Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tinjau Lokasi


__ADS_3

Nadia pun meraih tangan itu dan menciumnya. Namun, ia tidak segera melepaskannya. Ia malah menggenggam tangan itu di pangkuannya. Dan menyandarkan kepalanya di pundak Rasya. Mendadak perasaannya berubah menjadi melow.


"Pak," panggil Nadia.


"Hemm," sahut Rasya.


"Kalau besok-besok aku mengalami kecelakaan dan menjadi seorang wanita yang cacat, apa bapak masih mau menjadikan aku sebagai seorang istri?" Nadia bertanya dengan mata memandang ke arah luar jendela.


Rasya mengernyitkan dahinya heran. Barusan juga tersenyum bahagia, mengapa sekarang menanyakan hal-hal yang menyedihkan begini sih, Nanad?


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Saya tidak suka," tukas Rasya tidak mau menjawab pertanyaan Nadia.


"Pak, segala kemungkinan itu pasti akan terjadi," timpal Nadia. "Bapak tinggal jawab saja," imbuhnya masih memohon.


Rasya melepaskan tangannya, lalu menghadap ke arah Nadia. Ia memegang kedua bahu gadis yang saat ini berhadapan dengannya tersebut. "Asa, kalau kamu sampai cacat, saya akan membiayai pengobatan kamu sampai sembuh meski ke ujung dunia manapun. Puas kamu?" tuturnya. "Sudah tidak usah berfikir yang tidak-tidak, apalagi suatu hal yang menyedihkan," imbuhnya.


Rasya kembali menghadap ke arah depan. Ia meraih kepala Nadia untuk kembali bersandar di bahunya. "Berandai-andai itu jangan hal-hal yang menyedihkan, Sayang. Berandai-andai itu yang menyenangkan saja," pintanya lagi.


"Saya cuma mengetes Bapak, Bapak 'kan sudah biasa kasih saya kuis," sahut Nadia enteng.


"Tetapi kuis kamu ini bikin saya takut," timpal Rasya.


"Kalau takut baca ayat kursi saja, Pak," cetus Nadia lempang.


Rasya tidak menanggapi ucapan gadis itu yang terdengar ngawur. Setelah itu tidak ada perdebatan lagi di antara mereka, hanya lagu-lagu MP3 yang terdengar dari dashboard mobil. Hingga mobil mereka berhenti karena telah sampai di kebun yang akan menjadi lokasi pembangunan villa.


Amir keluar dari dalam mobil dan melangkah ke belakang, membuka bagasi dan mengeluarkan isinya.


"Asa, bangun! Sudah sampai," ucap Rasya dengan tangan kanan menepuk pipinya untuk membangunkan, ternyata Nadia tertidur. "Masa naik mobil sebentar saja sudah tertidur," sergahnya.


Nadia mengerjapkan matanya, sesaat memperhatikan sekitar mengumpulkan kesadarannya. "Sudah sampai ya, Pak?" tanyanya.


"Iya, ayo bangun!"


Nadia pun menegakkan tubuhnya. Membuka pintu di samping kanannya dan beringsut ke luar dari mobil. Menutup kembali pintu dan bersandar di pintu tersebut dengan kedua lengan ia lipat di perut. Memandang ke arah danau yang terlihat mulai terik. Lalu menegakkan tubuhnya kembali dan melangkah mendekati sebuah pohon. Ia duduk di bawah pohon tersebut yang sudah dialasi dengan tikar, mengamati tanah yang hendak dijadikan sebagai lokasi pembangunan villa.


Seorang pria paruh baya yang sesaat kemudian diketahui sebagai penjaga kebun datang membawa seikat patok dan tali rafia dan menaruhnya di atas tanah. Tanah itu sudah kosong dibersihkan, pepohonan yang tumbuh di atasnya sudah ditebang. Rasya sudah berdiri di tanah tersebut dengan memakai sepatu boot, topi serta kacamata hitam. Pria tersebut tak luput dari perhatian Nadia, terlihat gagah dan sangat tampan. Ia nampak tengah mengamati dan mengira-ngira tanah tersebut.


Rasya menoleh ke arah Nadia, melambaikan tangannya, memberikan isyarat kepada gadis tersebut untuk mendekat. Nadia mendekat dan bergabung di sana. Ia nampak berfikir. Sejenak kemudian ia mengambil sebuah patok dan menancapkan di tanah yang dianggapnya sebagai sudut villa sebelah kiri. Nadia kembali mengambil patok dan bilah yang dibuat sepanjang 1 meter. Mengukur lebar tanah ke kanan dengan bilah tersebut dan kembali menancapkan patok setelah diperkirakan panjangnya.


Rasya hanya memperhatikan apa yang dilakukan gadis itu sambil membentangkan tali rafia dari patok pertama ke patok berikutnya. Gadis itu menancapkan patok hingga selesai tanpa melihat gambar denah yang telah dibuatnya tempo hari. Ia hanya menggunakan feeling-nya saja. Setelah selesai Nadia kembali duduk di bawah pohon, meraih sebotol air mineral lalu meneguknya.


Rasya mendekati gadis itu dan duduk di sampingnya. "Sudah selesai kegiatan kita hari ini, besok pagi sudah siap untuk dimulai pengerjaan pembangunan villa, nanti malam Mang Dudung mau ngundang orang kampung untuk membacakan Manaqib di sini," tuturnya.


"Kita di sini sampai nanti malam, Pak?" tanya Nadia.


"Tidak perlu, itu sudah menjadi urusan Mang Dudung," sahut Rasya. "Katanya mau mancing? yuk!" ajaknya mengingatkan.

__ADS_1


Nadia menengok ke arah danau, "Sepertinya panas sekali di sana," terkanya.


"Pakai topi ini." Rasya memakaikan topi di kepala Nadia. "Ada gubuk kecil yang biasa digunakan Mang Dudung untuk mancing di sana," ungkapnya.


"Memangnya sudah ada umpannya?" tanya Nadia sambil mengambil tas selempang kecil dari dalam tas ranselnya dan memakai tas tersebut.


"Tadi sudah beli sekalian waktu di toko alat pancing, nanti kalau kurang bisa pakai lumut atau cacing kecil, kita cari di pinggir danau," jawab Rasya.


Rasya berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Nadia untuk membantunya berdiri, "Yuk!" ajaknya.


Nadia menyambut uluran tangan tersebut dan berdiri. Rasya membawa plastik besar yang berisi peralatan pancing, sementara Nadia mengambil sebotol air mineral ukuran 1500 mililiter dan beberapa cemilan yang dimasukkan ke dalam kantong plastik. Mereka melangkah bergandengan menyusuri jalan setapak menuju ke arah danau.


Ada gubuk kecil yang berjarak sekitar 15 meter dari tepi danau. Untuk menuju ke gubuk kecil itu ada jembatan yang terbuat dari anyaman bambu yang menghubungkan.


Nadia melepas sepatunya dan duduk dengan kaki menjuntai ke air danau. Sementara Rasya berjongkok merakit pancingannya.


"Kamu mau pakai joran yang ini?" tanya Rasya yang sudah selesai merakit pancingan pilihan Nadia.


"Iya, Pak, yang ini lebih ringan. Kalau yang bapak pilih sepertinya terlalu berat buat saya," jawab Nadia menerima alat pancingnya.


Setelah memasang umpan pada kail, Nadia mulai melempar kail ke tengah danau sambil memegang gagang jorannya. Namun, tiba-tiba ponsel di dalam tas selempang nya berdering. Nadia membuka tasnya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih memegang pangkal joran.


Nadia mengecek ponselnya, tertera nama K2ng di sana, itu adalah nama kontak kakaknya.


"Assalamu'alaikum," sapa Nadia saat timer panggilan mulai berjalan.


"...."


"...."


"Dibilang chat aja, di sini jauh dari tower. Suara Kakang patah-patah kayak goyangan penyanyi dangdut. kikikik ..." serunya lagi sambil tertawa geli dengan ucapannya sendiri.


"...."


"Embuh kang ah. Matiin aja deh," gerutu Nadia yang langsung menekan icon berwarna merah.


Tidak lama kemudian muncul notifikasi chat masuk. Sesaat Nadia berbalas chat WhatsApp dengan sang kakak kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempang nya. Tiba-tiba senar pancingnya bergerak-gerak tanda strike.


"Dapet! dapet! dapet, Pak! Horeee ...." teriak Nadia kegirangan.


Ketika ia menarik pancingan dan menggulung senarnya sambil teriak-teriak kegirangan, ujung joran tersebut melengkung dan ....


"Yah ... putus. Enggak jadi dapat ikan besar deh," keluhnya merasa kecewa.


"Hahaha ...." Rasya malah tertawa melihat kekasihnya kecewa. "Senarnya terlalu kecil itu, Asa. Atau mungkin karena kamu kualat sudah memutus telepon kakak kamu secara sepihak, sehingga senarnya putus," ucapnya meledek. Nadia hanya mencebik.


Rasya menyelipkan gagang jorannya di antara rongga anyaman bambu lantai gubuk supaya pancingan tersebut tidak jatuh ke danau. Lalu mengambil alih pancingan Nadia dan menggantinya dengan senar yang baru.

__ADS_1


Nadia baru menyadari kalau kantong jaring yang tadi masih kosong sekarang sudah tercelup ke dalam air dan talinya di ikat di tiang gubuk. Ia pun mengangkat jaring tersebut, matanya terbelalak melihat isinya.


"Masya Allah, Bapak sudah dapat tiga ekor, besar-besar lagi," serunya tidak percaya. Rasya hanya tersenyum bangga. "Bapak sudah biasa mancing ya? Memang Bapak punya waktu buat mancing?" tanyanya.


"Cuma mancing di sini sama Mang Dudung," jawab Rasya santai.


"Bapak sering ke sini?" tanya Nadia lagi.


"Kalau lagi libur," sahut Rasya.


"Oo ... Sepertinya danau ini tidak usah dirombak, Pak, biar kesannya masih alami. Kita hanya perlu membuat taman di sekitarnya saja biar enak dipandang mata," cetus Nadia.


"Aku juga punya rencana seperti itu," timpal Rasya. "Ini joran kamu sudah jadi, atau mau ganti yang lebih besar biar kuat?" tawarnya.


"Yang itu saja, Pak." Nadia menerima pancingannya yang sudah diganti senar dan kail oleh Rasya.


Tidak berapa lama Nadhif tiba di lokasi tersebut dengan motornya melintasi jalan di dekat danau dan di boncengannya seorang gadis remaja bertengger memeluknya mesra.


Nadia mengernyit heran. "Itu kang Nadhif kok sama cewek, pelukan mesra lagi. Kok aku seperti pernah lihat cewek itu ya," ucapnya menerka-nerka.


"Siapa?" tanya Rasya menimpali.


"Cewek itu kayak anaknya Om Ardi. Aghni adiknya Tania, yang waktu itu pernah kita lihat di acara ultah ARD's Corp perusahaan tempat Kang Nadhif bekerja itu, Pak. Bapak ingat enggak?" Nadia menjelaskan.


"Oo, Aghni. Dia mantan tunangannya Rayan?" timpal Rasya.


"Ah iya. Dia mantan tunangannya Mas Rayan, aku sampai lupa," ucap Nadia menepuk keningnya.


"Mana mungkin Aghni mau ke tempat seperti ini?" tanya Rasya.


"Mana mungkin juga dia mau sama Kang Nadhif. Sama Mas Rayan yang tampan dan tajir melintir kepuntir-puntir saja dia enggak mau, apalagi sama Kang Nadhif yang cuma buruh di salah satu toko milik papanya." Nadia membanding-bandingkan.


"Kalau itu sih menyangkut urusan cinta, Asa. Cinta itu tidak memandang tingkat ketajir-melintiran seseorang, atau melintir kepuntir-puntiran seseorang," timpal Rasya yang kemudian tersenyum geli dengan ucapannya sendiri.


"Hahaha, kok aku baru dengar kata-kata puitis seperti itu ya. Aduh, kalau mau pipis di sini di mana ya, Pak?" ucap Nadia tidak bisa menahan tawa.


"Di dalam gubuk ada lubang kecil dan ember untuk mengambil air. Beneran kamu mau buang air di sini?" tanya Rasya memastikan.


"Enggak jadi dech," ucap Nadia meralat.


"Rame banget di sini, aku kira banyak orang," sela Nadhif yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.


"Eh, Kang Nadhif. Kakang bawa apa?" tanya Nadia manja pada sang kakak.


"Kakang bawa es buah tuh di bawah pohon, tapi kakang tidak bawa mangkoknya," jawab Nadhif.


"Asik ... Terus tadi Kakang boncengan sama siapa? Kok aku seperti mengenal cewek itu," tanya Nadia lagi.

__ADS_1


"Dia di duduk di bawah pohon tuh, kamu samperin saja sendiri. Sini biar kakang yang mancing," jawab Nadhif meminta joran yang dipegang oleh Nadia.


__ADS_2