
"Ada apa, Mas? Kenapa pakai Video call segala sih? Mas udah kangen? Nggak rela banget kayaknya ngelepas istri sebentar saja," cecar Nadia yang wajahnya baru terlihat di layar ponsel Rasya.
"Mas merasa khawatir, tetapi kamu baik-baik saja kan? Mobilnya enggak mogok kan?" Rasya menyahut dengan pertanyaan pula.
"Tadi sih sempat mogok, untung temanku cepat datang. Ternyata bahan bakar habis," sahut Nadia mengeluh.
"Posisi Kamu di mana sekarang?"
"Di ... rumah makan Parahyangan," sahut Nadia melirik buku daftar menu yang ada di atas meja di depannya.
"Sama siapa?" tanya Rasya lagi.
"Sama teman aku, Mas. Tadi kan Nanad udah minta ijin," sahut Nadia mulai kesal.
"Iya tahu sama teman kamu. Teman kamu itu namanya siapa? Laki-laki atau perempuan?" cecar Rasya lagi.
"Emm ... kasih tahu enggak ya," sahut Nadia dengan mendekatkan jari telunjuk ke dagunya. Rasya benar-benar diuji kesabarannya saat ini. "Udah ah, Mas. Aku mau ngobrol sama teman aku lagi, udah lama banget soalnya nggak ketemu sama dia. Yang pasti teman Nanad itu laki-laki dan perempuan. Dah Mas Rasya, assalamu'alaikum. Eemmuach ...."
Nadia memutus panggilan video sebelum Rasya menjawab iya membuatnya kesal. Bu Nastiti yang melihat anak sulungnya kesal hanya senyum tertahan.
"Kok Ibu kayak senang begitu? Jangan-jangan ada kong kalikong ini antara ibu sama menantu ibu yang satu itu?" tebak Rasya.
"Eh, kok ibu jadi dibawa-bawa. Ibu nggak mau ikut campur ya sama urusan kalian," Bu Nastiti mengelak. "Lebih baik ibu ke dapur saja deh, dari pada di sini dituduh yang tidak-tidak," ucapnya beranjak berdiri.
Bu Nastiti meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja sebelum meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan menuju ke dapur, tetapi setelah sampai di dapur ia malah bablas menuju ke belakang vila. Lalu melakukan panggilan telepon terhadap seseorang.
"Iya, Bu?" terdengar suara seorang perempuan dari seberang sana.
"Kamu masih di rumah makan yang tadi, Sayang?" tanya Bu Nastiti agak berbisik supaya tidak terdengar hingga ke dalam vila.
"Tidak Bu, Nanad sekarang ada di rumah Pak Ardan, Omnya Aghni - mantan calon menantunya ibu yang udah gagal hehehe ..."
"Oo, iya ibu ingat Ardan adiknya Ardi. Kamu betah-betahin saja di situ ya, Sayang. Kalau perlu pulang sampai nanti malam. Bikin hati suami kamu tambah blingsatan. Biar tambah blingsatan dia."
"Hahaha iya, Bu. Di sini hanya sebentar kok, Bu. Sebentar lagi kami akan ke hotel Merysta. kok. Kang Nadhif sekarang menjabat jadi General Manager di sana."
"Alhamdulillah, kakak kamu jadi orang yang sukses ya, Nak," ucap Bu Nastiti.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, Dia juga yang membiayai kuliah Nindya adik Nanad, sekarang Nindya sudah semester 4 bareng sama Aghni."
"Oo ... adik kamu sudah kuliah juga."
"Iya, Bu."
"Ya udah, sampai nanti malam, Sayang. Kamu aktifkan GPS ponsel kamu biar suamimu bisa melacak keberadaan kamu ya."
"Siap, Bu!"
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
~
"Kamu serius, Nad? Nggak mau pulang sampai malam?" tanya Nadhif tiba-tiba saat interaksi telepon dari nya berakhir.
"Serius lah, Kang. Biar saja sekali-kali kayaknya Mas Rasya perlu dikasih shock terapi dech. Nadia juga kan mau perawatan," sahut Nadia tersenyum.
"Apa tidak terlalu sore?" Nadhif memastikan.
"Kan biar sampai malam, Kang," sahut Nadia.
Nindya dan Aghni muncul dari ruang tengah. Mereka duduk di sofa bergabung dengan Nadia dan Nadhif.
"Sudah siap semua? Kita berangkat sekarang?" tanya Nadhif.
"Enggak," sahut Aghni. Nadhif mengernyit. "Tahun depan," imbuhnya seraya nyengir kuda.
Tangan Nadhif terulur untuk mencubit hidung Aghni yang duduk terhalang Nindya. "Udah pinter nih ternyata keponakanya Pak Dosen," ucapnya.
"Kakang ih, Nindy kecepit nih," seru Nindy yang merasa keberadaannya tidak dianggap oleh dua makhluk hidup yang sedang dilanda kasmirah tersebut, eh kasmaran maksudnya.
__ADS_1
"Ayo lah, tadi katanya ngajak berangkat. Kok malah main cubit-cubitan," ajak Nadia.
"Tunggu sebentar, tadi Kak Farel bilang mau ikut," cegah Nindya.
"Farel siapa?" tanya Nadia.
"Saudara sepupunya Aghni," sahut Nindya.
"Mau ngapain dia ikut? Ini kan urusan kaum cewek," timpal Aghni.
"Jagain Nindy lah," sahut Nindya penuh percaya diri.
Orang yang mereka bicarakan muncul di ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah. Pria muda foto kopian Pak Ardan itu tersenyum yang mampu menghipnotis setiap gadis yang memandang. "Boleh kan?" tanyanya masih dengan senyum menawan.
"Yah. Aku sendirian dong yang enggak bawa pasangan," sesal Nadia.
"Aku yang akan menjaga kalian, sepertinya Nadhif mau balik ke kantor," cetus Farel.
"Oo ...." Nadia hanya ber-o ria.
Mereka akhirnya berangkat siang itu. Tujuannya adalah ke mall, lalu ke salon untuk perawatan tubuh dan wajah.
"Kang Nadhif nebeng mobil kamu ya, Nad," ucap Nadhif.
"Iya, tadi kesini nebeng juga kan?" sahut Nadia. "Berarti mampir ke hotel dulu dong," imbuhnya tidak rela.
"Kalau nggak ikhlas berangkat sendiri sana! Tetapi jangan harap nanti malam Kakang nganter kamu sampai rumah ya," ancam Nadhif.
"Yah kok gitu? Tapi Aang yang nyetir ya," bujuk Nadia.
"Iya siip."
"Kak, Aghni ikut mobil kakak juga dong," pinta Aghni.
"Hah? Terus Nindy cuma sama Farel doang?"
"Nggak apa-apa biar mereka lebih dekat," timpal Nadhif.
Aghni tersenyum penuh kemenangan. Begitu juga dengan Nadhif. Pemandangan kota Bandung yang indah serta sejuknya suhu udara di sana tak mampu mendinginkan perasaan Nadia yang hingga dua mobil itu bergerak pun merasa bagai obat nyamuk.
Nadhif menghentikan mobilnya di depan hotel tempatnya bekerja. Ia langsung keluar dari mobil. Begitupun Nadia, ia juga keluar dari dalam mobil dan berpindah duduk di kursi kemudi.
"Hati-hati nyetirnya, jangan ugal-ugalan," pesan Nadhif sebelum ia pergi meninggalkan mobil dan dua perempuan yang begitu berarti dalam hidupnya. Nadhif kembali menoleh. "Jangan lupa nanti jemput Kakang kalau sudah selesai," ucapnya mengingatkan.
"Kenapa A'ang tidak membawa mobil sendiri, nanti anter-anteran dong jadinya?" Nadia protes.
"Nggak usah GeEr deh, pulangnya kan bisa nebeng mobil Farel," sergah Nadhif.
"Lho, Farel ikut juga?"
Nadhif memutar bola matanya malas. "Memangnya suami kamu bisa cemburu kalau cuma sama Kakang?" sergahnya lagi. "Sudah pergi sana. Keburu eneg kakang lihat muka kamu yang kucel itu."
Nadia mendengkus kesal sebelum membawa mobilnya pergi dari tempat itu.
*****
Rasya? Apa kabarnya laki-laki itu? Jangan ditanya keadaannya sekarang. Laki-laki itu sudah blingsatan sejak tadi siang.
"Salah apa aku sama kamu, Nad?" gumamnya memandangi layar ponselnya. Chat yang ia kirim pada perempuan satu-satunya yang menjadi ratu di hatinya tersebut hanya dilihat saja tanpa berinisiatif untuk menjawab. Penghuni villa yang lain sudah pada masuk ke dalam kamar. Ia sendirian menunggu kepulangan Nadia.
"Perempuan itu memang seharusnya dikasih quality time untuk memanjakan diri, Sya," kalimat yang diucapkan oleh Bu Nastiti tadi siang tersebut masih terngiang di telinganya.
Tapi ini sudah jam berapa? Cinderela juga sudah hampir sampai di rumah. Jangan-jangan Nadia mau jadi Cinderela untuk mencari pangeran tampan mengingat Rasya sudah semakin tua.
Belum sempat Rasya berpikiran buruk semakin panjang, dari luar vila terdengar suara deru mobil berhenti. Rasya berjalan menghampiri pintu masuk untuk mengetahui siapa yang datang. Namun, Nadia sudah keburu melenggang masuk sebelum Rasya membukakan pintu karena memang pintu itu tidak dikunci.
"Belum jam dua belas kok sudah pulang? Apa Cinderela sudah menemukan pangeran tampan?" cecar Rasya.
"Memang sudah," sahut perempuan itu enteng, tetapi mampu meningkatkan kadar keterkejutan Rasya.
"Mana?"
__ADS_1
Nadia menoleh ke belakang. Saat itulah Farel muncul dari balik pintu. Rasya menghela napas, sabar ... sabar. Nadia melanjutkan langkahnya ke dalam kamar. Rasya membuntutinya hingga Nadia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan.
"Apa maksudmu dengan semua ini? Kenapa kamu bawa keponakan Om Ardi malam-malam begini, Sayang?" cecar Rasya lagi masih mengikuti istrinya keluar dari kamar mandi menuntut kejelasan.
Nadia tidak menjawab ia malah bertepuk tangan sebanyak tiga kali seperti Pak Tarno. Sim salabim jadi apa?
Prok prok prok.
"Surprise!" Raka muncul dari balik pintu dengan kedua tangan mendorong meja troli yang di atasnya ada kue besar dengan lilin berwarna merah berbentuk angka tiga dan lima yang sudah menyala. Di belakang Raka pasukan tim sukses sudah komplit ada di ruangan tersebut. Pak Baskoro juga sudah ikut bergabung bersama mereka, entah sejak kapan lelaki paruh baya itu sampai.
Rasya? Ia malah mendekati tempat tidur untuk mendaratkan pantatnya di sana, lelah. Nadia mengikuti suaminya lalu ikut mendaratkan bokongnya di samping laki-laki itu. Raka mendekat ke arah mereka.
"Make a wish dulu ya, Mas. Baru boleh tiup lilinnya. Sudah 35 tahun jangan cengeng. Malu sama anakmu yang sudah bujang begitu," ucap Nadia menyeka bulir bening yang lolos dari pelupuk mata suaminya.
Rasya menuruti instruksi dari Nadia. Padahal dalam hati ia tidak mau meyakini hal-hal seperti itu. Namun, ia sudah teramat lelah untuk melawan mereka yang telah bersekongkol mengerjainya seharian.
"Sekarang potong kuenya dong, Pa. Raka sudah kepengen dari tadi, tapi eyang melarang Raka untuk mencicipi," keluh Raka yang sudah tidak sabar.
Rasya memotong kuenya dengan pelan. Potongan kue pertamanya ia berikan kepada wanita nomor satu di dalam hidupnya, ibunya. Potongan kue kedua ia serahkan kepada Pak Baskoro dan yang ketiga baru ia berikan kepada istrinya.
Kini di dalam kamar tersebut hanya tinggal mereka berdua, Nadia dan Rasya. Selain mereka sudah pada kembali ke habitatnya masing-masing, mungkin juga sudah pada ngorong. Nadia masih berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan muka. Rasya sudah menunggu di atas ranjang.
Nadia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah bersih. Mata Rasya yang semula telah berat mengantuk kini segar kembali memandangi wanita tersebut. Tumben-tumbennya ia memakai lingerie, padahal udara di daerah pegunungan begitu dingin. Apalagi sekarang lagi ada fenomena matahari dengan jarak terjauh dari bumi, kalau malam jadi bertambah dingin.
"Kamu tidak kedinginan, Sayang?" tanya Rasya dengan menelan salivanya memandangi kulit putih yang tembus pandang dari balik kain tipis berwarna marun tersebut.
"Kan bentar lagi dekat mas jadi hangat," sahut Nadia yang sekarang telah berbaring di dekat suaminya. "Ini kan hari istimewa buat kamu, Mas."
Rasya malah mendengkus kesal mengingat hal-hal seharian sampai malam tadi. "Masa Mas ulang tahun orang segitu banyak nggak ada kasih hadiah, cuma kue yang besar doang. Memangnya itu ide siapa sih?"
Nadia menampilkan nyengir kuda. "Hehehe, memangnya Mas mau hadiah apa dari Nanad?" tanyanya.
"Mas mau anak dari kamu," sahut Rasya langsung tanpa tedeng aling-aling.
"Memangnya Mas tidak mengantuk? Ini sudah hampir subuh loh," tanya Nadia lagi yang sudah mulai mempersiapkan diri.
"Tadi mata Mas sih sudah lima Watt, tetapi setelah melihat baju kurang bahan kamu ini mata Mas jadi segar kembali, Sayang. Yuk bikin sekarang. Ini kan udah masuk sepertiga malam terakhir, katanya mustajab untuk berdo'a."
"Memangnya Mas masih sanggup melakukan sholat sunah?" tanya Nadia lagi.
"Asal bersamamu aku sanggup melakukan apapun," sahut Rasya sok romantis.
Preettt ....
Dua hari kemudian setelah kejutan untuk Rasya itu, keluarga Pak Baskoro baru pulang kembali ke Jakarta termasuk Rasya dan Nadia. Sampai di halaman rumah hari sudah malam, mereka penasaran karena ada mobil terparkir dan pintu ruang tamu dalam keadaan terbuka. Ada tamu rupanya. Tetapi sepertinya Pak Baskoro mengenali pemilik mobil tersebut.
"Tamu siapa, Mas?" Tanya Nadia berbisik pada suaminya.
"Sepertinya Lek Pur dan Lek Win. Orang tuanya Linda," sahut Rasya sambil melepas seat belt.
"Mau apa mereka ke sini?" tanya Nadia tidak suka.
Rasya menangkap sesuatu dadi dalam diri Nadia. Bukan jin atau makhluk tak kasat mata lainnya, tetapi perubahan sikap istrinya.
"Sayang, Lek Purnomo itu adiknya Bapak. Masa mereka tidak boleh menyambung silaturahmi sama kakaknya sendiri?" sahut Rasya meredakan sesuatu yang bergemuruh di hati Nadia.
"Tapi Nanad seperti menangkap sesuatu yang lain. Ada maksud tertentu dari kedatangan mereka saat ini. Lagian ini juga sudah terlalu malam untuk bertamu," terka Nadia.
"Biar lebih jelas yuk turun! Temui mereka," ajak Rasya.
.
.
.
TBC
__ADS_1
lope lope you all 😘