
Sampai di area parkir, Rayan sudah menunggu dan bersandar di samping mobil, tanpa menyapa sang kekasih Prima langsung masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi samping kursi kemudi.
"Kenapa kamu, Ayang?" tanya Rayan yang melihat wajah kekasihnya ditekuk.
"Enggak apa-apa," jawab Prima masih dalam mode cemberut.
"Minta dicium ya?" Rayan mengeluarkan jurus menggodanya.
"Ih, najis!" hardik Prima.
"Najis tapi pengen nambah terus, Kan?" sindir Rayan tersenyum jahil.
Rayan memutari bagian depan mobil, duduk di kursi kemudi. "Sudah semua belum?" tanyanya.
"Sudah," terdengar jawaban kompak dari belakang.
"Kalau sudah ya turun lah!" sergah Rayan.
"Mas Rayan ngeselin, ih," cebik Tania.
"Hahaha.., tadi bilang sudah."
"Sudah siap berangkat maksudnya?" ucap Nadia.
"Mau kemana kita, Tuan putri?" tanya Rayan.
"Ayang Pipim katanya minta ke mall," jawab Tania.
"Ih, kok jadi aku yang jadi tersangka sih? Nanad tuh yang punya ide," sanggah Prima.
"Ia dech, Nanad yang minta dianterin ke mall, Mas Yayan," sahut Nadia mengalah.
"Oke, pengawal siap mengantar Tuan Putri ke mana saja," ucap Rayan yang mulai melajukan mobil. "Tapi jangan sampai sore lho ya! Kasihan bumil nanti kecapekan, soalnya nanti malam kan masih ada acara pengajian sampai malam," tukasnya.
"Iya, Mas. Ini juga mau sekalian hunting untuk keperluan nanti malam," timpal Tania.
Sejenak mereka larut dalam keheningan, hanya suara MP3 yang diputar dari dashboard mobil dan deru mobil jalanan yang terdengar, hingga akhirnya Nadia kembali memulai pembicaraan.
"Tan, kamu lihat mobil putih di belakang kita, enggak? Kayaknya mereka mengikuti kita dech," tanya Nadia tiba-tiba.
Tania menoleh ke belakang, terlihat olehnya mobil Pajero sport putih di belakang mobil yang mereka tumpangi.
"Mungkin kebetulan searah dengan kita," timpal Tania positif thinking saja.
"Tapi tadi kulihat mobil itu dari tikungan tidak jauh dari kampus kita, Tatan," Nadia menguatkan feeling-nya.
"Udah enggak usah takut, ada Mas Yayan di sini," Tania mencoba memenangkan Nadia.
Sampai di basemen parkir sebuah Mall, mobil berhenti.
"Mobil itu enggak kelihatan lagi, kan? berarti mereka memang enggak ngikutin kita?" simpul Tania.
"Semoga saja," sahut Nadia berharap.
"Mau kemana dulu kita?" tanya Tania.
"Ada salon spa, nggak? Aku pengen merelaxkan badan," tanya Prima.
"Kamu ini aneh, Pipim. Kalau mau spa ya langsung ke salon spa aja atau ke hotel yang ada fasilitas spanya," sahut Tania.
"Di sini juga ada kok, ayo kuantar," timpal Rayan sambil melepaskan seat belt.
"Tuh ada, Tatan," timpal Prima pada Tania.
Rayan mengajak ketiga wanita tersebut masuk ke dalam lift.
"Kok Mas Yayan bisa tahu kalau di sini ada spa?" tanya Prima pada sang Kekasih.
"Tadi sebelum masuk ke basemen, Mas sempat lihat papan baleho spa di depan," jawab Rayan santai.
"Sudah sampai, ayo keluar!" ajak Rayan lagi.
Mereka keluar dari lift berjalan melewati koridor. Prima mensejajari langkah Rayan, sementara Tania dan Nadia di belakang mereka.
"Di lantai ini khusus untuk spa, ada spa khusus pria, spa khusus untuk ibu hamil juga ada. Nanti akan diarahkan oleh pelayan," ucap Rayan menjelaskan.
__ADS_1
"Kalau cuma lihat papan baleho, kenapa Mas Yayan sampai hafal lantai dan tempatnya?" tanya Prima lagi masih dalam mode heran dan penasarannya.
"Mas cuma pakai feeling, Ayang Pipim. Kaya hati Mas Yayan sama Ayang Pipim, pakai feeling," jawab Rayan dengan senyum merekah menegaskan kata feeling. Tania dan Nadia yang mendengarnya hanya tersenyum.
Sampai di sebuah outlet spa khusus untuk wanita.
"Selamat datang, Tuan Muda! Selamat datang, Nona," sapa seorang pelayan spa tersebut.
"Berikan pelayanan terbaik untuk mereka!" perintah Rayan kepada Pelayan spa tersebut.
"Baik, Tuan Muda!" sahut pelayan.
"Kalian di sini saja, nanti kalau sudah selesai aku jemput," tukas Rayan pada Tania dan kedua temannya.
"Mas Yayan mau kemana?" tanya Prima.
"Mas mau ke spa khusus cowok. Ayang Pipim mau ikut?" jawab dan tanya Rayan dengan senyum jahilnya menaik-turunkan kedua alisnya.
"Ih," Prima mencebik kesal.
Rayan melangkah ke luar meninggalkan spa khusus wanita tersebut.
"Lain kali jangan terlalu dekat dengan mobilku aku tidak suka!" tukas Rayan pada seseorang di telpon.
"Saya cuma menjalankan tugas, Tuan muda," jawab seseorang di telpon tersebut.
"Saya bisa jaga diri, tidak perlu kalian awasi. Saya bukan anak kecil lagi."
"Baik, Tuan Muda. Tapi saya harus kerja apa kalau tidak mengawasi Tuan Muda?"
"Terserah kamu," ucap Rayan yang langsung menutup sambungan teleponnya.
Rayan melangkah memasuki outlet spa khusus pria, di sana sudah disambut oleh seorang terapis spa.
"Mau pakai aromatherapi apa, Tuan Muda?" tanya seorang terapis spa yang memakai seragam khusus.
"Kopi saja, seperti biasa," jawab Rayan.
Sembari dipersiapkan minyak esensial untuk pijat, Rayan diminta untuk mengganti pakaiannya dengan mantel spa yang berbentuk seperti kimono, kemudian diarahkan untuk masuk ke dalam ruang pijat.
Di depan kursi ada baskom yang telah diisi dengan air ditambah garam khusus dengan taburan bunga-bunga dan minyak esensial dengan aroma sesuai keinginan mereka. Mereka merendam kaki mereka di sana.
"Mbak, apa nanti pelayanannya sama antara wanita hamil dengan yang tidak hamil?" tanya Tania pada seorang terapis yang sedang memberikan pelayanan manicure pedicure padanya.
"Bedanya hanya saat pemijatan, Mbak. Pada ibu hamil saat pemijatan dengan posisi terlentang sedangkan pada wanita yang tidak hamil itu ada dua posisi, tengkurap dan terlentang. Kemudian area yang dipijat pada wanita hamil dihindari memijat area perut, pinggang dan pinggul, sedangkan pada wanita normal pemijatan dilakukan pada seluruh tubuh," jawab sang terapis.
Selesai manicure pedicure, Tania, Nadia dan Prima berbaring di sebuah matras untuk menjalani pemijatan, sebelumnya mereka berganti pakaian terlebih dahulu dengan memakai jarik untuk kemben sementara mantel spa ditanggalkan.
Tania berbaring dengan posisi terlentang, sementara kedua teman lainnya berbaring dengan posisi telungkup.
Pemijatan untuk wanita hamil dengan membalurkan minyak esensial aromaterapi, kepala, lengan dan kaki. Tania memilih aromaterapi lemon, ini berguna juga untuk memelihara kecantikan kulit wajah dan tubuh.
Selama mendapat pelayanan Tania berbincang-bincang ringan dengan sang terapis.
"Mbak ini khusus untuk melayani tamu cewek saja atau kadang ditugaskan untuk melayani tamu cowok," tanya Tania.
"Kami digilir dengan jadwal, Nona. 1 minggu di sini, 1 minggu di spa khusus laki-laki," jawab terapis.
"Suka ada cowok yang iseng minta dilayani plus-plus enggak?" tanya Tania lagi.
"Kebanyakan dari tamu laki-laki yang datang memang minta itu, Nona. Apalagi seluruh tubuh mereka sudah kita jamah," jawab si terapis yang usianya kira-kira 25 tahunan itu tersipu malu.
"Lalu kalian layani?" tanya Tania penasaran.
"Sebelum berkerja di sini kami sudah tandatangan kontrak kerja, Nona. Kami di sini bekerja profesional. Semua pelayan di sini mendapat pelatihan dan bersertifikat khusus. Setiap ruangan di sini dilengkapi dengan CCTV, jika ada yang ketahuan melakukan hal tersebut pasti maka akan langsung dipecat dari perusahaan," terang si terapis.
"Kamu sudah menikah?" tanya Tania lagi.
"Sudah," jawab si terapis singkat.
"Suami kamu tidak cemburu?"
"Cemburu sih, tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu perekonomian keluarga," jawab terapis sambil terus melakukan pemijatan. "Sudah selesai, Nona. Sekarang Nona bisa berendam," imbuhnya.
Tania dibawa ke sebuah ruangan yang berisi kolam untuk berendam, proses pemijatan terhadapnya lebih cepat daripada dua temannya yang lain, selisih waktu mereka kurang lebih 20 menit.
__ADS_1
Semua proses memerlukan waktu kurang lebih 120 menit untuk tamu pria, dan 150 menit untuk tamu wanita. Setelah selesai melakukan perendaman mereka memakai bathrobe dan menuju ke ruang ganti untuk berganti pakaian.
Saat sampai di ruang ganti, Tania mendapati pakaian baru tergantung di sana, sementara bajunya yang dipakai sejak tadi pagi sudah dibungkus rapi dalam sebuah paper bag.
Tania melongok ke luar, "Mbak, ini baju siapa ya?" tanyanya pada pelayan yang menunggu di luar.
"Itu baju yang dipesan oleh Tuan muda Rayan untuk anda, Nona," jawab pelayan.
"Oo, terimakasih, Mbak," ucap Tania.
"Sama-sama, Nona," sahut Pelayan.
Setelah berganti baju, Tania keluar dari ruang ganti dengan menenteng paperbag yang berisi pakaian kotornya. Tania menunggu teman-temannya di lobi, Rayan sudah menunggu di sana.
"Hai, Mas Rayan. Udah dari tadi?" tanya Tania sembari duduk di sofa.
"Enggak juga, mana yang lain?" tanya Rayan. Rayan kembali membuka laporan yang dikirim oleh anak buahnya via email di ponselnya.
"Mungkin mereka belum selesai," jawab Tania. Ia memandangi Rayan yang di matanya nampak bertambah tampan.
Kenapa aku jadi mengaguminya? Aduh kalau nanti wajah anakku malah mirip dia bisa-bisa gempar seantero, tapi memang dia tampan kok, enggak kalah sama Edos. Tania bergumam dalam hati. Ia menjadi tertawa sendiri dengan tingkahnya ini. Rayan menoleh heran kepadanya.
"Kenapa kamu? Tertawa cekikikan sendiri enggak jelas? Jangan-jangan kesambet hantu kolam spa kamu ya, Tan?" terka Rayan.
"Amit-amit jabang bayi, Na'udzubillah min dzalik ya Allah. Mas Rayan hati-hati donk kalau ngomong sama wanita hamil!" sergah Tania.
"Habis kamu tiba-tiba datang enggak ada angin enggak ada hujan tertawa enggak jelas," sergah Rayan.
"Cuma lagi senang aja kok, Mas. BTW makasih ya, gamisnya cantik." ucap Tania.
"Kamu suka? Tapi bukan aku yang milih," sahut Rayan.
"Enggak apa-apa, yang penting Mas Rayan yang ngasih. Jadi aku harus berterima kasih sama kamu," timpal Tania.
"Terserah kamu dech, Tatan," ucap Rayan.
"Tania, Mas. Aku nggak suka ya, kalau Mas Rayan yang manggil Tatan," cebik Tania.
Prima dan Nadia keluar menghampiri mereka.
"Udah semua, mau belanja atau mau langsung pulang nih?" tanya Rayan.
"Pulang saja ya, Mas. Aku udah ngantuk," jawab Tania.
"Yah, kok pulang sih, Tan. Enggak asik ih," gerutu Prima.
"Besok siang kan libur kita ke sini lagi," timpal Tania menghibur.
"Asiik," seru Prima seperti anak kecil.
Nadia hanya menggelengkan kepalanya. Mereka keluar dari room spa.
"Eh, tadi udah dibayar belum, Tan?" tanya Prima tiba-tiba ketika sudah di dalam mobil dalam perjalanan.
"Belum, Pipim. Nanti sampai di rumah kamu bakal dapat tagihan dari pemilik Mallnya langsung," ancam Tania menggoda temannya.
"Aduh, Tatan. Bikin takut saja dech," cebik Prima.
"Aduh Ayang Pipim, kamu ini belum tahu juga calon suami kamu itu siapa?" tanya Nadia.
"Ya tahulah, Nanad. Calon suamiku kan yang ada di samping aku sopirnya Tania, Mas Rayan Bayu Bagaskara," jawab Prima.
"Kamu tahu pemilik Mall dan Spa tadi siapa?" tanya Nadia lagi.
"Tahu juga, Nanadku Sayang. Mall tadi kan milik keluarga Baskoro yang terkenal itu?" jawab Prima.
"Tapi kamu belum tahu kan, Pipim? Kalau Tuan Baskoro itu calon Papa mertuamu," tanya Tania.
"..." Prima terdiam menatap tajam Rayan.
.
.
.
__ADS_1
TBC