbuka. Amir mengajak Nadia keluar. Mereka melangkah menuju ke sebuah ruangan. Amir mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Masuk!" terdengar suara perintah dari dalam ruangan.


Amir membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilakan Nadia untuk masuk. Nadia masuk ke dalam ruangan mendekat ke arah Rasya.


"Mas," ucapnya meraih punggung tangan Rasya dan menciumnya.


"Duduk di sofa, Sayang!" titah Rasya.


"Baju ganti buat Mbak Nadia sebentar lagi akan dikirim oleh kurir toko, Pak Rasya." Amir menyela.


"Terima kasih, Mir. Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu," ucap Rasya.


"Terima kasih, Pak," ucap Amir. Kepala divisi Litbang yang merangkap sebagai asisten untuk Rasya tersebut segera meninggalkan ruangan. Pintu tertutup otomatis.


"Kenapa harus ganti baju sih, Mas? Ini belum kotor masih bau wangi," tanya Nadia heran.


"Nanti juga kotor. Mas selesaikan pekerjaan dulu. Kamu boleh istirahat di kamar itu. Nanti Mas nyusul," sahut Rasya yang kemudian memberikan perintah.


"Memangnya kenapa kalau aku nunggu di sini? Masa jam segini mau tidur?" cecar Nadia.


"Mungkin saja kamu mau absen siang, nggak mungkin di sini kan, Sayang?" sergah Rasya. "Kamu enggak lagi menstruasi 'kan?" tanyanya lagi.


"Kalau iya kenapa?" Nadia malah menjawab pertanyaan Rasya dengan pertanyaan pula.


"Yah, enggak asik banget sih, Sayang. Padahal Mas pengen bikin adonan Rasya junior di sini. Bukannya tadi malam pusaka punya Mas masih bisa masuk?" sergah Rasya mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Tadi pagi pas mandi udah ada jejaknya di cd," jawab Nadia lirih. Ia malu mengatakannya pada sang suami.


Ponsel Nadia berdering. Nadia merogoh ponsel tersebut dari dalam kantung tas ranselnya.


"Siapa yang telepon ya?" gumamnya sambil melihat ke layar ponsel. Ternyata Prima.


"Ada apa, Pim?" tanyanya langsung setelah ia menggeser ikon berwarna hijau.


"Kamu udah pulang, Nad?" Prima balik nanya.


"Udah selesai sih, tetapi aku masih di kantor suamiku. Memang kenapa?" Sahut Nadia lalu bertanya lagi.


"Siang ini Mas Yayan tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul dua siang, kamu mau ikut kita jemput dia enggak?" Prima bertanya mengungkapkan maksudnya.


"Ah iya, kok aku jadi lupa ya? Ikut donk, tapi aku ijin sama Mas Rasya dulu ya," sahut Nadia.


"Oke. Jangan pakai lama ya!" cegah Prima.


"Siip. Ya udah sampai nanti," pamit Nadia.


"Assalamu'alaikum," ucap Prima.


"Wa'alaikumussalam," ucap Nadia sambil memutus telepon.


Nadia memandang suaminya yang masih saja berkutat dengan laptopnya. "Mas," panggilnya.


"Ada apa? Mau minta ijin jalan-jalan lagi bareng Tatan sama Pipim?" sergah Rasya.


"Ih, sok tahu," timpal Nadia.


"Terus apa? Biasanya 'kan memang begitu," tuduh Rasya.


"Iya, tapi kali ini bukan buat jalan-jalan ke mall," timpal Nadia.


"Terus mau ke mana?" tanya Rasya lagi.


"Ke bandara jemput Mas Rayan. Kata Pipim mas Rayan hari ini tiba di Bandara Soekarno-Hatta jam dua siang," jawab Nadia.


"Apa? Kok Mas yang kakaknya malah enggak dikasih tahu?" sergah Rasya. Nadia hanya mengedikkan bahunya.


"Ya udah, kamu berangkat ke bandara sama Mas Saja. Ini Mas dikit lagi selesai kok," pinta Rasya.


"Memangnya Mas udah sholat dhuhur?" tanya Nadia.


"Belum, habis ini," sahut Rasya sambil mematikan laptopnya. "Kamu kasih tahu Prima kalau kamu ke bandara sama Mas, takutnya dia nungguin. Mas sholat dulu ya," suruhnya sambil melangkah pergi.


"Iya, ini juga lagi ngetik pesan," seru Nadia.


Tok tok tok


Pintu ruangan diketuk dari luar. Nadia bangkit untuk membukakan pintu. Seorang pemuda berseragam toko nampak berdiri di depan pintu.


"Paket atas nama Bapak Rasya Abdillah Bagaskara, Mbak," kata si kurir menyerahkan bungkusan polibag pada Nadia. "Tolong tanda tangan di sini ya, Mbak sebagai bukti penerimaan!" pintanya menyodorkan buku nota yang sudah dibuka dan sebuah ballpoint.


"Terima kasih ya, Mas," ucap Nadia.


"Sama-sama, Mbak. Saya permisi," ucap kurir mengangguk.


Nadia menutup pintu ruangan kembali. Lalu kembali duduk di sofa. Membuka bungkusan paket yang baru saja diterimanya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Terima kasih yang masih setia 😘


__ADS_2