Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Sarapan Pagi


__ADS_3

Cukup lama mereka saling menatap, menyelami kedalaman perasaan masing-masing. Namun, seketika Nadia menepis perasaannya saat ingat bahwa Rasya adalah pria yang sudah mempunyai istri dan anak. Nadia pun melepaskan mulutnya dari bekapan tangan Rasya.


"Saya tidak mau! Pak Rasya 'kan sudah punya istri dan anak. Saya tidak mau jadi pelakor," seru Nadia menolak.


"Asa, kamu bukan pelakor. Hubungan ku dengan Celine memang sejak awal hanya status hitam di atas putih saja. Aku akan segera mengakhirinya," ucap Rasya frustrasi.


"Pokoknya selama bapak masih berstatus sebagai istri orang, saya tidak mau," kekeuh Nadia.


"Terserah kamu, aku akan buktikan kalau ucapan aku ini serius." Rasya juga bersikekeuh.


"Sudah hampir jam lima, Bapak balik sana ke kamar Bapak! Sholat subuh biar pikiran Bapak jernih dan tidak terobsesi untuk punya selingkuhan," sungut Nadia yang kesal dengan sikap Rasya memberikan perintah.


"Iya-iya, cantiknya Mas Rasya bawel juga ternyata," sahut Rasya tersenyum yang segera bangun menyambar selimutnya yang teronggok di sofa. Gegas menyeret langkahnya kembali masuk ke kamarnya sendiri.


"Ngarep banget ya minta dipanggil Mas Rasya. Pantasnya sih jadi om, kalau di Indramayu ya sebutannya Mamang. Mamang Rasya? wkwkwk," cibir Nadia setelah laki-laki itu keluar dari kamarnya, lalu tertawa cekikikan sendiri seperti orang yang sedang kesambet.


Setelah tawanya surut, Nadia menarik selimut hingga menutupi wajahnya. "Sebenarnya Asa Nahdiana juga cinta sama Mas Rasya," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Pada saat yang bersamaan, hati Rasya yang sedang bersujud dalam shalat subuhnya berdesir hebat. Ia kembali merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari semula.


Setelah selesai sholat, Rasya memutuskan untuk melanjutkan acara tidurnya karena kantuknya masih mendera.


Nadia merasakan perutnya sudah lapar sekali karena tadi malam sudah ia kuras habis tak tersisa. Ia melirik roti sandwich pemberian sang kakak masih teronggok di meja. Nadia meraih roti tersebut, tetapi ia menaruhnya kembali. Mulutnya masih belum enak karena ia belum mencuci muka dan kumur-kumur.


Nadia pun bergegas ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk mandi sekalian. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Nadia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian dengan rapi. Ia tinggal menyisir rambut dan memakai kerudung.


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Petugas cleaning servis dan laundry!" Sebuah seruan terdengar dari luar.


Nadia membuka pintu setelah memakai kerudung.


"Cleaning servis, Mbak." Seorang pemuda meminta ijin untuk masuk.


"Silakan, Mas," sahut Nadia mempersilakan.


"Sekalian nitip laundry juga bisa kalau mau, bayar saat check out," tawar petugas tersebut sambil menyapu lantai terlebih dahulu sebelum mengepelnya.


"Iya, Mas, saya ambilkan dulu pakaian kotornya," sahut Nadia yang langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil baju kotor lalu langsung keluar lagi dengan membawa baju kotornya.


"Mbaknya duduk di sofa saja biar saya mudah untuk membersihkannya," pinta si petugas cleaning servis.


Nadia menurut untuk duduk di sofa. Mengawasi petugas tersebut dari pada tidak ada kegiatan sama sekali. Ia menunggu petugas kebersihan itu hingga selesai sambil sesekali bertanya hal-hal hanya untuk sekedar basa-basi.


"Laundrynya kapan diantar ya, Mas?" tanya Nadia saat petugas tersebut hendak pergi.


"Besok pagi, Mbak. Sekalian ambil pakaian kotor lagi," jawab petugas.


"Oo ... Terima kasih, Mas," ucap Nadia di ambang pintu.


"Sama-sama, Mbak."

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara dari depan kamar sebelah. "Sama petugas cleaning servis saja diramah-ramahin," cibirnya.


Nadia hanya melengos. 'Urusan situ apa?' tanyanya dalam hati sambil memandangi orang yang mencibir tersebut.


Amir muncul dari dalam kamarnya. "Ayo, Nad!" ajaknya melewati Nadia. "Ayo, Pak Rasya," beralih pada Rasya.


"Benaran, enggak mau ikut?" Rasya bertanya pada Nadia untuk memastikan.


"Mau kemana?" tanya Nadia yang telat info.


"Kita mau cari sarapan, nanti langsung berangkat ke lokasi biar enggak capai naik turun," Amir menjelaskan.


"Tunggu dong, saya ambil tas dulu." Nadia langsung melesat ke dalam kamar untuk mengambil tas ranselnya. "Untung tadi sudah disiapkan. Barang-barang yang tidak perlu dibawa sudah ku keluarkan," gerutunya


Secepat kilat ia keluar kamar dan mengunci pintu kamarnya. Mengejar Rasya dan Amir yang sudah berdiri menunggu pintu terbuka. 'Kalian ini keterlaluan deh, orang lagi sakit malah ditinggal,' gerutu Nadia dalam hati.


"Kalau lagi sakit mendingan enggak usah ikut, Asa," cetus Rasya seperti mendengar ucapan Nadia dalam hati saja.


"Saya 'kan lapar, Pak," protes Nadia. "Lagian di hotel cuma sendirian mau ngapain? Masa cuma mau tidur doang," imbuhnya.


Pintu lift pun terbuka. Mereka bertiga masuk ke dalamnya.


"Wajah kamu masih terlihat pucat, kalau mau sarapan bisa bapak pesankan nanti," tawarnya.


"Bapak kenapa sih, pengen banget saya enggak ikut? Jangan-jangan mau ketemuan sama pacar bapak biar enggak ketahuan sama saya," tebak Nadia penasaran. "Saya pucat cuma karena saya belum sarapan," imbuhnya.


Rasya mendengus kesal. "Asa, saya itu enggak punya pacar. Ya sudah. Kalau kamu maksa, nanti kalau kamu pingsan tinggal saja di sana," ucap Rasya kemudian berbalik menghadap pintu lift membelakangi Nadia.


Lift berhenti saat sampai di lantai dasar, pintu terbuka, Mereka bertiga ke luar. Rasya dan Amir berjalan di depan. Sementara Nadia membuntuti di belakang mereka. Hingga mereka masuk ke dalam restoran yang ada di dalam hotel. Di restoran ini masakan sudah tersedia, kita tinggal meminta kepada pelayan untuk mengambilkan apa yang kita mau.


"Maaf sebelumnya, saya lancang duduk di bangku meja ini," ucap pemuda itu sungkan.


"Oh, tidak apa-apa, Mas. Ini semua juga milik hotel kok, bukan milik saya," sahut Nadia.


"Adeknya dari Jakarta ya?" tebak si pemuda sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Iya," sahut Nadia lagi.


"Ke sini dalam rangka apa? Liburan?" tanya pemuda itu lagi.


"Ada urusan pekerjaan," jawab Nadia singkat.


"Oh, saya kira liburan," timpal pemuda itu. "Saya dari Surabaya, di sini karena ada urusan pekerjaan juga," imbuh pemuda itu menjelaskan, padahal Nadia tidak bertanya.


"Oo ...." Nadia cuma ber-o ria.


Sebenarnya ia merasa canggung untuk berbincang-bincang dengan lawan jenis. Apalagi ada sepasang mata elang yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk yang siap menerkamnya hidup-hidup nanti. Nadia tidak berani menoleh ke arah mata elang tersebut, meliriknya pun tidak. Maka ia memutuskan untuk bergabung dengan mereka saja.


"Maaf, Mas. Saya permisi mau bergabung dengan teman-teman saya," pamitnya pada pemuda di depannya.


"Silakan, Mbak," sahut si pria.


Nadia pun berjalan menghampiri meja yang ditempati oleh Amir dan Rayan, dan duduk di bangku yang kosong.

__ADS_1


"Sok akrab banget sih sama orang yang tidak dikenal," kesal Rasya yang entah ditujukan pada siapa.


Nadia yang mendengar kalimat itu seperti menyindirnya, mengernyitkan keningnya ke arah Amir. Amir malah mengedikkan bahunya tanda tidak mau ikut campur.


"Pak Rasya ngomongin saya?" Terka Nadia pada Rasya.


"Saya ngomongin orang yang merasa saja. Kalau dia memang tidak merasa berarti memang orang itu tidak berperasaan," sahut Rasya.


"Saya dok akrab dengan orang yang enggak saya kenal 'kan biar kenal, siapa tahu aja jodoh," timpal Nadia membuat argumen.


"Kamu mau jodoh? Ayo kita ke KUA! Kebetulan sekali kakak kamu pas tinggal di Bandung, jadi enggak usah telpon Mamak kamu untuk datang sebagai wali nikah," tantang Rasya.


Nadia terbelalak mendengar ucapan Rasya. "Aku enggak mau," tolak Nadia seketika yang lupa dengan kata saya.


"Kenapa? Di kampus dan di kantor banyak yang dengan sukarela menawarkan diri sebagai istriku, bahkan menjadi simpanan ku," ungkap Rasya.


"Kenapa Bapak tidak nikah sama mereka saja yang dengan sukarela?" sergah Nadia.


Amir hanya senyum-senyum menyaksikan perdebatan kedua orang rekan kerjanya ini, antara Bos dengan karyawan magangnya.


"Kalau aku nikah sama mereka, aku takut ada yang menangis meraung-raung seperti tadi malam karena patah hati. Kalau sakit perut 'kan ada obatnya, nah kalau sakit hati 'kan butuh waktu yang lama untuk mengobatinya. Kasihan 'kan para tetangganya kalau setiap malam harus mendengar dia menangis meraung-raung hingga bertahun-tahun lamanya," sindir Rasya panjang lebar.


"Kasih racun saja dia sekalian biar tidak bisa menangis lagi," cicit Nadia menahan tangis. Ia sudah tidak tahan lagi untuk berdebat dengan pak dosen. Ia bangkit dan setengah berlari keluar dari restoran meninggalkan mereka.


"Asa! Asa! Mau kemana kamu? Kejar, Mir!" ujar Rasya panik.


"Paling juga lari ke basemen parkir, Pak," sahut Amir santai.


"Kalau dia sampai hilang bagaimana? Kita bisa-bisa dihajar habis-habisan sama kakaknya," timpal Rasya.


Amir mengejar sampai ke basemen, sementara Rasya melangkah menuju ke lobi. Rasya menghampiri customer servis.


"Maaf, Mbak. Apa barusan Mbak lihat cewek lari lewat sini? Dia pakai baju dan kerudung warna pastel," tanya Rasya pada pegawai customer servis.


"Oh iya, Pak. Barusan lewat sini sepertinya ke luar hotel deh, ke halaman mungkin pak," jawab pegawai customer servis.


"Terima kasih, Mbak," ucap Rasya.


"Sama-sama, Pak," jawab pegawai customer servis.


Rasya pun melangkah ke luar hotel sesuai petunjuk arahan dari pegawai customer servis. Sampai di luar ia nampak celingukan ke sana kemari mencari keberadaan Nadia, ia belum juga menemukannya.


Rasya melanjutkan langkahnya menuju ke taman yang ada di halaman. Ia melihat seorang gadis yang duduk di bawah pohon cemara, posisi gadis itu membelakanginya. Pakaiannya persis dengan pakaian yang dipakai Nadia. Rasya pun mendekat.


Gadis itu menunduk dengan bahu bergetar seperti sedang menangis.


"Asa!" panggil Rasya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2