
Hari telah berganti hari hingga minggu, tetapi Nadia masih terlelap dalam tidur panjangnya dan belum mempunyai keinginan untuk bangun. Bu Nastiti setiap pagi hingga siang hari tidak pernah absen untuk menemani gadis tersebut, terkadang dia membawa serta Tiara. Bergantian dengan orang tuanya Nadia yang telah tiba di Jakarta beberapa hari yang lalu. Bu Nastiti akan pulang saat waktu dhuhur tiba dan kembali pada keesokan harinya.
Siang hari mamak dan mimiknya Nadia datang dan pulang ke tempat kost Nadia pada pagi hari. Sementara Rasya akan menyusul ke rumah sakit sekitar pukul sepuluh malam sampai dengan pagi hari, baru dia akan pulang ke rumah.
Sementara kakaknya Nadia - Nadhif, sudah kembali ke Bandung untuk mempersiapkan acara wisudanya. Ternyata acara wisuda S1 laki-laki tersebut yang seumur hidup sekali itu harus berjalan tanpa kehadiran orang tua dan adiknya sesuai yang telah ia rencanakan. Ia harus menelan pil pahit kekecewaan mengingat mamak dan mimiknya harus menjaga adiknya yang saat ini sedang koma belum mau bangun juga.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini sudah masuk satu bulan Nadia terbaring di ruang ICU, ia masih terlelap dalam tidur panjangnya dan belum mau bangun. Bu Nastiti pagi ini juga menyempatkan waktu untuk bergantian dengan orang tua gadis itu menunggui korban kejahatan mantan menantunya tersebut.
Bu Nastiti duduk di kursi dekat brangkar. Berbicara dengan gadis yang masih diam tersebut panjang lebar. "Assalamu'alaikum, Nadia. Ini ibu, ibunya dari Rasya dan Rayan, eyang putrinya Tiara. Kamu masih ingat bukan? Waktu itu sehari sebelum kejadian kita pernah satu kali bertemu, waktu Rayan mengajak kalian ke rumah, kamu Tania dan pacarnya - Prima. Oh iya, Rasya - anak ibu setiap malam selalu menunggui kamu loh. Tiara juga sering ikut ke sini, tetapi hari ini dia tidak ikut kemari, hari ini dia agak rewel tidak mau makan. Katanya 'mau disuapi cama mama Nanad,' tetapi kamunya tidak mau bangun juga. Ibu takut nanti kalau ibu ajak dia ke sini malah nangis tidak mau berhenti."
Tiba-tiba jari tangan Nadia bergerak-gerak, dan bibir Nadia membisikkan sesuatu. Melihat akan hal itu, Bu Nastiti langsung menekan tombol emergency yang ada di dekatnya. Dua orang tenaga medis dan seorang dokter yang bertugas masuk ke ruangan tersebut dan memeriksa keadaan pasien. Bu Nastiti berpindah duduk di sofa.
Sesaat setelah di periksa oleh dokter, Nadia membuka mata. Dia akan segera dipindahkan ke ruang ICU. Karena yang saat ini sedang menunggui Nadia adalah Bu Nastiti, tentu saja ia akan memilihkan kamar yang terbaik untuk Nadia. Nadia kini dipindahkan ke ruang VVIP 2 di lantai dua.
Nadia memandangi orang yang saat ini menungguinya di ruang rawat. Di mana keluarganya? Kenapa ibu ini yang menungguinya? Dia siapa? Apakah dia jadi amnesia hingga tidak mengenali keluarga sendiri?
"Ib - bu?" tanyanya terbata.
"Kamu tidak mengenali Ibu? Ibu ini ibunya Rasya dan Rayan, eyang putrinya Tiara." Bu Nastiti menjelaskan.
"Ti - ara," ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Tiara baik-baik saja, kamu ingin bertemu dengan Tiara?" tanya Bu Nastiti. Nadia mengangguk pelan. "Sebentar ibu telepon Rayan, biar Mas Rayan bawa Tiara ke sini," imbuhnya. Bu Nastiti langsung menelpon Rayan.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Rayan dalam sambungan telepon.
"Ray, Nadia sudah sadar dari koma," ucap Bu Nastiti memberi tahu.
"Alhamdulillah," ucap Rayan lega.
"Dia menanyakan Tiara, tolong kamu bawa Tiara kemari ya. Kita sudah ada di ruang VVIP 2," pinta Bu Nastiti.
"Baik, Bu." Rayan menjawab singkat. Bu Nastiti menutup panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
*****
Celine sudah berhasil ditangkap oleh polisi, setelah komplotan pembunuh bayarannya sudah berhasil dibekuk waktu itu dan kini mereka mendekam di balik jeruji besi. Rasya juga telah resmi bercerai dengan perempuan keji tersebut.
Pagi ini Tania diantar oleh suaminya menjenguk Nadia. Perutnya yang semakin besar membatasi gerakannya. Ia tidak selincah dulu, karena kini kandungannya tengah memasuki bulan ke delapan. Ia juga sudah mengambil cuti kuliahnya, dan berencana akan mengulang bersama Nadia semester depan jika Nadia diberi kesempatan untuk sadar dari koma dan dapat beraktifitas seperti biasa kembali. Namun, sampai saat ini orang yang mau diajak mengulang semester yang tertunda tersebut belum juga membuka matanya, pikir Tania.
Saat Tania dan Edos sampai di depan ruang ICU, ia merasa heran. Biasanya keluarga Nadia dan Rayan duduk dan tiduran di depan ruangan tersebut, tetapi kenapa sekarang sepi. Tania bertanya kepada salah seorang suster yang kebetulan lewat.
"Suster, pasien yang ada di ruang ICU dipindahkan kemana ya?" tanyanya.
"Maksud Mbak, Nona Nadia? Dia sudah dipindah ke ruang perawatan, Mbak," jawab suster.
"Kemana, Sus?" tanya Tania lagi.
__ADS_1
"VVIP 2 di lantai dua, Mbak," jawab suster tersebut.
"Terimakasih, Suster," ucapnya.
Tania mengajak Edos bergegas ke lantai dua untuk menemui Nadia.
"Mas Rayan!" seru Tania saat melihat Rayan tengah duduk di sebuah bangku di depan sebuah ruang rawat inap.
"Hai, Tan!" sapa Rayan.
"Pipim nggak ikut ke sini, Mas?" tanya Tania.
"Dia ada kuliah pagi."
"Oh, aku ke dalam dulu ya, Mas. Yank, kamu tunggu di sini saja ya bareng Mas Rayan." Edos mengangguk, lalu duduk di samping Rayan.
"Duh calon Bapak, udah siap lahir batin nih?" goda Rayan.
"Udah donk, kapan nyusul?" tanya Edos.
Rayan hanya mendesah, "Enggak tahu, Dos. Aku mau ngejar S2 dulu kayaknya, si Prima juga masih lama lulus kuliahnya," jawabnya.
"Semangat, Mas. Tunaikan cita-citamu, jangan kayak aku, masa depanku terpuruk karena mementingkan cinta." timpal Edos.
"Kamu juga masih muda. Jangan jadikan pernikahan sebagai belenggu untuk meraih kesuksesan, Edos. Kalau bisa dua-duanya bisa kita raih secara bersamaan, semangat!"
"Memang mau meneruskan kuliah di mana, Mas?" tanya Edos.
Sementara di dalam ruangan, ternyata ada Bu Nastiti dan Tiara, sementara kedua orang tua Nadia sedang pulang ke tempat kost Nadia untuk membersihkan diri dan istirahat. Melihat kedatangan Tania, Bu Nastiti berpindah duduk ke sofa.
Tiara di atas brangkar memeluk Nadia, tidak mau lepas. "Mama Nanad jangan tinggalin Aya lagi ya," pintanya dengan logatnya yang cadel.
"Mama enggak ninggalin Tiara kok, Sayang. Mama kan di sini," kilah Nadia. "Tiara, sudah makan?" tanyanya yang hanya dijawab gelengan oleh Tiara.
"Makan ya, Mama suapi!" ajak Nadia. Tiara mengangguk.
Nadia bangkit untuk duduk, Tania membantunya dan Tiara untuk duduk pula.
"Tolong ambilkan kotak makan itu, Tan!" pinta Nadia pada Tania, wajahnya menunjuk ke arah kotak makan yang ada di atas nakas, kotak makan yang dibawa oleh Bu Nastiti dari rumah untuk Tiara.
Tania segera meraih kotak makan tersebut. Namun, sebelum menyerahkan kotak tersebut kepada Nadia, ia bertanya terlebih dahulu pada Tiara. "Mama Nanad kan masih sakit, Sayang. Mama Tatan saja yang suapi Tiara, mau?"
"Enggak mau," jawab Tiara menggeleng.
"O, jadi sekarang Tiara sudah lupa sama Mama Tatan nih?" goda Tania dengan wajah cemberut yang dibuat-buat menyerahkan kotak makan pada Nadia.
"Mama Tatan kan udah mau punya Dedek sendiri," sahut Tiara.
__ADS_1
Tania bergabung dengan Bu Nastiti duduk di sofa, membiarkan Nadia menyuapi Tiara.
"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu, Tan?" tanya Bu Nastiti pada Tania.
"Tujuh bulan Bu, masuk bulan ke delapan," jawab Tania.
"Kurang dari dua bulan lagi dong, semoga lancar ya persalinannya, sehat ibu dan bayinya," timpal Bu Nastiti mengelus perut Tania.
"Aamiin, terimakasih atas doanya ya, Bu," sahut Tania.
Tania kembali melihat ke arah Nadia dan Tiara. Nadia nampak telaten menyuapi Tiara. "Nanad, kamu pantas jadi mama sambung Tiara," ucapnya.
"Uhuk uhuk."
Seketika Nadia tersedak, padahal ia tidak sedang memakan apa-apa. Bu Nastiti segera bangkit mengambilkan gelas berisi air putih yang ada di atas nakas dan menyerahkan kepada Nadia.
"Hati-hati, Sayang," ucap Bu Nastiti.
Nadia menerima gelas berisi air putih tersebut dengan sebelah tangan, tangan yang ditusuk jarum infus memegang piring, kemudian langsung meminumnya. Bu Nastiti menerima kembali gelas tersebut kemudian meletakkan ke tempat semula.
"Kamu kenapa sih, Nad? Makan enggak kok tersedak," cebik Tania.
Nadia tidak mempedulikan ucapan Tania. Ia kembali menyuapi Tiara yang masih lahap menerima suapan darinya. Setelah dirasa kenyang, Tiara hanya membungkam mulutnya dan menggelengkan kepala saat Nadia menyuapinya. Tania beringsut untuk meletakkan piring di atas nakas dan mengambilkan botol minum milik Tiara.
Beberapa saat kemudian masuklah dokter dan 2 orang tenaga medis memeriksa keadaan Nadia. Dokter segera memeriksa keadaan Nadia.
"Semuanya normal, jika sudah tidak ada keluhan besok pagi sudah boleh pulang. Ini saya kasih resep obat rawat jalan nanti ditebus ya," ucap dokter sambil menulis pada kertas resep. Menyerahkan kertas tersebut kepada Nadia kemudian pamit untuk ke luar ruangan.
Sementara dua orang perawat masih di dalam ruangan. "Gordennya saya tutup sebentar ya, Bu. Kami mau mengganti perban jahitan pasien," salah seorang perawat meminta ijin sambil menarik gorden untuk menutupnya.
"Dedeknya tidak apa-apa di dalam, Mbak?" tanya suster pada Nadia.
"Tidak apa-apa, Sus," jawab Nadia.
Tak berapa lama gorden kembali dibuka oleh kedua perawat tersebut.
"Sudah selesai, selang infusnya nanti dicabut kalau cairannya sudah habis ya," ucap salah satu dari mereka. Mereka kemudian pamit untuk ke ruangan berikutnya.
"Nadia, besok kamu pulang ke rumah Ibu saja ya, kalau di kosan siapa yang akan merawat kamu? Ayah dan ibu kamu pasti akan pulang untuk kembali bekerja," usul Bu Nastiti yang membuat raut wajah Nadia terlihat kaget.
"Emm, sepertinya saya akan ikut mamak dan mimik pulang ke kampung, Bu. Saya akan kembali ke sini saat mulai kuliah semester depan," jawab Nadia.
'Bagaimana mungkin aku bisa tinggal serumah dengan 2 orang pria lajang yang bukan siapa-siapa? Pak Rasya sepertinya juga sudah melupakan aku, sejak aku sadar dari koma, aku belum melihatnya sekalipun,' batin Nadia.
"Apa tubuhmu sudah kuat untuk melakukan perjalanan jauh?" tanya Bu Nastiti lagi.
"In sya Allah sudah kuat, Bu," jawab Nadia mantap.
__ADS_1
'Mungkin dia merasa risih tinggal bersama dalam satu atap dengan 2 pria lajang, tetapi bagaimana nanti kalau Tiara merindukan dia, kemarin-kemarin saja anak itu rewel minta ketemu dengannya, dia memang bukan siapa-siapanya Tiara,' batin Bu Nastiti.
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu, ibu tidak bisa memaksa," akhirnya Bu Nastiti bisa menerima.