Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Hubungan Tanpa Kejelasan


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal perdana Rayan untuk mengantar jemput Tania kuliah, ia sendiri ada janji bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya yang super super killer. Pukul setengah tujuh Rayan sudah siap menunggu Tania di teras rumah Ardiansyah.


Tania baru keluar dari rumah, Rayan membukakan pintu untuk Tania duduk di kursi penumpang.


"Terimakasih, Mas Rayan," ucap Tania yang hanya dijawab anggukan oleh sang sopir.


"Jadwal kuliah pertama kira-kira jam berapa ya, Mas?" tanya Tania pada Rayan saat mobil telah melaju.


"Jam 09.00, Nona. Ada Apa?" jawab Rayan.


"Jangan panggil aku nona, Mas. Namaku Tania. Dan jangan terlalu bersikap formal, terlalu kaku. Oh iya, Mas. Aku mau mengambil fotokopi ijazah di rumah Bu Retno," tutur Tania.


"Rumahnya di mana, Tania?" tanya Rayan


"Aku enggak hafal alamatnya, Mas. Mas Rayan terus aja, nanti kuarahkan mau belok kiri atau kanan," jawab Tania.


"Memangnya enggak ada orang di rumah itu yang bisa share loc? biar cepat sampai," tanya Rayan lagi sambil menyetir.


"Yang bisa cuma Mas Rifki, tapi pasti sudah berangkat kerja, Mas," jawab Tania.


"Maksud kamu Rifki asistennya Pak Bram?" tanya Rayan lagi. Tania sedikit shock mendengar sebuah nama yang disebutkan oleh Rayan, ia memegang erat pegangan yang ada di atas jendela mobil.


"I.., iya, Mas," jawab Tania.


Rayan melirik sekilas perubahan sikap anak majikannya dari kaca spion di depannya, ia menambah kecepatan laju kendaraanya menuju ke rumah orang yang dikatakan oleh Tania.


"Tania!" panggil Rayan.


Ternyata anak majikannya tersebut sedang melamun.


"Tania," panggil Rayan sekali lagi.


"Ah iya, Mas?" tanya Tania gelagapan.


"Apa di sini tempatnya?" tanya Rayan.


Tania memperhatikan lokasi sekitar. "Iya, Mas," sahutnya, ia keluar dari dalam mobil. "Mas Rayan tunggu di sini saja ya!" pinta Tania yang terus berjalan memasuki gang.


Rayan memandangi kepergian Tania sampai hilang di balik jalan. "Ada apa dengan gadis itu?" gumamnya.


Menit demi menit terus berlalu, namun anak majikannya belum muncul-muncul juga. Rayan masih menunggu, sesekali ia melongok ke arah tempat anak majikannya tersebut menghilang.


Apa aku susul saja? gumam Rayan lagi.


Ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk, Rayan langsung menekan dan menggeser ikon berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Rayan pada si penelepon.


"Wa'alaikumussalam, Rayan Bayu Bagaskara. Saya sudah berada di ruangan saya, jangan biarkan saya menunggu terlalu lama!" kata si penelepon.


"Maaf, Pak. Ini masih dalam perjalanan ke kampus, dua puluh menit lagi insya Allah sampai," jawab Rayan.


"Oke, saya tunggu. Jika kamu tidak datang dalam kurun waktu lima belas menit, maka akan saya tinggal, saya masih banyak urusan," ancam si penelpon.


"Ha..? Iya baik, Pak. Saya segera sampai."

__ADS_1


Si penelpon langsung mematikan panggilannya tanpa salam penutup terlebih dahulu.


"Aduh, Tania. Kenapa kamu lama sekali sih?" gerutu Rayan.


"Aku sudah di sini sejak mas teleponan tadi kok, Mas," tiba-tiba terdengar suara dari belakang. " Ayo jalan," perintahnya.


"Udah ketemu yang kamu cari?" tanya Rayan.


"Sudah," jawab Tania singkat.


Rayan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh supaya bisa segera sampai ke kampus. Sementara Tania kembali melamun.


'Kenapa surat gadai itu tidak ada? Padahal semua surat-surat aku simpan di map transparan ini,' pikir Tania memegangi sebuah map mika yang di ambil dari dalam lemari di rumah Bu Retno.


Mobil berhenti di area parkir kampus sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Rayan keluar dengan segera. Ia membukakan pintu untuk majikannya yang terlihat ragu-ragu.


"Tania, sudah sampai. Ayo turun!" pinta Rayan.


Tania keluar dari dalam mobil memandangi lingkungan sekitar.


"Kamu mau ke bagian administrasi sendiri atau tunggu aku di sini?" tanya Rayan memandangi Tania yang masih bingung. "Atau mau ikut aku bimbingan skripsi sebentar, nanti kamu aku antar?" tanya Rayan lagi.


"Ikut Mas Rayan saja, Tania masih bingung mau ke mana?" jawab Tania.


"Ayo! aku sudah ditunggu pak dosen dari tadi soalnya," ajak Rayan yang nampak tergesa-gesa.


Tania menyeimbangkan langkahnya dengan jejak Rayan yang panjang-panjang itu, nampak kewalahan menyusuri koridor yang panjang dan menaiki tangga. Sampai di depan ruangan dosen, ada beberapa kursi yang disediakan untuk menunggu.


"Kamu duduk saja di sini, tunggu sampai aku selesai," ucap Rayan. ia membuka pintu ruang dosen langsung masuk ke dalam ruangan dan tidak lupa menutup pintu kembali.


Detik berganti detik, menit berganti menit, orang-orang sudah banyak yang lalu lalang keluar masuk ruangan dosen, tetapi tidak nampak wajah Rayan muncul dari balik pintu ruangan tersebut. Tania melirik jam pada ponselnya, jarum jam sudah berada di angka 10.


"Itu yang di dalam ruangan bimbingan atau tertidur sih sebenarnya," dengus Tania. "Apa tadi dia udah keluar tetapi aku tidak menyadarinya dan dia juga lupa kalau aku masih menunggunya di tempat ini, ah." Tania memijit-mijit keningnya yang terasa pusing.


Tania terus menerka-nerka berasumsi dengan pikirannya sendiri. Tania menjadi kebelet pipis. Ia mencari papan keberadaan toilet, ketemu. Tania menyusuri koridor menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh papan tersebut.


Sampai di toilet, keadaan sepi karena di lantai tersebut hanya untuk perkantoran, tidak ada ruangan kelas. Tania segera mengeluarkan isi dalam kantung kemihnya, dan segera membersihkan diri, takut kalau-kalu Rayan keluar dari ruangan dosen dan dirinya tidak ada di depan ruangan tersebut.


Tania keluar dari dalam toilet hendak kembali ke tempat yang tadi, namun baru sampai di lorong, ia melihat Rayan yang tersenyum bahagia ketika melihatnya dan berjalan ke arahnya.


"Aku berhasil, Tania!" serunya.


"Berhasil kenapa, Mas?" tanya Tania yang masih bingung dengan ucapan Rayan yang masih ambigu.


Bukannya menjawab pertanyaan Tania, Rayan malah mendekat ke arah Tania, memeluk dan mengangkat Tania dan memutar-mutar tubuhnya sendiri seperti laron yang kehilangan sehelai sayapnya.


"Mas Rayan, tolong turunkan aku!" berkali-kali Tania berteriak-teriak minta diturunkan.


Rayan baru menghentikan aksinya setelah dia ingat, bahwa gadis yang diangkat dan diputar-putar tersebut bukanlah Aghni tetapi Tania.


Tania terduduk, kepalanya menunduk pening. Ia menutup mulutnya karena merasakan sesuatu hendak keluar dari sana. Secepat mungkin ia bangkit dan berlari kembali ke toilet, menumpahkan isi perutnya di sana.


Rayan mengejar Tania, ia merasa menyesal dan bersalah telah bersikap berlebihan mengungkapkan perasaan senangnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu toilet tempat Tania berada di dalam.


"Tania, kamu tidak apa-apa di dalam? Maafkan aku!" seru Rayan dari luar toilet. Bagaimana kamu berfikir kalau Tania tidak apa-apa sih, Rayan.

__ADS_1


Seorang wanita yang kebetulan keluar dari toilet yang lain memandangnya heran.


"Mas tidak bisa baca ya?" tanya wanita tersebut menunjukkan papan bertuliskan "TOILET WANITA" dan bergambar logo wanita.


Rayan keluar dari area toilet tersebut agar tidak mengundang kecurigaan pengguna yang lain, ia memutuskan untuk menunggu di luar saja.


Sementara di kelas Nadia dan Prima. Sampai materi selesai, tetapi mahasiswa baru yang diceritakan Rayan akan datang hari ini belum nampak batang hidungnya juga.


"Prima, Mas Rayan sudah hubungi kamu? Kenapa mahasiswa barunya belum sampai?" tanya Nadia saat waktu jeda.


"Belum, ke perpus yuk!" jawab Prima dengan muka juteknya yang langsung berdiri dan menarik tangan Nadia untuk mengikutinya.


"Kamu kenapa sih, enggak biasanya kayak gini?" tanya Nadia yang menemukan wajah Prima enggak seperti biasanya. Namun, Prima belum mau menjawabnya.


Hingga mereka sampai di ruang perpus, Prima menyomot buku asal dan membawanya ke ruang baca. Nadia hanya mengikutinya, ia masih setia menunggu kata-kata keluar dari bibir sahabatnya tersebut. Prima duduk di salah satu bangku, sementara Nadia duduk di hadapannya.


"Ada apa sih, Prim?" tanya Nadia lagi, hatinya belum merasa lega kalau gadis itu belum belum mengatakan mengapa wajahnya sejak tadi bermuram durja.


"Tidak ada apa-apa," sahut Prima masih saja bungkam.


"Yakin tidak ada apa-apa?" Nadia berusaha memastikan sekali lagi.


Prima mengangguk, "yakin," ucapnya.


"Tapi aku enggak yakin tuh," timpal Nadia.


"Kok bisa enggak yakin?" tanya Prima.


"Iyalah, sejak kapan seorang Prima Putri Aprilia punya kemampuan baca buku kebalik?" sergah Nadia.


Mendengar ucapan Nadia, Prima berubah menjadi fokus memperhatikan buku yang dipegangnya, seketika ia tertawa.


"Hahaha ... kamu paling bisa deh membaca pikiranku, Nad," cicit Nadia. Tak lama kemudian wajah Prima kembali sendu. (Bukan senang duit lho ya!)


Prima mulai mengutarakan kegundahan hatinya. "Aku rasa ... hubungan aku dengan Mas Rayan nggak akan ada kejelasannya, Nad," tutur Prima.


"Jangan pesimis gitu!" cegah Nadia.


"Sekarang saja dia malah jadi sopir kakaknya Aghni, calon mahasiswa baru di kelas kita, mereka pasti akan sering bertemu. Kalau hubungan pertunangannya jadi malah membaik bagaimana dengan hidup aku nanti?," Prima menambahi.


"Itu semua juga belum jelas, Prima. Kenapa udah keburu sedih begitu. Bukankah Mas Rayan pernah bilang mau menyelesaikan hubungannya dengan Aghni? Memangnya dia belum cerita sama kamu?" sergah Nadia. "Harusnya kamu bersyukur, Prima. Cowok yang kamu cintai juga mencintai kamu, masih lajang juga. Lah aku?" imbuhnya.


Prima terdiam merenungkan sikapnya yang kekanak-kanakan, cemburu pada keadaan yang belum jelas.


"Sudah enggak usah sedih begitu, haus nih. Harusnya tadi kita ke kantin bukan malah ke sini dulu," sungut Nadia.


Prima merogoh air mineral kemasan 250 ml yang tersedia di kantongnya, "nih!" ucapnya menyerahkan air mineral tersebut kepada Nadia.


Nadia menerima botol air mineral tersebut, menerawang isinya yang tinggal seperempat. "Segini mana cukup?" keluhnya.


"Lumayan lah buat obat haus sementara, kalau kurang tuh di kran air banyak," canda Prima.


"Kamu pikir aku hewan ternak apa disuruh minum air dari kran," sergah Nadia.


"Ayo lah cepetan kita ke kantin, mumpung masih ada waktu," ajak Prima.

__ADS_1


Mereka akhirnya keluar dari perpustakaan menyusuri lorong menuju ke kantin.


__ADS_2