Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Pergi Meninggalkan Kamu


__ADS_3

Sore hari Nadia diantar oleh Pak Supri, berangkat untuk menjemput Rasya di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Nadia kaget saat bertemu dengan suaminya yang kusut dan kucel.


"Habis ngisi seminar kok kayak habis kuli bangunan sih, Mas," celetuk Nadia


Rasya hanya sekilas melirik istrinya tidak tertarik untuk membalas candaan Nadia. Hingga mereka sampai di rumah pun, Rasya lebih banyak diam.


"Mas kenapa sih? Dari tadi cuma diam. Enggak kangen sama Nanad?" cecar Nadia saat mereka tengah berada di dalam kamar.


"Mas capek, Sayang. Tadi siang nyari tempat tinggal Bu Lek Milarsih enggak ketemu. Ditelpon tidak di angkat," jawab Rasya menghempaskan pantatnya di sofa. "Ternyata Rumah Mbah Kakung ikut digusur untuk pembangunan jalan layang tol Solo-Jogja," imbuhnya lagi.


"Kenapa Mas enggak tanya sama ibu? Ibu sudah tahu tentang hal itu," timpal Nadia.


"Jadi ibu sudah tahu kalau Bu Lek Milarsih sudah pindah?" tanya Rasya memastikan.


"Iya, kemarin sempat cerita begitu," jawab Nadia.


"Memangnya Pak Tomi juga enggak pernah cerita sama Mas. Kan Mas bilang dia anaknya Bu Lek Milarsih, mungkin saja dia tahu," cetus Nadia.


"Tomi juga sudah lama tidak pulang ke Klaten, Sayang," timpal Rasya. "Mas mandi dulu ya, udah gerah banget ini," pamitnya.


Rasya segera masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nadia mempersiapkan baju ganti untuk suaminya. Selanjutnya ia turun ke lantai bawah menuju ke dapur untuk membantu Nina memasak menu makan malam.


"Mas Rasya sudah pulang ya, Mbak Nanad?" tanya Nina yang sedang mengupas bawang menyadari Nadia datang ke dapur.


"Iya, Mbak Nina. Lagi mandi," sahut Nadia. "Aku boleh bantu apa, Mbak?" lanjutnya bertanya.


"Tolong kupasin oyong terus diiris-iris ya, Mbak Nanad. Sama petikin bayamnya juga," pinta Nina menjawab pertanyaan Nadia.


"Siap, Mbak Nina!" sahut Nadia mantap.


Nina akan membuat menu makan malam berupa sayur oyong plus bayam dan ayam geprek. Bagi anggota keluarga yang tidak bisa makan makanan pedas bisa makan ayam kecap. Setelah semua selesai dan siap dihidangkan, Nadia kembali ke kamarnya untuk mandi karena sebentar lagi azan maghrib akan berkumandang memanggil para hamba Allah untuk datang mengunjungi rumah-Nya.


Matahari kian tenggelam masuk ke dalam peraduannya. Lentera-lentera mulai dinyalakan guna menerangi kegelapan. Di langit nampak lembayung senja membias di cakrawala. Burung Sriti pun berterbangan berbondong-bondong hendak kembali pulang ke sarang.


Nadia dan Rasya melaksanakan sholat maghrib berjamaah berdua di dalam kamar mereka. Nadia mencium punggung tangan suaminya sesaat setelah Rasya selesai melantunkan do'a. Rasya pun otomatis mencium kening istrinya.


Ada rasa aneh yang bersarang di pikiran Nadia memperhatikan sikap Rasya sejak ia pulang dari Solo. Pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu sekarang lebih banyak diam, tidak ada ucapan yang keluar dari bibirnya hanya untuk sekedar bercanda. Ada apa dengan suaminya itu? Apa urusannya dengan Bu Lek Milarsih begitu penting sehingga dia nampak begitu kecewa karena tidak berhasil menemukan tempat tinggal adik kandung dari ibunya tersebut.


"Mas sepertinya masih lelah. Makan malamnya mau dibawa ke kamar saja atau di bawah?" tanya Nadia menawarkan.


Nadia melepas mukenanya, lalu menggantungnya kembali ke dalam lemari gantung.


"Di bawah saja, Sayang. Ada sesuatu yang pengen Mas omongin sama Bapak, Ibu dan juga kamu," jawab Rasya masih dengan muka datarnya.


"Baiklah, aku ke bawah dulu ya, Mas. Mau bantu Mbak Nina nyiapin meja makan," pamit Nadia yang hanya diangguki oleh Rasya.


Setelah Nadia hilang di balik pintu, Rasya menghempaskan pantatnya di sofa. Ia nampak memijit pelipisnya pelan berulang-ulang.


"Bagaimana tanggapan Nadia terhadapku setelah ia tahu siapa Raka yang sebenarnya?" tanyanya pada diri sendiri. "Mungkin ia akan merasa dibohongi, padahal aku sama sekali lupa akan hal itu. Aku ingin menghapus semua kenangan bersama Kania," lirihnya.

__ADS_1


Sementara di lantai bawah ruang makan. Nadia, Bu Nastiti dan Pak Baskoro telah siap untuk menyantap makan malam.


"Mas Rasya kok belum turun juga, Nad?" tanya Bu Nastiti pada menantunya.


"Tidak tahu, Bu. Mungkin dia masih capai. Tapi tadi dia udah bilang mau makan di sini kok," jawab Nadia.


"O, kamu tunggu di sini saja, biar ibu yang panggil," cetus dan pamit Bu Nastiti.


Ia pun beranjak meninggalkan ruang makan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua, ke kamar putranya. Pelan Bu Nastiti membuka pintu kamar anak sulungnya. Di matanya terlihat Rasya yang terpuruk dan lesu.


"Sya, ayo makan, Nak. Sudah ditunggu sama Bapak dan istri kamu di ruang makan." Bu Nastiti mengajak Rasya untuk makan.


"Kenapa ibu menyembunyikan tentang Raka dari Rasya, Bu?" Rasya malah bertanya pada sang ibu tanpa menghiraukan ajakannya.


Bu Nastiti duduk. "Ibu waktu itu hanya berfikir tidak ingin mengorbankan pendidikan kamu, Nak. Lagi pula sekarang Kania juga sudah menikah lagi kan?" sahut Bu Nastiti.


"Suaminya Kania yang sekarang hanya seorang kuli bangunan yang pekerjaannya tidak tentu, Bu. Raka tidak sekolah karena mereka tidak mampu membiayai sekolahnya hingga SMA," timpal Rasya.


"Ajak Raka tinggal di sini, daftarkan dia ke sekolah yang terbaik. Bagaimana pun juga dia masih keturunan keluarga Baskoro, masa sekolah SMA saja tidak lulus," cetus Bu Nastiti.


"Rasya sudah bicara sama Kania dan Kania menyetujuinya, Bu. Masalahnya sekarang bagaimana cara Rasya menyampaikan kepada Nadia siapa Raka yang sebenarnya?" ucap Rasya frustrasi.


"Kenapa kamu mesti bingung? Tinggal bilang saja kalau dia anak kandung kamu, bukankan dia sudah tahu kamu ini seorang duda? Dia tetap mencintai kamu kan walaupun dia sudah tahu kalau kamu ini duda dan umur kalian terpaut 14 tahun?" Cetus Bu Nastiti.


"Yang dia tahu meskipun aku duda aku ini masih perjaka, Bu. Aku selalu bilang kalau aku ini masih perjaka, karena aku dan Celine memang tidak pernah berhubungan badan. Aku benar-benar lupa yang terjadi antara aku dan Kania, Bu. Karena aku memang sudah melupakannya," timpal Rasya.


"Ibu yakin semua akan baik-baik saja jika memang dia benar-benar mencintai kamu. Bukankan kamu juga mau menerima kekurangannya? Meskipun waktu itu yang kamu tahu dia itu sudah divonis mandul oleh dokter, kamu tetap menerimanya. Yakinlah, dia pasti bisa memaafkan kamu," ungkap Bu Nastiti. "Ayo kita turun!" imbuhnya menarik lengan anak sulungnya.


Nadia mengambil piring, mengisinya dengan nasi, sayur dan ayam kecap, lalu meletakkannya di hadapan Rasya. Mereka menikmati hidangan dalam keheningan.


"Aku ingin ngomong sesuatu sama kalian, Pak, Bu dan kamu Nanad," ucap Rasya dengan keberanian yang telah terkumpul setelah menghabiskan sepiring nasi.


Pandangan mereka terfokus pada Rasya. "Tadi siang aku bertemu dengan Kania, mantan pacarku saat SMA dulu. Anaknya yang pertama sudah lulus SMP, tetapi Kania bilang sudah tidak mampu untuk menyekolahkan dia hingga SMA karena suaminya yang sekarang hanya seorang kuli bangunan. Aku mau meminta ijin pada kalian untuk mengajak anak itu tinggal di rumah ini dan mendaftarkan di sekolah SMA," ungkap Rasya meminta.


"Bapak sih tidak keberatan, tetapi kamu sekarang sudah punya Nadia sebagai istri kamu. Jadi bapak terserah Nadia saja," timpal Pak Baskoro.


"Ibu juga tidak keberatan," timpal Bu Nastiti.


"Aku juga tidak masalah, rumah ini bukan punyaku. Dan uang yang untuk membiayai sekolahnya nanti juga bukan punyaku kan, Mas. Jadi ya terserah Mas Rasya saja. Asalkan tidak ada hubungan lagi antara Mas Rasya dengan ibunya anak itu, Mbak Kania," sahut Nadia.


"Baiklah, berarti kalian semua sudah mengijinkan. Besok pagi aku akan meminta Raka untuk datang ke Jakarta," simpul Rasya.


"Raka?" tanya Nadia yang seperti menangkap sesuatu dari susunan nama anak itu, tetapi dia pendam di dalam hati.


"Iya, kenapa, Sayang?" Rasya menoleh bertanya balik pada Nadia.


"Tidak apa-apa kok, Mas," sahut Nadia cepat


'Nanti sajalah di kamar, aku akan menanyakannya sama Mas Rasya,' batin Nadia.

__ADS_1


Nadia membenahi piring dan peralatan makan lainnya yang kotor dan membawanya ke dapur. Ia menaruhnya di wastafel lalu kembali ke ruang makan, di sana sudah tidak ada yang duduk. Nadia pun ke lantai atas menuju ke kamar Rasya.


Di dalam kamar Rasya juga tidak ada. Nadia pun membuka pintu yang terhubung dengan ruangan kerja suaminya tersebut. Pria itu kini nampak tengah duduk di kursi putarnya dengan muka tertelungkup di atas meja.


Nadia melangkah pelan, mendekati suaminya tersebut, memijit pundak dan tengkuknya. "Mas kenapa? Masih capek?" tanyanya.


Rasya mendongakkan kepalanya. "Duduk, Sayang!" pintanya menunjuk ke kursi di depannya.


Nadia pun duduk. Namun, sepertinya ia sudah tidak dapat lagi membendung rasa penasarannya. "Mas, siapa Raka sebenarnya?" tanyanya.


"Dia anaknya Kania, Sayang. Teman SMA mas dulu. Tadi Mas kan sudah bilang?" Jawab Rasya.


"Siapa ayahnya?" Tanya Nadia lagi.


"Nama ayahnya Sugiharto," jawab Rasya lagi.


"Itu nama ayah biologisnya? Kenapa aku menangkap kalau nama Raka itu adalah singkatan dari Rasya dan Kania ya, Mas?" cecar Nadia sinis.


"Mungkin itu cuma kebetulan saja, Sayang," elak Rasya.


"Kenapa Mas enggak mau jujur sama Nanad, atau jangan-jangan Mas masih menyimpan perasaan cinta sama ia ibunya Raka?" desak Nadia.


Rasya pun langsung menggenggam tangan Nadia. "Sumpah demi Allah, Nanad Sayang. Saat ini di hati Mas Rasya cuma dipenuhi sama kamu," ucapnya. "Baiklah, mas akan ceritakan kenangan buruk yang sudah Mas buang jauh-jauh selama ini." Rasya menambahkan.


Saat usai mendengar pengumuman kelulusan, Rasya dan teman-teman mencoret-coret baju mereka dengan cat semprot. Selanjutnya mereka melakukan konvoi keliling jalan raya. Tetapi berbeda dengan Rasya dan ketiga temannya. Mereka lebih memilih pesta rujakan di salah satu rumah temannya.


Mereka hanya terdiri dari 4 orang pemuda, Rasya dan Kania, serta 2 orang pemuda lagi adalah juga pasangan kekasih.


Saat menikmati rujakan itu, ternyata teman laki-laki Rasya itu menjahilinya dengan memasukan buah kecubung yang telah dikupas dan diiris-iris ke dalam campuran irisan buah. Beberapa saat setelah menikmati rujakan itu, Rasya menjadi hilang kesadaran seperti orang mabuk, hingga mereka melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama.


"Demi Allah, Sayang. Mas hanya melakukan satu kali dan itupun karena Mas dalam keadaan hilang kesadaran. Satu bulan kemudian Kania dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya," ungkap Rasya. "Sekarang terserah apapun penilaian kamu terhadap, Mas. Asalkan jangan minta pisah," ucapnya pasrah.


"Mas, sepertinya kita butuh minimal 3 hari lagi untuk berpisah, aku ingin menenangkan diri," ucap Nadia meminta.


Ia langsung berdiri dan melangkah keluar menuju ke kamar mereka melalui pintu tembus tadi. Nadia mengambil tas ranselnya dan memasukan beberapa buku kuliahnya ke dalam tas tersebut. Lalu ia meraih ponselnya, mengetik dan menggulir beberapa saat. Rasya mengejarnya.


"Aku sudah pesan taksi online sebentar lagi pasti datang. Aku mau menginap di rumah Mbak Rumi," pamit Nadia pada Rasya.


"Nad, Nad, jangan pergi, Sayang! Mas masih kangen sama kamu," pinta Rasya frustrasi meraih lengan Nadia.


Namun, Nadia langsung menepisnya tidak menghiraukan rengekan suaminya tersebut. Buru-buru ia menggendong tas ranselnya keluar dari kamar menuruni anak tangga, lalu dengan segera keluar dari rumah.


"Dasar penipu! Semua laki-laki sama saja!" umpatnya.


Kalau beda sih namanya perempuan, Nad. 😂😂😂


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2