
Setelah makan malam di rumah Pak Ardi, Rayan mengajak Prima ke sebuah taman. Mereka duduk di sebuah kursi beranda yang terbuat dari besi bercat putih. Suasana malam yang gelap hanya ditemani bintang-gemintang dengan cahaya lampu yang remang-remang.
Mereka terdiam sejenak, hanya mendengar nyanyian jangkrik yang mengiringi malam itu. Rayan menggenggam tangan Prima seraya berkata, "Prima, aku sudah melepaskan Aghni. Kami sudah tidak terikat apa-apa."
"Lalu?" Prima bertanya dengan bodohnya, tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini.
"Aku akan mengkhitbah mu," sahut Rayan. "Tetapi …." Kata-kata Rayan terpotong.
"Kenapa harus pakai tetapi?" Protes Prima.
"Kamu harus sabar, menungguku sampai lulus kuliah S3 di luar negeri," tukas Rayan.
"Kenapa harus ke luar negeri? Di negara kita 'kan banyak yang membuka program Master, Magister juga Doctor," sela Prima.
"Biar lebih fokus, kalau di sini aku enggak bisa fokus karena ada kamu. Kamu juga bisa fokus kuliah tanpa terganggu dengan kehadiran aku," tutur Rayan.
Prima masih terdiam sesaat lalu berkata, "Aku tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran kamu, Mas. Bahkan, aku selalu ingin setiap saat bersama kamu."
Rayan tersenyum mendengar ucapan kekasih hatinya. "Kita masih bisa berhubungan via ponsel kok, Sayang," bujuknya. "Cuma empat tahun, Prima. Begitu kamu lulus S1 aku lulus S3, lalu kita bisa nikah. Bisa kan?" Tanya Rayan memastikan.
Prima hanya mengangguk.
"Bisa enggak sih, kok enggak jelas gitu?" Rayan kembali memastikan.
"Iya, Bisa … hiks hiks hiks," jawab Prima tidak bisa menahan tangisnya. "Tapi Mas Rayan jangan kecantol sama cewek seksi di luar negeri sana!" Tukasnya.
Melihat gadisnya menangis, Rayan langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Jangan nangis dong, Sayang. Jangan membuat Mas Rayan merasa bersalah. Nanti kalau ayah dan bunda kamu lihat mata kamu sembab, bisa-bisa mereka mengira Mas Rayan ngapa-ngapain kamu lagi," tuturnya.
"Kita masih bisa ketemu, wong Mas Rayan juga belum selesai skripsi, masih lama," tambah Rayan lagi.
"Udah jangan nangis lagi, Mas antar kamu pulang, sudah malam," ucap Rayan sambil menyeka air mata di pipi Prima.
Rayan dan Prima akhirnya pergi meninggalkan taman, menyusuri jalanan malam yang tak pernah sepi menuju ke rumah orang tua Prima. Pukul sembilan malam mereka telah sampai di rumah orang tua Prima.
Bu Ratih, bundanya Prima nampak membukakan pintu. "Lho, Prima enggak jadi menginap?" Tanya Bu Ratih yang melihat anak gadis sulungnya pulang, padahal tadi siang sudah bilang mau menginap di rumah temannya.
"Iya, Bunda. Prima udah kangen kasur Prima, hehehe," jawab Prima cengengesan.
"Ayo silakan masuk, Nak Rayan," Bu Ratih beralih pada Rayan.
"Terima kasih, Bun. Rayan mau langsung pulang saja, sudah malam," pamit Rayan.
"Memangnya Nak Rayan tidak mau menemani Bapak bermain catur?" Tanya Bu Ratih.
"Terima kasih, Bun. Lain kali saja," tolak Rayan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan ngebut bawa motornya," Bu Ratih memberikan nasihat.
"Iya, Bun. Saya permisi," sahut Rayan pamit lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut. Ia melangkah menuju tempat ia memarkirkan motornya. Lalu membawa motornya tersebut pergi meninggalkan rumah orang tua Prima.
*****
Hari ini Nadia berangkat kuliah sendiri dari tempat kost, karena Tania pagi ini ijin untuk menghadiri akad nikah kakak angkatnya Rifki dengan Erika. Tania akan berangkat siang saat mata kuliahnya Pak Rasya, kebetulan nanti ada kuis menjelang ujian semester.
Genap satu minggu sudah Tania menjalani aktifitasnya sebagai mahasiswa. Padatnya kegiatan serta banyaknya tugas-tugas yang dibebankan kepadanya membuatnya lupa akan masalah yang telah terjadi, bahkan ia bisa menepis kerinduannya pada sang suami.
Nadia menghampiri Prima saat usai mata kuliah Bu Siska. "Kok Tania belum sampai juga ya, Prim? Padahal sebentar lagi Pak Rasya masuk, hari ini 'kan dia kasih kuis," tanya Nadia yang mulai khawatir sahabatnya itu kenapa-kenapa.
"Iya, nih. Udah mau jam sepuluh," sahut Prima melihat jam di dinding.
"Kamu telpon gih, udah berangkat apa belum?" Suruh Nadia.
Prima pun mencoba menelepon Tania. Namun, sampai panggilan terputus tidak diangkat juga.
__ADS_1
"Tidak diangkat," ucap Prima mengedikkan bahunya.
"Coba telepon Mas Rayan," cetus Nadia.
Prima pun kembali melakukan panggilan telepon, kali ini kepada Rayan. Panggilan pun terhubung.
"Iya, Prima?" sapa Rayan pada sambungan telepon.
"Tania kok belum sampai, Mas? Hari ini jam sepuluh ada kuis mata kuliahnya Pak Rasya, Mas," tanya Prima.
"Tania ijin hari ini tidak bisa masuk karena sakit, Prima. Tadi pagi dia sempat pingsan," tutur Rayan menjawab pertanyaan Prima.
"Oo, ya udah, suruh istirahat saja ya, Mas. Nanti aku bilangin sama Pak Dosen," ucap Prima.
"Iya, makasih. Semoga sukses ya, hasil kuis kamu, Prims," ucap Rayan.
"Sama-sama, Mas. Terimakasih juga do'anya," sahut Prima.
"Assalamu'alaikum, Prima Putri Aprillia." Prima mengakhiri panggilan
"Wa'alaikumussalam, Mas Rayan Bayu Bagaskara," sahut Rayan.
Prima tersenyum memandangi layar ponselnya.
*****
Sementara itu Rayan sejak meninggalkan Tania di rumah Erika dia pergi ke kantor papanya. Dia mendapat telepon dari Bu Dewi karena Tania jatuh pingsan. Setelah mendapat penanganan dokter dan Tania tersadar, Tania sudah diperbolehkan untuk pulang. Rayan berjalan santai ke luar dari rumah sakit. Dia nampak tengah menghubungi seseorang.
"Ada apa, Rayan?" tanya seseorang di ujung telpon Rayan.
"Mau minta ijin untuk Tania, Mas. Hari ini dia tidak bisa masuk karena sakit. NIMnya : 0760xxxxx," jawab Rayan.
"Baru satu minggu jadi mahasiswa sudah tidak masuk, hari ini kan ada kuis," protes orang yang ditelepon Rayan yang ternyata Pak Rasya.
Rayan bergegas melangkah, ia sudah tertinggal jauh dari Tania. Sampai di tempat ia memarkirkan mobil, Rayan mendapati Tania dengan wajah tersungut-sungut.
"Percuma saja aku jalan sambil lari-lari dengan telanjang kaki, kalau harus nunggu keong racun berjalan," gerutu Tania menahan amarah karena sudah menunggu Rayan kepanasan terkena sengatan matahari tanpa alas kaki.
"Siapa suruh lari-lari? Memangnya lagi ada lomba tujuh belasan? Kamu ini baru siuman, Tan. Enggak usah lari-lari," ucap Rayan membukakan pintu mobil untuk Tania.
Tania langsung masuk ke dalam mobil diikuti Dewi di belakangnya. Rayan juga masuk dan duduk di kursi kemudi. Dewi hanya senyum-senyum melihat perdebatan antara sopir dan majikannya tersebut.
"Ini sudah jam berapa, Mas? Aku sudah telat ada kuis dari Pak Rasya," ucap Tania sudah tidak sabar.
"Aku udah mintakan ijin untuk kamu tidak masuk hari ini," tukas Rayan lancang tanpa meminta ijin dulu pada yang bersangkutan.
Tiba-tiba ponsel Rayan berdering lagi, Rayan merogoh ponsel nya, melihat siapa yang menelpon.
"Prima telpon," ucap Rayan menunjukkan layar ponselnya pada Tania.
"Angkat!" perintah Tania.
"Iya, Prima?" sapa Rayan pada si penelepon.
"Tania kok belum sampai, Mas? Hari ini jam sepuluh ada kuis mata kuliahnya Pak Rasya, Mas," tanya Prima.
"Tania ijin hari ini tidak bisa masuk karena sakit, Prima. Tadi pagi dia sempat pingsan," tutur Rayan menjawab pertanyaan Prima.
"Oo, ya udah, suruh istirahat saja ya, Mas. Nanti aku bilangin sama Pak Dosen," ucap Prima.
"Iya, makasih. Semoga sukses ya, hasil kuis kamu, Prim," ucap Rayan.
"Sama-sama, Mas. Terimakasih juga do'anya," sahut Prima.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Prima Putri Aprillia,"
"Wa'alaikumussalam, Mas Rayan Bayu Bagaskara,"
Rayan tersenyum memandangi ponselnya. Namun Tania masih memasang muka masamnya.
"Ma, sepertinya ada yang udah move on dari putri bungsu Mama dech," lirih Tania pada sang Mama yang masih dapat didengar oleh Rayan.
Rayan menoleh ke belakang memandang Dewi. "Boleh kan, Tante?" tanyanya.
"Boleh, kami tidak memaksamu untuk menerima perjodohanmu dengan Aghni, kok. Cukuplah pengalaman kami menjodohkan Mas Bram dengan Niken yang entah seperti apa sekarang hubungan mereka," jawab Dewi.
"Sudah jalan, Mas Rayan! Tunggu apa lagi?" Suruh Tania.
"Tunggu Pak Bram dan Niken lagi menebus obat, Tan. Sabar dikit donk," jawab Rayan.
"Kak Bram dan Mbak Niken? Mereka ikut mobil kita juga? Huh!" tanya Tania diakhiri dengan dengusan.
Dewi meraih pundak Tania. "Tania, tadi Mas Bram lho yang menggendong kamu keluar dari rumah Mas Rifki ke mobilmu di depan gang, karena mobilnya Mas Bram terjepit di antara mobil-mobil yang lain, tidak bisa keluar, Sayang," tutur Dewi menjelaskan seraya menepuk-nepuk lembut pundak Tania.
Niken dan Bram nampak menghampiri mobil. Bram duduk di samping Rayan, sementara Niken duduk di samping Dewi.
"Ini obatnya, Ma," ucap Niken sembari menyerahkan bungkusan obat kepada mama mertuanya.
"Terimakasih, Sayang," ucap Dewi menerima bungkusan tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. "Nanti mampir ke minimarket ya, Rayan. Mau beli susu," ucapnya pada Rayan.
"Baik, Tante," sahut Rayan.
"Susu buat siapa, Ma? Tania enggak doyan susu," tolak Tania.
"Masa sih? Sejak bayi kan kamu minumnya susu formula," tanya Dewi tidak percaya.
"Tapi sekarang Tania udah enggak doyan, eneg rasanya perut Tania kalau habis minum susu," tolak Tania.
"Tapi ini demi anak yang ada di kandungan kamu, Sayang," bujuk Dewi.
"Anak?" tanya Bram dan Rayan bersamaan.
"Aku sudah menduga waktu itu kamu muntah-muntah karena hamil, Tan. Bukan karena aku putar-putarin tubuh kamu," sergah Rayan.
Tania hanya mencebik, "Mama sih, pakai bilang-bilang. Tania kan malu, Ma," gerutunya menyembunyikan wajahnya di ketiak sang Mama.
Dewi tersenyum, "Kenapa mesti malu, Sayang? Kamu kan udah punya suami," sanggahnya.
"Itu kunyuk-kunyuk di depan pasti ngejekin Tania," jawab Tania mencebik. Dewi hanya tertawa mendengar putrinya menyebut Bram dan Rayan sebagai kunyuk.
"Nggak sopan kamu, mereka itu lebih tua dari kamu, Sayang," hardik Dewi.
Rayan mengemudikan mobil menuju rumah Erika untuk mengantar Niken dan Bram karena mobil mereka masih berada di sana. Sampai di jalan gang masuk menuju rumah Erika sudah tidak begitu ramai seperti tadi pagi, para tamu undangan sudah banyak yang pulang sehingga Rayan bisa membawa mobil yang dikemudikannya masuk sampai di depan rumah. Bram dan Niken keluar dari mobil, Taniapun juga turut ikut ke luar dari mobil.
"Tania, tidak usah ikut turun, Sayang! kita langsung pulang," cegah Dewi.
"Tania mau ambil sepatu Tania, Ma," sahut Tania mengurungkan niatnya.
"Ya udah sana ambil, ini pakai sandal jepit, nanti kaki kamu sakit lagi," titah Dewi.
.
.
.
TBC
__ADS_1