
Pagi ini udara masih terasa sejuk. Burung-burung berkicau hinggap dari dahan satu pindah ke dahan yang lainnya. Sang kupu-kupu juga tidak absen untuk mengintip nektar sebagai persediaan makanannya.
Sudah dua hari Nadia berangkat ke kampus sendirian tanpa Rasya. Suaminya tersebut sudah dua hari berada di Surakarta untuk memenuhi undangan sebagai narasumber dalam seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh sebuah perguruan tinggi di Surakarta.
Hari ini adalah hari ketiga Rasya berada di Solo. Sebelum ia bangun dan melaksanakannya tugas sehari-hari, Nadia menelpon suaminya untuk membangunkannya. Padahal ia masih bergelung dengan selimut dan bantal guling.
"Assalamu'alaikum, Istriku Sayang. Sudah mandi belum nih?" sapa Rasya menggoda dalam sambungan teleponnya.
"Wa'alaikumussalam, Suamiku Tercinta. Aku lagi malas bangun pagi, habis enggak ada yang suami di sisiku," jawab Nadia malas.
"Jadi kamu belum bangun, Sayang? Ini sudah jam berapa? Mas saja sudah rapi ini mau sarapan," sergah Rasya.
"Mas, kangen. Nggak semangat nggak ada Mas Rasya," ucap Nadia manja.
"Mas juga kangen, Sayang. Besok siang Mas pulang ke Jakarta. Habis itu kita lepas kangen ya," janji Rasya. "Udah ya, Sayang. Mas sudah ditunggu sarapan oleh rekan satu tim," pamit Rasya.
"Yah, kan masih kangen." Nadia merajuk.
"Nanti siang disambung lagi deh pas istirahat, janji," bujuk Rasya.
"Iya deh. Aku juga mau siap-siap berangkat kuliah, Mas," timpal Nadia luluh.
"Assalamu'alaikum, Sayang. Sampai nanti ya, emmmuach ...."
"Wa'alaikumussalam, emmuach ...."
Nadia meletakkan ponselnya langsung ke dalam tas ransel kuliahnya. Ia menyambar handuk dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Enggak usah wangi-wangi, Nad, paling enggak ada suami juga. Benar saja, hanya memerlukan 10 menit ia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di dadanya.
Nadia langsung berganti pakaian dengan secepat kilat. Lalu sedikit memoles wajahnya hanya dengan krim siang. Setelah dirasa cukup, ia menyambar tas ranselnya lalu turun ke lantai bawah. Sampai di ruang makan nampak olehnya Bu Nastiti tengah melayani suaminya.
"Selamat pagi, Ibu, Bapak," sapa Nadia kepada kedua mertuanya.
"Udah rapi, Sayang. Udah siap berangkat kuliah ya?" ucap Bu Nastiti.
"Iya, Bu. Kebetulan pagi ini ada kuis," timpal Nadia.
"Rasya kapan pulang, Nad?" tanya Pak Baskoro setelah Nadia mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya.
"Hari ini katanya hari terakhir seminar, Pak, terapi dia bilang mau mampir ke Klaten ketemu Bu Lek Milarsih," jawab Nadia.
"Apa? Ke Klaten? Apa dia tidak tahu kalau Bu Leknya sudah pindah?" tanya Bu Nastiti terkejut.
"Pindah?Pindah kemana, Bu?" tanya Nadia.
"Masih di Klaten juga sih. Jadi tidak perlu khawatir, nanti dia bisa telpon kok," jawab Bu Nastiti.
__ADS_1
"Nadia berangkat duluan ya, Bu. Harus jemput Tania dulu soalnya," pamit Nadia tergesa-gesa.
"Kamu mau diantar siapa, Sayang?" tanya Bu Nastiti.
"Aku mau nyetir sendiri bawa mobil Mas Rasya saja, Bu. Biar enggak jenuh nunggu jemputan," jawab Nadia.
"Sudah berani bawa mobil sendiri, hati-hati ya nyetirnya," pesan Bu Nastiti.
"Iya, Bu," sahut Nadia. Ia pun tidak lupa mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Ibu kok jadi takut kalau Rasya akhirnya tahu tentang Raka ya, Pak," ucap Bu Nastiti khawatir setelah Nadia tidak kelihatan di ruangan itu.
"Biarkan saja, Bu. Sudah saatnya dia tahu. Bapak yakin Rasya bisa menyikapi dengan bijak. Dia bukan ABG lagi seperti dulu," timpal Pak Baskoro.
"Tapi ibu lebih khawatir sama Nadia, Pak," ucap Bu Nastiti lagi.
"Ibu tenangkan pikiran. Jangan menghawatirkan sesuatu yang belum terjadi, bapak yakin semua akan baik-baik saja," ucap Pak Baskoro menghibur istrinya.
Sementara Nadia yang menyetir mobilnya Rasya, kini ia telah sampai di halaman rumah Tania. Nadia membunyikan klakson untuk memberitahu Tania bahwa ia telah sampai.
"Wah, kamu berani bawa mobil Pak dosen ke kampus, Nad? Sudah siap jadi bahan bulian seisi penghuni kampus kamu?" cerocos Tania yang muncul dari balik pintu.
"Siapa yang bilang aku siap dibuli? Mobil Mas Rasya aku tinggal di sini lah. Ke kampusnya aku nebeng mobil kamu," cetus Nadia.
"Kenapa enggak kamu bawa langsung saja ke garasi. Nih sekalian kamu keluarin mobilku," pinta Tania sambil meletakkan kunci mobilnya di dashboard mobil yang dibawa Nadia.
"Aku baru selesai mandiin baby Atar. Ini baru mau siap-siap dulu, tapi tadi udah mandi kok. Tinggal ganti baju doang," sahut Tania yang langsung masuk ke dalam rumah.
Nadia pun segera membawa mobil yang dibawanya ke garasi untuk ditukar dengan mobil Tania. Lalu kembali ke halaman dengan membawa mobil Tania.
Nadia keluar dari dalam mobil dan menunggu Tania siap berangkat kuliah dengan duduk di kursi teras. "Lama juga Tania dandannya, sudah 25 menit ia belum keluar juga. Apa Edos minta nambah celup-celupan ya setelah melihat Tania rapi dan wangi. Soalnya kebiasaan Mas Rasya juga sama seperti itu," Nadia bermonolog. "Ah jadi tambah kangen sama dosen killer ku yang satu itu, sedang apa ya dia sekarang?" ucapnya lagi.
"Eh, ngomong sambil senyum-senyum sendirian, nanti kesambet loh," sergah Tania yang tiba-tiba sudah berada di depan Nadia tanpa Nadia tahu kapan Tania keluar dari arah pintu. Apa mungkin Tania punya ilmu halimun kabut kali ya?
"He, malah melamun lagi, ayo berangkat. Atau mau aku tinggal nih," ancam Tania.
"Tinggal? Yang bawa mobil siapa?" tanya Nadia.
"Hehehe ... iya. Ya kamu lah yang bawa mobil. Siapa lagi? Aku kan belum sempat belajar nyetir," jawab Tania.
*****
Rasya telah selesai melaksanakan tugasnya sebagai narasumber di sebuah seminar pendidikan di Surakarta sejak tadi malam. Namun, ia tidak segera kembali ke Jakarta. Sesuai perkataannya waktu itu kepada Nadia, ia akan singgah di rumah peninggalan almarhum kakeknya yang ditempati oleh Bu Leknya.
Pukul 7 pagi Rasya berangkat dari hotel di Surakarta ke Klaten dengan menggunakan jasa taksi online. Satu jam di dalam perjalanan, ia kini telah sampai di lokasi yang ia tuju. Setelah membayar ongkos taksi, ia keluar dari dalam taksi dan berjalan kaki mengamati lingkungan sekitar.
__ADS_1
Saat ini ia tengah sampai di lokasi dimana dulu ia tinggal bersama sang kakek di Klaten. Ternyata rumah almarhum sang Mbah Kakung ikut digusur karena ada proyek pembangunan jalan tol Solo-Jogja. Dan dari kabar yang ia dengar Bu lek beserta keluarganya telah tinggal di rumah baru yang dibeli dari uang ganti rugi penggusuran rumah beserta tanah mereka.
Rasya memang pernah sekilas membaca berita tentang proyek besar pembangunan jalan tol layang Solo-Jogja tersebut. Namun, ia tidak pernah mengira jika rumah peninggalan sang kakek juga ikut dilintasi jalan tol tersebut.
"Untung saja Nadia tidak mau ikut, kalau sampai dia ikut kasihan kan dia. Lha wong aku sendiri juga belum menemukan dimana kediaman Bu Lek Milarsih," gerutu Rasya.
Saat ini Pria tersebut tengah berdiri di dekat lokasi proyek pembangunan, menunggu telponnya diangkat oleh adik kandung dari ibunya. Hilir mudik truk pengangkut material membuat jalanan penuh dengan debu. Untung saja ia selalu membawa kacamata dan masker.
Tidak jauh dari lokasi proyek banyak warung tenda yang dibuat dadakan. Rasya berinisiatif menunggu telponnya diangkat oleh Bu Leknya sambil menikmati es teh di salah satu warung. Ia pun mendekati warung yang menurutnya tidak terlalu rame. Rasya pun masuk ke dalam warung langsung duduk di bangku.
"Permisi, Mbak. Tolong buatkan es teh satu ya," pintanya pada sang pemilik warung tanpa beralih dari layar ponselnya.
"Ditunggu ya, Mas," jawab si pemilik warung sekaligus pelayannya tersebut.
"Tolong buatkan es teh satu buat tamu yang baru datang itu ya, Kak. Ibu sedang memasak," perintah Mbak pemilik warung kepada anak remajanya yang tengah bermain-main dengan kedua adiknya di samping warung.
Pemuda tanggung yang diperkirakan usia anak SMP atau SMA itu langsung membuatkan pesanan Rasya karena memang kebetulan tidak ada pelanggan lain. lalu ia meletakkan di meja tepat di hadapan Rasya.
"Silakan, Pak!" Pemuda itu mempersilakan.
"Terima kasih, Dek." Rasya mengalihkan perhatiannya kepada pemuda tersebut. Ketika mata mereka bersibobok ada desir aneh di hati Rasya, rasanya wajah pemuda itu begitu familiar, tetapi Rasya segera menepisnya. "Oh iya adik tahu tidak orang-orang yang dulu tinggal di sekitar sini kira-kira sekarang pada pindah kemana ya, Dek?" tanya Rasya pada pemuda tersebut.
"Sebentar, Pak. Saya panggilkan ibu. Mungkin beliau tahu," pamit pemuda itu yang langsung pergi ke belakang menyambangi ibunya yang sedang memasak.
Pemuda itu mengambil alih pekerjaan ibunya mengaduk masakan. Sementara sang ibu menemui Rasya. Terlihat mimik muka penuh kekagetan di mata si Mbak pemilik warung setelah melihat siapa tamu yang saat ini duduk di bangku warungnya.
"Rasya?" sapa Mbak pemilik warung.
Rasya pun mendongak kembali mengalihkan perhatian dari ponselnya. "Kania," ucapnya lebih terkejut. "Bagaimana kabar kamu? Tadi yang buatin es teh itu anak kamu? Kamu tinggal di sekitar sini sekarang? Bukankah suami kamu dari kecamatan sebelah?" cecar Rasya beruntun bak trek tronton pengangkut material pembangunan jalan tol.
Wanita yang disapa Kania oleh Rasya tersebut mengambil tempat untuk duduk. "Ceritanya panjang, Sya," ucapnya terlihat sedih.
Wanita itu nampak mengambil napas berat sebelum mulai bercerita, nampak raut kesedihan di matanya. "Pernikahan pertamaku kandas setelah aku melahirkan anak pertamaku yang aku beri nama Raka Bagaskara. Saat menikah ternyata aku telah hamil lima minggu dan suamiku tidak bisa menerimanya, tetapi ia menangguhkan gugatan cerainya sampai anakku lahir. Aku diusir dari rumah oleh Bapakku karena dianggap telah membuat nama baik keluarga tercoreng." Kania menjeda kalimatnya, begitu berat rasanya beban hidup yang dulu ia jalani sendirian hingga bulir air mata mengalir tak mampu ia tahan.
"Aku kemari mencari kamu. Bu lek Milarsih bilang semua keluarga kamu telah pindah ke Jakarta dan kamu kuliah di luar negeri. Dia memintaku untuk melupakanmu dan tidak mencari keberadaan kamu lagi. Tiga tahun aku ngontrak di salah satu rumah di sekitar sini, mengasuh Raka sendirian. Aku bekerja sebagai tukang cuci di rumah-rumah warga yang membutuhkan tenagaku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Mas Lukman, suamiku yang sekarang. Dia begitu mencintaiku hingga lambat laun aku bisa melupakan kamu."
"Jadi, maksud kamu Raka itu ... ?" Rasya menggantung kalimatnya.
Kania hanya mengangguk. "Anak itu sudah lulus SMP, tetapi kami tidak mampu untuk membiayai sekolahnya hingga SMA. Makanya dia sekarang ikut bantu aku kerja di warung. Rencananya bulan depan aku mau daftarkan dia mondok saja di sebuah pondok pesantren. Suamiku yang sekarang hanya seorang kuli bangunan. Dia ikut bekerja di proyek jalan tol ini. Makanya aku buka warung di sini untuk membantunya," imbuhnya.
Waduh, kenapa harus ada Raka sih, Thor?
.
.
__ADS_1
.
TBC