Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Kesialan


__ADS_3

Rasya dengan sangat terpaksa masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk menidurkan juniornya yang sudah berdiri tegak. Seperti biasa ia mandi lagi dan membasuh benda pusakanya dengan sabun cair. Selesai mandi malam untuk yang kedua kalinya Rasya keluar. Saat ia sedang mencari kembali piyama tidurnya, ponselnya berbunyi. Ada notif pesan masuk. Rasya mengabaikan pesan tersebut. Ia memakai piyamanya. Setelah berpakaian lengkap, ia baru meraih ponselnya dan membuka pesan yang telah masuk.


"Dasar wanita ular sialan!" umpatnya.


Sebenarnya apa isi notif pesan ponselnya hingga membuat ia marah? Ternyata isi pesan tersebut adalah nomor token transaksi transfer M-Banking. Rasya membuka aplikasi M-Bankingnya.


"Astaghfirullah al'adzim, 45 juta. Baru kemarin 50 juta. Bisa-bisa bangkrut perusahaan Bapak kalau aku masih memperistri dia, aargh ..." pekik Rasya.


Rasya menghempaskan tubuhnya di kasur springbednya. "Benar-benar wanita licik, sudah ditolong malah tidak tahu diri. Dikasih hati minta ampela," umpatnya.


Rasya kemudian mendial nomor seseorang.


"Halo, Bro. Tumben ingat punya teman?" sapa seseorang di ujung telepon.


"Halo, Doddy. Posisi kamu di mana sekarang? Aku butuh bantuan kamu," sahut Rasya.


"Aku masih di Inggris, Bro. Bantuan apa memangnya? asal jangan untuk membunuh orang, aku siap membantu," tawar Doddy.


"Gini Doddy, istriku itu selalu mencuri uang dari rekeningku, jumlahnya sangat banyak, katanya sih untuk arisan sosialita dia. Tapi aku curiga kalau itu hanya akal-akalan dia saja untuk mengambil alih hartaku menjadi miliknya. Kamu bisa bantu kan?" tutur Rasya.


"Itu sih masalah kecil, kamu kirim nomor ponsel dan email-nya saja ke aku. Tidak sampai satu jam aku pasti sudah dapatkan data-datanya," ucap Doddy optimis.


"Oke aku kirim via pesan nanti."


"Oke, hasilnya nanti aku kirim via email."


Rasya menutup sambungan teleponnya, kemudian mengirim alamat email dan nomor telepon milik Celine ke nomor ponsel Doddy. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke luar kamar menuruni anak tangga. Rasya menyeret kakinya menuju ke dapur, mengambil segelas air putih di dalam kulkas, lalu meminumnya.


Ketika Rasya kembali dari dapur, langkahnya terhenti saat berada di depan kamar putrinya, Tiara. Tiba-tiba ia tertarik untuk membuka pintu kamar tersebut. Melihat wajah kecil tak berdosa yang menjadi korban keegoisan mommynya.


Rasya pun membuka pintu, perlahan-lahan ia mendekati ranjang Tiara yang telah tertidur ditemani Mbak Nina salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah keluarga Baskoro yang bertugas mengasuh Tiara. Rasya menepuk pelan pundak pembantunya.


"Mbak Nina bangun!" panggilnya.


Nina terkaget dan mengerjapkan matanya. "Eh, Mas Rasya. Maaf saya ketiduran," ucap Nina tersipu.


"Mbak Nina pindah ke kamar Mbak saja. Biar Tiara aku yang temani," pinta Rasya.


"Baik, Mas." Nina pun bangkit dan pergi meninggalkan kamar Tiara.


Rasya mendekati Tiara, berbaring di tempat tadi Nina berbaring. Memandangi lekat-lekat wajah gadis kecil berusia tiga tahun tersebut. "Kasihan kamu Tiara, sudah tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari mommy kamu, sekarang papa juga sibuk dengan pekerjaan," ucapnya sambil membelai lembut rambut putrinya.

__ADS_1


Tiara menggeliat namun masih dalam keadaan terlelap. "Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Papa akan menjagamu di sini," ucap Rasya sambil membelai dan mengecup lembut rambut putrinya.


Rasya akhirnya juga terlelap di samping Tiara. Hingga azan subuh berkumandang, Rasya terbangun dan keluar dari kamar Tiara. Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke kamarnya. Di dalam kamarnya ia tidak menemukan Celine di sana, ternyata wanita jadi-jadian nya tersebut malam ini tidak pulang. Wanita tersebut akan ingat pulang jika dirasa menurutnya Rasya pikir uang yang diberikannya sudah habis.Terserah!


Rasya mengayun langkahnya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, ia akan memulai hari ini dengan melaksanakan sholat subuh di kamarnya. Tak berselang lama, Rasya keluar dari kamar mandi dan mengganti setelan piyama tidurnya dengan sarung dan baju Koko. Setelah mengenakan kopiah ia menggelar sajadah, dan mulai menjalankan rukun sholat di atas sajadah tersebut.


Usai sholat, Rasya merapikan peralatan sholatnya dan mengganti baju yang ia pakai dengan celana short dan kaos oblong. ia keluar dari kamar, melakukan joging adalah rutinitasnya setiap pagi.


Saat menuruni anak tangga, Rasya berpapasan dengan adiknya, Rayan, yang baru saja pulang dari masjid sholat subuh berjamaah.


"Ray, joging bareng yuk!" ajak sang kakak dengan antusias.


"Aku mau menyelesaikan proposal skripsi yang harus segera diserahkan kepada dosen pembimbing pagi ini, Mas," tolak Rayan.


"Ya udah, Mas duluan ya," pamit Rasya.


Rayan hanya mengangguk tanda mempersilahkan. Rasya pun akhirnya keluar dari rumah melewati area pintu gerbang, berlari-lari kecil melewati trotoar sesekali melewati pinggir jalan jika terlihat sepi.


**********


Siang hari Nadia ada pembekalan Ospek di aula kampus pukul 2 siang. Mamak dan Kakaknya sudah kembali pulang kemarin sore. Mamak pulang ke Indramayu, sedangkan kakaknya, Nadhif langsung kembali ke Bandung. Sekarang Nadia harus belajar memenuhi kebutuhannya sendiri. Padahal ia di Jakarta ini belum mendapatkan teman sementara dia sendiri juga belum mengenal kota ini sama sekali kecuali dari berita di televisi.


"Duh, bakal lama enggak ya?" keluhnya.


Nadia kembali masuk ke dalam rumah, mau menanyakan kepada ibu kost barangkali mempunyai payung. Nggak mungkin kan kalau ia menunggu hujan hingga reda yang tidak tahu pasti sampai kapan, bakal cepat reda ataukah hingga malam hari.


"Belum berangkat, Nad," sergah Mbak Rumi sang pemilik rumah kost mendapati penghuni baru rumahnya masih betah di rumah.


"Belum, Mbak. Tiba-tiba hujan, Mbak Rumi punya payung? Atau mungkin anak kost lain ada yang punya?" jawab Nadia sekaligus bertanya.


"Itu di balik pintu ada, mungkin masih bisa dipakai," jawab Mbak Rumi dengan muka menunjuk ke arah payung yang tergantung pada sebuah paku besar yang tertancap di tembok.


"Ah iya, aku pinjam ya Mbak," ucap Nadia girang karena telah menemukan apa yang dia butuhkan saat ini.


Nadia mengambil payung tersebut dan hendak melangkah kembali ke luar dari pintu, namun suara Mbak Rumi mencegahnya.


"Pakai sandal jepit saja, Nad. Sepatunya dimasukan ke dalam kresek biar enggak basah," usul Mbak Rumi.


"Eh, iya ya, Mbak. Makasih ya," ucap Nadia senang dengan usul ibu kostnya tersebut. Ia segera melakukan apa yang diusulkan Mbak Rumi, mencari kantong plastik kresek dan mengambil sandal jepitnya yang ia taruh di rak sepatu. Memakai sandal tersebut dan membungkus sepatunya dengan kantong kresek. Nadia lalu memasukan sepatu yang telah dibungkus kantong kresek tersebut ke dalam tas punggungnya.


Nadia keluar dari rumah menembus derasnya hujan. Melewati jalan gang yang nampak sepi dengan payung pinjaman yang menaungi tubuhnya. Celananya ia singsingkan hingga ke betis. Sampai di jalan besar jalanan masih ramai dengan kendaraan lalu lalang. Untuk menghindari cipratan air dari mobil dan kendaraan yang lewat, Nadia berjalan di trotoar paling pinggir sekali.

__ADS_1


Sekarang Nadia hampir mencapai pintu gerbang kampus kira-kira 20 meter lagi ia akan melewati tempat itu. Namun tiba-tiba dari gerbang kampus keluar sebuah motor Ninja melaju dengan kecepatan tinggi dan ....


Ceprot ceprot!


Air yang menggenangi jalan sebagian telah berpindah ke tubuh bagian kiri Nadia.


"Augh!" pekiknya.


Reflek Nadia menutupi mukanya dengan payung, namun air keruh tersebut sudah terlanjur merasuk mengenai kerudung hingga celana yang ia pakai.


"Aduh gimana ini? Waktunya sudah semakin mepet. Tapi aku nggak bisa ke kampus dengan pakaian seperti ini, bisa-bisa aku jadi bahan bulian teman-temanku nanti," gerutunya resah.


Nadia memutuskan untuk kembali ke tempat kost dan mengganti baju yang ia pakai. Ia memutar tubuhnya 180° melangkah kembali menapak tilas jejaknya dari tempat kost tadi, mungkin nanti ia akan terlambat sampai di aula. Tiba-tiba sebuah motor nampak menyeberang dari kanan jalan dan berhenti tidak jauh dari tempatnya berjalan.


Nadia menghentikan langkahnya saat menyadari bahwa motor yang berhenti di dekatnya adalah motor yang tadi menimbulkan cipratan hingga mengotori pakaiannya. Ia memandang ke arah pengendara motor tersebut.


Laki-laki itu membuka kaca helmnya. "Maaf tadi tidak sengaja, kamu mau kemana?" ungkapnya merasa bersalah.


"Tadinya mau ke aula kampus, ada pembekalan Ospek di sana. Tapi sepertinya aku harus kembali ke kostan untuk ganti baju," sahut Nadia menunjuk ke bajunya.


"Ayo Naik! aku antar sampai tempat kost kamu," suruh pemuda tersebut.


"Tapi tempat kost aku dekat kok, Mas. Di gang itu," timpal Nadia menunjuk gang masuk konstannya, ia masih takut menerima tawaran orang yang belum dikenalnya, apalagi di kota besar seperti ini banyak sekali tindak kejahatan.


"Iya, tetapi kalau kamu jalan kaki nanti kamu akan terlambat mengikuti pembekalan," tutur orang tersebut. Nadia masih terdiam. "Kamu masih takut sama aku? Aku ini kakak tingkatan mu."


Melihat keraguan di mata Nadia, pemuda itu membuka jas hujan yang berbentuk jaket yang ia kenakan, memperlihatkan tas punggung yang ia pakai di dada. Membuka salah satu kantong tas punggung tersebut dan merogoh sebuah kartu. Ia menyerahkan kartu tersebut kepada Nadia. "Aku ini calon kakak angkatan kamu, semester 8," ucapnya.


Nadia menerima kartu tersebut, membaca nama yang tertera di kartu yang tercetak besar-besar 'RAYAN BAYU BAGASKARA', lalu menyerahkan kembali kartu tersebut kepada pemiliknya.


"Masih ragu juga? Atau masih mau lihat KTP atau SIM aku?" sergah pemuda itu yang ternyata bernama Rayan. Rayan menyimpan kembali kartu mahasiswanya. "Ayo naik, nanti malah bisa terlambat kalau kamu bolak-balik jalan kaki!" Rayan masih berusaha membujuk gadis itu karena merasa bersalah.


Nadia pun akhirnya naik ke atas boncengan motor Rayan. Rayan melajukan pelan motornya, karena posisi Nadia membonceng motor dengan tangan kiri masih memegang payung, hujan masih setia mengguyur kota Jakarta. Jika Rayan menambah kecepatan laju motornya bisa jadi Nadia yang seperti kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata) itu akan terbang bersama payungnya.


.


.


.


Mohon maaf🙏, setelah sekian purnama akhirnya baru bisa menyelesaikan bab 2. Semoga masih setia, aamiin. love you all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2