
"Ini kamar siapa, Sayang?" tanya Rasya pada Nadia.
"Kamar buat Kang Nadhif, dari kemarin siang ditempati sama Mbak Rumi dan suaminya," jawab Nadia.
"Kayaknya habis dipakai buat anuan," terka Rasya. "Kita ikutan anuan di sini, Yuk! Mas kayaknya engga sanggup untuk menunggu sampai nanti malam," ajaknya tersenyum menyeringai. "Atau kita latihan dulu, yuk! Biar nanti malam sudah hafal," imbuhnya menawarkan.
"Latihan?"
Nadia membelalakkan matanya.Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Di luar masih banyak tamu kok bisa-bisanya punya pikiran mesum kayak gitu.
"Mendingan kita keluar menyapa para tamu, Mas," cetus Nadia yang tidak setuju dengan usulan suaminya.
"Mas nggak ngundang siapa-siapa. Kamu pasti juga begitu, kan? Mereka itu tamunya Mamak," kilah Rasya.
"Setidaknya hormatilah keluarga kita sampai mereka pulang kembali," pinta Nadia mengingatkan. "Keluar yuk! Enggak enak banyak orang di luar kok kita malah sembunyi. Mereka datang kan untuk kita, Mas. Memberikan do'a untuk pernikahan kita. Harusnya kita berterimakasih kepada mereka," bujuknya sembari bangkit merapikan pakaiannya.
Nadia pun menarik tangan Rasya untuk bangun. Rasya pun akhirnya bangun lalu langsung berdiri.
"Sebentar, Sayang!" cegah Rasya. Ia langsung menarik tengkuk Nadia lalu mendaratkan ciuman di bibir gadis yang sudah bebas dari pewarna bibir buatan tersebut.
"Sebelum perias merapikan kembali dandanan kamu," ucapnya tersenyum menyeringai.
"Udah?" tanya Nadia memastikan.
"Udah," sahut Rasya disertai anggukan. "Yuk," ajaknya.
Sampai di ruang depan, mereka dicegah oleh perias pengantin yang langsung merapikan kembali dandanan Nadia. Lalu mengiring mereka berdua untuk duduk di kursi pelaminan. Mereka melanjutkan acara yang tadi pagi sempat tertunda, termasuk foto-foto dan tukar cincin.
*****
Menjelang sore hari, rombongan pengiring pengantin pria akan kembali ke Jakarta. Begitu pula dengan Edos dan Tania yang menghadiri pernikahan Nadia hanya mampir, karena tujuan utama mereka adalah kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan kuliah. Mbak Rumi dan Mas Har juga ikut dalam rombongan, menumpang di mobil yang masih longgar. Mereka sedang berpamitan di ruang depan.
"Maafkan Ibu, Sayang," ucap Bu Nastiti memeluk menantu barunya. Ia adalah dalang di balik pernikahan Nadia dan Rasya.
"Tidak, Bu. Harusnya Nanad berterima kasih sama Ibu," balas Nadia. "Kapan ibu kemari? Kok ibu tahu alamat rumah Nadia?" cecarnya. Nadia pun merenggangkan pelukannya.
"Kamu ingat 'kan Bapak dan Ibu ke Kendal?Kami minta kepada Supri untuk diantarkan mampir ke sini terlebih dahulu. Ibu sama Bapak kan perginya bareng Supri, sopir yang waktu itu ngantar Mas Rasya buat jemput kamu. Ibu sama Bapak sih tidak tahu alamat rumah kamu, tetapi Supri yang jadi petunjuk jalan buat kami sehingga sampai ke sini. Lalu kedatangan kami ke sini diterima baik oleh mamak kamu dan kami bekerja sama untuk merahasiakan ini dari kamu dan Rasya. Ternyata berhasil," ungkap Bu Nastiti tersenyum.
"Kok Ibu bisa yakin kalau Nanad mau menjalani pernikahan ini? Bagaimana kalau Nanad minggat?" cecar Nadia lagi.
"Ibu tahu kalau kamu ini anak yang patuh kepada kedua orang tua. Jadi ibu berharap kamu juga bisa patuh pada suami kamu," harap Bu Nastiti melirik ke arah anak sulungnya. Nadia pun mengikuti arah pandang ibu mertuanya dan mendapati Rasya yang bergabung dengan kaum laki-laki sedang memangku Tiara tersenyum manis kepadanya.
"Sudah yuk, Bu! Sambung lain kali lagi kalau Nadia sudah di Jakarta," sela Pak Baskoro. "Nanti kita bisa kemalaman sampai di rumah," imbuhnya lagi khawatir.
"Ibu pamit ya, Sayang. Titip anak sulung Ibu," ucap Bu Nastiti kembali memeluk Nadia.
"In sya Allah, Bu," sahut Nadia tersenyum tulus.
"Ayo Tiara Sayang, sama Yangti. Kita pulang," ajak Bu Nastiti beralih pada Tiara yang masih bergelayut manja pada sang papa.
__ADS_1
Bu Nastiti merengkuh tubuh Tiara ke dalam gendongannya. Mereka keluar dari dalam rumah. Nadia dan Rasya mengantar kepulangan mereka hanya sampai di halaman. Perlahan-lahan mobil rombongan meninggalkan halaman rumah Mamak.
Rasya memegang kedua bahu Nadia dari belakang, mendorongnya agar masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju ke dalam kamar.
"Kayak lagi main sepur-sepuran bae," celetuk Nadia.
"Sepur sih apa kunuh?" tanya Rasya menirukan logat Indramayu.
"Wong Jawa blih ngarti sepur? Sepur itu kereta api," sahut Nadia.
"Sayang, sekarang para tamu sudah pada pulang, Mas udah boleh kan anuan sama kamu," tanya Rasya sekaligus meminta. Mereka kini tengah berdiri berhadap-hadapan di dalam kamar. Nadia mengangguk pelan.
"Boleh atau tidak? Kok enggak jelas gitu?" Tanya Rasya memastikan.
Nadia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur springbed, lalu menutupinya dengan selimut sambil menjawab, "auk ah!" Nadia masih merasa malu untuk berterus terang.
Mendapatkan sinyal lampu hijau, Rasya pun ikut berbaring di samping Nadia. "Panas-panas begini kok pakai selimut sih, Sayang?" ucapnya sembari menarik selimut yang menyelimuti tubuh gadis yang sekarang menjadi istrinya.
"AC kamar ini dingin," jawab Nadia sekenanya.
Karena selimutnya sudah berpindah entah kemana, Nadia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya ia kini begitu malu. 'Biasanya mau cium, mau peluk enggak minta ijin, kenapa ketika sekarang sudah sah jadi suami istri malah pakai minta ijin segala sih?' gerutu Nadia dalam hati.
"Heh, kenapa ditutup lagi muka kamu, Sayang?" tanya Rasya menyingkirkan tangan Nadia dari wajahnya.
Tidak tahu lagi harus menutupi wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus karena tersipu malu itu dengan apalagi, Nadia kini membalikan badannya membelakangi Rasya. Rasya dengan cekatan melepas kerudung yang membalut kepala istrinya tersebut, lalu membalikkan badan gadis itu agar menghadapnya.
Nadia kini hanya bisa pasrah ketika bibir Rasya mulai singgah di bibirnya. Sementara tangan pria tersebut mulai bergerilya menerobos kain blus yang dipakai Nadia mencari benda kembar yang menyembul di dalam sana, memainkannya seperti bermain squisy. Lenguhan Nadia pun lolos juga sebagai reaksi adanya gelenyar aneh yang kini dirasakan olehnya.
Rasya membuka mata setelah beberapa saat terlelap. Nadia masih saja menangis terisak.
"Kenapa masih menangis, hemmm? Kamu menyesal sudah menyerahkan semuanya sama Mas?" cecar Rasya yang bingung dengan sikap istrinya.
"Tidak," jawab Nadia singkat.
"Lalu kenapa? Masih mau lagi?" Rasya malah menggoda perempuan itu seraya mengeratkan pelukannya dan mengendus-endus di belakang tengkuknya.
Tangan kanan Nadia reflek memukul tangan Rasya seraya berkata, "Sakit tahu!"
"Awalnya memang sakit, Sayang. Tapi nanti lama-kelamaan kamu bakal ketagihan," timpal Rasya. "Mana yang sakit? Mas elus-elus," imbuhnya bertanya dengan gerakan tangan menyusup ke dalam bagian yang dimaksud Nadia. Cubitan kembali mendarat di tangan Rasya.
"Wadau, selalu saja mencubit," cerca Rasya.
"Itu sih belum seberapa sakitnya," cela Nadia.
"Memangnya lebih sakit mana sih, Sayang? ditusuk di perut atau ditusuk yang di bawah perut?" Rasya kembali bertanya
"Ya sakit ditusuk di perut lah. Orang pas habis ditusuk si perut langsung koma, berarti kan memang sakit banget," tutur Nadia menjawab pertanyaan Rasya.
"Kalau di tusuk di bawah perut biarpun sakit, tetapi enak kan? Lagi yuk! Biar sekalian sakit dan mandinya." Rasya kembali menggoda dengan tersenyum menyeringai. Nadia pun membelalakkan matanya.
__ADS_1
Nadia membalikkan badannya. "Ini sudah hampir maghrib loh, Mas. Kita juga belum mandi lagi." Nadia mengingatkan. "Mas mandi dulu gih sana! Kalau nungguin aku mandi bakalan lama," suruhnya.
"Kita mandi bareng saja yuk! Kayaknya asik, mumpung kita masih jadi pengantin, biar ada kenangannya," cetus Rasya tersenyum menyeringai.
"Enggak! Kalau mandi bareng yang ada kita malah bakal melewatkan waktu maghrib," tolak Nadia.
"Ya udah, mas mandi duluan," pamit Rasya seraya bangkit dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun menghampiri lemari pakaian.
Nadia menutupi matanya dengan jemarinya melihat pemandangan yang sebelumya belum pernah ia lihat. Rasya tersenyum melihat reaksi istrinya itu, lalu mengambil sarung batik yang ia gantung di dalam lemari dan memakainya.
Rasya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia keluar lagi dengan handuk melilit di pinggang, dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia menghampiri ranjang.
"Ayo giliran kamu yang mandi! Mas sudah siapkan air hangat untuk berendam," ujar Rasya.
Nadia menoleh ke arah Rasya yang terlihat seksi dan memesona. Dengan rambutnya yang basah semakin menambah kadar ketampanan pak dosen yang terpaut usia 14 tahun darinya tersebut. Dosen yang dulu bagi Nadia bagaikan bulan purnama, sedangkan dirinya hanya seekor burung pungguk yang tidak bisa menggapainya. Namun, pagi hari tadi sang bulan purnama berpijak di bumi, mengikrarkan janji suci.
Melihat yang diajak bicara hanya diam dan tersenyum memandanginya, Rasya pun membuka selimut yang menutupi tubuh Nadia, meraih tubuh polos gadis itu dan menggendongnya ala bridal style. Membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Nadia yang merasa malu, menyembunyikan wajahnya di ketiak sang suami.
Dengan pelan Rasya menurunkan Nadia di bak berendam. "Kalau seperti ini, bisa-bisa kita enggak sholat maghrib, Sayang," cicit Rasya.
"Lagian siapa yang minta di gendong coba? Orang aku bisa jalan sendiri kok," seringai Nadia.
"Mandi sendiri ya, Mas ganti baju dulu nanti kita sholat bareng," pamitnya lalu keluar dari kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, mereka melaksanakan sholat berjamaah di dalam kamar. Sholat berjamaah untuk pertama kali sejak mereka menjadi sepasang suami istri. Usai sholat Nadia meraih dan mencium punggung tangan suaminya, Rasya pun tanpa dikomando mengecup kening istrinya.
"Mas mau makan di luar atau di dalam kamar?" tanya Nadia memberikan penawaran kepada suaminya sambil berdiri melepas mukenanya. Lalu melipat dan menaruhnya di sofa, karena nanti akan dipakai lagi saat sholat isya'.
Rasya mengerutkan keningnya. Masa makan di dalam kamar? Kayak lagi sakit saja," sanggah Rasya.
"Aku keluar dulu ya, Mas. Mau mengecek menu makan malam," pamit Nadia yang langsung keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
Nadia sampai di ruang tengah, menu makan malam masih tersedia di meja prasmanan di sana. Lalu segera kembali lagi masuk ke dalam kamar. Ia mendapati Rasya sedang duduk berselonjor kaki bersandar di sandaran ranjang dengan laptop yang menyala di pangkuannya.
Nadia mendekat, "Mas," panggilnya.
"Sebentar, Sayang," sahut Rasya.
Nadia pun mendekat. Ia naik ke atas ranjang dan mengintip apa yang dilakukan suaminya di laptopnya. Lalu merebahkan diri dengan tangan menerobos celah sempit antara punggung Rasya dan sandaran ranjang. Nadia memeluk nyaman pinggang Rasya dari samping. "Mas," panggilnya lagi.
"Sebentar, beneran deh ini sebentar lagi," sahut Rasya.
Rasya mematikan laptop dan menutupnya. "Udah," ucapnya. Lalu beralih menghadap ke Nadia. "Ada apa, hemmm?" tanyanya.
Nadia tersenyum menampilkan lesung pipitnya seraya berkata, "tidak ada apa-apa, hanya ingin melatih lidah dan bibir saja biar terbiasa."
.
.
__ADS_1
.
TBC