Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Berawal dari Impian


__ADS_3

"Kamu bantu saya untuk membuat gambar rancang bangun sebuah villa," tukas Rasya.


"Apa? Saya ini sekolah di jurusan manajemen lho, Pak," ujar Nadia menjelaskan, padahal 'kan Rasya sudah tahu, orang dia dosennya.


"Saya yakin kamu bisa, Asa. Kamu tidak sekolah di jurusan office girl saja bisa jadi OG," cibir Rasya.


"Memangnya kalau mau jadi OG harus sekolah dulu ya, Pak?" tanya Nadia, pertanyaan yang ia sudah tahu jawabannya. 'Memangnya ada sekolah jurusan office boy/girl apa, kok aku belum pernah dengar?' batin Nadia.


"Mari ikut saya, Dik!" ajak Amir.


Mereka bertiga masuk ke dalam sebuah ruangan desain, di sana sudah ada 5 orang pegawai yang bekerja. Amir meminta salah satu dari mereka untuk mengosongkan mejanya. Amir, Rasya dan Nadia duduk di kursi yang melingkar di meja.


"Sekarang tolong Pak Rasya ceritakan, konsep vila yang bapak inginkan seperti apa?" tutur Amir meminta kepada anak bosnya tersebut.


"Tanah itu berada di dekat sebuah danau yang berisi bunga teratai yang tidak terawat. Di sekitarnya ada perkebunan teh. Kalau rancangannya bisa jadi hari ini, besok pagi kita berangkat ke Bandung untuk meninjau lokasi." ungkap Pak Rasya.


Nadia yang otaknya seperti terhubung dengan kata-kata yang diucapkan oleh Rasya segera meraih kertas dan pensil yang berada di depannya. Tanpa seseorang yang memerintah, ia mulai menggambar denah yang lebih mirip sebuah sketsa.


"Villanya menghadap ke arah utara 'kan, Pak Rasya? Ke arah danau," tanya Nadia sambil terus menggambar tanpa menoleh kepada orang yang diajaknya berbicara.


Rasya malah tercengang melihat hal itu. Ia tidak menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Nadia. 'Bagaimana anak ini bisa tahu?' batinnya sambil terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh mahasiswanya tersebut.


Dua puluh menit kemudian, Nadia telah menyelesaikan denah lokasinya. "Ini rancangan denah lokasinya, Pak. Untuk rancangan bangunan villa nya saya nanti akan buat tersendiri," tutur Nadia menyodorkan kertas oret-oretannya kepada sang dosen.


Rasya meraih kertas tersebut, ia semakin tercengang melihat hasilnya. "Bagaimana bisa? Ini sama persis dengan apa yang ada di dalam pikiran saya, padahal saya belum mengatakannya," ucap Rasya tidak percaya.


"Saya cuma menuangkan apa yang ada di dalam pikiran saya saja, Pak," tutur Nadia.


'Apa mungkin kita ditakdirkan untuk berjodoh, Asa?' batin Rasya kembali bermonolog sambil memandangi gadis yang berada di hadapannya tersebut.


Nadia kembali mengambil kertas untuk membuat rancangan bangunan villa. Sementara coretan nya yang tadi sudah dibawa oleh Amir untuk diserahkan kepada pegawai bagian desain, supaya rancangan hasil rancangannya bisa dipahami oleh kontraktor.


Agak lama membuat rancangan bangunan villa tersebut. Butuh ketelitian dalam pengerjaannya. Hingga sampai waktu istirahat siang, Nadia belum menyelesaikan rancangannya.


Rasya mengajak Nadia dan Amir untuk makan di kantin kantor biar lebih dekat. Mereka tengah duduk dan menikmati makanan yang telah dipesan.


"Mir, apa kamu sudah menghubungi perusahaan kontraktor yang akan mengerjakan proyek villa kita?" tanya Rasya di sela makan siangnya.


"Belum, Pak. Ada tiga perusahaan kontraktor yang selama ini menangani proyek kita, kira-kira Pak Rasya mau pilih yang mana?" jawab Amir kemudian bertanya.


"Apa saya bisa melihat profil mereka?" tanya Rasya yang lebih tertuju kepada meminta.


Amir membuka tabletnya, membuka profil satu persatu perusahaan kontraktor langganan Baskoro Groups, lalu menyerahkan tablet tersebut kepada Rasya. Rasya menerima tablet tersebut lalu memeriksa satu per satu profil perusahaan kontraktor tersebut.

__ADS_1


"Yang sudah terbiasa menggarap tempat-tempat wisata yang mana ya, Mir?Kalau mereka sepertinya hanya spesial mengerjakan gedung-gedung bertingkat." Rasya bertanya pada bawahannya seolah ragu dengan tiga kontraktor langganan perusahaan Baskoro Groups. "Kita sekarang butuh tenaga untuk mengerjakan villa beserta taman di sekitarnya yang akan terlihat alami, Mir," imbuhnya.


"Yang PT. Muda Karya itu sudah terbiasa menangani pembangunan resort di Bali dan beberapa kota, Pak," jawab Amir.


"Oke, segera hubungi mereka dan atur waktu secepatnya untuk mengadakan meeting," perintah Rasya pada Amir.


"Siap, Pak Rasya. Berarti besok pagi kita belum bisa meninjau lokasi donk, Pak?" tanya Amir memastikan.


"Iya ya. Kita tunggu rancangannya selesai dicetak dan hasil meeting dengan pihak kontraktor saja," sahut Rasya tersenyum.


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka kembali ke ruangan Amir. Nadia melanjutkan pekerjaannya membuat rancangan bangunan villa sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, tepatnya ia teringat lokasi saat ia bermimpi bersama dengan seorang laki-laki misterius waktu itu.


"Asa, besok pagi kamu bawa laptop kamu ke sini, biar Amir bisa menginstal aplikasi rancang bangun dan designe grafis di laptop itu sekaligus mengajari kamu mengoperasikannya," perintah Pak Rasya pada Nadia.


"In sya Allah, Pak," sahut Nadia.


"Saya ingin kamu yang mendesain villa itu sampai menjadi hasil gambar seperti foto dari villa itu sendiri," timpal Rasya penuh harap.


"Apa saya bisa, Pak. Saya sama sekali belum pernah mempelajari aplikasi semacam itu. Yang saya tahu 'kan hanya ngetik makalah," ucap Nadia tidak yakin.


"Kamu pasti bisa, kali ini saja. Manfaatkan liburan kamu untuk membuatnya hingga berhasil. Setelah itu terserah kamu, mau menggunakan ilmu yang sudah kamu pelajari ini atau tidak," ucap Rasya memberikan dukungan.


"Baiklah, Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Nadia tersenyum menampilkan lesung pipitnya tanpa sanggup menatap lama orang yang mengajaknya bicara.


'Aku begitu mencintaimu, Asa, tetapi aku tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta ini di depanmu, terlalu takut untukku jika kamu ternyata menolak ku. Usiamu masih terlalu muda untukku masa depan kamu masih panjang. Mana mungkin kamu mau sama aku yang masih berstatus sebagai suami orang. Aku yakin kamu juga pasti tidak mau disebut orang sebagai pelakor,' batin Rasya pesimis.


Rasya kembali teringat saat kali pertama ia bertemu dengan Celine sekitar lebih tiga tahun yang lalu. Waktu itu ia baru saja menghadiri acara reuni akbar di Harvard University, saat ia hendak pulang menuju ke hotel tempatnya menginap, di tengah perjalanan di sebuah jembatan, seorang wanita tengah bersiap-siap untuk terjun bebas ke bawah.


Rasya menghentikan mobil sewaannya dan mendekati wanita itu. Ia bersandar pada tiang pembatas jembatan. "He, nona. Kenapa tidak jadi meloncat? Takut sakit ya?" tanya Rasya meledek.


"Siapa yang takut, ini juga lagi menghitung," jawab wanita itu.


"Aku bantu hitungkan ya? Siap?" tanya Rasya pura-pura memberi aba-aba.


Namun, dalam hitungan ke tiga wanita itu benar-benar melayangkan tubuhnya. Untung saja ia berhasil merengkuh tubuh itu sebelum benar-benar melayang hingga mereka terjatuh ke sisi jalan, untung juga saat itu tidak ada kendaraan yang lewat.


Wanita itu pingsan, entah kalau dia pura-pura pingsan. Rasya kebingungan mau memulangkan cewek itu kemana, karena wanita itu tidak membawa identitas apapun. Akhirnya ia mengangkat cewek itu, mendudukkan dirinya di kursi belakang mobil, dan membawanya ke hotel.


"Benar-benar nekat ini cewek." Rasya bergumam sambil mengemudikan mobil.


Sesampai di hotel tempatnya menginap, Rasya terpaksa harus menggendong wanita itu, membawanya masuk ke dalam kamar. Ia kini bertambah bingung karena harus segera ke bandara, sebentar lagi jadwal penerbangan pesawat kepulangannya ke Indonesia. Tiketnya sudah terlanjur dibeli. Namun, tidak etis rasanya meninggalkan seorang wanita yang sekarang sedang pingsan sendirian di hotel.


"Heh, nona bangun!" ucap Rasya menepuk-nepuk pipi perempuan itu. "Aku harus segera pulang," ucapnya lagi.

__ADS_1


Wanita itu pun tersadar, melihat ke semua sudut ruangan. "Apa aku sekarang sudah berada di surga?" lirihnya yang masih bisa didengar oleh Rasya.


"Heh, mana mungkin orang yang mati bunuh diri itu masuk surga, yang ada dia akan berada di dasar dan menjadi bahan bakar neraka tahu," cerca Rasya.


Wanita itu menoleh ke arah Rasya dan bertanya, "Siapa kamu?"


"Kamu lupa? Kalau tidak ada aku, tubuh kamu pasti sudah hancur jatuh dari ketinggian menimpa aspal dan beton," jawab Rasya.


"Kenapa kamu menyelamatkan aku? Kenapa tidak kamu biarkan aku mati saja daripada hidup harus menanggung malu? Aku hamil, sedang kekasih ku pergi entah kemana tidak mau bertanggung jawab." Wanita itu mulai menangis.


"Heh, nona. Bukankah ini negara bebas? Banyak di sini wanita yang melahirkan tanpa suami, tapi mereka bisa hidup dengan nyaman," jelas Rasya memberikan contoh.


"Itu mereka, tapi tidak dengan aku," sanggah wanita itu.


"Aku harus mengantarkan kamu pulang ke mana? Sebentar lagi pesawatku take off," tanya Rasya mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal, aku ikut kamu saja," sahut perempuan itu yang berhasil membuat mata Rasya terbelalak seketika.


"Astaga, apa kata orang tuaku nanti? Kalau sampai anaknya ini membawa pulang seorang gadis yang sedang hamil. Hadeuh ...." pekik Rasya frustrasi.


"Ya sudah, kalau enggak mau bawa aku pulang, mendingan balikin saja aku ke jembatan tadi, jatuhin langsung sekalian." Wanita itu mengancam.


"Astaga!" Rasya benar-benar frustrasi kali ini.


Di rumah ibunya selalu mendesaknya untuk segera menikah, usianya hampir 29 tahun tetapi dia belum juga pernah membawa calon istri ke rumahnya. Sementara adik perempuannya sudah memiliki 2 anak dan sedang mengandung anak ketiganya.


Ibunya pernah bilang, jika Rasya berhasil membawa seorang gadis pulang ke rumah maka ia akan segera dinikahkan dengan gadis tersebut. Masa iya Rasya akan menikah dengan wanita yang sudah menjadi sisa orang lain, bahkan namanya saja ia belum mengenalnya. Sementara di luar sana banyak sekali gadis-gadis yang mengejar-ngejar nya, tetapi ia tidak mau meliriknya satupun, karena kebanyakan dari mereka hanya mengincar harta dan ketampanannya saja.


"Maaf, Pak Rasya," panggil Amir yang seketika membuyarkan lamunan pria tersebut.


"Eh, iya. Ada apa, Mir?" tanya Rasya.


"Saya sudah menghubungi pihak PT. Muda Karya, katanya besok siang utusan dari perusahaan itu akan datang ke kantor ini untuk mengadakan meeting, apa bapak menyetujuinya?" jawab Amir meminta pendapat dari atasannya.


"Oke, besok siang jam satu. Kamu persiapkan berkas kerjasamanya!" perintah Pak Rasya.


"Baik, Pak. Akan segera saya siapkan," sahut Amir.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2