
Sesampai di ruangan Amir, Nadia menyerahkan laptopnya untuk diinstal aplikasi rancang bangun dan desain grafis. Setelah itu ia mendapat pengarahan cara kerja kedua aplikasi tersebut di ruang meeting supaya lebih mudah untuk mempraktekan, karena di sana ada monitor lcd proyektor yang terhubung ke laptop sehingga Nadia bisa langsung mempraktekkan apa yang ditangkap dari penjelasan Amir di laptopnya.
Alhamdulillah saat meeting Nadia sudah dapat mempresentasikan hasil rancangan bangunan villanya beserta visualnya sekaligus. Setelah desain taman sekitar villa dipresentasikan sendiri oleh Rasya. Sementara untuk desain interior, Nadia bisa membuatnya sembari menunggu proses pembangunan villa berjalan.
Dari hasil meeting dengan pihak kontraktor telah disepakati bahwa besok pagi akan diadakan peninjauan lokasi pembangunan dan lusa bisa proses pembangunan bisa dimulai.
Rasya mengajak kepada para tim untuk berangkat sore ini pukul lima untuk berangkat ke Bandung dan menginap di hotel, supaya besok pagi sebelum matahari terik sudah bisa meninjau lokasi. Mereka memutuskan untuk mengendarai mobil supaya mudah untuk sampai ke lokasi.
Pukul empat sore Pak Rasya mengantar Nadia pulang ke kostan.
"Kamu siap-siap ya, Asa. Nanti pukul lima bapak jemput," titah Rasya pada Nadia saat mobil yang dikendarainya sampai di halaman rumah kost Nadia.
"Baik, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya," Nadia menyahut, ia lalu membuka pintu mobil dan keluar.
Rasya segera membelokan mobilnya menuju ke jalan. Nadia memandangi mobil itu hingga menghilang di kejauhan.
Nadia masuk ke dalam rumah. Dalam kurun waktu satu jam ia harus sudah siap berangkat. Ia melempar tas di kasur, menyambar handuk dan baju ganti, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu.
"Eh, Nad. Mbak Rumi bawa barang dagangan teman, ada baju dan kosmetik juga di depan. Nanti kamu lihat ya."
Mbak Rumi yang baru saja masuk ke dalam rumah berbicara dengan wajah berbinar saat berpapasan dengan Nadia yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya, Mbak. Nadia mau sholat dulu ya ya" pamit Nadia.
Nadia masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan sholat ashar. Selesai sholat ia langsung memasukan beberapa pakaian dan yang lainnya ke dalam tas ranselnya, bersiap diri lalu keluar dari kamar.
"Lho, kok sudah rapi aja. Mau ke mana, Nad?" tanya Mbak Rumi yang sedang duduk di kursi berkutat dengan barang-barang dagangannya mendapatkan Nadia yang sudah rapi seperti mau pergi.
"Hehe ... Nadia mau minta ijin ke Bandung untuk meninjau lokasi pembangunan villa milik Pak Rasya, Mbak. Mungkin sampai akhir liburan," pamit Nadia. "Ini barang dagangannya Mbak Rumi?" imbuhnya bertanya.
"Punya teman dia punya konveksi, Mbak mau coba bantu jual. Barangkali rejekinya Mbak," jawab Mbak Rumi.
"Boleh ambil dulu enggak, Mbak? Bayarnya nanti," tanya Nadia yang sepertinya tertarik.
"Bolehlah, Nad. Ini memang buat dikreditkan dan sistem pembayarannya diangsur mingguan. Ayo kalau kamu minat boleh pilih," jawab Mbak Rumi.
Nadia mulai memilih-milih pakaian, ada blus, tunik, celana, rok plisket dan sebagainya.
"Aku coba dulu ya, Mbak," ucap Nadia meminta ijin.
"Silakan, Nad," sahut Mbak Rumi.
Nadia masuk kembali ke dalam kamar, mencoba satu persatu pakaian yang diambilnya. Lalu keluar lagi. "Mbak, Nadia ambil ini semua," ungkapnya membawa seonggok pakaian tadi yang belum dilipatnya kembali.
"Bawa sini dulu biar Mbak Rumi catat dan rapikan," pinta Mbak Rumi.
Nadia menaruh kembali pakaian yang dipegangnya ke kursi di samping Mbak Rumi. Mbak Rumi mengambil buku catatan. Mengecek label dan mencatat harganya di buku dan langsung melipatnya dengan rapi.
"Semuanya 450 ribu, Nad. Benar jadi mau ambil semua?" Tanya Mbak Rumi kembali memastikan.
"Iya jadi, Mbak," jawab Nadia yang memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan baju-baju tadi. "Aku kasih DP 100 ribu saja ya, Mbak. Biar nanti nyicilnya ringan," cetusnya menyerahkan selembar uang berwarna merah.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa, nggak pakai DP juga enggak apa-apa kok, Nad," sahut Mbak Rumi menerima uang tersebut.
Pim Pim
Terdengar bunyi klakson mobil dari arah halaman.
"Udah dijemput tuh, Mbak. Tolong dilipatin, Nadia mau ambil tas ransel dulu," pamitnya yang langsung menghambur ke kamar.
"Iya, Nad. Nanti kunci kamarnya tolong ditaruh di bufet TV langsung saja ya," seru Mbak Rumi sembari melipat pakaian dan memasukkan nya ke dalam kantong plastik berwarna hitam.
Nadia keluar dari kamar dengan menggendong tas ranselnya. Mengunci pintu kamarnya dan menaruhnya di tempat sesuai permintaan Mbak Rumi.
"Ini bajunya," ucap Mbak Rumi menyerahkan kantong plastik hitam yang ditentengnya.
Nadia menerimanya, "Terimakasih, Mbak. Nadia pamit," ucapnya menjabat tangan sang ibu kost.
"Iya, kamu hati-hati ya, jaga diri kamu selama di sana," pesan Mbak Rumi.
"Iya, Mbak. Assalamu'alaikum," sahut Nadia.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mbak Rumi.
Nadia keluar dari rumah yang memang sejak Mbak Rumi pulang tadi pintunya tidak ditutup. Memakai sepatu rajutnya lalu menghampiri mobil yang terparkir di halaman. Ia membuka sendiri pintu belakang, menaruh tas ransel dan bungkusan plastik di kursi, masuk dan duduk di sana kemudian menutup kembali pintu tersebut. Di kursi depan sudah duduk Pak Amir memegang setir dan Pak Rasya di samping kiri.
"Sudah siap berangkat, Asa? Atau barangkali masih ada yang ketinggalan?" Tanya Pak Rasya memastikan dengan memandang gadis yang duduk di belakangnya dari kaca spion.
"Sudah semua kok, Pak," jawab Nadia pasti.
Rasya menyodorkan kantong kresek Ardimart yang berisi keripik kentang dan sebotol air mineral. "Ini buat cemilan. Kalau kamu mengantuk tidur saja, Asa. Perjalanan kita masih lama," tutur Rasya.
"Iya, Pak. Terima kasih," sahut Nadia.
"Kita lewat jalan tol saja ya, Pak," pamit Amir.
"Iya, Mir. Biar lebih cepat sampai," sahut Rasya.
Mungkin karena lelah yang mendera karena seharian bekerja, Nadia merasa mengantuk. Ia menggunakan baju-baju yang masih baru tadi sebagai bantal untuk tidur. Tidak lama kemudian ia pun terlelap.
Sekitar pukul sepuluh malam, barulah mereka sampai di Merysta Hotel cabang Bandung dan langsung cek in. Karena tadi saat di jalan tol waktu maghrib mereka sempat istirahat dan makan malam di rest area cukup lama.
Saat memasuki hotel, Nadia merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Perutnya mulai mual dan mulas tapi masih bisa ia tahan. Ia ingin segera sampai di kamarnya untuk memastikan kemungkinan yang sedang ia pikirkan. Ini memang sudah jadwalnya, tetapi ia tidak membawa persiapan dari tempat kost tadi siang karena stoknya kebetulan habis.
Nadia mendapatkan kamar di tengah-tengah antara kamar Rasya dan kamar Amir. Sesampai di depan kamar, dengan cepat Nadia membuka pintu. Ia segera masuk ke dalam dan menutup pintu kembali. Meletakkan barang-barang bawaannya di sofa dan langsung meluncur ke kamar mandi.
Nadia merasa frustrasi setelah mengetahui bahwa praduganya sejak tadi benar. Ia mendapati bercak berwarna merah tua terpampang jelas di ****** ********.
"Arrgh! Bagaimana ini? Aku tidak membawa persiapan sama sekali," keluhnya.
Nadia terus berfikir bagaimana caranya agar ia mendapatkan pembalut dan obat pereda rasa nyeri. Ia tidak mungkin meminta tolong kepada Rasya maupun Amir. Di samping itu sangat memalukan, ini juga sudah malam.
Akhirnya ia ke luar dari dalam kamar mandi dengan langkah malas, ia mulai merasakan rasa mulas dan mualnya sangat tajam, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Badannya terasa sangat pegal terutama bagian pinggulnya.
__ADS_1
Nadia tidak dapat menahan lagi gejolak dari dalam perutnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan semua cairan melalui mulut maupun saluran bawahnya. Setelah mualnya sedikit reda, ia kembali ke dalam kamar dan meringkuk di atas kasur.
Nadia bangun lagi untuk mengambil ponsel di saku tas ranselnya. Lalu kembali meringkuk di atas kasur karena rasa sakit yang teramat sangat di bagian perutnya. Ia mencari kontak seseorang.
"Kang!" panggilnya saat melihat timer panggilan mulai berjalan.
"Nadia? Ada apa?" tanya orang di seberang sana terdengar panik.
"Aku datang bulan, Kang, enggak bawa persiapan. Kang Nadhif tolong bawakan aku pembalut dan obat pereda nyeri ke sini," pintanya pada sang kakak.
"Hah? Memangnya di situ tidak ada orang lain apa? Masa Kang Nadhif dari Bandung cuma buat nganterin pembalut sama obat ke Jakarta, Nad," sergah Nadhif.
"Aku di Bandung, Kang. Di hotel Merysta kamar nomor 105. Cepetan, Kang, perutku sudah sakit sekali ini," rengek Nadia dalam tangisnya.
"Oo di Bandung, ya sudah tunggu sebentar kakang ke situ," tukas Nadhif langsung memutus panggilan ponselnya.
Nadhif yang kebetulan saat ini mengambil sift malam pun mengambil barang-barang pesanan adiknya berupa pembalut dan obat pereda rasa sakit. Ia menambahnya dengan roti sandwich dan air mineral kemasan botol sedang lalu segera meminta kasir langsung men-scan kan segera.
"Ris, tolong ini discan dulu. Adikku sudah menangis kesakitan," pintanya.
"Baik, Mas," jawab Kasir.
Sementara Nadia yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perut dan pinggulnya, ia menangis meraung-raung sambil meringkuk di tempat tidur hingga terdengar dari luar kamar.
Rasya yang kebetulan saat itu tengah membukakan pintu pada kurir yang mengantarkan kopi pesanannya, mendengar suara orang menangis itupun ia mempertajam pendengarannya.
Dengan menenteng kopi dalam bungkus cup Sealer dalam kantong plastik kecil bening, ia menghampiri pintu kamar Nadia.
Tok tok tok
"Asa? Kamu kenapa?" tanyanya sembari mengetuk pintu. Nadia tidak menjawab panggilan itu, tetapi masih terus menangis meraung-raung.
Rasya pun hendak membuka paksa pintu tersebut, ia menarik napas dalam-dalam sebelum melakukannya. Namun, tenaga yang telah ia persiapkan itu ternyata sia-sia. Karena pintu tersebut ternyata dapat dibuka dengan mudahnya, pintu itu tidak dikunci coy, wkwkwk.
Rasya membuang napas kasar. Ia melangkah masuk, melihat gadis pujaan hatinya meringkuk kesakitan memegangi perutnya, wajahnya pucat dengan keringat membasahi keningnya.
Rasya duduk di pinggiran tempat tidur. Memperhatikan tubuh ringkih lemah yang sudah tanpa penutup kepala itu dengan wajah sendu. "Asa, kamu sakit? Mau bapak antar ke rumah sakit?" tawarnya. Nadia hanya menjawab dengan gelengan.
Rasya menempelkan punggung tangannya di kening gadis itu, normal. "Lalu kenapa kamu menangis?" tanyanya.
"Saya cuma sakit perut karena datang bulan, Pak, tetapi tidak membawa persiapan obat," jawab Nadia tanpa menoleh ke arah orang yang mengajaknya bicara.
" ...."
.
.
.
TBC
__ADS_1