Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Salah Alamat


__ADS_3

Pagi ini matahari nampak bersinar cerah, terbentang langit berwarna biru bersih tanpa awan yang menutupi. Namun, tidak begitu dengan wajah Nadia yang tertutup awan kelabu.


Sekitar pukul tujuh mobil travel yang telah disewa oleh Mas Har suaminya Rumi, sudah terparkir di halaman rumahnya menunggu para penumpang yang akan menaikinya menuju ke Kabupaten Indramayu dan Cirebon Jawa Barat.


Nadia keluar dari rumah hanya membawa tas selempang dan papperbag yang berisi kebaya yang dibelikan oleh Rasya di butik waktu itu. Sementara Rumi dan suaminya membawa bahan makanan dan makanan matang kering sebagai barang bawaan untuk anak mereka di pondok pesantren, ada juga barang yang dipesan oleh Haikal, serta tas besar berisi baju ganti untuk mereka berdua selama menginap di rumah Nadia nanti malam.


Sesaat setelah mereka berpamitan dengan teman-teman kost Nadia yang lain, mereka masuk ke dalam mobil. Mas Har duduk di samping sopir, Rumi dan Nadia duduk di jok tengah, sementara barang-barang lainnya mereka taruh di jok paling belakang. Teman-teman kost Nadia mengantarkan mereka sampai di depan rumah.


Mobil bergerak pelan meninggalkan halaman rumah Mbak Rumi, menyusuri jalan gang hingga jalan raya.


"Nanti mampir di Indramayu dulu ya, pak sopir. Habis dari Indramayu baru ke Cirebon di sana nunggu saya selesai menjenguk anak saya mungkin sampai sore, lalu kembali lagi ke Indramayu. Setelah itu pak sopir pulang sendiri karena saya dan istri saya akan menginap di Indramayu untuk menghadiri pernikahan anak kost saya itu yang duduk di belakang," tutur Mas Har panjang lebar pada pak sopir.


"Kalau lewat jalan tol kita langsung ke Cirebon dulu, Mas, baru kita ke Indramayu," jelas pak sopir.


"Oo, tidak bisa ke Indramayu dulu ya, Pak?" tanya Mas Har memastikan. "Gimana, Nad? Kamu mau langsung pulang ke rumah atau ikut kami ke pondoknya Haikal, tetapi pulang nanti sore." Mas Har beralih pada Nadia.


"Ikut mas Har saja ke ponpes biar enggak bolak-balik Cirebon-Indramayu. Kasihan pak sopir nanti enggak bisa ngirit bensin, enggak apa-apa pulang nanti sore juga," sahut Nadia.


"Memangnya kamu enggak apa-apa kalau sampai waktu duhur belum sampai rumah? Apa mamak sama mimik kamu tidak khawatir?" cecar Mbak Rumi.


"Enggak tahu, nanti paling telepon lah, Mbak," jawab Nadia.


"Indramayu nya di mana, Mas? Kalau ponpes di Cirebon kan saya sudah biasa mengantar Mas Har ke sana," tanya pak sopir sambil fokus menyetir.


"Dimana, Nad? Alamat rumah kamu," tanya Mas Har beralih pada Nadia.


"Kiajaran Kulon blok masjid Kecamatan Lohbener," jawab Nadia.


"Kiajaran Kulon blok masjid Kecamatan Lohbener, pak sopir," ulang Rasya menjelaskan pada pak sopir.


"Baik, Mas. Nanti diingatkan ya," pinta pak sopir.


Obrolan mereka sementara berhenti, hanya deru mesin mobil dan musik MP3 yang diputar dari dashboard mobil yang terdengar. Nadia dan Rumi memilih untuk tidur saja, karena mereka sudah mulai bosan. Pak sopir memilih jalur jalan tol layang Cikampek agar lebih cepat sampai di tempat tujuan.


Kira-kira pukul 10 lebih mobil berhenti di halaman pondok pesantren tempat Haikal anaknya Rumi menuntut ilmu. Nadia keluar dari dalam mobil, ikut Rumi dan Mas Har masuk ke dalam ponpes, membantu membawakan barang-barang yang mereka bawa. Mereka sowan terlebih dahulu kepada kyai pengasuh pondok tersebut. Kemudian pak kyai mengutus seorang santri untuk menjemput Haikal, menyampaikan padanya agar menemui orang tuanya yang datang menjenguk.


Sambil menunggu Haikal yang tengah dipanggilkan datang, Rumi, Mas Har dan Nadia menunggu di taman ponpes. Tidak memakan waktu lama Haikal pun menyusul mereka yang masih berada di taman.


"Ayah, Ibu," panggil pemuda kecil yang masih berstatus sebagai pelajar Madrasah Tsanawiyah tersebut.


Rumi dan Mas Har bergantian memeluk putra semata wayangnya. setelah itu Haikal duduk di antara keduanya.


"Gimana kabar kamu sehat, Nak?" tanya Rumi.


"Alhamdulillah sehat, Bu," jawab Haikal.

__ADS_1


"Uang yang ayah kirimkan masih 'kan, Haikal?" tanya Mas Har.


"Masih kok, Yah," jawab Haikal lagi.


"Ini ayah tambah sedikit, disimpan baik-baik dan jangan boros ya," pinta Mas Har menyelipkan beberapa lembar uang berbentuk pecahan di saku baju koko yang dipakai Haikal supaya mudah digunakan.


"Yang betah di sini ya, Nak. Belajar yang tekun supaya kelak menjadi orang yang berguna." Mbak Rumi berharap.


"Aamiin, in sya Allah Haikal betah kok, Bu," sahut Haikal.


Hingga tiba waktu sholat dhuhur mereka ikut sholat berjamaah bersama penghuni pondok pesantren yang lain. Usai sholat Nadia duduk di emperan masjid, ponselnya yang masih berada di dalam tas berdering.


"Pasti mamak kamu telepon tuh, Nad," tebak Mbak Rumi.


"Biarin saja," timpal Nadia sambil memasukkan mukena parasutnya ke dalam kantong.


"Angkat gih! Berisik mengganggu yang lain," ujar Mbak Rumi yang tidak tahan mendengar suara musik itu terus berbunyi.


Nadia pun merogoh ponselnya.


"Assalamu'alaikum, mamak," sapa Nadia pada si penelepon yang tertera di ponselnya bernama Nindya.


"Kamu pulang naik apa? Kenapa sampai sekarang belum sampai rumah?" cecar mamak yang lupa menjawab salam yang diucapkan oleh Nadia.


"Aku naik mobil travel bareng Mbak Rumi dan Mas Har, Mamak. Kebetulan mereka mau menjenguk anaknya di Cirebon. Karena pak sopirnya lewat jalan tol dan keluar di gerbang keluar tol Cirebon, ya kami menjenguk anaknya Mbak Rumi dulu di Cirebon. Sekarang Nadia masih di Cirebon, Mak," tutur Nadia panjang lebar menjawab pertanyaan Mamak.


"Iya, Mak. Jangan khawatir, Nadia tidak akan minggat kok. Setelah kangen Mbak Rumi dan Mas Har pada anaknya hilang kita bakal pulang," jawab Nadia.


"Ya sudah kalau begitu mamak tutup teleponnya. Assalamu'alaikum," pamit mamak.


"Wa'alaikumussalam, Mamak," sahut Nadia. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas selempang.


"Benar mamak yang telepon, Mbak. Dia tanya kenapa belum sampai di rumah? Dia juga takut aku minggat," ungkap Nadia pada Mbak Rumi.


"Ya sudah, enggak usah nunggu sampai sore. Setelah ini kita langsung ke rumahmu saja dari pada bikin mamak sama mimik kamu khawatir. Yang penting Mbak sudah bertemu dengan Haikal dan melihat sendiri keadaanya baik-baik saja," timpal Mbak Rumi.


"Mbak Rumi kenapa enggak bikin adik buat Haikal?" celetuk Nadia yang langsung mendapat cubitan dari wanita yang diajaknya bicara tersebut.


"Aw, sakit!" pekik Nadia yang reflek menabok lengan Mbak Rumi.


"Sok tahu kamu! Mbak Rumi itu kalau mas Har di rumah ya selalu bikin adonan, cuman belum berhasil jadi adik buat Haikal. Mungkin belum rejeki kami. Nanti setelah kamu nikah kita balapan yuk! Siapa yang berhasil hamil duluan?" sahut Rumi yang malah mengajak Nadia berlomba bikin anak, suatu hal yang masih sangat tabu bagi Nadia.


"Mbak Rumi ada-ada saja deh, bikin anak kok dijadikan ajang lomba," sanggah Nadia.


"Lha, kan kamu duluan yang ngomong bikin adik buat Haikal," sergah Rumi.

__ADS_1


"Habis Haikal sudah segede itu kok enggak punya adik?" timpal Nadia.


"Bukannya kita enggak mau, Nad, tetapi memang belum dikasih sama yang di atas," sahut Mbak Rumi.


"Mbak juga kan tahu sendiri sebelah peranakan ku sudah diangkat karena rusak akibat tusukan waktu itu. Dan kemungkinan buat Nadia untuk memiliki keturunan cuma 5 persen. Mana bisa ikut lomba bikin anak bareng Mbak Rumi," ungkap Nadia sedih.


"Mbak Rumi cuma bercanda kok, udah jangan dimasukin ke hati. Mbak minta maaf sudah menyinggung tentang itu hingga membuat kamu jadi merasa sedih," ucap Rumi merasa bersalah. "Yuk kita temui mas Har! Ajak pulang ke rumah kamu sekarang," ajaknya sembari bangkit dari duduk.


"Tapi kita cari makan dulu ya, Mbak sebelum ke luar dari Cirebon. Bakso atau apa kek, yang penting bisa untuk mengganjal perut. Laper banget nih," pinta Nadia merajuk menatap Rumi.


"Iya, nanti kita minta pak sopir untuk mampir di rumah makan," sahut Rumi mengiyakan.


Nadia pun ikut bangkit berdiri. Mereka menghampiri Mas Har dan pak sopir yang sedang duduk di teras masjid tidak jauh dari mereka duduk. Rumi menyampaikan kepada Mas Har bahwa Nadia sudah diharapkan dan ditunggu-tunggu untuk pulang oleh orang tuanya.


Setelah berpamitan dengan Haikal dan keluarga pak kyai, mereka segera meninggalkan area pondok pesantren untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Indramayu. Namun, Nadia minta mampir di rumah makan terlebih dahulu untuk mengisi perut.


Setelah selesai makan, mereka langsung cabut dari Cirebon. Hanya butuh waktu satu jam perjalanan mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman rumah orang tua Nadia.


Nadia nampak ragu-ragu untuk keluar dari dalam mobil. Ia tercengang tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Rumah sederhana yang tiga bulan lalu ditinggalkannya untuk kembali kuliah di Jakarta, sekarang sudah berubah menjadi bangunan yang megah. Halaman yang dulu luas karena digunakan untuk menjemur gabah setiap masa panen padi, sekarang tinggal separo. Dengan kata lain bangunan rumah itu sekarang maju beberapa meter


"Kenapa kamu ragu-ragu begitu, Nad?" tanya Rumi yang heran melihat tingkah Nadia.


"Kayaknya kita salah alamat deh, Mbak," jawab gadis itu.


"Salah alamat bagaimana sih, Nad. Tadi kita sudah tanya sama orang, benaran ini Kiajaran Kulon. Di google map ponsel Mas Har juga Kiajaran Kulon di sini, pas nih," timpal Mas Har menunjukan ponselnya.


"Tapi ini kayaknya bukan rumah mamak Gugun, mamaknya Nadia, Mas. Dapat rejeki dari mana mamak bisa merenovasi gubuk yang tiga bulan lalu masih reot, sekarang jadi rumah semegah ini," sangkal Nadia masih belum percaya.


"Mungkin saja calon suami kamu orangnya tajir banget dan tidak mau rumah calon mertuanya masih reot, masa mau dapat menantu kaya kok rumahnya reot sih? 'kan malu mungkin. Kita tanya saja yuk keluar," timpal Mbak Rumi.


Nadia, Rumi dan Mas Har pun keluar dari dalam mobil dengan membawa sisa barang-barang mereka.


"Pak sopir jangan pulang dulu ya, barangkali kita salah alamat nanti tolong minta diantar lagi," pinta Rumi pada pak sopir.


"Iya, Mbak," sahut pak sopir.


Di rumah itu nampak ramai, di halaman telah dipasang layos serta dekorasi di dalam dan di luar rumah, memang seperti rumah orang yang akan mengadakan acara hajatan. Mas Har dan Mbak Rumi melangkah terlebih dahulu, sementara Nadia sembunyi di balik tubuh mereka.


"Permisi, Bu. Apa benar di sini rumahnya mamak Gugun?" tanya Mas Har kepada salah seorang ibu yang kebetulan lewat.


"Kalian siapa?" Ibu itu malah bertanya balik.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2