
Hari ini Nadia sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Selang infusnya sudah dilepaskan sejak tadi malam karena cairan sudah habis.
Di ruangan tempatnya di rawat, sudah ada mimik, Bu Nastiti serta Tania yang membantu mempersiapkan kepulangan Nadia. Sedangkan mamaknya Nadia, Rayan dan Edos berbincang-bincang di luar ruangan.
Bu Nastiti kali ini tidak mengajak Tiara. Karena ia sudah berkali-kali merayu Nadia untuk pulang ke rumahnya, tetapi gadis itu selalu menolak. Ia takut jika Tiara akan menangis ingin ikut dengan Nadia yang akan pulang ke tempat kostnya, sementara Nadia sendiri belum mampu menggendong gadis kecil tersebut.
"Tawaran ibu masih berlaku lho, Nad. Ibu berharap kamu mau tinggal di rumah Ibu," ucap Bu Nastiti memohon.
Nadia yang saat ini sedang duduk bersandar di atas brangkar membalas ucapan Bu Nastiti. "Terima kasih, Bu. Sekali lagi Nadia mohon maaf. Sudah lama Nadia tidak melihat kamar kost Nadia dan juga harus menyiapkan barang-barang untuk kepulangan besok pagi ke kampung."
Nadia masih saja berusaha mencari alasan yang tepat agar tidak bertemu kembali dengan keluarga Rasya. Orang yang telah memberinya harapan melambung tinggi, tetapi sampai sekarang entah di mana batang hidungnya. Biarlah kenangan dan janji-janjinya terbang bersama angin lalu.
'Di mana kamu berada, Pak Rasya? Apakah kamu sekarang sengaja menghindar setelah mengetahui kondisiku saat ini?' batin Nadia merintih, namun ia tetap mencoba untuk tersenyum, senyum yang dipaksakan.
Nadia beringsut turun dari brangkar, melangkah menghampiri Bu Nastiti. "Terima kasih atas perhatian Ibu selama ini, Nadia sekalian pamit, mungkin besok pagi tidak bisa berpamitan langsung ke rumah Ibu," ucap Nadia lalu meraih punggung tangan orang yang akan menjadi calon ibu mertuanya namun gagal itu.
"Ayo, Mik. Kita pulang sekarang," ucap Nadia beralih kepada mimiknya, mengajaknya untuk pulang ke kostan.
Mereka keluar dari dalam ruang rawat, di depan ruangan bertemu dengan Rayan.
"Sudah siap pulang, Nad? Aku antar sampai kostan," Rayan menawarkan bantuan.
"Mas Rayan tidak nganter ibu?" tanya Nadia.
"Ibu bawa mobil sendiri, Nad," Bu Nastiti menimpali.
"Oo ... Ayo Mas." Nadia tidak menyangka wanita paruh baya seusia Bu Nastiti bisa membawa mobil sendiri.
"Aku sama Edos nanti nyusul ke kostan kamu, Nad," ucap Tania.
"Ikut mobil mas Rayan juga, Tan?" Nadia memastikan.
"Enggak, Nad. Kami bawa mobil sendiri. Ke tempat kost kamu nya nanti setelah aku periksa ke dokter Obgyn," sahut Tania.
"Oh iya, Tan. Kenapa tidak dari tadi periksa ke dokter obgyn nya?" Nadia menjawab singkat lalu bertanya.
"Hahaha, belum buka lah, Nad. Kliniknya kan baru buka jam 09.00," jawab Tania tertawa.
"Ups, iya ya."
Mereka akhirnya berpisah. Nadia, mimik dan makanya di ajak oleh Rayan memasuki lift turun ke lantai dasar dan keluar dari rumah sakit.
"Kalian tunggu di sini. Aku ambil mobilnya dulu," pinta Rayan.
Ia pun meninggalkan Nadia beserta mamak dan mimiknya di halaman rumah sakit. Sejenak Nadia menikmati udara di luar ruangan yang sudah lama tidak ia rasakan. Tidak lama kemudian Rayan menghentikan mobilnya tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Rayan membukakan pintu untuk Nadia beserta mamak dan mimiknya masuk ke dalam mobil. Mamak duduk di samping kursi kemudi, sedangkan mimik dan Nadia duduk di kursi penumpang.
Setelah menutup pintu mobil. Rayan memutari bagian depan mobil dan duduk di kursi kemudi, ia mulai melajukan mobil meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
"Mas Rayan," panggil Nadia saat dalam perjalanan.
"Iya, Nad. Ada apa?" tanya Rayan.
"Pak Rasya dimana?" Tanya Nadia.
"Kemarin bilang mau ke Bandung, mengecek perkembangan pembangunan villa. Apa dia tidak kasih tahu kamu?" tanya Rayan balik.
"Aku belum bertemu dengan dia," ucap Nadia.
"Kok aneh. Padahal selama kamu koma setiap malam dia selalu menunggui kamu lho, Nad," ungkap Rasya.
"Masa sih? Apa benar yang dikatakan Mas Rayan, Mik?" Nadia menanyakan pada Mimik seolah tidak percaya kalau Rasya selama ini menungguinya.
"Benar kok, Sayang." Mimik membenarkan ucapan Rayan. "Mungkin dia sibuk sehingga tidak sempat berpamitan sama kamu," imbuhnya seakan tahu kerisauan hati putrinya.
Suasana kemudian menjadi hening, larut dalam pikiran masing-masing. Rayan fokus mengemudikan mobil. Hanya terdengar lagu MP3 yang diputar di dashboard mobil dan deru kendaraan yang memadati jalan.
Tiga puluh menit kemudian Rayan memarkirkan mobilnya di halaman tempat kost Nadia. Rayan keluar dari mobil, membuka bagasi belakang dan mengeluarkan barang-barang Nadia, lalu meletakkan barang-barang tersebut di teras rumah.
Mbak Rumi membuka pintu dan mengangkat barang-barang tersebut membawanya masuk ke dalam rumah.
"Aku langsung pamit, Nad. Mau ke kantor." Rayan berpamitan pada Nadia, Mamak dan Mimik.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak ya," sahut Nadia.
Rayan segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Mobil bergerak pelan meninggalkan halaman rumah kost Nadia. Nadia melangkah menuju ke teras dan duduk di kursi yang ada di sana.
"Ya udah, mamak sama mimik mau istirahat di kamar kamu ya," sekarang gantian Mamak yang meminta ijin pada anaknya.
"Iya, Mak." Nadia menjawab singkat.
Mamak dan mimik masuk ke dalam rumah meninggalkan Nadia yang sedang ingin menikmati udara di luar ruangan sendirian. Tiba-tiba ponsel Nadia yang ada di dalam tas selempang nya berdering. Nadia mengecek siapa yang meneleponnya. Ternyata Nindya sang adik perempuan.
"Assalamu'alaikum, Nindy," Nadia menyapa sang adik.
"Wa'alaikumussalam, Ang. A'ang sudah pulang dari rumah sakit ya?" Nindya menjawab dan bertanya.
"Iya, A'ang baru sampai di kostan. Ada apa?"
"Mamak sama mimik mana, Ang?" tanya Nindya.
"Lagi istirahat di kamar," sahut Nadia.
"Ang, bilang ke Mamak. Mangga cengkir yang di belakang rumah sudah banyak yang jatuh di makan kelelawar. Waktu itu Mamak mau petik belum sempat karena ditinggal ke Jakarta, ternyata sampai satu bulanan," keluh Nindya.
"Ya udah, petik semua saja tidak usah nunggu Mamak, dari pada nanti habis dimakan kelelawar semua malah kita enggak bisa menikmati. Minta bantuan Mang Titim atau siapa kalau Dito enggak bisa manjat," suruh Nadia.
"Iya, Ang. Oh iya, Ang. Dua minggu yang lalu Kang Nadhif pulang ke Kiajaran Kulon, pamitan mau berangkat ke luar negeri. Dia titip sesuatu buat A'ang," ungkap Nindya.
__ADS_1
"Oh iya? Jadi Kang Nadhif udah jadi wisuda dan sudah ada di luar negeri? Besok A'ang ikut mamak dan mimik pulang kok, Dek," timpal Nadia.
"Iya kah, Ang? Ya udah, Nindy mau cari Mang Titim dulu ya, Ang. Sampai besok, Assalamu'alaikum," pamit Nindya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Nadia.
Tidak lama setelah panggilan Nindya berakhir, sebuah mobil yang sangat begitu familiar di mata Nadia terparkir di halaman di hadapannya. Tania dan suaminya keluar dari dalam mobil tersebut.
"Kamu bawa apa, Tan?" tanya Nadia pada sahabatnya yang terlihat menyangking sesuatu di tangan kanannya.
Edos dan Tania duduk di kursi yang kosong. Tania kemudian meletakkan plastik kresek yang dicangkingnya dari mobil tadi di atas meja depan Nadia. "Ini ikan gabus kering, katanya bagus buat mempercepat penyembuhan sehabis operasi. Kebetulan aku beli banyak buat persiapan di kampung," tuturnya.
"Terima kasih, Tan. Sebentar aku ambilinum dulu ya," pamit Nadia.
"Tidak usah repot-repot, Nanad. Kami masih punya sisa tadi dari rumah sakit kok," cegah Nadia. "Kita mau sebentar saja di sini. Oh iya, kamu jadi pulang ke Indramayu besok pagi, Kan?" imbuhnya lalu bertanya.
"In sya Allah jadi, Tatan," sahut Nadia.
"Begini, Nad," Edos menjeda ucapannya. "Aku sudah pesan mobil travel dengan kapasitas agak longgar untuk besok pagi pulang ke Pekalongan. Kebetulan kan tujuan kita searah, kamu ke Indramayu, kami ke Pekalongan. Kalau kamu mau kita bisa pulang kampung semobil bareng. Besok pagi jam setengah delapan aku akan suruh sopir travelnya menjemput kamu sama Mamak dan Mimik kemari. Jadi besok pagi kalian tidak usah pergi ke terminal. Bagaimana?" tuturnya panjang lebar diakhiri dengan pertanyaan.
"Wah, kebetulan sekali. Mamak dan Mimik pasti setuju. Terima kasih, Tatan, Edos. Tapi kita tinggal naik doang kan, tidak bayar?" ucap Nadia girang, tetapi masih khawatir kalau disuruh bayar.
"Hahaha, tenang saja Nanad. Semua biaya sewa mobil sudah dibayar lunas sama suamiku yang ganteng ini kok." Nadia menimpali dengan menepuk paha suaminya.
"Ya udah, kami langsung pamit. Itu saja yang mau kami sampaikan. Nanti tolong bilang ke Mamak dan Mimik ya," pamit Edos.
"Iya in sya Allah. Sekali lagi terima kasih ya," sahut Nadia.
Edos dan Tania melangkah meninggalkan Nadia yang masih betah untuk berlama-lama duduk di teras rumah kostnya. Mereka masuk ke dalam mobil. Mobil mereka bergerak pelan meninggalkan halaman. Nadia memandangi mobil tersebut hingga hilang di ujung gang.
Nadia bangkit melangkah tertatih-tatih menahan nyeri di pinggang kanannya karena luka jahitan bekas tusukannya belum pulih total. Ia membawa plastik kresek yang dibawakan oleh Tania masuk ke dalam rumah. Nadia langsung menuju ke dapur, dimana Mbak Rumi berada.
"Mbak, ini ada ikan gabus kering. Tania bilang bagus buat mempercepat proses penyembuhan sehabis operasi," tutur Nadia membuka bungkusan plastik kresek yang dibawanya.
"Iya katanya memang begitu, tetapi enggak usah banyak-banyak, Nad. Mbak mau masakin buat kamu saja secukupnya untuk sampai besok pagi. Sisanya kamu bawa pulang ke Indramayu. Jadi pulang ke Indramayu besok pagi 'kan?" cegah Mbak Rumi diakhiri pertanyaan untuk memastikan.
"Iya jadi kok, Mah. Tania udah pesan mobil travel untuk kita pulang bareng," sahut Nadia.
"Ini enaknya dibikin masakan apa ya, Nad? Pasti enak kalau dibikin masakan sambal balado. Tapi apa kamu boleh makan masakan yang pedas-pedas?" Tanya Mbak Rumi yang sebenarnya ia sendiri sudah pasti tahu jawabannya.
"Pedas sih boleh, Mbak. Asal jangan terlalu pedas," sahut Nadia.
"Kalau begitu Mbak Rumi mau bikin sambal goreng tetapi cabainya tiga butir saja ya?" tanya Mbak Rumi.
"Terserah Mbak Rumi, Nadia tinggal makan," sahut Nadia lagi.
.
.
__ADS_1
.
TBC