Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Magang


__ADS_3

Libur akhir semester selama dua Minggu, Nadia memutuskan untuk pulang ke kampung saja, membantu mamak memanen padi di sawah. Di Jakarta juga ia tidak punya pekerjaan, sayang 'kan kalau dua minggu cuma menghabiskan beras dan uang saku tanpa menghasilkan apa-apa. Namun, sebelum pulang kampung Nadia memastikan kepada para petinggi perusahaan yang ia kenal apakah ada lowongan kerja yang menerimanya hanya dalam waktu dua minggu ini. Nadia pun menghubungi Rayan.


"Ada apa, Nanad? Kamu belum pulang dari rumah Tania? Mau minta jemput?" Tanya Rayan beruntun bak durian runtuh di pagi hari yang tengah melakukan joging pagi ini.


"Udah pulang dari tadi malam, diantar Pak Joko sopir Om Ardi kok, Mas," sahut Nadia.


"Oo ... Lalu?" tanya Rayan lagi.


"Gini Mas, ada lowongan pekerjaan yang bisa dikerjakan selama dua minggu enggak, Mas? Kalau enggak ada, aku mau pulang kampung saja, sayang di Jakarta cuma menghabiskan beras dan uang saku." ungkap Nadia.


"Ehm ... Pekerjaan ya? Kamu pilih mau di mana? Di rumah jadi asistennya ibuku, di Planet coffee and Resto atau di perusahaan Baskoro Groups? Di mall? Kalau di rumah tidak ada batasan waktu kerja tetapi pekerjaannya kalau ada saja, di Planet coffee and Resto dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, sedangkan di perusahaan dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore," tutur Rayan panjang lebar.


"Di perusahaan saja deh, Mas. Biar malamnya bisa buat istirahat," timpal Nadia.


"Besok pagi sebelum jam 8 datang saja langsung ke perusahaan, kamu minta antar CS ke ruangan Pak Andi bagian HRD, nanti di sana akan dicarikan lowongan pekerjaan apa yang lagi kosong," tutur Rayan.


"Baik, Mas. Terima kasih ya," ucap Nadia.


"Udah ya, sampai besok. Aku mau telpon Pak Andi dulu, mau menanyakan posisi apa yang lagi kosong," pamit Rayan.


"Oo ya udah kalau begitu, assalamu'alaikum," Nadia mengakhiri panggilan.


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan telepon dari Nadia sudah terputus, kini Rayan beralih untuk menelepon Pak Andi, kepala bagian HRD di kantor nya.


"Assalamu'alaikum, Mas Rayan. Ada angin apa ini pagi-pagi sudah telepon?" tanya Pak Andi dalam sambungan telepon.


"Wa'alaikumussalam, Pak Andi. Begini, teman kuliah saya besok pagi mau magang selama dua minggu, kira-kira lowongan apa yang sekarang lagi kosong ya, Pak?" tanya Rayan kepada pegawai nya.


"Waduh, lowongan di divisi perencanaan baru saja kemarin ada pegawai baru yang masuk, Mas. Sekarang sepertinya sudah tidak ada lowongan lagi," jawab Pak Andi.


"Tolong dicek lagi, Pak. Mungkin ada lowongan yang belum terisi," pinta Rayan lagi.


"Oh iya ada, Mas. Kebetulan pegawainya lagi cuti melahirkan, tetapi itu OG, gimana?" tanya Pak Andi balik.


"OG ya? Enggak apa-apa deh, cuma dua minggu saja," sahut Rayan.


"Baiklah, besok suruh saja teman Mas Rayan itu datang menemui saya, Mas. Siapa nama teman Mas itu?" tanya Pak Andi.


"Namanya Nadia, Pak. Saya sudah menyuruhnya untuk menemui Pak Andi, tetapi saya belum kasih tahu tentang pekerjaannya," sahut Rayan.


"Apa dia mau jadi OG?" tanya Pak Andi bimbang.


"Pasti mau, Pak. Dia dari keluarga sederhana kok, saya saja mau jadi sopir pribadi, hehehe," sahut Rayan disertai kekehan.


"Hahaha ... Mas Rayan bisa saja. Syukurlah kalau dia mau, berarti ada yang menggantikan posisi OG sampai pegawai yang lagi cuti melahirkan itu bekerja kembali," tutur Pak Andi.


"Tapi ingat, Pak. Jangan sampai Mas Rasya tahu kalau gadis itu jadi OG! Bisa-bisa bapak dapat SP darinya," ancam Rayan mengingatkan.


"Apa? SP?" Pak Andi masih dalam mode kebingungan dengan apa yang dimaksud anak dari atasannya itu.


"Sudah ya, Pak Andi. Saya tutup dulu teleponnya, assalamu'alaikum," ucap Rayan mengakhiri panggilan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Andi masih bingung.


Rayan memutus panggilannya, sampai juga ia di depan rumah orang tuanya. Sebelum masuk ke dalam rumah, ia mencuci tangan terlebih dulu dengan sabun pencuci tangan dan membilasnya dengan air bersih sampai bersih.


Rayan masuk ke dalam rumah langsung menuju ruang makan. Mencubit pipi gembul Tiara yang sedang makan bubur. Ketika jari tangannya hampir menyentuh ayam goreng, tiba-tiba ....


"Ray, kamu sudah cuci tangan, Nak?" tanya Bu Nastiti mengagetkan.

__ADS_1


"Sudah, barusan sebelum masuk ke dalam rumah, Bu," sahut Rayan setelah menyomot ayam goreng. Rayan menikmati ayam goreng tersebut dengan lahap.


"Tiara, makin hari kamu kok makin mirip bule saja sih, enggak mirip Papa," ujar Rayan kembali mencubit pipi Tiara.


"Yanti, Om Yayan akal," pekik Tiara.


Mendengar pekikan Tiara, Bu Nastiti muncul dari arah dapur. "Nakal kenapa, Sayang?" tanyanya pada Tiara.


"Tanan Om pedang uu' tubit pipi Aya," ucap Tiara mengadu.


"Om Yayan jangan nakal ya!" ucap Bu Nastiti menasehati anaknya yang hanya dibalas kekehan oleh Rayan.


"Mas Rasya belum bangun, Bu?" tanya Rayan mengalihkan pembicaraan.


"Tadi subuh sudah bangun, tapi sepertinya tidur lagi. Tadi malam sepertinya lembur mengoreksi hasil ujian mahasiswanya," jawab Bu Nastiti.


"Kenapa tidak minta bantuan Nadia sih?" gerutu Rayan.


"Nadia? Nadia siapa?" tanya Bu Nastiti yang sepertinya baru pertama kali mendengar nama itu disebut.


"Pacar Mas Rasya, calon menantu Ibu," jawab Rayan sekenanya.


Pak Baskoro muncul dan langsung duduk bergabung. "Wah, kayaknya ada topik pembicaraan seru nih," timpalnya ikut nimbrung. "Siapa tadi calon mantu Bapak?" tanyanya.


"Namanya Nadia, Pak. Kalau Bapak pingin tahu anaknya, mulai besok pagi dia magang di kantor menggantikan OG yang lagi ijin cuti melahirkan," ungkap Rayan yang seketika membuat terkejut kedua orang tuanya.


"Apa, Rayan? Calon menantu Ibu kamu jadikan OG? Di kantor calon mertuanya sendiri," tanya Bu Nastiti tidak percaya. "Kamu benar-benar keterlaluan ya!" hardiknya.


"Ssstttt ... jangan keras-keras dong, Bu. Nanti Mas Rasya dengar bisa berabe. Pak Andi bilang tidak ada lowongan selain OG, Bu," tutur Rayan. "Lagian apa salahnya jadi OG sih? Cuma dua minggu saja selama dia liburan semester. Rayan saja mau jadi sopir kok," timpalnya.


Pak Baskoro dan Bu Nastiti akhirnya mengerti dengan alasan Rayan.


"Sekarang panggil kakak kamu gih, suruh sarapan," suruh Bu Nastiti.


Rayan pun bangkit hendak melangkah, namun lagi-lagi Bu Nastiti mencegahnya. "Ee ... cuci tangan dulu, nanti noel-noel pipi kakak kamu masih bau ayam lagi!"


"Hehehe," sahut Rayan terkekeh.


Rayan melangkah menuju ke wastafel untuk mencuci tangannya kembali, lalu mengelapnya dengan tisu. Setelah itu ia melangkah menuju ke lantai dua, ke kamar Rasya.


"Mas Rasya bangun, udah siang!" Rayan berseru dengan menggerakkan kaki Rasya. Namun laki-laki itu tetap saja diam tak bergeming.


Rayan mencoba membangunkan kakaknya lagi. Kali ini ia memencet hidungnya. Rasya terbangun karena kehabisan oksigen. Matanya terbuka dan berwarna merah. Namun setelah tangan Rayan terlepas, Rasya kembali mendengkur teratur.


"Mas Rasya bangun ih, udah ditunggu sama Nanad buat sarapan tuh!" seru Rayan lagi.


Gegas Rasya membuka matanya, "Mana Nanad?" tanyanya.


"Bangun dulu, cuci muka terus sarapan pagi di bawah, ayo!" suruh Rayan sambil melangkah meninggalkan sang kakak.


Rasya pun bangkit dan secepat kilat berlari menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tak lama kemudian ia sudah bergabung dengan keluarganya di ruang makan dalam keadaan separuh nyawa yang masih bersarang di tubuh. Ia duduk di kursi yang kosong dan masih berusaha mengumpulkan sebagian nyawanya yang tercecer karena tidur tadi.


Sementara anggota keluarga yang lain sudah hampir menghabiskan sepiring nasi. Sudah sangat lapar kalau harus menunggu sampai nyawa Rasya terkumpul.


"Mana Nanad?" tanyanya pada Rayan.


"Di tempat kostnya lah," jawab Rayan santai sambil menikmati sarapannya.


"Tadi kamu bilang ada Nanad?" protes Rasya.


"Kalau tidak dipancing begitu, mana Mas Rasya mau bangun," jawab Rayan masih dengan mode santai.

__ADS_1


"Sialan kamu, Ray! Orang lagi enak-enak tidur dikerjain," hardik Rasya.


Rayan, Pak Baskoro dan Bu Nastiti tertawa. Tiara pun juga ikut tertawa.


*****


Keesokan paginya pukul tujuh lebih sepuluh menit, Nadia sudah siap untuk berangkat magang di kantor Baskoro Groups. Dengan perpaduan celana baggy warna hitam dan blus lengan panjang warna putih serta kerudung berwarna putih, ia tengah menunggu ojek online yang sudah dipesannya dengan duduk di kursi teras depan rumah.


Tiba-tiba Mbak Rumi dan Bang Har suaminya muncul dari balik pintu. "Mau kemana, Nad? Pagi-pagi sudah rapi, katanya libur," tanya Bang Har.


"Nadia mau berangkat kerja katanya, Bang. Iya kan, Nad?" Mbak Rumi menyahut.


"Iya, Bang. Aku berangkat magang," jawab Nadia.


"Di mana? Bareng sama Abang saja kalau searah," tanya Bang Har lagi.


"Di gedung kantor Baskoro Groups, Bang. Terima kasih, aku sudah pesan ojol kok, Bang," tolak Nadia.


"O begitu, Abang berangkat duluan ya," pamit Bang Har.


"Iya, Bang. Titi Deje ya," sahut Nadia.


"Apa itu, Nad?" tanya Bang Har.


"Hati-hati di jalan," jawab Nadia nyengir kuda.


Mbak Rumi mengantar suaminya sampai ia mendekati motornya dan motor tersebut meninggalkan rumah. Tidak lama kemudian setelah motor Bang Har menghilang dari pandangan mata, ojol yang dipesan Nadia pun parkir di halaman rumah tersebut.


"Atas nama Asa Nahdiana?" tanya sang pengemudi ojol.


"Betul, Bang," jawab Nadia. Ia pun segera naik ke atas boncengan ojol tersebut. "Sesuai aplikasi ya, Bang," pintanya.


"Siap, Non," sahut si pengemudi ojol.


Dua puluh lima menit kemudian, mereka sampai di halaman gedung kantor Baskoro Groups. Setelah membayar tarif ojol, Nadia langsung masuk ke lobi menemui customer servis.


"Selamat pagi, Mbak. Saya Nadia temannya Mas Rayan. Mas Rayan bilang saya disuruh menemui Pak Andi kepala bagian HRD," tutur Nadia.


"Oh, Adiknya pegawai yang mau magang itu ya?" tanya si CS.


"Iya, Mbak." Nadia menjawab singkat.


"Mari ikut Mbak," ajak si CS.


Nadia mengikuti langkah pegawai CS tersebut masuk ke dalam lift. Pintu lift terbuka saat berada di lantai 5, mereka keluar berjalan menuju ke sebuah ruangan dengan papan bertuliskan HRD.


Pak Andi mempersilakan mereka masuk sesaat setelah pegawai CS mengetuk pintu. "Permisi, Pak. Saya mengantar pegawai yang mau magang," tutur si CS.


"Terima kasih, sekarang kamu boleh kembali ke lobi," ucap Pak Andi.


"Silakan duduk, Dik! Siapa nama kamu?" tanya Pak Andi.


Nadia duduk di kursi di depan Pak Andi. "Asa Nahdiana, Pak. Panggil Nadia saja," jawabnya.


"Begini dik Nadia, sebenarnya tidak ada lowongan pekerjaan di kantor ini, tetapi ada salah satu pegawai yang kebetulan sedang mengambil cuti melahirkan, itu pun sebagai office girl. Apa kamu bersedia menggantikan posisi office girl tersebut?" tutur Pak Andi dengan perasaan tidak enak untuk memberikan pekerjaan sebagai office girl pada teman anak bosnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2