
Raka telah sampai di Jakarta beberapa waktu lalu diantar oleh ayah tirinya dengan naik kereta. Kini ia sudah mulai menjalani aktifitas belajar di salah satu SMA swasta favorit. Ternyata di SMA tersebut tengah melaksanakan kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS). Raka harus ekstra kerja keras mengejar ketertinggalannya untuk membaca buku-buku pelajaran yang belum pernah ia pelajari sebelumnya.
"Raka, untuk sementara kamu berangkat sekolah pakai motor matik yang ada di garasi saja ya. Kamu bisa naik motor 'kan?" tanya Pak Baskoro pada Raka. Mereka tengah menikmati makan malam bersama pada suatu malam.
"Bisa lah, Eyang, tapi maaf Raka belum hafal jalan menuju ke sekolah takutnya salah jalur," sahut Raka.
"Nanti ikuti mobil Papa saja dari belakang, besok pagi Papa akan antar kamu," cetus Rasya.
"Makasih, Pa," ucap Raka.
"Itu motor Mas Rayan 'kan enggak ada yang pakai. Kenapa enggak buat Raka saja, Mas?" sela Nadia bertanya pada Rasya.
"Itu 'kan motor kesayangan Rayan, Sayang. Nanti kalau dia pulang dan nanyain motornya bisa ngambek kalau yang pakai orang lain," sahut Rasya.
"Yang pakai 'kan bukan orang lain, Mas. Raka itu keponakannya," timpal Nadia.
"Iya, tapi Rayan nya belum kenal sama Raka, Nanad Cantik. Lagian Bapak juga udah mau beliin motor buat Raka kok. Iya 'kan, Pak?" ucap Rasya beralih bertanya pada Pak Baskoro. Pak Baskoro pun mengangguk.
"Enggak apa-apa kok pakai motor matik juga, Tante. Masih mending daripada waktu di Solo berangkat ke sekolah jalan kaki." Raka menyela membalas ucapan Nadia.
"Raka, Kok panggil Mama Nanad Tante sih? Dia itu istri papa kamu loh. Jadi panggil dia Mama ya," timpal Bu Nastiti yang sejak tadi hanya menyimak menasehati cucunya.
"Enggak apa-apa kok, Bu. Biar dia panggil Nadia Tante juga. Kayaknya aku lebih nyaman dipanggil Tante deh, daripada dipanggil mama sama anak sebesar dia yang hanya terpaut usia beberapa tahun di bawah aku," timpal Nadia.
"Emm ... Maksud Raka juga begitu, Yangti. Raka juga kayaknya lebih nyaman panggil dia Tante. Kalau panggil Mama kayaknya kok ketuaan," timpal Raka membenarkan ucapan Nadia.
"Yo wis, terserah senyaman kalian saja lah kalau begitu," ucap Bu Nastiti akhirnya.
Usai makan malam mereka berkumpul di ruang tengah berbincang-bincang sambil menemani Raka belajar. Kecuali Nadia, ia lebih suka mengerjakan tugas-tugasnya di ruang kerja Rasya.
"Ini Raka, Eyang ada beberapa gambar model motor yang bisa kamu pilih," ucap Pak Baskoro menyerahkan beberapa lembar leaflet kepada Raka.
Raka meraih lembaran-lembaran kertas tersebut, kemudian mulai membuka lembar demi lembar. Wajah Raka nampak sumringah melihat dan mengamati gambar model motor.
"Beneran Eyang Kakung mau membelikan motor gede ini buat Raka?" tanya Raka tidak percaya pada sang kakek.
"Beneran, Raka. Kamu tinggal pilih mau yang mana? Besok siang motor itu akan diantar ke sini," jawab Pak Baskoro.
"Tapi ini harganya mahal banget, Eyang. Raka enggak mau ah, Eyang. Raka pakai motor matik saja," tolak Raka tidak enak hati menerima barang mahal dari keluarga barunya.
"Raka, kekayaan Eyang ini buat siapa lagi kalau bukan buat anak cucu dan keturunan Eyang?" sergah Pak Baskoro. "Kamu tinggal pilih saja tidak usah mikir biaya untuk membelinya yang mahal, Raka," imbuhnya menjelaskan.
"Terima kasih, Eyang. Kalau begitu Raka pilih yang ini saja." Raka menunjuk gambar sebuah motor dari leaflet yang dipegangnya kepada eyangnya.
"Bener yang ini?" Pak Baskoro memastikan sekali lagi.
"Iya, Eyang," sahut Raka.
"Baiklah," ucap Pak Baskoro.
Ia lalu menghubungi sang asisten untuk memesan motor yang dipilih Raka di dealer langganannya.
"Besok sekitar pukul dua siang motornya akan diantar ke rumah ini. Kalau kamu belum sampai di rumah, Asisten Eyang yang akan menghandle," ucap Pak Baskoro. Raka kembali melanjutkan kegiatan belajarnya.
__ADS_1
Sementara di ruang kerja Rasya, Nadia juga sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Rasya masuk ke ruang kerjanya berdiri tepat di belakang kursi tempat Nadia duduk. Ia mengalungkan tangannya di leher sampai dada Nadia, lalu menyandarkan dagunya di pundak istrinya tersebut.
"Udah selesai belum bikin tugasnya?" tanya Rasya sambil sesekali menciumi pipi perempuan tersebut.
"Kenapa? Mau bantuin? Dikit lagi," jawab Nadia bertanya tanpa beralih dari laptopnya.
"Enggak, pusing. Pengen yang enak-enak saja," timpal Rasya yang tangannya mulai bergerilya di bagian yang disentuhnya.
"Maass ... Ini dikit lagi loh," decak Nadia yang mulai merasa terangsang.
"Lanjutkan besok saja, itu tidak untuk dikumpulkan besok pagi kan?" Dengan lancangnya Rasya kursor ke arah icon save lalu mematikan laptop yang masih dipakai Nadia.
Rasya lalu membopong tubuh Nadia menuju ke kamar mereka melewati pintu penghubung antara kamar dengan ruang kerja Rasya. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Nadia di ranjang.
"Mau apa sih?" tanya Nadia dengan oonnya.
"Bikin adik buat Raka," jawab Raka yang mulai melancarkan aksinya.
"Ah ... Bukannya Mas bilang Kalau Raka sudah punya adik? Dua malahan," timpal Nadia.
"Dari kita belum punya, Sayang," tutur Rasya.
"Mas, Mr. Jack kok benar-benar ingkar janji ya? Janjinya pinjam Tiara cuma satu bulan, tetapi ini kan sudah satu bulan lebih," ungkap Rasya teringat tentang Tiara.
"Huh, biar saja.Tiara 'Kan sudah sama keluarganya, Sayang." Rasya mendengus kesal karena hasrat nya sudah di ubun-ubun, tetapi istrinya malah masih berbincang-bincang.
"Mas kok gitu sih? Tiara itu sudah menjadi bagian dari keluarga kita kan, Mas?" Nadia malah mencebik.
"Huh! Sebenarnya kamu enggak mau melayani suami kan, Nad?" tanya Rasya kembali mendengus.
"Melayani suami? Ya mau lah, Mas. Aku kan enggak mau jadi istri durhaka," sergah Nadia.
Nadia memiringkan badannya menghadap ke arah Rasya. Ia memandangi punggung suaminya. "Mas, masa ngambek sih? Aku udah berkorban tidak melanjutkan mengerjakan tugas loh ini," rengeknya.
Rasya masih bergeming.
"Ya udah deh kalau Mas enggak mau lanjut, aku mau balik ke ruang kerja lagi nerusin bikin tugas," ucap Nadia lagi mengancam.
Nadia bangkit duduk, ia bukannya segera meninggalkan kamar, malah melepas semua pakaian yang membalut tubuhnya kecuali pakaian da*am.
"Mas!" panggil Nadia. "Masih mau lanjut enggak?" tawarnya sambil menggoyangkan punggung Rasya.
Sedang Rasya masih bergeming. "Masa bapak dosen gitu saja ngambek?" decaknya.
Dengan sekuat tenaga Nadia pun memaksa tubuh Rasya untuk berbalik sehingga posisinya kini telentang. "Beneran udah enggak mau?" tanyanya sekali lagi memastikan. Yang ditanya hanya melongo mendapati makhluk polos yang saat ini berada di hadapannya.
"Ya udah, aku mau balik ke ruang kerja melanjutkan ngerjain tugas," ucap Nadia yang sudah hendak beranjak dari tempat tidur.
Namun, belum sempat kaki Nadia menapak di lantai, Rasya sudah menarik tangannya. Sehingga tubuhnya jatuh menimpa Rasya.
"Aw sakit, Sayang!" Pekik Rasya meringis. Ternyata benda pusaka miliknya yang sejak tadi sudah menegang terhimpit tubuh Nadia.
"Salah sendiri pakai acara tarik-tarikan," sergah Nadia.
__ADS_1
"Habis Mas enggak rela kamu setengah p*los begitu mau ke ruang kerja. Kalau sampai Bapak atau Raka tiba-tiba masuk bagaimana? Enggak malu kamu?" tutur Rasya.
"Siapa juga yang mau ke ruang kerja dalam keadaan setengah p*los gini? Aku juga mau pakai baju kali. Lagian kalau Bapak sama Raka yang melihatku begini kan enggak apa-apa, mereka kan udah jadi mahram aku karena aku nikah sama kamu, Mas," tutur Nadia.
"Sembarangan kamu kalau ngomong!Tidak-tidak! Siapapun itu tidak boleh melihat kamu seperti ini kecuali aku ya!" pungkas Rasya.
Rasya membalikan tubuhnya hingga saat ini posisi Nadia berada di bawah kungkungannya. Ia pun membuka sisa kain yang membalut di tubuh Nadia dan melemparkannya sembarangan.
"Mas, apa Mas yakin kalau Raka tidak memiliki adik yang lahir dari benih yang Mas tanam?" tanya Nadia tiba-tiba.
"Demi Allah Mas tidak pernah melakukannya dengan siapapun, Sayang. Dengan Celine pun Mas tidak pernah melakukannya kecuali benih Mas terbuang sia-sia di closet. Adiknya Raka ya hanya sama kamu ini lagi proses bikin," kekeuh Rasya menjawab pertanyaan Nadia.
"Kali aja Mas lupa, seperti Mas melupakan Raka," timpal Nadia.
"Astaghfirullah Al'Adzim, kamu kira Mas ini laki-laki hidung be*ang yang suka jajan sembarangan apa?" Rasya masih berusaha mengelak.
Tidak seperti biasanya, kali ini pergulatan panas mereka juga diimbangi dengan obrolan hingga finis. Rasya membantu membersihkan bagian kulit Nadia yang lengket karenanya dengan handuk kecil yang lembut. Ia lalu mengelus dan mencium perut istrinya tersebut.
"Semoga di sini lekas launching ya Allah," ucapnya berdo'a.
Nadia pun tersenyum, dan tanpa di suruh ia melakukan apa yang biasanya diminta oleh Rasya sebagai cara agar lekas bisa hamil. Nadia memutar posisi tubuhnya hingga kakinya berada di sandaran ranjang. Lalu beringsut maju dan meluruskan kakinya ke atas. Rasya membantu Nadia meletakkan bantal di bawah bokong Nadia kemudian ia menutupi tubuh istrinya tersebut dengan selimut hingga ke dada.
"Tumben inisiatif sendiri," ucap Rasya heran melihat tingkah istrinya.
"Semoga Bani Rasya kelak hanya keturunan anak yang lahir dari rahimku," sahut Nadia.
"Aamiin ... Semoga lekas terkabul ya, Sayang," ucap Rasya mengamini ucapan Nadia. Rasya pun mencium lembut kening istrinya tersebut. Pria itu lalu beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan mandi besar.
*****
Keesokan paginya sesuai dengan pembicaraan tadi malam, Rasya mengantar Raka dengan menjadi penunjuk arah untuknya menuju ke sekolah. Rasya mengendarai mobilnya bersama Nadia, sementara Raka mengikuti mobil tersebut dari belakang hingga sampai di depan gerbang sekolah tempat Raka sekarang menuntut ilmu.
Rasya menghentikan mobilnya dan membuka kaca jendela sampingnya. Raka turun dari motor untuk berpamitan dengan sang papa dan mama sambungnya, lalu membawa motor tersebut masuk melewati gerbang sekolah.
Rasya memandangi anak itu sampai hilang masuk ke dalam kompleks sekolah. Ia lalu segera menjalankan mobilnya menuju ke kampus.
"Kamu mau dibelikan motor juga?" Tanya Rasya pada Nadia saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Enggak," jawab Nadia singkat. "Mas bilang mobil?" tagihnya.
"Kalau mobil ya suatu saat kalau Mas udah resign jadi dosen dan kerja di perusahaan," jawab Rasya.
"Aku enggak minta loh, Mas. Mas sendiri yang janji. Aku rasa juga belum butuh mobil," timpal Nadia. "Memangnya kapan Mas Rasya mau resign dari kampus?" tanyanya.
"Tunggu sampai Mas mewisuda kamu, baru Mas akan benar-benar resign dari profesi dosen. Untuk sementara kalau jadwal mengajar Mas tidak padat, Mas akan kembali kerja di perusahaan milik Bapak. Biar Mas bisa kasih nafkah kamu dan anak-anak kita dari hasil keringat Mas sendiri, bukan karena uluran tangan orang tua," jawab Rasya.
'Sebenarnya gaji Mas Rasya kemana larinya? Masa buat beli bensin sama ngasih uang saku buat aku tiap hari saja sudah habis? Buat makan juga kadang-kadang. Aku harus mencari tahu sendiri. Jangan-jangan uang gajinya habis buat menafkahi perempuan lain,' Nadia berbicara dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
TBC