Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
dr. Albert


__ADS_3

Satu minggu kemudian mereka telah kembali ke Jakarta. Di samping untuk mempersiapkan awal tahun akademik baru, Rasya juga harus menyelesaikan pekerjaannya yang telah menumpuk karena ditinggal selama sepuluh hari kemarin.


Nadia tengah membantu suaminya mengoreksi kertas hasil ujian milik teman-temannya dan jurusan lain di ruang kerja Rasya. Rasanya punggungnya sudah pegal sekali, tetapi ia kasihan juga terhadap Rasya yang masih menanggung tumpukan pekerjaannya. Sementara awal masuk kuliah tinggal enam hari lagi. Tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar.


Tok tok tok


Seseorang menggerakkan gagang pintu dan pintu pun terbuka. Bu Nastiti masuk menghampiri mereka. Keduanya memandang ke arahnya, "Nanad, temani ibu ke salon yuk!" ajaknya.


Nadia beralih memandang suaminya, "Boleh, Mas?" tanyanya.


Rasya yang sudah kembali berkutat dengan kertas-kertas, kini kembali menoleh ke arah sang istri. "Boleh, Sayang, tetapi nanti malam kamu pijitin mas ya." Rasya mengajukan syarat.


"Kok aku sih?" tolak Nadia.


"Kamu kan istriku, lupa? Apa mas harus ke panti pijat? Kamu rela tubuh suami kamu ini digrepe-***** sama pegawai panti pijat? Apalagi ada layanan plus-plus di sana. Kamu mau Mas tanam Rasya junior di sana juga?" cecar Rasya tersenyum jahil.


"Ih, jangan dong! Iya nanti malam aku yang pijitin," timpal Nadia menyanggupi.


Rasya tersenyum penuh kemenangan. Bu Nastiti hanya tersenyum simpul menyaksikan anak dan menantunya yang sudah jadi suami istri masih saja suka berdebat.


"Nanad ganti baju dulu ya, Bu. Ibu tunggu di bawah saja," pinta Nadia pada sang ibu mertua.


Nadia pun bangkit dari duduknya menghampiri Rasya, hendak meraih dan mencium punggung tangan kanan suaminya tersebut. Rasya malah menyembunyikan tangannya.


"Cium tangannya nanti saja kalau sudah selesai ganti baju dan dandan. Mas masih pengen lihat penampilan kamu kayak gimana? Jangan-jangan pakai baju kayak gitu yang mengundang perhatian cowok lain," ucap Rasya menunjuk baju yang dipakai istrinya.


"Huft! Siapa suruh beli baju kayak ginian? Udah tahu aku ini Nadia bukan Celine," dengus Nadia kesal. "Ini mau pergi sama ibu loh padahal, enggak pergi sama cowok lain, apalagi kalau sama cowok lain?" cicitnya melangkah keluar dari ruang kerja.


Masuk ke kamar Rasya, Nadia langsung mencari pakaian ganti yang menutup aurat. Karena yang ia kenakan saat ini adalah hot pant di atas lutut, sedangkan untuk atasannya berupa kaos street lengan pendek. Ia menjatuhkan pilihan pada celana baggy dan kaos lengan panjang berbahan katun yang nyaman dipakai, ini perpaduan warna coklat susu dan pastel, warna kesukaannya. Sementara untuk kerudungnya ia memilih kerudung segi empat berbahan katun voal dengan motif paisley.


Nadia mengoleskan liptin di bibirnya sebagai polesan akhir riasannya. Ia lalu keluar dari kamar kembali masuk ke dalam ruangan kerja Rasya. Rasya masih pada posisi semula.


Nadia menengadahkan tangan bermaksud meminta kembali punggung tangan suaminya untuk dicium. "Mas, sudah boleh pergi 'kan?" tanyanya memastikan.


Rasya mengangkat wajahnya yang tadi menunduk. Senyum usilnya mengembang ketika melihat istrinya yang telah siap untuk pergi. Sedangkan Nadia masih menunggu dengan tangan menengadah.


Pria yang berprofesi sebagai dosen tersebut meletakkan kertas dan pulpen di atas meja. "Sini dulu!" suruhnya menepuk pahanya agar istrinya duduk di atas pangkuannya.


"Kebiasaan deh," cebik Nadia walaupun akhirnya ia menuruti perintah suaminya tersebut. Ia pun duduk di pangkuan suaminya dan tersenyum merangkulkan tangannya ke leher Rasya.


"Mau pergi aja ini bibir dibasah-basahin, perasaan sama Mas nggak gini," protes Rasya dengan penampilan Nadia sambil memegangi bibir istrinya tersebut.


"Siapa bi_ mmmh," Nadia yang hendak protes karena dari tadi pagi ia juga sudah pakai liptin, tapi keburu diembat oleh bibir Rasya dengan rakus. Namun, bibir suaminya tersebut telah membungkamnya kembali.


"Mas, nanti ibu kelamaan nunggu loh," ucap Nadia ketika tautan bibirnya terlepas.


"Biar saja, nggak usah pergi juga enggak apa-apa," timpal Rasya santai.


"Ih, tadi bilang boleh," cebik Nadia.


Rasya hanya tertawa sambil mencubit pipi Nadia. "Ya sudah sana pergi," suruhnya.


Dengan girang Nadia bangkit berdiri, lalu mencium kening Rasya. "Makasih, Suamiku Sayang," ucapnya langsung hendak pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Eh, main pergi saja," cegah Rasya.

__ADS_1


Nadia pun menghentikan langkahnya. Berbalik kembali ke belakang. "Apalagi?" tanyanya.


"Ini, masa lupa," ucap Menyodorkan punggung tangannya.


Nadia kembali melangkahkan kakinya menghampiri suaminya, lalu meraih dan mencium punggung tangannya. "Udah. Udah boleh pergi kan, Mas Rasya suamiku Sayang?" tanyanya setelah selesai dengan sapaan tambahan embel-embel yang panjang.


Rasya hanya mengangguk tersenyum. Nadia pun segera beranjak dari tempat itu sebelum muncul syarat berikutnya dari sang suami.


Setelah kepergian Nadia, Rasya menautkan kedua telapak tangannya di belakang kepala, bersandar pada sandaran kursi. Ia menaikkan kakinya ke atas meja sambil berfikir. Sepuluh hari sudah ia lalui bersama gadis itu dalam mahligai ikatan pernikahan, sekarang ketika berpisah dengan dia rasanya menjadi hampa. Tercetus pikiran untuk mengunjungi seseorang yang sudah lama tidak ia temui.


Rasya pun bangkit dari kursinya dan menyambar kunci mobil. Ia bergegas menuju ke garasi lalu membawa mobilnya meninggalkan kediaman Pak Baskoro.


Sampai di tempat yang ia tuju, Rasya memarkirkan mobilnya dengan nyaman di tempat yang ia inginkan. Namun, ketika ia hendak keluar dari mobil, ia mengurungkan niatnya. Ada seseorang yang ia kenal juga hendak masuk ke tempat tersebut.


"Itu kan dokter yang menangani operasi Nadia setelah penusukan itu. Mau apa dokter itu di tempat ini?" gumam Rasya merasa curiga.


Rasya menunggu sampai seseorang yang dicurigainya tersebut masuk ke dalam. Ternyata yang dikunjungi oleh Rasya adalah lapas wanita dimana Celine mantan istrinya dipenjara. Setelah orang yang dicurigai tersebut tidak kelihatan, Rasya keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobil tersebut. Ia melangkah menuju ke dalam dan bertemu dengan petugas sipir. Saat ia mengatakan kalau ia ingin menemui Celine, ternyata wanita itu sedang ada tamu.


Rasya menunggu di dekat ruang besuk. Di sana ia mendengar percakapan antara seorang wanita dengan seorang pria, tetapi percakapan mereka tidak begitu jelas apa yang mereka bicarakan.


Setelah menunggu dua puluh menit, pria itu akhirnya beranjak juga dari ruang pertemuan antara dia dan Celine. Rasya bangkit untuk sembunyi saat pria itu melewati ruangan di mana ia duduk untuk menunggu. Setelah pria itu tidak kelihatan batang hidungnya Rasya beranjak dari tempat persembunyiannya menuju ke ruang pertemuan untuk bertemu dengan Celine. Ia duduk di bangku untuk menunggu karena Celine telah kembali ke selnya.


"Mau apa kamu kemari? Senang melihat aku menderita?" cecar Celine yang tiba-tiba sudah duduk di hadapan Rasya. Mereka terhalang meja.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rasya tanpa memperdulikan pertanyaan beruntun dari Celine.


"Setelah kamu jebloskan aku ke penjara. Sekarang kamu tanya bagaimana kabarku?" sergah Celine.


"Ternyata kamu belum bertobat juga ya, kamu tidak menyadari bahwa perbuatan yang telah kamu lakukan selama ini adalah sebuah dosa besar," simpul Rasya.


Sejenak mereka diam, Rasya tidak tahu lagi harus bagaimana membuat Celine sadar. Mungkin dipenjara dalam waktu yang lama suatu saat nanti dia akan sadar sendiri.


"Ada hubungan apa antara kamu dengan dokter Albert?" tanya Rasya tiba-tiba.


Seketika Celine membelalakkan matanya, ia sangat kaget, tetapi tidak berlangsung lama wanita licik itu dapat mengendalikan dirinya. "Dokter Albert? Dia yang menangani persalinan ketika aku melahirkan Tiara, bukankah kamu tahu itu?" jawab Celine yang akhirnya dapat menemukan alibinya.


"Kalau cuma membantumu melahirkan Tiara, kenapa dia mengunjungimu ke sini, apa kalian seakrab itu?" sergah Rasya.


"Mana aku tahu? Menangnya dia ke sini? Kapan?" cecar Celine mengelak tuduhan Rasya.


"Sudahlah, tidak usah mengelak! Tidak akan ada gunanya. Kalau kamu tidak mau mengakui ya sudah. Aku bisa cari tahu sendiri dengan caraku," ungkap Rasya menyerah.


Sipir mengingatkan bahwa waktu kunjungan telah habis. Rasya pun pamit meninggalkan lapas.


"Tolong tangkap dokter Albert spesialis kandungan secepatnya, seret dan bawa ke gudang bawah tanah! Aku tunggu di sana!" perintah Rasya terhadap seseorang saat ia tengah berada di dalam mobil.


Rasya melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


*****


Sementara sore hari sekitar pukul lima, Bu Nastiti, Nadia, Tiara dan Nina telah kembali sampai di rumah sehabis nyalon. Mereka masih berkumpul melepas lelah di ruang tengah.


"Padahal tadi sudah relaks dipikir-pikir, sekarang sampai di rumah kok ya capek lagi ya, Mbak Nanad," ucap Nina pendapat dari Nadia.


"Namanya juga manusia, Mbak Nina. Tidur terus saja juga capek. Kalau mau tidak capek, berubah saja jadi malaikat," timpal Nadia.

__ADS_1


"Mbak Nanad ini ada-ada saja, mana ada manusia berubah menjadi malaikat?" sergah Nina.


"Ada, manusia yang berhati malaikat, manusia yang suka menolong orang lain dengan ikhlas tanpa ingin mendapatkan imbalan sepeserpun dan apapun," sahut Nadia.


"Tidak usah masak, Nin. Ibu sudah minta koki restoran untuk memasak menu makanan kita malam ini, nanti akan diantar ke sini," cegah Bu Nastiti pada pembantunya tersebut.


"Iya, Bu. Ibu baik banget deh, terima kasih banyak ya, Bu." Nina nampak merasa sungkan.


"Iya, sama-sama, Nin," sahut Bu Nastiti.


Sekitar bakda maghrib, kurir yang mengantar makanan yang dipesan oleh Bu Nastiti datang juga. Namun, hingga sampai jadwal makan malam tiba, Rasya belum kelihatan batang hidungnya juga. Nadia mencarinya di ruang kerja, tetapi tidak menemukannya.


[Mas, aku sudah pulang. Mas dimana?]


Itu pesan yang dikirim Nadia, tetapi hanya centang biru.


"Suami kamu mana, Nad?" tanya Bu Nastiti saat mereka sudah siap untuk menyantap makan malam.


"Tidak tahu, Bu. Tadi siang juga tidak bilang kalau dia mau pergi," jawab Nadia.


"Sudah kamu telepon?" tanya Bu Nastiti lagi.


"Sudah, Bu. Tetapi tidak diangkatnya. Aku kirim pesan juga cuma dibaca saja," jawab Nadia lagi.


"Ya sudah, kita makan saja. Tidak usah pedulikan dia," ajak Bu Nastiti.


Akhirnya mereka makan tanpa Rasya. Setelah makan Nadia kembali masuk ke ruang kerja, melanjutkan mengoreksi hasil ujian teman-temannya.


Rasya masuk ke dalam kamarnya sekitar pukul sepuluh malam. Namun, ia tidak mendapati Nadia di dalam kamar tersebut. Ia mencari ke dalam kamar mandi maupun walk in closet juga tidak ada. Ia lalu membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan ruang kerja dan mendapati Nadia yang tidur dengan posisi kepala menelungkup di atas meja, kedua lengannya ia gunakan sebagai sandaran.


Rasya tersenyum telah menemukan istrinya. Lalu dengan hati-hati dan juga gerakan sigap ia meraih tubuh Nadia, mengangkat dan menggendongnya ala bridal style, membawanya menuju ke kamar mereka.


Dosen yang akhir-akhir ini selalu berfikir mes*m bila dekat dengan mahasiswi yang sekarang menjadi istrinya itu dengan hati-hati membaringkan tubuh Nadia di atas ranjang. Ia juga ikut berbaring di samping gadis itu.


Rasya tersenyum memandangi wajah lelap Nadia. Ia segera menc*um bibir gadis itu yang telah menjadi candu.


"Uhuk uhuk ..." Nadia tersedak dan terbangun.


Dengan sigap Rasya mengambilkan gelas berisi air putih yang tersedia di nakas. Nadia pun meraih dan meminumnya.


"Mas dari mana? Kenapa tidak menjawab teleponku? WA juga cuma diread doang?" cecar Nadia setelah batuknya reda.


"Mas tadi dari gudang Mall, ada urusan penting," jawab Rasya.


"Urusan apa yang aku tidak boleh tahu?" sungut Nadia.


"Bukan tidak boleh tahu, tetapi belum saatnya. Suatu saat akan Mas ceritakan. Sekarang kita bikin anak saja yuk, Sayang!"


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2