
Malam ini, Rayan dan Prima melangsungkan resepsi pernikahan. Akad nikah sudah berlangsung tadi pagi di kediaman mempelai wanita. Acara resepsi dilangsungkan di ballroom Merysta Hotel's.
"Ini baju udah dicuci belum sih? Kok rasanya enggak enak, gatal," tanya Rasya pada Nadia.
"Masa iya gatal sih, Mas? Ini dari butik langsung dikirim ke laundry loh padahal." Nadia mendekat ke suaminya lalu mengendus dadanya. "Baunya aja wangi gini kok," imbuhnya.
"Pantas, cucian laundry tho? Pasti ini cuma dikasih pewangi doang, Sayang," ucap Rasya lagi yang malah bikin Nadia tambah sebal.
"Mas Rasya nyebelin ih, ini dari laundry langganan Ibu." Nadia mencebik. "Kalau Mas enggak mau pakai ya ganti saja." cetusnya.
"Masa ganti sih, Sayang? Ini kan seragam keluarga," tolak Rasya.
"Lha terus maunya Mas Rasya gimana? Enggak ganti ngomel-ngomel, disuruh ganti enggak mau." Nadia kembali mencebik.
"Mau tahu maunya Mas?" tanya Rasya, Nadia mengangguk. "Mas maunya kita enggak usah datang ke pesta. Lha pas kita nikah saja Rayan sama Prima enggak datang kok," tuturnya.
"Ciee ... jadi ceritanya Mas dendam nih sama mereka?" tanya Nadia.
"Enggak, cuma mas lagi pengen anuan sama kamu," sahut Rasya
"Oo ... ternyata yang gatal bukan bajunya, tapi anunya Mas Rasya udah yang gatal," simpul Nadia terkikik geli. "Anuan kan bisa setiap hari, Mas, tapi resepsi pernikahan Mas Rayan dan Prima kan tidak setiap hari," sangkal Nadia memberikan sambil memberikan polesan terakhir di wajahnya.
"Mas enggak mau kita keduluan Rayan, Sayang."
"Keduluan bagaimana maksudnya? Jelas-jelas kita duluan yang nikah," tanya Nadia saat menyematkan peniti pada hijabnya.
Tangan Rasya tiba-tiba sudah melingkar di perut sang istri. "Keduluan launching dedeknya," ucapnya seraya mengelus-elus perut Nadia.
Nadia malah tertawa kegelian dibuatnya, tetapi itu hanya sebentar saja. "Kalau urusan itu, kita serahkan sama yang di atas saja ya, Mas. Mas kan tahu kalau rahimku bermasalah," sahutnya.
"Mas akan sabar menunggu kok, Sayang. Mas cuma enggak mau kalau mereka duluan," timpal Rasya. "Tapi harusnya tanggal 1 kemarin 'kan kamu dapat tamu bulanan, Sayang? Ini udah tanggal 5 loh. Jangan-jangan udah tumbuh benih ada di dalam sini," terkanya sambil kembali mengelus perut Nadia yang tertutup gamis.
"Baru telat 4 hari, Mas," timpal Nadia santai.
"Tapi besok pagi bangun tidur dicek pakai tespek ya. Masih ada stoknya kan?" pinta Rasya.
"Masih, Mas. Sampai bosan aku nampung air seni di wadah tiap bulan. Ayo ah, udah selesai kan dandannya!" ajak Nadia tak ingin ia dijemput lagi sama anak sambungnya seperti saat hendak melamar Prima dulu. "Malu Mas, kalau sampai kita disusul sama Raka lagi," imbuhnya.
"Mana mungkin, Sayang?" sanggah Rasya. "Raka kan jadi pengapit pengantin pria, dia sudah ada di hotel sejak tadi sore," imbuhnya menjelaskan.
Rasya merengkuh pinggang Nadia dengan posesif. Mereka keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Sampai di ruang tengah mereka bertemu dengan Rania dan Hamdan suaminya yang baru keluar dari kamar mereka.
"Loh, kalian juga belum berangkat?" tanya Rasya kepada adik perempuan yang berperut buncit tersebut dan suaminya.
"Aku nidurin Zidan dulu, Mas," jawab Rania.
"Terus, Zidannya sama siapa di rumah?" tanya Rasya lagi.
"Mbak Nina nggak mau ikut ke hotel, jadi Rania minta tolong dia buat jagain Zidan," jawab Rania lagi.
"Oo, gitu. Ehm ... Kalian mau bawa mobil sendiri atau ikut Mas Rasya saja?" tanya Rasya yang lebih tepatnya memberikan penawaran.
Rania menoleh kepada suaminya. "Gimana, Bi?" tanyanya pada Hamdan.
"Terserah umi saja," Hamdan memasrahkan pada istrinya.
"Emm ... Bawa mobil sendiri saja deh, Mas. Biar nanti kalau mau pulang enggak sampai nunggu. Soalnya kan ninggal Zidan di rumah, kasihan," tutur Rania.
"Ya udah, enggak apa-apa. Mas duluan ya," pamit Rasya dengan tangan kanan masih berada di pinggang sang istri.
"Mas Rasya!" panggil Hamdan yang berjalan di belakang Rasya.
Mendengar namanya dipanggil Rasya pun menoleh. "Iya, Gus?" tanyanya.
"Mbak Nadia lagi hamil muda, dijaga baik-baik tuh," ujar Gus Hamdan.
Rasya membelalakkan matanya saking terkejut. "I iya, Gus. Terima kasih," sahut Rasya gugup.
Rasya dan Nadia sudah masuk ke dalam mobil. Mobil mereka perlahan meninggalkan halaman.
"Kok Abi bisa tahu kalau Mbak Nadia hamil," tanya Rania pada suaminya.
__ADS_1
"Cuma feeling saja, kan Umi sudah lima kali hamil," jawab Gus Hamdan.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan mengikuti di belakang mobil Rasya. Sementara di dalam mobil Rasya.
"Tuh kan, Sayang, Gus Hamdan saja bisa tahu kalau kamu sedang hamil. Jadi kamu harus lebih hati-hati," ucap Rasya.
"Iya. Tapi Mas Rasya nggak usah over protective gitu donk, kan belum terbukti secara medis," sahut Nadia.
"Jaga-jaga, Sayang. Jangan sampai sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi," timpal Rasya.
Perjalanan mereka hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di tempat berlangsungnya acara. Rasya langsung melepaskan seat belt nya lalu melepaskan seat belt Nadia.
"Jangan turun dulu!" cegah Rasya. Nadia hanya memutar bola matanya jengah menghadapi sikap posesif suaminya.
Rasya keluar dari mobil dan melangkah memutari mobil bagian depan lalu membuka pintu mobil di samping istrinya. "Silakan, Tuan putri!" ucapnya seraya merentangkan tangannya menuntun Nadia untuk turun.
"Mas, enggak usah over protektif begitu kenapa? Kayak aku enggak bisa jalan saja," ucap Nadia.
"Mas yakin kalau kamu benar-benar hamil seperti yang Gus Hamdan bilang. Mas cuma enggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita," timpal Rasya khawatir.
Rania dan suaminya telah keluar dari dalam mobil. Mereka mendekat ke arah Rasya dan Nadia yang belum turun juga dari dalam mobil.
"Ayo, Mas Rasya, Mbak Nadia, kita masuknya barengan saja!" ajak Rania.
Mereka berempat menuju pintu lift yang ada di basemen parkir. Keluar dari lift hanya berjalan beberapa meter mereka telah sampai di ballroom tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan Rayan dan Prima.
"Nanad!" sebuah suara seorang perempuan yang begitu familiar memanggil. Nadia menoleh.
Tania berjalan tergesa-gesa menghampiri Nadia. Mereka saling berpelukan dan mencium pipi kira dan kanan.
"Kamu datang sama siapa, Tan?" tanya Nadia.
"Tuh," tunjuk Tania pada seorang pria yang berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Kak Bizar, kapan pulang dari Jepang?" tanya Nadia pada Abizar, kakak sepupu Tania.
"Aku sudah tidak tinggal di Jepang lagi kok, Nad. Sudah menetap di Batang," sahut Abizar. Nadia hanya ber-o ria.
"Oh iya, kenalkan ini adik iparku dan suaminya yang tinggal di Kendal," ucap Nadia memperhatikan Rania dan suaminya.
Mereka kemudian saling berjabat tangan dan menyebutkan nama.
"Kamu Abizar anak juragan Burhan kan?" tanya Hamdan.
"Benar, Gus. Ternyata njenengan masih ingat saya," sahut Abizar.
"Mana mungkin saya lupa sama satu-satunya anak yang ngaji sapa Abah dengan logat bahasa Jepang, hahaha ...." timpal Gus Hamdan terkekeh.
"Ternyata dunia ini sempit ya? Ke Jakarta saja ketemu banyak tetangga, hahaha," timpal Abizar terkekeh juga.
"Ayo kita kasih selamat kepada pasangan pengantinnya. Kalau ngobrol di sini lama-lama, bisa-bisa kita lupa tujuan kita datang kemari buat apa," sela Rania membuat yang lain ikut tertawa.
"Hahaha, Mbak Rania bisa saja," Tania tergelak.
Mereka berjalan berjajar tiga-tiga. Di barisan depan Rasya, Gus Hamdan dan Abizar. Sementara di belakangnya Tania, Nadia dan Rania. Satu per satu mereka naik ke atas pelaminan memberikan ucapan selamat serta do'a untuk pasangan pengantin.
"Selamat ya, Pim. Sekarang udah jadi adik ipar aku. Jadi kamu harus panggil aku dengan sebutan kakak ipar seperti Mas Rayan," ucap Nadia.
"Harus ya?" goda Prima.
"Harus itu!" sahut Nadia.
"Oke deh. Sendiko kakak ipar. Terima kasih atas ucapannya," ucap Prima dengan wajah sumringah.
"Semoga rumah tangga kalian senantiasa dilimpahi kebahagiaan. Menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Dan semoga kakak ipar kamu ini segera dikasih keponakan, aamiin," ucap Nadia.
"Aamiin ..., terima kasih lagi atas do'anya, kakak ipar, semoga adik ipar juga segera dikasih keponakan, aamiin ...." sahut Prima.
"Gantian donk, Nad. Di bawah udah pada ngantri tuh," sela Tania.
"Iya iya, enggak sabaran amat sih. Pim, mau aku ambilkan jus buah tidak?" tawar Nadia.
__ADS_1
"Ah iya, Nad. Haus banget nih," sahut Prima.
"Yah, berubah lagi panggilannya," ucap Nadia menepok jidat. "Tunggu sebentar ya," imbuhnya.
Nadia turun dari pelaminan menghampiri Rasya yang telah berdiri di bawah menunggunya.
"Sayang, mas mau temui para tamu. Kamu mau ikut Mas?" tawar Rasya.
"Tapi aku udah janji sama Pipim mau ambilkan minuman buat dia, Mas," tolak Nadia.
"Ya udah, kamu ambil minum sana. Nanti kalau sudah selesai susul Mas di sana ya," ucap Rasya menunjuk ke gerombolan para pegawai kantor Baskoro Groups.
"Iya," sahut Nadia. "Ayo, Tan!" Nadia beralih ke pada Tania.
Nadia menggandeng Tania menghampiri meja yang berisi gelas-gelas beraneka minuman.
"Duduk sini dulu sebentar, Nad. Kita nikmati dulu cemilan dan minumannya," cetus Tania.
Mereka duduk di kursi yang masih kosong yang ada di depan meja. Menikmati hidangan yang telah disediakan. Hingga Nadia lupa kalau ia berjanji mau mengambilkan jus buah untuk Prima yang sudah lelah dan haus, mungkin juga lapar karena tadi pasangan pengantin itu belum sempat makan malam.
"Hai, Nad. Kamu diundang juga?" seorang wanita dengan pakaian yang sama seperti Nadia menyapanya. Gadis itu mengambil minuman yang ada di meja di dekat Nadia duduk.
"Eh, Mbak Linda. Iya, Mbak." Nadia menyahut.
"Siapa, Nad?" tanya Tania yang duduk di samping Nadia.
"Linda, adik sepupu Mas Rasya. Dia sekretaris Bapak di kantor," sahut Nadia.
"Sepertinya dia punya niat tidak baik," bisik Tania lagi.
"Jangan su'udhon, Tan," pinta Nadia.
Linda mendekat ke arah mereka. "Kok kamu busa punya seragam keluarga juga, Nad?" tanyanya.
"Ah, mungkin hanya kebetulan saja, Mbak," elak Nadia.
'Apa Mbak Linda belum tahu kalau aku istrinya Mas Rasya? Padahal kan dia saudara dekat,' Nadia bertanya dalam hati.
"Atau jangan-jangan kamu punya niat untuk mendekati Mas Rasya iya? Mana mungkin saudara sepupu aku itu mau sama perempuan kutilang darat seperti kamu. Mendingan buang jauh-jauh niat kamu itu," terka Linda.
"Sudah, Nad. Enggak usah diladeni. Kita pergi dari sini saja yuk!" bujuk Tania berbisik.
"Sebentar, Tan. Mungkin sudah saatnya dia tahu kalau aku istrinya Mas Rasya. Biar dia tidak nempel terus kalau ketemu suamiku." Nadia berbisik pula.
"Kenapa aku tidak boleh mendekati Mas Rasya? Aku ini istrinya dan dia suamiku," jelas Nadia.
"He, Nona. Bangun! Mimpi kamu itu ketinggian!" seru Linda geram.
"Sini gelas kamu, Tan. Aku taruh dulu di meja," Nadia meminta gelas Tania, lalu ia berdiri melangkah menghampiri meja.
"Orang bicara apa adanya dibilang mimpi. Kalau enggak percaya tanya saja nanti sama orangnya."
Nadia menggerutu sambil berjalan. Tiba-tiba tanpa ia duga, Linda mendorongnya dari belakang hingga tubuh Nadia menabrak meja dan perutnya menabrak pinggir meja.
"Aarrgghh!"
Nadia merasakan sakit di area perutnya. Tidak lama kemudian tubuhnya seperti melayang. Rasya yang sejak tadi mendengar perdebatan mereka, tanpa ia duga akan terjadi kejadian seperti ini. Ia langsung membopong tubuh istrinya.
"Linda! Kamu keterlaluan!" umpat Rasya pada Linda sambil membawa tubuh Nadia pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa Mas Rasya malah membela gadis kutilang darat itu?" seru Linda tidak terima.
.
.
.
**TBC
Alhamdulillah setelah sekian purnama baru bisa menyelesaikan 1 bab. Mohon maaf bagi yang setia menunggu Nadia up, Mak Kusay lagi sibuk-sibuknya ngurus debay jadi curi2 waktu buat nulis cuma dapat berapa kata doang 🙏. Semoga satu bab ini bisa mengobati kangen kalian. Terima kasih😘😘😘**
__ADS_1