Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Melanjutkan Tugas


__ADS_3

Keesokan harinya, Nadia bangun tidur dengan badan serasa pegal-pegal di sekujur tubuh, rasanya malas sekali untuk bangun. Namun, ia ingat kemarin sore belum sempat mencuci baju. Setelah sholat subuh ia harus mencuci baju sekalian dengan baju yang baru kemarin dibelinya, lalu menyeterika baju akan dipakai kuliah nanti.


Ia bangkit dari pembaringan, mencoba melakukan peregangan otot dengan menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Menarik jari-jemari kaki dan tangannya hingga berbunyi 'krek.' Lalu ke luar dari kamar untuk mengambil air wudhu kemudian sholat subuh.


Usai sholat subuh Nadia menghampiri Mbak Rumi yang sedang memasak di dapur.


"Mbak Rumi, maaf pancinya enggak bisa bersih seperti semula, warnanya enggak mau ilang," ucap Nadia merasa tidak enak kepada pemilik rumah kost karena panci yang ia pinjam tidak bisa bersih seperti semula.


"Tidak apa-apa, Nad. Itu panci udah jarang dipakai kok," jawab Mbak Rumi tersenyum.


"Jadi, besok-besok boleh dipinjam lagi kalau aku mau mewarnai lagi ya, Mbak?" tanya Nadia malah ngelunjak.


"Iya, pakai saja. Mbak malahan senang ada penghuni rumah yang kreatif kayak kamu," ucapan Mbak Rumi seketika membuat hatinya menghangat.


"Ah, Mbak bisa saja. Terimakasih ya, Mbak," ucap Nadia.


"Sama-sama, Nad," sahut Mbak Rumi.


Nadia hendak kembali ke kamarnya untuk mengambil baju-baju yang akan dicucinya. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya teringat sesuatu.


"Oh iya, Mbak. Minggu depan Mamak bilang mau ke sini mengirim beras, aku boleh ikut nitip menanak nasi kan, Mbak?" tanya Nadia lagi.


"Boleh lah, Nad. Mau masak bareng di sini juga Mbak enggak keberatan. Asal mau gantian beli gas. Taruh saja beras kamu di lemari bawah ini," jawab Mbak Rumi menunjuk lemari dapur bagian bawah. "Nanti kalau Mbak mau menanak nasi bisa langsung ambil sekalian. Kamu di rumah kan cuma makan dua kali, pagi dan malam, jadi Mbak kira satu gelas cukup untuk satu hari, kecuali hari minggu," imbuhnya tersenyum.


"Terima kasih, Mbak. Aku kira Mbak Rumi enggak mau. Aku saja kalau dititipi sama si tukang titip malas sebenarnya," ucap Nadia yang malah sedikit curhat.


Mbak Rumi terkekeh karena tahu yang dimaksud oleh gadis penghuni salah satu kamar di rumahnya tersebut, "Beda lah Nad, kalau titip yang satu itu. Kalau yang itu kan ngerjainnya satu-satu, sedangkan menanak nasi kan tinggal sekali tekan doang," ungkapnya.


"Udah ah, Mbak. Aku mau nyuci baju dulu," pamit Nadia.


"Ya udah sana, ntar keburu siang," suruh Mbak Rumi.


Nadia mulai mencuci baju, hanya sebentar. Ia merendam dengan air dan deterjen cair lalu mengucek dan membilasnya. Kemudian menjemur baju tersebut. Selanjutnya ia menyetrika baju yang akan ia pakai untuk kuliah. Alhamdulillah tidak ada si tukang titip yang menjeda kegiatannya. Apa mungkin ia belum pulang dari sift malamnya. Atau masih molor karena kelelahan.


"Eh, Nad. Kamu belum siap-siap, mau berangkat bareng enggak?" tanya Devi yang kini sudah siap untuk berangkat kuliah.


"Aku dapat jadwal siang sampai sore kok, Mbak. Paginya kosong," sahut Nadia.


"O gitu, aku berangkat dulu ya, Nad," pamit Devi.


"Iya, Mbak," sahut Nadia.


Tiba-tiba Devi mendekat, "Nyetrikanya dipercepat, si tukang titip baru bangun tuh," bisik Devi di telinga Nadia.


"Oh iya, Mbak. Ini juga udah selesai kok."


Nadia tersenyum ke arah Devi. Memandangi kakak tingkatannya tersebut hingga tubuh gadis itu hilang di balik pintu. Setelah acara nyuci dan nyetrika selesai, ia ke warung penjual nasi terdekat untuk membeli sarapan.


Hari ini kelas Nadia mendapat jadwal agak siang, pukul 10 pagi sampai pukul tiga sore. Jadi dia tidak terburu-buru untuk bersiap-siap. Beberapa menit beranjak dari pukul sembilan, Nadia baru keluar dari rumah kost untuk berangkat ke kampus.


Nadia melangkahkan kakinya dengan santai menyusuri trotoar hingga sampai di kampus ia langsung masuk menuju ke kelasnya. Karena masih sepi, Nadia memutuskan untuk ke luar, duduk di teras sambil menunggu teman-temannya datang.

__ADS_1


Dari kejauhan nampak Pak Rasya baru kembali dari arah kantin dan sekarang seperti hendak mendekati Nadia. Atau mungkin hanya perasaan Nadia saja. Pria itu perlahan semakin dekat, dekat dan dekat.


"Asa, sendirian saja kamu," tegurnya sambil melewati Nadia.


"Iya, Pak."


'Ah, ternyata dia cuma numpang lewat saja, kirain mau mengatakan sesuatu," gumam Nadia. Ih, ngarep.


"Pak!" panggil Nadia dengan cepat.


Rasya menoleh kembali ke arah gadis yang memanggilnya tersebut. "Iya?" sahutnya bertanya.


"Maaf, nanti siang saya belum bisa meneruskan pekerjaan saya yang kemarin, Pak. Saya ada jadwal kuliah sampai pukul tiga sore nanti," tutur Nadia merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, besok lagi juga masih bisa. Kalau kamu ada waktu langsung datang saja ke ruangan saya ya," jawab Rasya. "Atau nanti sore kalau kamu mau meneruskan pekerjaan itu juga boleh, saya hari ini ada jadwal ngisi di kelas ekstensi sampai malam." Laki-laki itu memberikan penawaran.


"Oh iya, Pak. Kalau tidak capai saya akan coba meneruskan," sahut Nadia memberikan janji kepada sang dosen.


"Oke, saya ke ruangan dulu," pamit Rasya. Nadia mengangguk.


Rasya kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya. Nadia memandangi punggung laki-laki tersebut hingga hilang di kejauhan.


Satu-per satu teman satu kelasnya mulai berdatangan. Prima juga telah sampai dan menghampiri Nadia.


"Ayo masuk, sebentar lagi Bu Siska pasti datang, jangan sampai dosen cerewet itu ngomel-ngomel enggak jelas, Nad," cerocos Prima mengajak sahabatnya untuk masuk ke dalam kelas. Nadia hanya tertawa menanggapi ocehan sahabatnya tersebut.


Mereka beriringan masuk ke dalam kelas. Nadia duduk di bangku kosong dekat jendela. Sementara Prima duduk di belakangnya.


"Udah siap belum? Katanya hari ini ada kuis," tanya Feby, salah seorang teman sekelas yang duduk di samping Nadia.


"Ini info dari angkatan lain. Bu Siska memang begitu, di minggu ke dua setiap bulan selalu mengadakan kuis. Jadi kita harus siap," tutur Feby menjawab pertanyaan Nadia.


"Kok gitu ya, padahal kita dapat materi baru sekali," timpal Prima keheranan. "Kamu udah siap, Nad?" tanyanya beralih ke Nadia.


"Yah, siap enggak siap, disiap-siapin," sahut Nadia cuek seraya mengedikkan bahunya.


Sesaat kemudian, Bu Siska masuk ke dalam ruangan dengan menenteng satu pak kertas folio bergaris. Ternyata benar apa yang dikatakan Febi. Kertas tersebut akan dibagikan kepada mahasiswa yang hadir beserta selembar kertas berisi pertanyaan kuis setelah 1 jam materi.


Satu jam kemudian saatnya kuis, Nadia berusaha mengerjakan kuis tersebut dengan cepat dan akan menggunakan waktu yang tersisa untuk melanjutkan pekerjaannya yang kemarin tersisa. Alhamdulillah, Bu Siska mempersilakan kepada mahasiswa yang telah selesai mengerjakan kuisnya keluar dari ruangan.


"Prima, aku duluan ya, mau meneruskan pekerjaan yang kemarin," pamitnya berbisik kepada Prima.


"Asa! Silakan keluar, jangan mengganggu teman kamu yang lain!" seru Bu Siska melihat Nadia grusak-grusuk di bangkunya.


"Baik, Bu," Nadia menyahut dan segera beranjak dari ruangan dengan menggendong tas punggungnya.


Ia berjalan menyusuri koridor menuju ke ruang dosen untuk meneruskan kembali pekerjaannya. lumayan kan, karena sekarang baru pukul 11 lebih dikit dan nanti masuk mata kuliah selanjutnya pukul 13.00 WIB.


Sesampai di depan pintu ruang dosen, ia mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali lalu membukanya. Nadia melangkah masuk ada beberapa dosen yang tengah duduk di kursi di ruangan tersebut.


"Assalamu'alaikum, Pak Tomy. Apa Pak Rasya ada di ruangannya?" tanya Nadia pada salah seorang dosen yang dikenalnya.

__ADS_1


"Kamu Asa ya?" sahut Dosen tersebut malah balik bertanya.


"Iya, Pak," Nadia mengiyakan pertanyaan Pak Tomy dengan wajah sumringah.


"Pak Rasya sedang ada kelas. Tadi beliau bilang kalau Asa datang disuruh langsung masuk ke ruangan," tutur Pak Tomy melanjutkan menjawab pertanyaan Nadia.


"Terima kasih, Pak," ucap Nadia menundukkan kepala sebelum akhirnya melangkah masuk ke ruang rektor.


Nadia meletakkan tas punggungnya di sudut sofa lalu ia mendudukkan pantatnya di sofa yang sama. Tumpukan makalah yang kemarin masih di meja dengan posisi yang masih sama. Ia meraih satu makalah kemudian membacanya hingga halaman terakhir.


Azan dhuhur mulai terdengar bersahutan, tidak lama kemudian Rasya masuk ke dalam ruangan.


"Eh, sudah ada Asa di sini. Memangnya kamu tidak ada jam kuliah?" tanya Rasya yang penasaran terhadap makhluk manis yang tengah berada di ruangannya tersebut.


"Tadi jam terakhir jadwal Bu Siska ngasih kuis, Pak. Dan saya bisa mengerjakan dengan cepat. Daripada enggak tahu mau ngapain, saya ke ruangan ini saja," jawab Nadia menjelaskan.


"Kamu belum makan siang 'kan? Mau makan nasi pakai apa?" tanya Rasya yang perhatian dengan mahasiswinya tersebut.


"Eeh ... terserah Bapak saja deh," sahut Nadia tersipu. Gadis itu sebenarnya merasa sungkan dengan kebaikan sang dosen.


"Kepiting saus Padang sama udang goreng tepung, mau? Biar rona merah di pipi kamu itu tersamarkan," tawar sang dosen disertai dengan sedikit gombalan membuat pipi Nadia semakin merona seperti kuliner yang disebutkan Pak Rasya barusan.


"I iya, Pak," sahut Nadia.


Rasya pun membuka ponsel canggihnya dan segera melakukan orderan.


Sementara Prima yang tengah sendirian menikmati waktu istirahatnya, setelah menyantap makan siang di kantin ia memutuskan untuk ke perpustakaan saja. Saat ia tengah duduk di ruang baca sambil membuka buku yang ia ambil dari rak bagian novel, seorang laki-laki datang menghampirinya.


"Boleh ikut duduk di sini, Mbak?" tanya laki-laki tersebut yang suaranya seperti yang Prima kenal.


"Mas Rayan, ih! Prima kira siapa," decak Prima.


Rayan terkekeh. "Kok sendirian aja neng, satunya lagi mana, biasanya bareng terus kayak uang koin," ledek Rayan.


"Nadia ada di ruangan Pak Rasya. Dia mendapat pekerjaan untuk membantu mengoreksi tugas makalah yang waktu itu kita buat," tutur Prima menjawab pertanyaan Rayan.


Sejenak mereka terdiam hanyut dalam perasaan masing-masing.


"Prima, akhir pekan ini kita jalan bareng yuk!" ajak Rayan.


"Nanti aku tanya Nadia ya, Mas. Dia mau atau enggak?" sahut Prima.


"Enggak usah ajak Nadia. Kita berdua saja, gimana mau enggak?" bujuk Rayan.


"Ehmm .... "


.


.


.

__ADS_1


TBC


Semoga syukah, tararengkiyuh😘😘😘


__ADS_2