
Rasya masuk ke dalam rumah, tangannya menggamit sebelah tangan Nadia. Mereka bergantian mencium punggung tangan adik dari Pak Baskoro tersebut, Lek Purnomo dan Lek Windarti.
"Rasya, Nadia, duduk dulu, Nak. Ada sesuatu yang mau Lek Pur sampaikan kepada kalian," ujar Pak Baskoro yang tadi sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah dan duduk di salah satu sofa single.
Rasya dan Nadia duduk berdampingan di hadapan Purnomo dan Windarti. Kedua orang tamu itu tampak menampilkan wajah sedih, tetapi sepertinya Lek Pur kehilangan kata-kata yang telah disusunnya.
"Ada apa, Lek?" Rasa sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Begitupun dengan Nadia.
"Lek Pur dan Lek Win selaku orang tua Linda meminta maaf atas apa yang telah Linda lakukan pada kalian. Maafkan kami tidak bisa mendidiknya dengan baik," tutur Purnomo dengan mimik muka yang sedih, air mata juga turut menghiasi pipi laki-laki paruh baya itu.
"Jangan meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah kalian lakukan, Lek. Kami sudah memaafkan Linda dan menganggap kejadian itu sebagai musibah kok, Lek," tutur Nadia legowo. "Keadaan Linda sendiri bagaimana sekarang, Lek?" tanyanya kemudian.
"Karena itulah kami datang kemari. Linda depresi setelah mengetahui kalian telah menikah. Dia patah hati. Selama satu minggu setelah kejadian di pesta pernikahan Rayan dengan Prima itu dia hanya mengurung diri di dalam kamar." Lek Pur menjeda kalimatnya. Lek Win juga ikut menangis tergugu. Drama apalagi yang mereka mainkan ini.
"Dan kemarin kami menemukan Linda dalam keadaan tak sadarkan diri, ada bekas luka sayatan di pergelangan tangannya, Linda hampir saja kehilangan nyawanya jika kami terlambat sedikit saja membawanya ke rumah sakit," Lek Win menambahi.
"Astaghfirullah Al'Adzim." Nadia memekik.
"Sebagai orang tua Kami ingin melihat anak kami bahagia. Linda itu anak kami satu-satunya, itupun kami mendapatkannya cukup lama, delapan tahun. Sekarang kami tidak sanggup menyaksikan anak kami satu-satunya depresi dan harus didampingi oleh psikiater." Lek Pur menambahi, benar-benar pasangan yang kompak.
"Lalu maksud Lek Pur dan Lek Win kami yang harus bertanggung jawab atas sesuatu yang menimpa Linda?" sergah Nadia agak menjurus ke duduk persoalan. Mengingat Purnomo dan Windarti belum sampai pada inti pokok pembicaraan.
"Kami yakin kamu gadis yang baik, Nadia. Ijinkan Rasya untuk menikahi Linda," kini Lek Windarti yang berucap.
Seketika Nadia tercengang. "Apa?"
Terasa beban berat menindih kepalanya. Nadia menoleh ke samping kanannya. Berusaha untuk melihat reaksi Rasya. Namun, ternyata laki-laki itu sudah tidak ada di sampingnya. Entah sejak kapan laki-laki pergi meninggalkannya sendirian menghadapi dua orang antek-antek Linda ini. "Sial, dasar suami semprul!" tentu saja Nadia hanya berani mengumpat suaminya di dalam hati.
"Tidak! Mereka tidak bisa menikah. Linda dan Rayan itu satu susuan, artinya Linda dan Rasya juga sedarah," Bu Nastiti yang sejak tadi hanya jadi pendengar saja menyela dengan suara tenor.
"Mbak, bagaimana mungkin Mbak Nastiti bisa bilang Linda satu susuan dengan Rayan? Sementara sebelum kehamilan Rayan Mbak sudah melakukan operasi pengangkatan payu*ara karena tumor," sergah Lek Win dengan nada tidak kalah tinggi.
"Astaghfirullah, Win. Kebohongan apalagi yang kamu sampaikan? Apa kamu punya bukti kalau aku pernah melakukan operasi itu?" sergah Bu Nastiti.
"Ya tidaklah. Lalu apa Mbak Nastiti sendiri punya bukti kalau dulu Mbak pernah menyusui Linda? Aku cuma menuntut keadilan atas apa terjadi sama anakku," Windarti mengemukakan pembelaan. Bu Nastiti hanya diam, karena sejujurnya ia memang tidak pernah menyusui Linda. Semua itu hanya dalihnya saja, ia memang tidak menyukai Linda yang menjadi foto kopian adik iparnya, Windarti.
'Keadilan? Cuih! Kalau bicara keadilan anak kesayangan kalian itu sudah membusuk di penjara, Lek!' tentu saja Nadia hanya mengumpat di dalam hati. Ia tidak enak terhadap bapak mertuanya yang masih diam belum mau angkat bicara.
__ADS_1
"Lek, Linda itu kan masih muda. Dia gadis yang cantik dan seksi. Pasti banyak pemuda yang tertarik padanya dan mau menjadikan dia istri. Coba Linda membuka hatinya untuk laki-laki lain yang bukan laki-laki beristri," cetus Nadia. "Apa Lek Pur dan Lek Win bahagia kalau anak kesayangan kalian menjadi perusak rumah tangga orang?" pungkas Nadia.
"Nadia, kami tidak bermaksud untuk merusak rumah tangga siapapun. Kami hanya ingin kamu memberikan sedikit kebahagian yang selama ini sudah kamu rasakan untuk Linda. Sedikit saja, Nak," Lek Pur masih berusaha mencari celah dari kebaikan Nadia.
Nadia berusaha meredam emosinya. Tangannya mengepal sempurna. Nadia menoleh ke arah Pak Baskoro, Pria itu hanya menyimpan kata-katanya. Ketika Nadia beralih memandang Bu Nastiti, wanita itu seakan memberitahu Nadia dengan mimik mukanya, jangan mau!
"Tidak! Aku tidak mau dimadu. Lagipula kebahagiaan apa yang Linda harapkan dari rumah tangga kami, jika anak yang kami nanti-nanti selama ini dan belum sempat aku lahirkan ke dunia ini sudah ia bunuh?" keluar sudah sesuatu yang menghimpit dadanya. Merinding sebenarnya Nadia mengucapkan kalimat tersebut.
Nadia lalu menunduk, air mata yang sejak tadi ditahannya jebol sudah. Nadia kembali teringat kesakitan yang kemarin-kemarin ia rasakan. Susah payah ia berusaha menghapus dan melupakan kejadian itu, lalu memaafkan pelakunya. Lalu sekarang dengan mudahnya mereka meminta kebahagiaan. Sedikit kebahagiaan mereka bilang. Apa mereka tidak berfikir bagaimana perasaanku? Yang mereka pikirkan hanya keinginan mereka sendiri. Berbahagia di atas penderitaan orang lain. Ia heran kenapa Rasya tega sekali membiarkannya berjuang sendirian menghadapi dua orang yang tidak tahu diri ini?
"Kang, kenapa dari tadi Kang Bas hanya diam saja? Apa Kang Bas tega melihat keponakan Kang Bas depresi? Tolong bantu aku membujuk menantu mu ini, Kang!" Lihat! Mereka memang kompak, benar-benar keluarga tidak berperasaan. Buat apa tadi mereka menangis minta Nadia untuk memaafkan kesalahan putrinya?
"Pur, yang mau kalian telusupi itu rumah tangga mereka, Nadia dan Rasya. Jadi hargailah keputusan mereka. Kita tidak seharusnya ikut campur," tutur Pak Baskoro bijak. "Kalian seharusnya hibur dan bujuk Linda supaya mau membuka hatinya untuk pemuda lain dan tidak merusak rumah tangga orang," imbuhnya.
Nadia melirik ke arah bapak mertuanya. 'Alhamdulillah, bapak memang the best. Aku padamu, Pak," batinnya.
"Lek. Lek Win kan seorang wanita juga, sama seperti Nadia. Bagaimana jika Lek Win berada di posisi Nadia? Apa Lek Win rela Lek Pur menikahi gadis yang depresi karena menyukainya? Pasti tidak kan?" cecar Nadia masih berusaha mengemukakan penolakan.
"Apa? Kamu mau menikah lagi, Mas? Tak uleg jadi sambal geprek kamu kalau sampai menikah lagi tanpa ijin dari aku," ancam Lek Win meremas rambut Lek Pur. Lek Pur yang tidak siap mendapat serangan mendadak dari istrinya tersebut mengaduh kesakitan.
"Sudah, sudah, kok jadi kalian yang ribut sih," Pak Baskoro melerai mereka. "Sudah larut malam ini, mendingan kalian pulang. Kami masih capek biarkan kami istirahat. Kalian ini memang tidak punya perasaan. Sudah tahu kami baru pulang dari perjalanan jauh malah disodori masalah yang berat seperti ini," usirnya.
"Tadi kupikir kamu cuma mau minta maaf. Tidak tahunya kamu punya niat terselubung dibalik permintaan maaf mu," sergah Pak Baskoro.
"Nad, tolong pikirkan sekali lagi! Kami tidak mau anak kami satu-satunya menjadi gila. Tolong, Nad," bujuk Lek Pur lagi masih sambil menangis. Dasar laki-laki cengeng.
"Ya sudah kalau kalian bersikeras, semua Nadia serahkan kepada Mas Rasya yang mau menjalani. Kalau memang Mas Rasya mau menikah dengan Linda, aku bisa mundur kok, Lek, tetapi kalau untuk poligami itu tidak akan terjadi, Lek," pungkas Nadia. Tentu saja pipi Nadia kembali basah saat mengucapkan itu. Dan dadanya terasa nyeri.
"Pur, biarkan menantuku istirahat. Dia itu habis keguguran gara-gara anak kesayangan kamu itu kalau kamu lupa?" bentak Pak Baskoro.
Lek Pur dan Lek Win akhirnya pamit pulang. Nadia segera pergi meninggalkan ruang tamu. Tergesa dia naik ke lantai dua. Dalam hati ia mengumpat dan menggerutu. Tega-teganya suaminya itu meninggalkan ia sendirian berjuang untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Sementara dia sendiri enak-enakan tidur. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab.
"Mas!" panggil Nadia saat ia membuka pintu kamar.
Namun di dalam kamar mereka tidak ada siapa-siapa. Di mana Rasya?
"Mas Rasya!" Panggil Nadia lagi dengan mengeraskan suaranya, tetapi tidak ada sahutan. Ia lalu menghampiri pintu yang menghubungkan pintu kamar dengan ruang kerja Rasya, membuka perlahan. Ternyata pria yang sejak tadi diumpatnya berkali-kali sedan duduk di kursi kerjanya berkutat dengan laptop.
__ADS_1
"Mas," Nadia mendekat, berdiri di belakang kursi duduk Rasya. Ia mengalungkan lengannya di leher pria tersebut dan mencium tengkuk dan rambutnya.
"Mas banyak kerjaan, Sayang. Ini deadline besok jam 9 pagi. Jangan bahas apa-apa sekarang ya," ucap pria itu memohon tanpa mengalihkan perhatian dari laptopnya.
"Mas pasti capek, Nanad pijitin sebentar ya," Nadia memijit punggung juga kepala Rasya.
"Hemm enak sekali. Capek sekali sih sebenarnya, tapi ini harus selesai malam ini," ucap Rasya. "Mau minta pijit sama kamu, kamu sendiri juga pasti capek banget," lanjutnya.
"Udah ya, Mas. Nanad udah ngantuk banget," pamit Nadia.
"Ia tidur dulu sana. Bentar lagi Mas nyusul, jangan lupa bersihin muka ya," sahutnya.
Nadia tidak menjawab, ia hanya melenggang meninggalkan Rasya yang masih berkutat dengan laptopnya. Setelah Nadia pergi, Rasya menutup laptopnya. Rasya menjambak rambutnya sendiri sambil mengumpat.
"Dasar wanita sundel bolong! Tidak tahu malu! Sudah membunuh anak kami sekarang mau menghancurkan pernikahan kami."
Rasya tidak mungkin menikahi Linda. Nadia pasti akan menuntut cerai. Lalu bagai mana Dirinya bisa hidup tanpa Nadia nanti? Seharian ditinggalkan wanita itu jalan bersama saudara-saudaranya saja, ia merasa kesepian meskipun di rumahnya banyak orang. Ia tidak sanggup berpisah dengan Nadia sedetik pun. Sepertinya Linda harus dikasih pelajaran, bukan pelajaran Tematik atau yang lainnya. Tetapi pelajaran yang tidak ada di sekolahan.
Rasya bangkit dan melangkah menuju ke kamarnya. Ia menerobos masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan thoharoh. Saat ia kembali ke dalam kamar, dilihatnya Nadia tidur miring membelakanginya. Rasya membaringkan badannya. Matanya menatap langit-langit, tetapi pikirannya menerawang jauh.
Tiba-tiba ekor matanya menangkap sesuatu yang berguncang. Rasya menoleh ke samping. "Sayang, kamu belum tidur?"
Tidak ada jawaban. Bahkan guncangan itu semakin terlihat nyata disertai isakan. Rasya menarik punggung Nadia untuk berbalik menghadapnya. Wanita itu kini menumpahkan tangis di dadanya. Rasya membiarkannya. Ia rengkuh punggungnya lalu ia ciumi pucuk kepalanya berkali-kali.
"Maafkan Mas. Mas janji kamulah istri terakhir Mas. Mas mohon, apapun yang terjadi dengan Mas, jangan pernah meninggalkan Mas."
Nadia mengangguk, "In sya Allah, Nanad janji. Nanad tidak akan meninggalkan Mas Rasya," ucapnya terbata. Masih terdengar isakannya. "Mas," panggilnya.
"Iya, Sayang?"
"Nanad kangen Mamak sama Mimik," ungkapnya. Memang sudah lama mereka tidak berkunjung ke kampung halaman tempat kelahiran Nadia.
"Besok siang selesai rapat Mas antar ya," janji Rasya. Nadia hanya mengangguk.
.
.
__ADS_1
.
TBC