Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Menjemput Rindu


__ADS_3

Malam menjelang menggantikan senja. Segerombolan itik nampak berbaris rapi memasuki kandang. Bintang mulai menyapa dengan mengedipkan pandangan. Sedangkan sang rembulan belum menampakkan wajahnya yang memesona.


Nadia baru saja pulang dari sholat berjamaah di masjid yang dekat dengan rumahnya. Eh, maksudnya rumah mamaknya. Sampai di dalam kamar ia mendapati ponselnya berdering. Belum sempat ia melepaskan mukenanya, Ia hanya melongok untuk memastikan siapa yang menelepon saat waktu shalat begini? Tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Nadia mengambil ponselnya mencoba melihat lebih dekat.


Setelah sadar bahwa matanya belum rabun, seketika Nadia melempar ponselnya ke atas kasur, mau melempar ke lantai sayang, tidak punya uang untuk beli lagi. Kontak yang biasanya hanya ia gunakan untuk mengirim pesan meminta izin kalau ia tidak masuk kuliah supaya tidak mendapat nilai C, sekarang meneleponnya.


Nadia menepuk-nepuk pipinya sendiri, berharap ini semua hanya mimpi. "Ah, sakit," pekiknya. Ia melepas mukenanya sambil membayangkan wajah Pak Rasya yang seperti sudah lama sekali tidak dilihatnya. Melipat mukenanya dengan rapi dan menyimpan di atas meja. Ketika ia sudah memantapkan hati untuk menjawab panggilan tersebut, suara dan getar ponselnya telah berhenti. Ia merasa kecewa.


"Apa aku telepon balik saja ya? Tapi aku malu," gumamnya ragu.


"Nad, ayo makan nanti tidak kebagian lauknya!" teriak Mimik dari luar kamar.


"Iya sebentar, Mik," sahut Nadia.


Ketika Nadia hendak melangkah ke luar kamar, tiba-tiba ponselnya berdering kembali. Nadia pun mengurungkan langkahnya, kembali meraih ponsel yang masih tergeletak di kasur kapuknya. Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar ia menggeser ikon berwarna hijau di layar ponsel tersebut.


"Assa ... ," belum selesai Nadia mengucap salam sudah terpotong oleh ucapan Rasya


"Nanad, kenapa lama sekali angkat teleponnya?" cecar Rasya.


:Nanad? Sok akrab sekali panggilannya, biasanya juga Asa,' batin Nadia.


"Nanad? Kenapa diam?" seru Rasya.


"Eh, maaf. Ini beneran Pak Rasya?" bukannya menjawab Nadia malah balik bertanya.


"Iya, Nanad. Saya sudah di depan kantor kecamatan Losarang Indramayu, tolong kamu share loc, biar saya mudah mencari alamat rumah kamu," tutur Rasya.


"Apa?" pekik Nadia tidak percaya.


"Apa perlu saya ulangi? Saya sudah ... ," Rasya hendak kembali mengulang kalimatnya.


"Eh tidak usah, Pak. Iya-iya saya share loc sekarang ya?" potong Nadia.


"Cepat ya, saya tutup teleponnya, Assalamu'alaikum," pamit Rasya.


"Wa'alaikumussalam, Pak," sahut Nadia.


Nadia masih belum percaya sepenuhnya jika yang menelepon barusan adalah Pak Rasya. Ia masih berdiskusi dengan perasaannya sendiri sehingga ia lupa kalau ia harus segera share loc. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Ternyata Rasya lagi yang masih menunggu share loc dari Nadia.


"Ah iya, aku lupa kalau Pak Rasya minta share loc," gumam Nadia sambil menepuk jidatnya sendiri.


Nadia pun membuka pesan WhatsApp dari Rasya yang ternyata banyak chat "ping" berkali-kali dan langsung mengirim lokasi terkini.


"A'ang Nadia! Kenapa lama sekali? Sudah ditunggu Mamak sama Mimik!" kali ini Nindya yang teriak dari luar kamar.


"Sebentar, Dik," sahut Nadia.


"Sebentar tapi lama dari tadi," cebik Nindya.


Nadia lalu membuka pintu kamar dan melangkah keluar menuju ruang makan. Di sana seluruh anggota keluarga sudah berkumpul kecuali kakaknya Nadia yang masih kuliah di Cambridge - Nadhif.


"Mamak, Mimik, papanya Tiara barusan telepon. Dia bilang sedang menuju ke sini, katanya sudah sampai di depan kantor kecamatan," tutur Nadia pada mamak dan mimiknya.


"Oo, ya sudah makan malamnya kita tunda sampai papanya Tiara tiba," tutur Mamak.


"Tapi Nida sudah lapar sekali, Mamak," potong Nida, adik Nadia yang paling bungsu.

__ADS_1


"Nida, Dito sama A'ang Nindy boleh makan duluan, tetapi jangan dihabiskan ya lauknya," pesan Mimik.


Mimik kembali ke dapur, membuka lemari dapur barangkali masih ada persediaan telur yang bisa didadar untuk tambahan lauk. Untung saja tadi sore Nindya menanak nasi banyak. Tinggal nambah lauk saja.


Tiba-tiba Nadia menghampiri Mimiknya. "Mik, tadi sore Ang Waqi'ah posting jualan masakan di status WAnya, barangkali masih ada," tutur Nadia.


"Masakan apa saja?" tanya mimik sambil membuka dan menutup pintu lemari.


"Banyak, Mik. Nih ada gombyang manyung, cecek, pedesan entog juga ada," tutur Nadia sambil memperlihatkan layar ponselnya.


Mimik menutup pintu lemari. "Ya sudah, mimik saja yang ke sana, kamu tunggu Pak Rasya datang," pesan Mimik.


Mimik melangkah menuju ke kamarnya untuk mengambil uang, sementara Nadia menuju ke depan rumah untuk menunggu kedatangan Pak Rasya. Jantung Nadia semakin berdebar kencang.


Hingga hampir satu jam berlalu, tetapi Rasya belum juga menampakkan batang hidungnya. Nadia jadi merasa tidak enak dengan kedua orangtuanya. Takut disangka kalau ia hanya berhalusinasi. Padahal ia sampai melewatkan untuk sholat isya' berjamaah di masjid, takut tidak mendapati saat Pak Rasya tiba.


Setelah Mimik dan mamaknya pulang dari melaksanakan sholat isya' berjamaah di masjid, Nadia pamit kepada kedua orangtuanya untuk melaksanakan sholat isya' di dalam kamar saja. Agar saat Pak Rasya tiba Mamak dan Mimik bisa menyambut kedatangannya.


Sementara itu, orang yang tengah ditunggu kedatangannya oleh Nadia dan keluarganya ternyata sedang menunggu pesanan martabak manis dan martabak telur untuk buah tangan setelah sebelumnya melaksanakan sholat isya' terlebih dahulu di masjid yang mereka lalui.


Sebenarnya mereka sudah hampir sampai di tempat yang dituju, tetapi saat mendengar suara azan isya', Rasya berfikir untuk mampir terlebih dahulu di masjid yang mereka lewati untuk melaksanakan sholat isya' sembari menenangkan hati yang gundah dan debaran jantungnya yang tiba-tiba terasa kencang.


"Apa sudah siap, Mas Rasya? Kita langsung ke rumah Non Nadia sekarang?" tanya Pak Supri usai mereka sholat isya'.


"Sebentar, Pak. Sepertinya di depan ada penjual martabak, kita beli untuk bawaan ya, Pak," cetus Rasya.


"Lho, tadi bukannya pas kita mampir di minimarket, Mas Rasya sudah belanja banyak sekali katanya untuk barang bawaan," sergah Pak Supri.


"Masih kurang, Pak," ucap Rasya gugup. Pak Supri hanya tersenyum menanggapinya.


Saat Nadia tengah khusyuk melaksanakan sholat isya, sebuah mobil berjalan pelan memasuki pelataran rumah orang tua Nadia yang luas. Dari dalam mobil nampak keluar seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 tahun yang memutari bagian depan mobil. Membukakan pintu untuk majikannya yang duduk di samping kursi kemudi.


"Ayo turun, Mas Rasya. Apa perlu saya bawakan tandu atau kursi roda?" ajak Supri diselingi candaan pada majikannya.


"Pak Supri ini ada-ada saja, saya masih kuat berjalan kok," sergah Rasya.


Pak Supri tertawa sambil melangkah, ia membuka pintu bagian belakang dan mengambil barang bawaan yang dibeli oleh Rasya untuk buah tangan. Mereka lalu melangkah beriringan meninggalkan mobil menuju rumah orang tua Nadia. Mamak dan Mimik Nadia sudah menunggu untuk menyambut kedatangan mereka di teras rumah.


"Assalamu'alaikum, Bapak, Ibu," ucap Rasya memberi salam kepada Mamak dan Mimik Nadia lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Wa'alaikumussalam, Pak Rasya. Selamat datang di gubuk kami, silakan masuk!" ucap Mamak menyambut kedatangan Rasya.


"Terima kasih, Pak. Tapi jangan panggil saya Pak juga donk. Sepertinya saya terlalu tua untuk dipanggil Pak oleh Bapak," tolak Rasya.


"Baiklah, Bapak panggil Mas Rasya saja bagaimana?" tanya Mamak. Sedangkan Mimik sudah ngacir ke dapur untuk mengambil teh hangat yang mungkin sudah dingin setelah menerima bingkisan yang diberikan oleh Pak Supri.


"Begitu juga lebih enak didengar," sahut Rasya menyetujui usulan Mamak.


"Kalau begitu panggil saya Mamak dan istri saya Mimik saja, biar lebih akrab. Seperti Nadia juga memanggil kami begitu," tutur Mamak.


"Baiklah, Mamak," sahut Rasya.


Mamak mempersilakan duduk kepada Rasya dan Pak Supri. Tidak lama kemudian Mimik kembali ke ruang tamu membawakan teh hangat serta martabak manis, lalu ikut duduk disamping Mamak.


"Ngomong-ngomong Nadianya di mana, Mamak, Mimik, kok belum kelihatan?" tanya Rasya.


"Tadi sedari bakda maghrib dia menunggu kedatangan Mas Rasya lho, sampai kita menunda untuk makan malam. Sekarang dia sedang sholat isya' di kamarnya," jawab Mimik.

__ADS_1


"Wah, saya jadi tidak enak sudah membuat kalian menunggu lama. Maafkan saya, Mak, Mik," ucap Rasya sungkan.


"Tidak apa-apa, Mas Rasya. Yang penting kalian sampai dengan selamat tidak kurang suatu apapun. Kami tadi khawatir kalau terjadi sesuatu pada kalian sehingga baru sampai. Silakan diminum tehnya, Mas Rasya, Pak Supri," tutur Mamak.


"Mik, panggilkan Nadia. Mungkin sudah selesai shalat isya'nya," perintah Mamak.


"Sebentar, Mak," sahut Mimik.


Mimik bangkit dari duduknya melangkah menuju ke kamar Nadia.


Tok tok tok


"Nadia! Sudah selesai belum sholatnya?" seru Mimik.


"Sebentar, Mik!" sahut Nadia.


Derit


Nadia membuka pintu kamarnya. Dia muncul di ambang pintu.


"Sudah ditunggu Pak Rasya di depan," tutur Mimik yang dibalas anggukan oleh Nadia. "Mimik ke dapur dulu ya, memastikan meja makan," imbuhnya.


"Iya, Mik," sahut Nadia. Jantung Nadia kembali berdebar, tubuhnya terasa panas dingin.


Nadia menenangkan dirinya sebentar sebelum ia menyeret kakinya menuju ke ruang Tamu.


"Bismillahirrahmanirrahim,"


"Pak Rasya, Pak Supri," ucapnya sambil mengangguk dan menangkupkan kedua tangan, lalu duduk di samping Mamak.


"Bagaimana kabar kamu, Nad? Luka jahitan kamu sudah sembuh?" tanya Rasya.


"Alhamdulillah sudah sembuh, Pak," jawab Nadia sambil sesekali melongok ke luar.


"Kamu cari siapa, Nad?" tanya Rasya.


"Ehmm, Bapak ke sini cuma berdua? Tiara tidak ikut?" Nadia menjawab pertanyaan Pak Rasya dengan pertanyaan.


"Tiara dirawat di rumah sakit, Nad. Dia terkena typus." tutur Rasya.


"Subhanallah, anak sekecil itu sudah kena typus," pekik Nadia.


"Dia tidak mau makan kalau tidak disuapi sama kamu, Nad. Makanya selama satu bulan ini perutnya jarang kemasukan makanan. Untuk itulah saya dan Pak Supri datang kemari. Saya meminta bantuan dari kamu, tolong rawat Tiara," tutur Rasya.


Nadia memegang tangan Mamak dengan tatapan mata memohon. "Apa boleh, Mak?" tanyanya. Mamak mengangguk. Ia kembali menghadap kepada Rasya.


"Saya akan menggaji kamu, Nadia. Dan kamu masih tetap boleh kuliah," tambah Rasya.


Nadia kembali berfikir sejenak, "Iya saya mau, Pak," jawabnya.


Mimik muncul di ambang pintu ruang tengah. "Ayo, Nadia! Pak Rasya dan Pak Suprinya di ajak makan," ucap Mimik.


Nadia berdiri, "Mari Pak Rasya, Pak Supri. Ayo bangun, Mak!" katanya sambil menarik tangan Mamak untuk bangun. Mamak bangkit dan melangkah sambil merangkul pundak Nadia, mesra sekali sih Mamak sama putrinya. Sementara Rasya dan Pak Supri mengikuti di belakang mereka.


TBC


Mohon maaf ada bab yang terlewat, jadi ini Mak Kusay up ulang ya🙏

__ADS_1


__ADS_2