Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Refreshing


__ADS_3

Rasya menggandeng tangan Nadia menuju ke halaman, mobilnya sudah terparkir indah di sana. Ia meletakkan papperbag yang dibawanya di jok bagian belakang, meminta papperbag yang dipegang Nadia, menaruhnya di jok belakang juga.


Pria itu membukakan pintu depan untuk Nadia, menutup pintu kembali lalu memutari mobil bagian depan dan duduk di kursi kemudi.


"Pakai seat belt nya, Sayang," pinta Rasya.


"Kita mau kemana, Pak? Kenapa harus ganti mobil?" cecar Nadia dengan wajah penuh kebingungan.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri. Tidur saja! Perjalanan kita masih jauh," jawab Rasya santai.


Nadia memang sudah mengantuk, karena tadi malam ia juga kurang tidur. Akhirnya ia pun langsung terlelap. Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu hingga tiga jam lebih.


Rasya memarkirkan mobilnya di sebuah area parkir kawasan hotel and resort yang berada di pinggir pantai. Ia tidak tega untuk membangunkan gadis di sampingnya yang sedang pulas seperti putri tidur. Ia melepaskan seat belt nya dan mendekati Nadia. Membelai puncak kepala gadis itu yang masih tertutup kerudung dengan lembut.


"Sayang, bangun sudah sampai. Kamu tidurnya lama banget. Pasti tadi malam kamu enggak tidur ya?" ucap Rasya membangunkan Nadia. Tidak ada pergerakan sama sekali. Rasya lalu menepuk lembut pipi gadis itu.


Nadia membuka matanya, mengerjap-ngerjap sesaat. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, terasa asing. Lalu memandang ke arah Rasya. "Kita ada di mana ini, Pak?" tanyanya.


"Ini di Anyer, Sayang," jawab Rasya membukakan seat belt yang membelit tubuh Nadia.


"Bapak enggak ada niat berbuat macam-macam sama aku 'kan?" tanya Nadia parno.


"Pikiran kamu itu perlu dimasukan ke mesin cuci deh kayaknya," sergah Rasya mencubit hidung Nadia. "Kita cuma mau snorkeling dan kegiatan menarik lainnya di sini, kita habiskan sisa kebersamaan kita dengan kegiatan yang menarik. Biar pikiran kamu fresh saat menghadapi ujian minggu depan," ungkapnya menepis pikiran buruk Nadia.


"Kali aja bapak punya niat buruk sama aku, aku kan bisa siapkan kuda-kuda buat melawan." Nadia menimpali.


"Maksud kamu, kamu mau kita main kuda-kudaan?" tanya Rasya menaik-turunkan kedua alisnya, memelencengkan maksud perkataan Nadia.


"Ih ... gini ya ternyata kalau jalan sama duda. Pikirannya selalu menjurus ke arah situ." Nadia mencebik.


"Jangan salah, biar pun duda mas ini masih ori loh. Mau bukti?" timpal Rasya.


"Enggak!" tolak Nadia mentah-mentah.


"Entar kalau sudah merasakan ketagihan tahu rasa," sergah Rasya.


"Biarin week. Ini kita jadi mau keluar enggak sih? Atau mau debat di sini saja?" cicit Nadia membuka pintu mobil di samping kirinya.


Rasya pun membuka pintu dan keluar dari mobil. "Tunggu, Sayang. Jangan kemana-mana! Tar ilang lagi," cegahnya.


Rasya lalu membuka pintu belakang dan mengambil papperbag yang ia bawa dari ruangan kantornya di gedung Baskoro Groups. Ia menyerahkan beberapa papperbag tersebut kepada Nadia. "Ini baju-baju ganti buat kamu, di dalamnya sudah komplit sama handuk, dalaman, dan kerudung. Kalau masih kurang kita bisa beli di sini. Di hotel tempat kita menginap juga dilengkapi butik dan toko pakaian," ucapnya.


Nadia terperangah saat melihatnya, melirik sedikit isi papperbag tersebut seraya berkata, "Terima kasih, Pak."


"Yuk, kita masuk," ajak Rasya menggandeng tangan gadis itu. Nadia menurut saja bagai kerbau yang dicocok hidungnya.


"Kita enggak tidur sekamar 'kan, Pak?" tanya Nadia memastikan.


"Kamu mau kita tidur sekamar?" tanya Rasya malah menggoda dengan menaik turunkan kedua alisnya menatap gadis itu.


"Ish ... mulai deh. Pak Rasya itu udah tua enggak takut dosa apa?" Nadia mencebik. Rasya malah tertawa.


"Mas cuma bercanda kok, Sayang. Mas pastikan tidak akan terjadi apa-apa meskipun kita tidur sekamar, tetapi kita tidak tidur sekamar kok. Mas juga takut khilaf, nanti yang ada amal kebajikan yang Mas lakukan sia-sia. Apa bekal kita di akhirat nanti kalau yang kita timbun hanya dosa." Rasya menegaskan dengan muka serius.

__ADS_1


"Tapi aku takut menyelam, Pak. Aku enggak bisa berenang," ucap Nadia pesimis.


"Enggak apa-apa, nanti mas saja yang menyelam kamu tunggu di daratan," sahut Rasya.


Sampai di customer servis, Rasya mendaftarkan kode reservasinya. Selanjutnya mereka diantar oleh seorang pelayan menuju ke kamar yang telah dibokingnya.


"Silakan beristirahat, Akang, Neng. Besok pagi pukul tujuh anda berdua akan dijemput oleh tour guide yang akan mengantar kalian mengunjungi tempat-tempat sesuai paket yang anda pilih. Saya permisi," ucap pelayan tadi setelah sampai di resort.


"Terima kasih, Mas," ucap Rasya pada pelayan tersebut.


'Mengunjungi tempat-tempat mana lagi sih?' batin Nadia terperangah. "Memangnya enggak cukup di sini, Pak? Ini 'kan udah di pinggir pantai?" tanyanya menghadap ke arah Rasya.


"Tempat snorkeling nya enggak di sini, Sayang," jelas Rasya. "Nih, info paket nya," imbuhnya menyodorkan selembar leaflet kepada Nadia.


Nadia menyimak selembar kertas leaflet tersebut dengan seksama. "Aku enggak ikut tour aja ah, capek. Aku mau keliling pantai di sini saja," ucapnya.


"Sekarang ya memang capek, tetapi besok pagi kan udah enggak. Kalau kamu enggak ikut berarti enggak menghabiskan waktu bareng kamu dong. Yah, terserah kamu sih, Mas enggak maksa," timpal Rasya. "Nih kunci kamar kamu, mau pilih yang mana?" imbuhnya memberikan pilihan.


"Yang ini saja," Nadia mengambil kunci kamar yang bernomor sama dengan kamar yang ada di hadapannya.


Ia lalu membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya kembali. Ia melangkah menghampiri sofa dan menaruh barang bawaannya di meja, lalu menghempaskan pantatnya di sofa tersebut. Ia membuka isi papperbag yang ia bawa.


"Kalau kayak gini sih butuh tas nanti pas pulang, tetapi tas ransel harganya mahal. Jadi mesti beli tas besar jinjing dari bahan sponbound saja yang murah, paling kisaran harga lima belas ribu." Nadia berbicara sendiri.


Nadia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berwudlu. Ia lalu melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai sholat ashar baru ia merebahkan tubuhnya di kasur. Namun, karena hampir empat jam ia tidur di mobil selama perjalanan dari Jakarta hingga Anyer maka ia tidak dapat lagi memejamkan mata. Bosan dengan keadaannya, ia mengotak-atik ponselnya.


Ternyata Nadia masih saja merasa bosan. Ia berinisiatif menelpon Rasya, tetapi panggilannya tidak diangkat juga. Akhirnya ia keluar dari kamar untuk menyambangi kamar sang dosennya tersebut.


'Yah, Pak Rasya tidur lagi,' sesal Nadia dalam hati.


Nadia mendekati ranjang, "Pak, bangun dong!" ucapnya menggoyangkan kaki Rasya untuk membangunkannya. Namun pria duda itu hanya melenguh saja.


"Pak, bangun! Temani aku ke pantai," ucap Nadia lagi dengan aksi sama seperti yang tadi ia lakukan.


"Nanti malam saja, sekarang Mas benar-benar capai dan ngantuk banget, Sayang," sahut Rasya masih dengan mata terpejam.


"Kok nanti malam? Bentar lagi ada sunset, Pak," pinta Nadia merengek. "Ya udah kalau Pak Rasya enggak mau nemani, aku mau ke pantai sendiri saja," ucapnya yang langsung melangkah pergi.


Sepertinya ucapan Nadia tidak main-main untuk pergi ke pantai sendiri. Namun, pergi sendiri? Hadeuh kalau ilang gimana? Dengan paksa Rasya membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Bangkit dari tempat tidur dan mengejar Nadia yang sudah hampir mencapai pintu.


"Tunggu sebentar kenapa sih, Sayang? Nanti kalau ilang gimana?" ucapnya menarik tangan Nadia.


"Tadi Pak Rasya bilang capai. Aku bosan." Nadia mencebik.


"Main Tiktok atau apa kek?" cetus Rasya.


"Udah dari tadi, tapi masih bosan. Orang pengennya lihat sunset," timpal Nadia kembali mencebik.


"Ya udah, tunggu bentar Mas mau cuci muka. Awas kalau pergi tanpa Mas loh!" ancam Rasya yang langsung pergi ke toilet.


Nadia melangkah menghampiri sofa, lalu mendudukkan pantatnya di sana. Sambil menunggu ia bermain ponselnya. Rasya keluar dari dalam toilet. Memandangi gadis itu yang sedang khusuk dengan ponselnya tanpa terusik dengan kehadiran Rasya sedikitpun. Rasya hanya tersenyum memperhatikan gadis itu, lalu dengan hati-hati ia duduk berselonjor di atas kasur bersandar pada sandaran ranjang.


Sementara Nadia sesekali melirik ke arah pintu toilet yang menurutnya sejak tadi belum juga terbuka semenjak Rasya masuk ke dalam. Ia menggerutu kesal. "Pak Rasya sebenarnya lagi cuci muka atau cuci baju sih lama amat di dalam kamar mandi?" ucapnya.

__ADS_1


"Lagi cuci ketidaksabaran dia," celetuk Rasya dengan santai yang mendengar ucapan Nadia.


Nadia pun menoleh ke arah sumber suara. "Ya ampun dari tadi ditungguin ternyata sudah enak-enakan di situ, pengen diseret nih kayaknya orang-orangan. Awas saja!" gerutu Nadia lagi. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas selempang, bangkit dan secepat mungkin menghampiri ranjang.


Nadia menarik kedua kaki Rasya hingga ke ujung ranjang. Posisi Rasya kini menjadi berbaring telentang. Tidak puas dengan hal itu, ia menggelitik bagian pinggang dan perut pria tersebut dengan kedua tangannya hingga Rasya tertawa cekikikan.


"Ampun, Sayang! Cukup!" pinta Rasya disela tawanya.


"Enggak ada ampun!" sahut Nadia masih terus menggelitik.


"Cukup, Nanad! Mas udah enggak kuat," pinta Rasya lagi.


Nadia pun berhenti menggelitik dan duduk di tepi ranjang. Sekarang saatnya Rasya membalas, ia menggelitik pinggang Nadia yang saat itu posisinya membelakanginya. Namun, tidak terjadi reaksi apapun dari gadis itu. "Nggak geli, week!" ucapnya meledek.


Tidak berhasil dengan tindakan menggelitiknya Rasya pun menarik tubuh gadis itu ke belakang hingga posisinya juga berbaring menimpanya.


"Kenapa tidak melawan?" tanya Rasya yang heran.


"Capai," jawab Nadia singkat. Ia memang sudah lelah untuk beradu fisik.


"Capai atau pengen?" goda Rasya.


"Terserah Bapak saja deh," sahut Nadia.


"Kasih Mas nomor ponsel Mamak dong, Sayang!" pinta Rasya kemudian. Ia berfikir untuk menelpon Mamak saja, meminta kepada pria paruh baya tersebut untuk membatalkan khitbah untuk Nadia.


"Mamak enggak punya ponsel," jawab Nadia.


"Terus kalau telepon Mamak gimana?" tanya Rasya.


"Teleponnya ke ponsel Nindy," jawab Nadia lagi.


"Kasih ke Mas nomor teleponnya Nindy, atau telepon dari ponsel kamu," pinta Rasya lagi.


Nadia pun membuka ponselnya dan langsung menekan daftar nomor penting nomor 1. Tersambung.


"Assalamu'alaikum, Nad. Ada apa telepon?" tanya Mamak tiba-tiba.


"Wa'alaikumussalam, Mamak. Hp Nindy ada sama Mamak ya?" sahut Nadia lalu bertanya.


"Iya, ini. Mamak bawa ke pabrik. Kamu mau bicara sama adik kamu?" tanya Mamak kemudian.


Nadia agak sedikit gentar untuk menyampaikan maksudnya. "Tidak, Mak. Sebenarnya bukan Nadia yang mau bicara sama Nindy, tetapi Pak Rasya yang mau bicara sama Mamak," jawab Nadia dengan gemetar.


"Apa?! Kamu masih berhubungan sama dosen kaya itu?" sergah Mamak dengan nada tinggi.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2