Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Bungkam


__ADS_3

"Saya sudah menghubungi pihak PT. Muda Karya, katanya besok siang utusan dari perusahaan itu akan datang ke kantor ini untuk mengadakan meeting, apa bapak menyetujuinya?" jawab Amir meminta pendapat dari atasannya.


"Oke, besok siang jam satu. Kamu persiapkan berkas kerjasamanya!" perintah Pak Rasya.


"Baik, Pak. Akan segera saya siapkan," sahut Amir.


Waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Rasya kembali memperhatikan mahasiswi kesayangannya yang belum selesai menggambar rancangan bangunan villa. Terbersit rasa kasihan di dalam hatinya.


"Sudah sore, Asa. Sudah waktunya untuk pulang. Kamu lanjutkan besok pagi saja," perintah Rasya.


"Saya bawa pulang saja ya, Pak. Mungkin nanti malam bisa saya lanjutkan," cetus Nadia memohon penuh harap.


"Iya, terserah kamu saja," jawab Rasya tersenyum. "Ayo, saya antar kamu sampai ke tempat kost," tawarnya yang tidak mau dibantah. Nadia masih diam. "Kamu ingat waktu itu saat tawaranku kamu tolak kan, Asa? Apa yang terjadi?" Ancam Rasya mengingatkan kembali pada kejadian saat Nadia yang hendak dilecehkan oleh tiga orang preman.


Sebenarnya bukan masalah bagi Nadia pulang dengan ojol ke tempat kost nya. Ia tidak takut walau harus bertarung melawan preman sekalipun, justru ia malah takut jika berdekatan dengan Rasya maka penyakit jantungnya akan kambuh, bahkan bisa saja penyakit-penyakit lain ikut menyertai seperti gugup dan tangan gemetaran.


Namun, apalah daya keinginan sang dosen untuk melindunginya begitu kuat, sehingga mau tidak mau ia pun harus nurut terhadapnya. Nadia hanya mengangguk sebagai jawaban.


Rasya melangkah ke luar lebih dahulu, sementara Nadia berjalan di belakangnya. Nadia juga mengikuti Rasya masuk ke dalam lift khusus direksi. Keluar dari lift mereka sudah berada di lobi, Rasya terus melangkah menuju ke halaman. Mobil Rasya sudah dipersiapkan oleh satpam di sana.


Pak satpam membukakan pintu untuk Rasya di samping kanan kemudi. Rasya masuk dan duduk. Kemudian Pak satpam membukakan pintu depan kiri untuk Nadia. Nadia pun masuk dan duduk di samping kursi kemudi.


"Pakai sabuk pengamannya, Asa!" pinta Rasya. Nadia pun segera memakainya, ia takut kalau ada adegan seperti di drama Korea atau di novel yang ia baca, si pria akan mendekati wanita dengan sangat dekat hanya untuk memakaikan sabuk pengaman.


"Sudah," sahut Nadia.


Rasya pun tersenyum getir sambil mulai melajukan mobil. 'Harusnya 'kan kamu enggak bisa memakai sabuk pengaman itu, Sayang. Biar aku yang memakaikannya.' sesal Rasya dalam hati. Ih, ngarep banget. Cuma memakaikan sabuk saja sampai ngarep begitu. Rasya ... Rasya ....


"Pak," panggil Nadia serasa tidak enak.


"Iya, Asa?" sahut Rasya tanpa menoleh pada gadis di sampingnya seperti bertanya.


"Emmm ..." Nadia hendak menanyakan sesuatu tetapi nampak sedikit ragu.


Rasya pun akhirnya menoleh, tetapi tetap fokus menyetir. "Ada apa, Asa, hemm ... ?" tanyanya.


"Eh ... tidak jadi, Pak," sahut Nadia cepat.


Rasya kembali tersenyum mendengar jawaban Nadia, "Aneh," batinnya.


Kini mereka telah sampai di halaman tempat kost Nadia.


"Besok setengah delapan saya jemput," tukas Rasya.


"Iya, Pak," sahut Nadia.


Rasya melajukan mobilnya kembali ke jalan besar. Nadia memandangi mobil tersebut hingga hilang di kejauhan, lalu melangkah menuju ke rumah. Masuk ke dalam rumah langsung menuju ke dalam kamarnya. Nadia menghempaskan tubuhnya di kasur.


"Pak Rasya, kenapa aku malah semakin dekat dengannya? Kenapa pekerjaanku harus pindah ke ruangan Pak Amir?" Nadia hanya melontarkan pertanyaan pada diri sendiri yang ia sendiri tidak tahu jawabannya.


"Kalau harus memantau pembangunan villa, berarti aku dan Pak Rasya akan sering ketemu dan bersama. Lalu bagaimana dengan istrinya? Apa dia tidak cemburu?" Kembali Nadia bertanya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Hah, pusing memikirkan hubungan orang lain, lebih baik aku mandi saja biar tubuhku fresh," gumamnya.


Nadia menyambar handuk yang tergantung pada kapstok, lalu mengambil baju ganti dan segera keluar dari kamar menuju ke kamar mandi yang ada di belakang untuk mandi.


Malam harinya ketika Nadia sedang makan malam dengan Mbak Rumi.


"Nad, kamu tadi siang seperti diantar oleh Pak Rasya?" terka Mbak Rumi.


"Iya, Mbak. Aku magang di kantor dia," jawab Nadia.


"Tapi, menurut Mbak nggak mungkin kalau hanya hubungan kalian cuma atasan dengan bawahan," ungkap Mbak Rumi menaruh curiga.


"Maksud Mbak Rumi apa?" Tanya Nadia tidak mengerti.


"Mbak yakin kalau Pak Rasya itu sebenarnya menaruh hati sama kamu. Mbak bisa melihat dari cara dia memandang kamu."


Seketika hampir saja makanan yang masih dikunyah oleh Nadia tersembur keluar. Ia pun segera meneguk air putih.


"Dia kan sudah punya istri dan anak, Mbak," seringai Nadia mencoba mengelak.


Mereka kembali melanjutkan makannya hingga selesai tanpa berbicara lagi.


Nadia kembali melanjutkan pekerjaan menggambar desain bangunan villa. Dari gambar nampak dari luar, denah ruang hingga, desain interior setiap ruangan, bahkan hingga ke toilet dia gambar satu per satu.


Kantuknya sudah tidak tertahankan saat ia melirik jarum pendek jam yang ada di dinding menunjuk ke arah angka 12. Ia pun segera merapikan kertas-kertas yang berserakan dan memasukan kembali ke dalam tas. Tidak lupa ia juga memasukkan laptop ke dalam tas yang sama agar besok pagi ia tidak sampai lupa untuk membawa laptop tersebut.


*****


"Anak Papa kok makan sendirian?" sapa Rasya mengacak rambut putrinya, lalu duduk di kursi sampingnya.


Rasya menyadari kalau Tiara bukan darah dagingnya, tetapi ia sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.


"Papa kelja?" tanya Tiara dengan cadelnya.


"Iya, Sayang," sahutnya seraya membuka piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur.


"Aya mau mama, mommy akal cuka malah Aya," tutur Tiara menatap sang Papa.


"Iya, Sayang. Papa lagi usaha cari mama buat kamu. Do'akan Papa ya," ungkap Rasya tersenyum meminta dukungan sama putrinya.


"He'eh," sahut Tiara singkat dengan tersenyum pula.


Rasya menikmati sarapan paginya hanya ditemani Tiara. Setelah makanannya hampir habis, barulah penghuni rumah yang lain bermunculan di ruang makan tersebut.


"Tumben papanya Tiara udah rapi paling awal?" Tanya Rayan pada putri kecil itu.


"Papa cali mama, Om," jawab Tiara jujur.


Rasya hanya tersenyum mendengar jawaban putrinya.


"Pak, Rasya mau bangun villa di tanah kita yang dekat perkebunan teh di Bandung," ungkap Rasya meminta ijin pada Pak Baskoro.

__ADS_1


"Bapak terserah sama kamu, Rasya. Itu kan tanah milik kamu," sahut Pak Baskoro. "Lalu kapan rencana pembangunannya?" imbuhnya bertanya.


"Mungkin besok pagi sudah bisa dimulai, Pak. Nanti siang dari pihak kontraktor akan datang ke kantor untuk menandatangani surat perjanjian kerjasama. Dan rancangan bangunan sedang dibuat oleh Nadia dibantu oleh Amir," jawab Rasya panjang lebar.


"Jadi, Mas Rasya sudah tahu kalau Nadia kerja di kantor kita?" sergah Rayan.


"Kamu jahat banget sih, Ray. Masa gadis itu kamu jadikan OG," cerca Rayan.


"Pak Andi bilang tidak ada lowongan sama sekali, Mas. Itu juga ada lowongan OG kebetulan pas ada pegawai lagi cuti melahirkan," kilah Rayan.


"Hahaha, calon mama Tiara ternyata jadi OG," sela Bu Nastiti tertawa menggoda Tiara. Pak Baskoro ikut tersenyum.


"Rasya sudah pindahkan dia di ruangannya Amir kok, Bu. Rasya ingin dia yang merancang keseluruhan bangunan villa yang akan ku bangun nanti," tutur Rasya.


"Padahal kemarin Rayan sudah minta sama Pak Andi untuk tidak menempatkan Nadia di lantai 12 dan lantai 7. Ternyata bisa ketahuan juga, hahaha ...." kekeh Rayan.


Rasya telah selesai menyantap sarapan paginya.


"Rasya berangkat duluan ya, Pak, Bu. Mau jemput Asa dulu soalnya," pamit Rasya mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Asa? Siapa lagi tuh?" tanya Bu Nastiti yang baru mendengar nama itu disebut.


"Nadia, Bu. Namanya panjangnya Asa Nahdiana," jawab Rasya.


Setelah menjawab pertanyaan ibunya, Rasya menyempatkan diri untuk mengacak rambut Tiara kembali sebelum akhirnya keluar dari dalam rumah dan mengemudikan mobilnya menuju ke tempat kost Nadia.


Posisi jarum panjang jam tidak begitu jauh meninggalkan angka enam saat mobil Rasya terparkir di halaman rumah kost Nadia. Tidak menunggu lama kemudian gadis itu keluar dengan memakai setelan yang nampak chik jika dipandang, meskipun pakaian yang ia pakai adalah baju no brand serba 35 ribu.


Rasya keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu bagian depan untuk pujaan hatinya. Lalu ia kembali lagi mengitari bagian depan mobil untuk duduk di kursi kemudi.


"Laptopnya, jangan lupa dibawa ya, Asa," ucap Rasya mengingatkan.


"Sudah di dalam tas, Pak," sahut Nadia.


"Baguslah," timpalnya.


Rasya baru menjalankan mobilnya setelah memastikan bahwa Nadia membawa laptopnya.


"Bagaimana dengan rancangan kamu? Sudah selesai?" tanyanya lagi sambil terus fokus mengemudikan mobil.


"Sudah, Pak. Tinggal desain interior per ruangan saja, nanti sekalian setelah bisa pakai laptop," jawab Nadia lagi.


Sampai di depan kantor Rasya keluar dari dalam mobil. "Ayo keluar, biar satpam yang bawa mobilnya ke basemen," ajaknya.


Nadia pun ikut keluar. Rasya menunggu langkah Nadia agar sejajar dengan dia. Namun, sepertinya anak itu rikuh untuk berjalan di samping Pak Dosen. Akhirnya dengan sangat terpaksa Rasya mempercepat langkahnya hingga gadis itu nampak kewalahan mengimbangi langkah Pak Dosen sekaligus bosnya.


Sampai di dalam lift pun Nadia masih saja mengambil tempat di belakang Rasya, ia lebih suka memandangi punggung pria itu daripada harus bersitatap dengan matanya. Mereka hanya bungkam tanpa seorangpun yang berbicara. Berbicara dengan hatinya sendiri


'Apa benar yang dikatakan Mbak Rumi kalau Pak Rasya menyukaiku? Ah, mungkin Mbak Rumi cuma menebar angin surga di hatiku saja. Kalau kenyataannya Pak Rasya hanya kasihan terhadapku saja, maka aku akan sangat kecewa dibuatnya.' Nadia berbicara sendiri di dalam hati sambil memandangi punggung pria tersebut yang tengah menghadap ke pintu lift.


'Asa, andai kamu tahu, hanya sebuah asa yang ingin kulakukan padamu. Aku ingin segera memiliki mu. Namun, tidak satupun kata yang mampu lolos dari bibir ini untuk menyampaikan itu, lidahku rasanya kelu.' Rasya pun membatin sambil menatap pantulan bayangan Nadia yang ada di dalam pintu lift berbahan stainless steel itu. Namun, Nadia sama sekali tidak menyadari hal itu.

__ADS_1


__ADS_2