Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Lusi Beraksi


__ADS_3

Rasya hanya menginap selama satu malam di rumah sakit, besok siangnya ia sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Ia belum berangkat ke kampus melainkan beristirahat di rumah. Sementara Nadia berangkat kuliah diantar oleh Pak Supri.


Sesuai yang dia bilang kepada Pak Supri bahwa ia akan pulang ke kostan karena besok pagi Pak Supri pamit akan mengantar Pak Baskoro ke luar kota. Nadia hari ini benar-benar pulang ke rumah Mbak Rumi. Ia menghubungi Rasya.


"Ada apa?" tanya Rasya langsung sesaat setelah menggeser ikon berwarna hijau.


"Wa'alaikumussalam," sindir Nadia terhadap Rasya yang lupa mengucap salam. "Aku pulang ke kostan, Pak," ucap Nadia pada inti tujuannya menelepon.


"Kenapa? Nggak mungkin kalau kamu kangen sama Rumi," sergah Rasya.


"Pak Supri bilang besok pagi enggak bisa nganterin aku, jadi sekalian saja aku nginap di sini biar besok berangkatnya enggak kapiran," ungkap Nadia.


"Kamu bisa naik motor 'kan?" tanya Rasya lagi.


"Bisa, tapi aku kan enggak hafal jalan," sahut Nadia.


"Ponsel kamu itu sudah canggih, Nanad. Kamu 'kan bisa pakai google map. Sudah diam di situ jangan kemana-mana, aku jemput," tukas Rasya yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Ih, ni orang suka maksa deh," gerutu Nadia.


"Kenapa ngomel-ngomel, makan dulu gih. Kalau perut kamu kenyang 'kan bakal tenang," ucap Mbak Rumi yang tiba-tiba saja sudah berada di depan Nadia membuat Nadia kaget, karena saat ini Nadia sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Mbak Rumi ini ngagetin aja kaya jelangkung," sungut Nadia. "Enggak ah, bentar lagi Pak Rasya mau jemput, pasti nanti bakal mampir ke tempat makan," imbuhnya berharap.


"Kalau nanti enggak seperti yang kamu harapkan, kamu bisa kelaparan loh," timpal Mbak Rumi.


"Enggak apa-apa, aku kan bisa minum air mineral sepuasnya, hehehe," sahut Nadia terkekeh. "Aku mau meluruskan punggung sebentar di kamar ah, Mbak. Nanti kalau Pak Rasya datang bangunin aku ya," imbuh Nadia pamit. Ia pun segera hengkang menuju ke kamarnya.


*****


Sementara di rumah Pak Baskoro, Tiara sedang menunggu Mama Nanad pulang tetapi tidak kunjung juga.


"Yangti, Mama Nanad mana?" tanya Tiara pada sang eyang yang sedang duduk di taman.


"Belum pulang, Sayang. Mungkin lagi di perjalanan kemari," ucap Bu Nastiti menjawab pertanyaan Tiara.


"Yangti, ajak Mama Nanad calon," cetus Tiara membujuk eyang putrinya untuk mengajak Nadia ke salon.


"Tiara mau ajak Mama Nanad ke salon?" tanya Bu Nastiti memastikan. Tiara mengangguk.


"Mama Pipim uga," timpal Tiara.


"Baiklah, sebentar ya Yangti telepon dulu mereka, ada waktu atau tidak?" ucap Bu Nastiti menjawab ajakan Tiara.


Saat itu Rasya baru saja turun dari anak tangga.


"Rasya, mau kemana kamu, baru saja keluar dari rumah sakit," ucap Bu Nastiti beralih pada Rasya dengan menggeleng pelan.


"Rasya mau jemput Nadia, Bu. Dia pulang ke kostan sekarang," sahut Rasya.


"Oh, biar ibu saja yang jemput sekalian mau mengajaknya dan Prima ke salon," ungkap Bu Nastiti.


"Kita bareng saja, Bu. Sekalian Rasya juga sudah lama enggak ke salon," timpal Rasya.


Tiba-tiba Lusi - baby sitter yang dibayar untuk mengasuh Tiara nyelonong masuk ke ruang tengah ikut nimbrung.


"Lusi boleh ikut enggak, Bu. Lusi kan juga pengen ke salon," celetuk Lusi.

__ADS_1


"Uci di lumah aja cama Nina," seru Tiara menolak Lusi untuk ikut.


"Iya Lusi mendingan di rumah saja ya, bantu Mbak Nina memasak, maaf ya mobilnya hanya cukup untuk empat orang," ucap Bu Nastiti sungkan.


Wajah Lusi yang semula ceria berubah menjadi masam. 'Apa istimewanya sih gadis kurus itu? Lihat saja, aku akan mendapatkan Mas Rasya dengan caraku,' gerutu Lusi licik di dalam hati.


"Ibu ambil tas di kamar dulu ya. Tunggu Yangti di mobil saja, Sayang. Tiara sama papa," ucap Bu Nastiti pada Rasya lalu beralih pada Tiara.


"Ayo, Sayang. Kita tunggu Yangti di mobil," ajak Rasya yang langsung membopong tubuh kecil Tiara seperti pesawat terbang yang sedang meluncur meninggalkan ruang tengah. Tiara tertawa cekikikan dengan perlakuan sang papa.


"Pecawat telbang Tiaya meluncul hihihi," seru Tiara terkekeh.


Lusi meninggalkan ruang tengah dengan wajah penuh kesal. Ia tidak ke dapur untuk membantu Nina memasak, melainkan pergi ke kamarnya. Ia telah merencanakan sesuatu, dan sekarang ia sedang menghubungi salah seorang temannya yang bekerja sebagai apoteker.


"Ada apa? Aku lagi kerja," tanya temannya tersebut.


"Aku butuh sesuatu segera, aku kirim via chat. Kita ketemu di tempat biasa 15 menit dari sekarang," tukas Lusi yang langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.


Setelah mengambil tasnya Bu Nastiti langsung ke luar dari kamar, melangkah menuju ke dapur untuk berpamitan sama Nina.


"Nin, ibu mau ke salon. Kamu sama Lusi di rumah saja ya," pamit Bu Nastiti.


"Siap, Bu. Jangan lupa oleh-olehnya," canda Nina.


"Kalau habis dari salon apa oleh-olehnya, Nin? Oh iya, Lusinya mana? Padahal tadi aku suruh buat bantu kamu," tanya Bu Nastiti yang tidak melihat keberadaan baby sitter Tiara di dapur.


"Dia itu tangannya alusan, Bu. Mana mau menginjakkan kaki di dapur?" sindir Nina.


"Kan yang nginjak kaki bukan tangan. Dah ah, ibu berangkat ya," sahut Bu Nastiti bercanda dan pamit.


Bu Nastiti pun segera meninggalkan dapur, keluar menuju halaman, Rasya dan Tiara sudah menunggu di sana. Ia masuk dan duduk di kursi depan yang sudah ada Tiara di sana.


Tiara pun menurut. Rasya segera menjalankan mobil.


"Yangti Yangti, Aya ga mau cama Uci, Uci akal," ungkap Tiara.


"Tiara enggak boleh gitu sama orang, kalau bukan sama Mbak Lusi, terus Tiara maunya sama siapa?" Bu Nastiti menasehati.


"Cama Mama Nanad. Uci cama taya momy akal, cuka pukul Aya," ungkap Tiara lagi.


"Mama Nanad 'kan kuliah, Sayang," ucap Bu Nastiti memberikan pengertian.


"Mama Pipim oleh," usul Tiara lagi.


"Hahaha ... Tiara Tiara, Mama Pipim juga sama kayak Mama Nanad, Sayang. Kuliah juga," timpal Bu Nastiti.


"Aya ga mau cama Uci, ga mau ga mau ga mau," teriak Tiara menangis.


"Iya iya, Tiara sama Yangti saja ya, mau?" bujuk Bu Nastiti. Tiara mengangguk.


"Padahal Rasya ambil di yayasan loh si Uci itu," timpal Rasya.


"Kita kembalikan saja dia ke yayasan tempatnya diambil. Kita minta ganti baby sitter yang baru, bisa tidak ya?" cetus Bu Nastiti.


"Tidak bisa segampang itu, Bu. Kita harus punya bukti yang kuat atas tindakan yang kita tuduhkan itu benar atau tidak," timpal Rasya.


"Mana yang sakit, Sayang? Mananya yang dipukul sama Mbak Lusi?" cecar Bu Nastiti beralih kepada Tiara.

__ADS_1


"Cini Yangti," jawab Tiara menunjukkan pahanya.


Bu Nastiti langsung membuka celana yang dipakai Tiara. Nampak tanda bekas pukulan berwarna merah jelas terlihat di sana, mungkin karena kulit Tiara yang putih bersih. "Ini kalau dipegang sakit, Sayang?" tanyanya pada Tiara.


Tiara pun mengangguk. Bu Nastiti merogoh ponselnya dan mengabadikan bekas tanda kena pukul tersebut dengan kamera ponselnya. "Kayaknya ini cukup sebagai barang bukti ke yayasan," tandasnya. "Coba nanti kamu periksa cctv di rumah, mungkin juga bisa memperkuat bukti. Ini sih namanya tindakan kekerasan, Sya. Jangan sampai Tiara mendapatkan perlakuan kasar yang lebih parah dari ini, ibu jadi takut," imbuh Bu Nastiti khawatir.


Mobil yang dikemudikan Rasya sampai di halaman rumah kost Nadia, Tiara telah tertidur pulas. Rasya menekan klakson agar Nadia lekas keluar. Namun, bukannya Nadia yang keluar melainkan Mbak Rumi.


"Nadia baru saja masuk ke dalam kamar, mungkin dia tertidur. Tunggu sebentar ya, biar saya bangunkan," seru Mbak Rumi dari depan pintu.


Mbak Rumi segera masuk ke dalam rumah kembali untuk membangunkan Nadia. Sepuluh menit kemudian barulah Nadia yang keluar dari dalam rumah. Ia langsung masuk dan duduk di kursi penumpang.


"Udah dibilang mau dijemput langsung kenapa pakai tidur segala sih?" gerutu Rasya.


"Sssttt ... Rasya sudah jalan saja, enggak usah dibahas," sela Bu Nastiti menasehati anaknya.


Rasya langsung menjalankan kembali mobilnya meninggalkan halaman rumah kost Nadia.


"Orang capek dan ngantuk masa enggak boleh istirahat, entar kalau sakit masih diomelin juga. Memang susah ya jadi murid kesayangan dosen," gerutu Nadia bangga sambil meringkukkan tubuhnya di kursi. Ia melanjutkan tidurnya kembali tanpa mempedulikan sorot mata tajam Rasya dari kaca spion dalam.


Lima belas menit kemudian mobil tersebut telah sampai di halaman rumah orang tua Prima. Prima yang sudah menunggu di depan rumah langsung membuka pintu belakang mobil. Namun, saat ia mau duduk malah mendapati kursi penumpang penuh dengan tubuh Nadia yang tidur meringkuk.


"Nanad, bangun donk. Gimana aku bisa duduk kalau kamu tidur gini?" ucap Prima menepuk-nepuk punggung Nadia.


Nadia bergeming masih terlelap dalam tidurnya. Prima dengan terpaksa mengangkat kepala Nadia dan memangkunya setelah ia duduk di kursi.


"Sudah, Pak. Jalan saja," ucap Prima pada Rasya. "Ini anak kalau tidur kok ngebo gini sih, ditoel-toel juga nggak terusik sama sekali," imbuh Prima menggerutu.


Rasya kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah orang tua Prima.


"Kita ke spa yang ada di mall saja ya, Bu," cetus Rasya meminta persetujuan dari sang ibu.


"Iya boleh. Nanti sekalian belanja keperluan dapur sepertinya sudah mulai pada habis," sahut Bu Nastiti.


Beberapa menit kemudian mobil yang dikemudikan oleh Rasya memasuki area sebuah mall. Hingga mobil sampai di basemen parkir mall tersebut, tetapi Nadia belum mau membuka matanya.


"Nanad, bangun sudah sampai," ucap Prima menggoyangkan bahu Nadia mencoba untuk membangunkan. Nadia tetap bergeming.


Akhirnya Prima mengangkat kepala Nadia dari pangkuannya supaya ia bisa keluar. Ia membuka pintu dan keluar dari mobil tanpa menutupnya kembali. Prima membuka pintu depan untuk menggendong Tiara yang juga tengah tertidur.


"Tiara, sama Mama Pipim yuk. Yangti pasti capek," ucap Prima seraya meraih tubuh kecil Tiara ke dalam gendongannya. "Ayo Bu, silakan keluar," imbuhnya.


"Yuk kita duluan saja, biar Nadia dibangunkan sama Rasya," sahut Bu Nastiti.


Bu Nastiti dan Prima yang menggendong Tiara masuk ke dalam lift yang ada di basemen. Tinggallah kini Rasya dan Nadia. Rasya melangkah menuju ke pintu mobil yang dibuka oleh Prima, mencoba untuk membangunkan Nadia.


"Sayang, bangun he," ucapnya menepuk-nepuk pipi Nadia berulang kali.


"Euhh ..." Hanya lenguhan yang keluar dari mulut Nadia. Nadia malah mengubah posisi tidurnya menjadi telentang hingga separo kepalanya turun dari jok dengan bibir sedikit terbuka, membuat Rasya menjadi terpancing untuk menciumnya.


"Kamu sengaja menggoda Mas Rasya?"


Dengan tersenyum jahil Rasya mencondongkan tubuhnya ke dalam, mendekatkan bibirnya ke bibir ranum yang menggoda tersebut dan ....


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2