Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Terciduk di Kamar Kost


__ADS_3

Sebelum keluar dari rumah, Nadia


meminta ijin terlebih dahulu kepada kedua mertuanya bahwa ia akan tinggal di kostan selama tiga hari.


Setelah melihat menantunya pergi, Bu Nastiti Naik ke lantai dua langsung masuk kembali ke dalam kamar putra sulungnya. Rasya nampak duduk di sofa, tangannya memegang kepalanya yang tertunduk. Bu Nastiti melangkah pelan menghampiri Rasya, duduk di sampingnya.


"Kamu sudah cerita pada Nadia, Sya?" tanya Bu Nastiti pada Rasya.


"Sudah, Bu. Sekarang Nadia malah pergi," sahut Rasya masih dalam posisi yang sama.


"Dia bilang apa?" tanya Bu Nastiti lagi.


Rasya menghela napas lalu berkata, "Dia butuh waktu minimal tiga hari lagi untuk menenangkan diri," jawab Rasya.


"Yang sabar ya, Nak. Cuma tiga hari saja kan? Lalu kalian akan bersatu kembali," hibur Bu Nastiti.


"Tapi kami sudah tiga hari tiga malam berpisah, Bu. Rasya pengen melepas kangen sama dia sekarang, kenapa dia malah ngajak pisah lagi selama minimal tiga hari?" protes Rasya.


"Karena kamu yang salah, udah punya anak perjaka masih ngaku-ngaku perjaka. Jadi dia kan merasa kamu sudah membohonginya selama ini," timpal Bu Nastiti.


"Rasya mana tahu kalau sudah menghamili Kania. Rasya melakukannya juga tanpa sadar gara-gara Jono yang mencampur buah kecubung pada rujakan waktu itu. Lagian Kania kan udah menikah juga, aku kira dia sudah hidup bahagia dengan suaminya," kilah Rasya. "Bu lek Milarsih pasti sengaja menghindari Rasya kan, Bu? Makanya dia tidak menjawab teleponku," imbuhnya bertanya.


"Ibu juga yang salah, Sya. Sebelum kita pindah ke sini ibu sudah titip pesan sama Bu Lek kamu itu untuk melarang Kania mencari kamu. Karena ibu juga mengira pernikahannya Kania yang pertama dulu akan bahagia," ungkap Bu Nastiti. "Ibu juga tidak mau pendidikan kamu terbengkalai karena lebih mementingkan asmara. Ibu pikir jika memang Tuhan mentakdirkan kalian berjodoh, suatu saat pasti kalian akan dipertemukan kembali dalam keadaan sama-sama tanpa ikatan pernikahan. Maafkan Ibu, Sya!" imbuhnya memohon.


"Masa cuma sekali melakukan saja kok langsung jadi ya, Bu? Sama Nadia yang sudah berkali-kali kok belum kelihatan juga hasilnya," ucap Rasya tanpa malu berterus terang kepada sang ibu.


"Mungkin apa yang selama ini terjadi pada Nadia juga karma karena kamu telah menelantarkan Raka selama ini, Sya. Jadi jangan ungkit masalah kehamilannya kalau dia memang belum berkeinginan untuk hamil. Lagi pula gadis itu belum cukup umur untuk menikah." Bu Nastiti menasehati.


"Iya, Bu. Rasya juga tidak memaksanya, sekarang sudah ada Raka. Semua yang akan dan sudah terjadi, sekarang Rasya pasrahkan diri saja sama Allah." Rasya akhirnya bisa menerima kenyataan.


"Jadi bagaimana? Apa besok siang kamu tetap akan meminta Raka ke Jakarta dan tinggal di rumah ini?" tanya Bu Nastiti lagi.


"Karena Nadia sudah menyetujui, maka Rasya akan tetap menyuruh Kania atau suaminya untuk mengantar Raka ke Jakarta besok siang, Bu," jawab Rasya.


"Sekarang kamu istirahat saja, tidak usah terlalu difikirkan. Nanti malah penyakit lambung kamu bisa kambuh. Ibu yakin semua akan baik-baik saja. Nadia itu gadis baik-baik dan berasal dari keluarga baik-baik tidak seperti Celine. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri." Bu Nastiti kembali menasehati.


"Iya, Bu. Rasya baik-baik saja kok," sahut Rasya.


Bu Nastiti akhirnya pamit untuk kembali ke kamarnya. Rasya meraih ponselnya. Mengetikkan sesuatu untuk istrinya di sana. Hingga larut malam ia membaringkan tubuhnya di kasur dengan gelisah. Bahkan sampai dini hari ia belum bisa memejamkan mata.


*****


Sementara itu sampai di kostan Nadia terus saja menggerutu. Ia merasa selama ini telah dibodohi dan dibohongi oleh Rasya. Perasaan kangen dengan sang suami yang selama tiga hari pergi ke luar kota entah menguap begitu saja. Cinta? Mungkin sekarang ia telah lupa. Yang ada sekarang hanya rasa kesal terhadap Rasya.


"Duda ya tetap duda, barang bekas. Pakai bilang masih ori lagi, ori dari Hongkong? Katanya masih orisinil, tapi udah punya anak laki-laki seusia SMA. Cuma beberapa tahun di bawahku," gerutunya. "Terus apalagi kebohongannya terhadapku?" imbuhnya mendengus kesal.

__ADS_1


Nadia merogoh ponselnya dari dalam tas ranselnya yang sejak tadi terlupakan. Banyak sekali pesan di aplikasi WhatsApp miliknya. Salah satunya dari Rasya suaminya. Nadia tidak membuka chat di aplikasi WhatsApp langsung, tetapi ia membukanya dari notifikasi supaya Rasya mengira kalau chat darinya belum dibaca.


SuamiQ


[Sayang, menenangkan dirinya jangan lama-lama ya. Mas masih kangen banget sama kamu. Tiga hari tiga malam saja rasanya sudah seabad kenapa kamu harus menambahnya tiga hati lagi sih? Apa kamu sudah tidak cinta lagi sama Mas Rasya?]


[Sayang, Mas tidak tahu bagaimana Mas bisa menjalani hari-hari tanpa kamu. Mas tidak bisa tidur tanpa mendengar suaramu.]


Setelah membaca notif pesan WhatsApp, Nadia meletakkan ponselnya di samping bantal. Ia membaringkan tubuhnya di kasur, mencoba memejamkan mata.


Namun, Nadia pun sama seperti halnya Rasya. Ia pun tidak bisa memejamkan mata. Berpisah dengan suaminya selama tiga hari kemarin menyisakan rindu yang teramat dalam. Namun, rasa kesal dan egonya begitu berlebihan sehingga ia bisa menampik rasa rindu tersebut.


"Sudahlah lupakan pria pembohong itu! Sebelum menikah juga sudah terbiasa tidur tanpa dia. Pasti sekarang juga bisa, kemarin di tinggal pergi tiga hari saja aku bisa tidur kok, masa sekarang enggak bisa kan enggak lucu," gumam Nadia.


Malam mulai merangkak menuju pagi. Suara jangkrik pun semakin gencar seperti pasukan yang menabuh genderang. Ponsel Nadia kembali bergetar dan menyala, ada notif pesan WhatsApp dari Rasya lagi. Nadia kembali mengintipnya.


SuamiQ


[Sayang, Mas enggak bisa tidur nih. Buka dong chat dari Mas. Mas mau telpon. Pengin dengar suara kamu, Yang.]


"Aku juga kangen banget sama Mas. Tapi aku masih kesal sama Mas karena telah membohongiku. Aku juga enggak bisa tidur sekarang. Pengen tidur dalam dekapan tubuh Mas Rasya. Mencium aroma tubuh Mas Rasya yang sudah empat malam ini belum aku rasakan," gumam Nadia.


Tangis Nadia pun akhirnya pecah. Ia menyesal kenapa tadi tidak bisa mengendalikan emosinya. Hanya rasa kesal dan ego yang ia utamakan. Padahal rindunya untuk bercumbu mesra dengan sang suami sudah menggunung.


Ia pun kembali meraih ponselnya, membuka pesan WhatsApp dari sang suami dan langsung menekan icon panggilan video.


"Sayang, kamu nangis?" tanya Rasya.


"Aku enggak bisa tidur. Kangen sama Mas, pengen dipeluk sama Mas. Dari Mas pulang kemarin sore Mas cuek belum peluk aku," jawabnya merajuk.


"Tapi ini udah hampir pagi, Sayang. Tunggu saja ya sebentar lagi subuh," bujuk Rasya.


"Enggak mau, pokoknya Mas Rasya jemput aku sekarang!" rengek Nadia.


"Ya udah, jangan nangis lagi! Tunggu Mas jemput ke situ. Udah punya anak tiri perjaka masa masih nangis kayak anak kecil sih, Sayang?" cela Rasya


"Mas tuh yang bohong, ngaku-ngaku masih perjaka padahal sudah punya anak perjaka," hardik Nadia.


Rasya pun langsung memutus panggilan. Lima belas menit kemudian ponsel Nadia kembali bergetar. Ia membukanya.


SuamiQ


[Sayang, Mas sudah di depan. Buka pintunya.]


Nadia langsung bangkit. Ia keluar kamar menuju ke ruang tengah menghampiri lemari bufet TV tempat biasa ibu kostnya menaruh kunci rumah. Setelah mendapatkan kunci ia langsung ke depan membukakan pintu untuk suaminya.

__ADS_1


"Mas," ucap Nadia langsung menghambur memeluk suaminya.


"Kita menginap di sini saja ya, Sayang. Mas udah ngantuk banget, enggak kuat kalau harus nyetir mobil," cetus Rasya. Nadia pun mengangguk.


Rasya menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah. Tidak lupa Nadia mengunci pintu kembali, tetapi membiarkan kunci tersebut menggantung di lubangnya. Mereka langsung menuju ke kamar Nadia.


"Kamarnya sempit, Mas," ucap Nadia saat mereka telah sampai di dalam kamar.


"Tidak apa-apa, kamu berbaring duluan gih," pinta Rasya.


Nadia menuruti permintaan suaminya. Ia membaringkan tubuhnya miring di kasur springbed ukuran nomor tiganya. Tidak lama kemudian Rasya berbaring miring di sampingnya, mendekap erat perempuan pujaan hati yang begitu ia rindukan. Kantuknya seakan sirna setelah melihat gadisnya di depan mata, terganti dengan hasrat untuk mencumbunya.


Rasya segera menempelkan bibirnya ke bibir wanita pujaan hatinya, me*umatnya pelan. Mengabsen setiap inci rongga mulut Nadia. Nadia pun membalas lu*atan bibir suaminya. Lidah mereka membelit satu sama lain. Terkadang mereka bertukar saliva. Sementara sebelah tangan Rasya menyusup ke dalam kaos yang dipakai oleh Nadia. Mencari dua buah squisy dan meremas pelan.


"Emmhh ... Mas tadi bilang ngantuk?" cebik Nadia. Padahal hatinya menginginkannya.


"Mas sudah tidak tahan melihat kamu, Sayang," ucap Rasya.


"Nanti kalau tetangga kamar kita mendengar bagaimana?" sergah Nadia.


"Mereka pasti sudah terlelap, ini sudah hampir pagi," sahut Rasya.


Nadia kembali diam. Ia juga menyusupkan tangannya ke dalam celana Rasya yang pengaitnya sudah terbuka itu. Memijit dan memilin pelan benda pusaka suaminya yang sudah mulai menegang. Rasya mengerang mendapat perlakuan istrinya. Begitu pun Nadia, ia terpekik menutup bibirnya saat desahannya hampir saja keluar saat Rasya menggigit kecil pu*ingnya.


Nadia takut jika kegiatan mereka akan tercium oleh teman-teman kost mereka. Sementara mereka belum tahu kalau suami Nadia adalah Pak Rasya yang juga dosen dari teman kost Nadia, Devi dan Anisa, serta 2 mahasiswa baru penghuni kost lainnya.


Mereka melakukan pergulatan panas hingga hampir subuh. Walaupun tidak plong karena menahan ******* dan gerakan agar tidak terdengar sampai ke telinga tetangga kamar, tetapi sudah membuat rasa rindu mereka terobati. Mereka langsung terlelap setelah pergulatan itu.


Pagi hari sekitar pukul tujuh, Rumi yang biasanya mengetahui Nadia selalu bangun sebelum subuh, Ia heran melihat pintu kamar Nadia masih tertutup rapat. Ia mengetuk pintu kamar Nadia berulangkali. Namun, tidak ada sahutan selirih pun dari dalam kamar anak kostnya tersebut.


Rumi menjadi khawatir takut terjadi apa-apa terhadap anak kostnya itu. Karena tadi malam ia sendiri yang membukakan pintu untuknya. Dan ia tahu bahwa gadis itu sedang ada masalah dengan suaminya.


Rumi takut kalau Nadia sakit dan tidak ada yang mengurusnya. Gadis yang sudah seperti anaknya tersebut tidak biasanya bangun kesiangan kalau tidak terjadi apa-apa. Ia pun berinisiatif untuk mengambil kunci cadangan. Karena ia sudah membuka kunci pintu kamar Nadia berulang kali tetapi pintu itu tidak terbuka juga.


Rumi meninggalkan kamar tersebut menuju ke ruang tengah, menghampiri bufet TV tempat ia menyimpan kunci cadangan. Setelan mendapatkan kunci kamar cadangan milik Nadia, Rumi segera kembali ke kamar tersebut.


Dengan cepat Rumi memasukan kunci ke dalam lubangnya. Namun, ternyata di dalam sudah ada kunci juga. Ia mencari lidi untuk mendorong kunci yang ada di dalam supaya terjatuh. Berhasil. Ia kembali memasukan kunci ke dalam lubang dan membuka pintu kamar tersebut.


"Astaghfirullah Al'Adzim!" pekik Rumi.


Apa yang terjadi saudara-saudara?🤣🤣🤣


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2