Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Kena Tilang


__ADS_3

Malam kian merangkak menuju pagi. Suasana pegunungan yang mencekam terasa begitu dingin. Jalanan sunyi seperti tidak ada kehidupan. Hanya suara jangkrik, kodok dan binatang malam lainnya yang menghiasi.


Mobil Rasya melewati jalanan hutan karet dan pinus. Bisa saja binatang buas tiba-tiba menghadang di depan mereka.


"Sayang, kamu sudah salah faham. Yang menikah dengan Linda itu bukan Mas Rasya, tetapi Fahri," ungkap Rasya membantah sindiran Nadia tadi saat di villa.


"Siapa Fahri?" tanya Nadia masih dengan muka datarnya.


"Dia adalah ayah dari bayi yang dikandung Linda, tetapi Linda tidak mau mengakuinya," tutur Rasya.


"Tapi waktu itu Linda chat via WhatsApp ke aku kalau dia sudah menikah dengan Mas Rasya, bahkan ada bukti foto pernikahan kalian," timpal Nadia dengan muka cemberut.


"Itu cuma akal-akalan Mas sama Fahri supaya dia tidak bunuh diri lagi. Nanti mas ceritakan kejadian yang sebenarnya deh," janji Rasya sambil fokus menyetir.


Nadia membuka ponselnya, mengetik di kotak pencarian google "kedai es krim". Lalu ia menunjukkan gambar pada suaminya.


"Mas pingin ini," ucapnya.



Rasya melirik sesaat gambar di ponsel Nadia, "Memangnya jam segini masih buka?" tanyanya.


"Udah tutup tadi pukul sembilan malam tadi," sahut Rasya.


"Yang bungkusan saja ya, yang penting dapat. Besok siang kita baru ke kedai itu," timpal Rasya membujuk.


"Iya, janji loh kita bakal ke sini," pinta Nadia.


"In sya Allah, sepulang dari pestanya Kang Nadhif kita ke sana," janji Rasya.


Mereka kini sampai minimarket tempat dulu Nadhif bekerja. Rasya memarkir mobil yang dikendarainya di halaman mini market tersebut. Suasana tampak lengang. Tidak ada kendaraan lain yang terparkir di sana kecuali mobil tersebut.


"Sayang, sudah sampai nih," ucap Rasya sambil melepas seat beltnya. Ia belum menoleh ke arah Nadia.


Rasya kini menoleh karena tidak ada sahutan. "Sayang, eh malah tidur," cebiknya. "Jadi beli es krim apa tidak nih?" tanyanya.


Namun Nadia bergeming, sepertinya nyenyak sekali tidurnya. Rasya memutuskan untuk masuk ke dalam minimarket dan membeli beberapa cup atau box es krim lalu pulang saja ke villa. Sepertinya Nadia tidur sangat nyenyak dan tidak bisa dibangunkan. Kasihan kalau dia tidur dengan bersandar di kursi begitu. Pasti punggungnya nanti sakit.


Rasya masuk ke dalam minimarket. Mengambil beberapa cup dan box es krim lalu membayar di kasir. Setelah itu ia kembali ke mobil dan membawa mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Belum sempat mobil yang Rasya kendarai meninggalkan kawasan kota, mata Rasya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia mengantuk berat. Daripada nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik ia menghentikan mobilnya dan mencari tempat parkir. Kebetulan ada sebuah taman kecil di pinggir jalan. Untuk mencari hotel atau losmen untuk menginap saja rasanya sudah tidak bisa. Matanya sulit untuk dibuka. Rasya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke villa. Tanpa menunggu lama Rasya dan Nadia terlelap di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Hilir mudik kendaraan yang melintas di jalan tersebut tidak dapat membangunkan mereka.


Azan subuh terdengar dari mushola terdekat. Kini mulai bersahutan. Namun tidak dapat membangunkan tidurnya Rasya dan Nadia. Tidak lama kemudian hilir mudik pejalan kaki ataupun orang yang joging mulai melintasi jalan tersebut. Namun, aktifitas mereka juga tidak mengusik tidur Rasya dan Nadia.


Malam kini berganti pagi. Suara burung-burung berkicau bersahutan menyambut terbitnya matahari. Orang-orang yang sedang joging di taman mulai berbisik-bisik terutama kaum hawa mengenai mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka. Mereka menerka-nerka. Sepasang suami istri yang berada di dalam mobil tersebut belum bangun juga hingga matahari merangkak naik.


Dua insan yang terlelap tersebut terbangun karena kaget. Ada yang menggedor pintu mobil dari luar. Ternyata di luar mobilnya sudah ada dua orang laki-laki berseragam polisi.


Rasya mengerjapkan matanya. Begitu pun dengan Nadia yang sudah terbangun. Ia menoleh ke arah samping.


"Di mana ini, Mas? Ada apa?" tanya Nadia.


"Bapak, Ibu, tolong buka pintunya!" seru salah satu pria berseragam polisi tersebut sambil mengetuk pintu.


Rasya membuka kaca jendela. "Ada apa, Pak?" tanyanya.


"Bisa Anda tunjukan SIM, KTP dan STNK Anda?" pinta Pak Polisi.


Rasya mengambil dompet dari dalam saku celananya. Lalu membukanya, mencari ketiga kartu yang diminta oleh bapak polisi tadi.


"Astaga!" serunya.


"Kenapa, Mas?" tanya Nadia.


"STNKnya tidak kebawa, Sayang," sahut Rasya.

__ADS_1


"Ini KTP dan SIM saya, Pak. Maaf, STNKnya tidak kebawa," sahut Rasya sembari menyerahkan dua kartu yang diambil dalam dompet.


Polisi itu menerima dua keping kartu yang diberikan oleh Rasya. Ia lalu menghampiri temannya melakukan perundingan. Sesaat kemudian kedua polisi itu kembali menghampiri Rasya yang masih duduk di kursi kemudi.


"Maaf, Pak. Ini KTP dan SIM Anda. Karena anda tidak dapat menunjukkan STNK, maka terpaksa kami harus menilang mobil Anda. Dan kami curiga kalian ini adalah pasangan mesum. Silakan ikut mobil kami dan jelaskan nanti di kantor," tutur Pak Polisi.


"Astaga, Pak. Kami ini pasangan menikah, Pak dan Saya tidak bisa menunjukkan STNK karena tadi malam kami tergesa-gesa istri saya tiba-tiba ngidam ingin makan es krim. Apa Bapak tidak bisa melihat SIM dan KTP saya?" kilah Rasya.


"Mas," ucap Nadia panik.


"Tenang, Sayang," bujuk Rasya.


"Maaf, Pak. Ini sudah menjadi prosedur. Bapak nanti bisa menjelaskan di kantor kami. Silakan Anda keluar dan ikut mobil kami," pinta pak polisi kembali.


"Mas, aku nggak mau naik mobil mereka. Malu, Mas," rengek Nadia.


"Tenang, Sayang. Jangan panik," ucap Rasya menenangkan Nadia.


Rasya mencoba bernegosiasi dengan polisi tersebut. "Pak, kami ini pasangan suami istri. Istri saya sedang hamil dan tiba-tiba tadi malam ngidam ingin makan es krim. Saya terpaksa berhenti di tempat ini dan tidak melanjutkan perjalanan pulang karena takut celaka menyetir mobil dalam keadaan mengantuk berat. Ini ada bukti es krim yang kami beli," tuturnya sambil menyerahkan bungkusan kantung kresek berisi es krim yang diambil dari dashboard mobil.


"Maaf, Pak. Nanti saja bapak jelaskan di kantor. Kami sibuk harus mengurusi masyarakat yang lain. Silakan Bapak serta Ibu keluar dari mobil bapak dan ikut mobil kami," sahut Pak Polisi tidak mau mengalah.


"Mas," rengek Nadia dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sebentar saja," Rasya. Ia lalu membuka seat belt yang melingkar di tubuh Nadia. "Ayo turun!" ajaknya.


"Beneran lho nggak lama," ucap Nadia menegaskan.


"Iya benar. Nanti Mas telepon Ibu biar jemput kita," sahut Rasya.


Rasya dan Nadia pun keluar dari dalam mobil. Di sekitar tempat itu juga banyak pengunjung taman yang berkerumun. Tidak jauh dari mobil yang dibawa Rasya juga ada pasangan mesum yang terkena razia. Dan itulah yang membuat para polisi tersebut tidak mempercayai alasan yang dikemukakan oleh Rasya.


"Mas, aku enggak mau naik mobil itu. Gimana nanti dengan Kang Nadhif. Kakakku menikah kok malah aku di kantor polisi," rengek Nadia panik saat mereka sudah keluar dari dalam mobil. Rasya tidak menyahut karena ia sedang berusaha menghubungi tamannya yang Kapolres.


"Halo, Bro. Ada apa?" terdengar sapaan dari seberang saat panggilannya terhubung.


"Aku di kantor, kenapa?" sahut Ilham.


"Anak buah kamu mau menangkap aku dan istriku karena mereka tidak percaya kami pasangan menikah. Mobil ibu yang aku bawa juga mau mereka tilang. Kamu bisa ke sini kan? Di taman jalan Kemuning," pinta Rasya.


"Ikuti saja, Mas. Memangnya kamu nggak kangen sama aku?" goda Ilham.


"Nggak bisa, Gam. Kakak ipar aku mau menikah pagi ini. Jangan sampai aku naik mobil patroli ya! Jika tidak kamu akan tahu akibatnya," ancam Rasya.


"Iya, iya, gitu amat sih sama saudara. Nggak sampai lima menit aku sampai di situ. Siapa nama polisi yang mau menangkap kamu tadi?" sahut Ilham lalu bertanya.


Rasya langsung mematikan panggilannja tanpa menjawab pertanyaan Ilham. Ilham mendengus kesal. Ilham adalah salah satu anak jalanan yang ditampung di panti asuhan yang didirikan oleh Pak Baskoro dan dibiayai sekolahnya oleh yayasan hingga sampai Akademi Kepolisian. Jadi ia sudah menganggap keluarga Pak Baskoro sebagai keluarganya sendiri.


"Mas enggak telepon ibu minta dibawakan STNK ke sini?" tanya Nadia khawatir.


"Tidak perlu, Sayang. Sebentar lagi pimpinan mereka juga akan datang kemari membebaskan kita," sahut Rasya menghibur Nadia.


Lelah berdiri Nadia duduk di rerumputan. Rasya ikut duduk di sampingnya. Dua anggota polisi tadi menghampiri mereka.


"Mari, Pak, Bu, silakan naik ke mobil patroli. Kami akan berpindah tempat," ucap salah satu dari mereka.


"Mas," Nadia kembali merengek memeluk lengan Rasya.


"Tunggu sebentar, Sayang. Awas kamu Ilham kalau aku dan istriku sampai dibawa mobil patroli," gerutu Rasya.


"Silakan, Bapak, Ibu. Jika tidak mau kami akan berlaku kasar," ancam polisi satunya lagi.


"Tunggu, Pak! Teman saya mau ke sini. Bapak berdua tahu kan siapa Ilham Putra Laksono?" gertak Rasya.


"Apa? Pak Ilham? Jangan mengada-ada, Bapak. Siapapun pasti kenal Pak Ilham karena beliau Kapolres," sahut salah satu polisi tanpa gentar.

__ADS_1


"Baiklah karena kalian tidak mempercayai kami, saya juga tidak akan segan untuk meminta kepada Kapolres untuk memberikan sanksi kepada kalian," ancam Rasya.


"Hahaha, ..."


"Tunggu!"


Belum sempat anggota polisi tadi mengucapkan sesumbarnya, terdengar seruan menginterupsi.


"Pak Ilham," ucap polisi tersebut dengan suara bergetar.


Ilham menghampiri mereka. "Bebaskan mereka! Mereka itu saudara saya," perintah Ilham.


"Siap, Komandan!" sahut Pak Polisi.


"Mana kunci mobilnya yang kalian tilang? Ambilkan cepat!" instruksi Ilham.


"Baik, Komandan." Setelah menyahut polisi tadi menghampiri anggota polisi yang bertugas mencatat dan mengumpulkan kendaraan yang ditilang. Lalu kembali menemui Ilham dan Rasya. Menyerahkan kunci mobil kepadanya.


Ilham langsung menyerahkan kunci mobil tersebut kepada Rasya. Rasya mengajak Nadia untuk masuk kembali ke dalam mobil.


"Beri mereka sanksi karena telah membuang-buang waktuku. Kalau tidak akan aku adukan kamu sama Bapak," ancam Rasya melirik ke arah dua anggota polisi tadi yang berpangkat sersan. Rasya segera melajukan mobilnya.


Ia membawa mobilnya langsung ke Merysta Hotel tempat berlangsungnya akad dan resepsi pernikahan antara Nadhif dan Aghni.


"Kok ke sini, Mas?" Nadia menyela kebisuan mereka.


"Kita langsung ke hotel, Sayang. Sudah ditunggu di sana. Bisa marah nanti kang Nadhif kalau sampai adik kesayangannya tidak hadir saat ijab qobul mereka," sahut Rasya.


"Pakaian seragam Bridesmaids ku kan sudah aku bawa ke vila, Mas," jelas Nadia.


"Mimik sudah membawanya ke hotel, mereka sudah menunggu di sana. Nanti di sana kamu juga akan dimake over oleh MUA jadi tidak usah repot-repot dandan sendiri," timpal Rasya cemberut.


"Kenapa malah Mas yang cemberut?"


"Mas tidak suka kamu dandan cantik di depan umum. Pasti mereka akan terpesona melihat kamu," keluh Rasya.


"Gitu saja cemberut. Harusnya Mas bersyukur punya istri yang masih muda dan cantik. Coba kalau istri Mas Rasya jelek dan dekil, pasti mereka akan berbisik-bisik, itu istri Rasya ya yang jelek dan dekil itu? Pasti si Rasya itu anak konglomerat tetapi pelit enggak mau kasih uang kepada istrinya untuk perawatan. Udah tua, pelit, ngapain masih bertahan sama dia?" cebik Nadia dengan suara yang dibuat-buat.


"Enak saja. Siapa yang bilang Mas Rasya enggak kasih uang buat perawatan? Bilang ke orang itu kalau kartu ATM Mas Rasya aku yang pegang dan aku bebas menggunakannya untuk apa saja," timpal Rasya tidak terima.


"Biasanya kan Mas Rasya sendiri yang bilang nggak suka wajahku diapa-apain. Mas lebih suka wajah kamu yang alamiah tanpa make up, Sayang," ucap Nadia menirukan suara Rasya.


Tidak terasa mereka telah sampai di basemen parkir hotel. Mereka keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam lift di basemen parkir tersebut.


"Mas nanti kita mandi di kamar mandi yang beda ya biar nggak kelamaan," cetus Nadia.


"Kenapa? Mas malah mau kita mandi berdua, Sayang," bantah Rasya.


"Kalau kita terlambat nanti bisa kena semprot dari Kang Nadhif," sahut Nadia.


"Dulu waktu kita nikah saja kang Nadhif nggak hadir 'kan?" sergah Rasya.


"Mas kok gitu selalu mikirin balas dendam. Waktu Mas Rayan dan Pipim nikah juga bilang begitu," cebik Nadia.


Lift berhenti dan pintunya terbuka perlahan.


"Nanad!"


Tiba-tiba ada yang memanggil sapaan akrab Nadia. Siapa ya?


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terima kasih atas partisipasi kalian😘


__ADS_2