
Malam telah berganti pagi. Menyambut datangnya sang mentari yang menghangatkan hati. Burung pipit pun nampak ceria berkicauan di pematang sawah yang padinya mulai menguning.
Rasya duduk di teras rumah berkutat dengan laptopnya dengan ditemani secangkir kopi putih. Karena sejak Nadia mengetahui kalau Rasya punya masalah dengan lambungnya, ia melarang pria yang sekarang menjadi suaminya tersebut untuk mengkonsumsi kopi hitam.
"Mas, jalan-jalan yuk!" ajak Nadia tiba-tiba saja sudah menyembul dari balik pintu.
"Tunggu sebentar, Mas matikan laptop dulu," sahut Rasya.
Setelah mematikan laptop, Rasya membawa laptop tersebut masuk ke dalam rumah. Nadia menunggunya dengan duduk di kursi. Tidak berselang lama, Rasya pun muncul dari ambang pintu sudah berganti kostum. Tadi ia masih mengenakan sarung dan baju koko. Sekarang ia sudah berganti pakaian kaos oblong dengan bawahan celana kimpul panjang.
"Ayo!" ajaknya dengan tangan kanan terulur ke hadapan istrinya.
Nadia menyambut uluran tangan tersebut. Mereka berjalan keluar komplek hingga sampai di sebuah jalan yang di sisinya mengalir air sungai dengan tenang.
Dari jauh nampak seorang ibu berjalan mendekat. Si ibu habis membeli nasi bungkus. Mereka berpapasan.
"Nadia, jalan-jalan pagi ya? Ini suami kamu?" tanya si ibu.
"Ah iya, Bi," sahut Nadia.
"Kuliah baru satu tahun sudah nikah, pasti karena dia orang kaya ya kamu mau menikah dengan dia walaupun dia sudah berumur? Biar ada yang bisa menopang hidup kamu dan keluarga kamu. Mamak kamu kan sudah bangkrut, tapi dia bisa membangun rumah megah begitu," cerocos si ibu panjang lebar.
"Maaf, Bi. Kami permisi," pamit Nadia yang tidak ingin berbicara lebih lama dengan orang tersebut. Ia menggandeng tangan Rasya segera melanjutkan perjalanan.
"Dasar tidak tahu sopan santun! Udah matre, sama orang tua tidak ada rasa hormatnya," umpat si ibu sambil berjalan menjauh.
Nadia terlihat diam dengan pandangan kosong. Rasya menepuk punggungnya agar fokus. "Enggak usah dimasukin ke hati, Sayang," ucapnya.
"Iya," ucapnya tersenyum manis menoleh ke arah Rasya.
"Kita pulang nanti siang saja ya, Sayang. Pekerjaan Mas di Jakarta sudah menumpuk. Kertas hasil ujian mahasiswa kemarin belum selesai Mas koreksi. Padahal awal tahun akademik baru sudah harus jadi Kartu Hasil Studi," ungkap Rasya mengajak Nadia untuk kembali ke Jakarta.
"Iya, Mas. Nanti Nanad bantu koreksi deh kalau boleh," sahut Nadia.
"Boleh dong. Masa enggak boleh sih dibantuin sama istri sendiri," timpal Rasya merengkuh pundak Nadia. Nadia pun tersenyum.
Mereka melanjutkan jalan kaki hanya sampai di jalan raya lalu kembali lagi menyusuri jalan yang tadi dilewati. Ketika hampir sampai di jalan saat mereka berpapasan dengan ibu-ibu tadi Nadia mengajak Rasya untuk masuk ke dalam gang saja.
"Kita lewat jalan gang saja ya, Mas. Melewati rumah penduduk," ajak Nadia.
"Kenapa?" tanya Rasya
"Aku enggak mau ketemu si bibi yang tadi," jawab Nadia.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah mamak. Nadia langsung menghempaskan pantatnya di kursi yang ada di teras. Rasya tersenyum memandangi gadisnya.
"Mas masuk kamar dulu ya," pamit Rasya yang mau melanjutkan pekerjaannya.
"Ikut!" pinta Nadia mengulurkan tangan, berharap sang suami mau mengangkatnya.
"Manja," timpal Rasya tersenyum meraih tangan tersebut, mengangkat Nadia untuk bangun.
__ADS_1
"Biarin, kan manjanya juga sama suami sendiri," ujar Nadia mengikuti langkah Rasya dari belakang.
Sampai di kamar, Rasya langsung mengambil laptopnya lalu duduk di atas kasur dengan laptop tersebut di pangkuannya.
"Aku ambil sarapan dulu saja ya Mas, kita makan di kamar," pamit Nadia yang tidak tahu harus membantu suaminya apa.
"Heem," sahut Rasya seraya mengangguk. "Sekalian bilang sama Mamak dan Mimik kalau kita mau pulang nanti siang ya, Sayang," imbuhnya meminta.
"Iya," sahut Nadia.
Nadia menyeret langkahnya menuju ke ruang makan di rumah belakang. Di sana keluarganya sedang berkumpul untuk sarapan pagi.
"Mana suami kamu? Kenapa tidak diajak untuk sarapan bareng sekalian, Nad?" tanya mimik.
"Lagi melanjutkan pekerjaannya di laptop, Mik. Ini aku mau mengambilkan sarapan untuknya. Kita mau sarapan di kamar saja, Mik, Mak," jawab Nadia. "Oh iya, Mak, Mik. Aku sama mas Rasya mau kembali ke Jakarta nanti sore. Pekerjaan Mas Rasya di Jakarta terbengkalai," imbuhnya pamit.
"Kenapa mendadak sekali? Kalian kan masih pengantin baru," tanya Mamak yang heran dengan anak dan menantunya.
"Kertas hasil ujian mahasiswa belum selesai di koreksi, Mak. Sementara sepuluh hari lagi sudah masuk tahun akademik baru dan nilai harus sudah jadi KHS," tutur Nadia menjawab pertanyaan Mamak.
Nadia mengambil sebuah piring, lalu mengisinya dengan nasi goreng dan kerupuk, menaruhnya di atas nampan. Karena menu sarapan pagi ini Nindy membuat nasi goreng petai plus ati ampela. Ia lalu mengambil gelas besar dan mengisinya dengan air putih.
Nadia membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas air putih tersebut masuk ke dalam kamar. Ia duduk di kasur menghadap sang suami dan mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya dan ke mulut Nadia sendiri secara bergantian.
"Manja," ucap Nadia sambil mengunyah makanan membalas ucapan Rasya tadi.
"Enggak apa-apa dong manja sama istri sendiri," sahut Rasya tanpa beralih dari laptopnya.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Nadia membawa peralatan makan nya ke dapur, lalu kembali lagi bergabung bersama suaminya.
"Kan tadi pagi habis anuan sudah mandi, masa harus mandi lagi," jawab Nadia mencebik. ia sudah mulai membuka-buka ponselnya.
"Kan udah berkeringat lagi habis jalan-jalan," timpal Rasya.
Nadia mencium ketiaknya di sebelah kiri dan kanan. "Masih wangi kok biar pun sudah berkeringat. Coba dech mas cium!" ucapnya menyodorkan keringat ke muka sang suami.
Rasya reflek menutup hidungnya dengan punggung tangan kanannya.
"Orang enggak bau kok sok jaga kebersihan, padahal sendirinya juga enggak mandi lagi kan tadi habis jalan-jalan?" gerutu Nadia.
Nadia membawa kursor pada ikon save di layar laptop Rasya, lalu meng-klik, ia keluar dari semua aplikasi. Ia juga meng-klik ikon shut down. Kemudian mengambil laptop tersebut dan meletakkannya di nakas. Dengan lancang dia duduk di atas pangkuan Rasya.
"Sudah berani sama dosen killer kamu ya sekarang?" ucap Rasya mencubit hidung Nadia.
"Kok mas bisa tahu? Pasti mas udah buka-buka ponsel aku tanpa sepengetahuanku?" tebak Nadia.
"Mas cuma missed call ke ponsel kamu doang kok, tapi pas mas lihat ponsel kamu tertera tulisan My Dosen killer memanggil. Memangnya mas ini pas ngasih materi kuliah galak apa?" tanya Rasya mengorek informasi dari mahasiswa sekaligus istrinya tersebut.
"Habis pas pertama kali ngasih kuliah, mas pakai ngancam mau kasih nilai E," sahut Nadia.
"Itu kan cuma buat yang tidak mau kirim sms atau chat minta ijin jika tidak masuk. Mas sudah kasih toleransi ijin nggak perlu pakai surat," timpal Rasya.
__ADS_1
"Tetap saja namanya ngancam," kekeh Nadia tidak mau kalah.
"Mas tahu, waktu itu kamu sudah punya perasaan suka terhadap Mas. Makanya kamu kasih nama kontak telepon Mas dengan My Dosen killer untuk menepis rasa suka kamu itu, karena kamu tidak mau disebut pelakor," tutur Rasya memberikan analisa.
Seketika wajah Nadia berubah menjadi merona merah karena malu. Ia memeluk Rasya dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya tersebut. "Kok Mas bisa tahu?" lirihnya bertanya.
"Pandangan mata kamu itu tidak bisa berbohong, Sayang. Dan asal kamu tahu, Mas juga sudah suka sama kamu, tetapi Mas masih terikat pernikahan dengan Celine saat itu," tutur Rasya menjawab pertanyaan Nadia.
Rasya merasa celananya sesak karena Nadia yang bergerak-gerak di atas pahanya mengusik ketentraman tongkat saktinya. "Aduh tongkat sakti Mas bangun nih, Sayang. Kamu harus tanggung jawab loh," paksanya.
Nadia membelalakkan matanya. ia merenggangkan pelukannya menunduk ke bawah. Rasya tengah membuka kancing celananya.
"Nggak mau!" tolak Nadia lantang.
Namun kata-kata yang keluar dari mulut Nadia tidak sinkron dengan tubuhnya. Tubuhnya sangat menikmati setiap sentuhan yang kini Rasya berikan. Bahkan cenderung meminta lebih.
*****
Sekitar pukul dua siang Rasya dan Nadia pamit untuk kembali ke Jakarta. Mobil yang dikemudikan oleh Rasya perlahan meninggalkan kampung halaman tempat Nadia dilahirkan. Nadia yang sudah beberapa kali pulang pergi ke Jakarta-Indramayu sudah pasti hafal jalan yang dilaluinya, tetapi kali ini keningnya mengernyit melihat jalan yang mereka lalui.
"Mas nyasar nih, ini kan Subang. Harusnya kalau mau ke Jakarta kita ke Cikampek," ucap Nadia memprotes suaminya.
"Kenapa? Kamu takut?" Rasya malah bertanya.
"Kenapa mesti takut sama suami sendiri, ibarat kata ke lubang semut pun pasti aku turut," jawab Nadia.
"Bagus, begitu harusnya seorang istri. Kamu tidur saja gih! Nanti kalau sudah sampai Mas bangunin," suruh Rasya.
"Memang bisa Mas bangunin aku?" sergah Nadia.
"Yah, kalau enggak berhasil ya terpaksa digendong," jawab Nadia.
"Oo, Jadi selama ini Mas gendong aku karena terpaksa ya?" sungut Nadia.
"Bukan begitu maksud Mas, Sayang. Kamu sekarang kenapa jadi gampang sensitif sih?" sanggah Rasya.
Nadia terdiam kembali. Ia kini mulai merasa mengantuk dan akhirnya tertidur juga. Setelah kurang lebih tiga jam dalam perjalanan, mobil mereka kini telah sampai di tempat tujuan.
"Selalu seperti ini, kalau sama orang lain ini membahayakan," ujar Rasya mencium kening istrinya, lalu membuka seat beltnya.
Melihat kedatangan majikannya, mang Dudung dan istrinya datang tergopoh-gopoh menyambut mereka.
Rasya membuka jendela mobil. "Tolong bawakan barang-barang kali masuk ya, Mang!" pintanya.
"Baik, Den," sahut Mang Dudung.
Rasya keluar dari pintu sampingnya, lalu berjalan memutari bagian depan mobil dan membuka pintu di samping Nadia. Ia meraih tubuh Nadia dengan susah payah dan menggendongnya ala bridal style. Membawanya masuk ke dalam vila dan langsung membawanya ke dalam kamar. Ia menidurkan putri tidur tersebut di atas ranjang pengantin mereka.
*
*
__ADS_1
*
TBC