
Mbak Rumi yang mengkhawatirkan keadaan Nadia, kalau sampai ia benar-benar memakan makanan yang super duper pedas itupun menghubungi adiknya - Asih, pelayan di kantin Bu Ida.
"Ada apa, Mbak?" tanya Asih langsung tanpa mengucap salam.
"Asih, tolong kamu bilang kepada Pak Rasya kalau Nadia tadi bilang sama Mbak mau makan bakso beranak jontor katanya. Padahal dia itu baru sembuh dari operasi," tutur Mbak Rumi.
"Hah? Memang dimana dia mau makan bakso beranak jontor, Mbak?" tanya Asih lagi.
"Mbak Enggak tahu, tetapi di sebelah minimarket tidak jauh dari komplek kita ada warung bakso lesehan baru, mungkin di situ," tutur Rumi.
"Oh iya, Mbak. Aku sampaikan secepatnya," sahut Asih.
"Ya udah, Mbak tutup ya. Assalamu'alaikum," Mbak Rumi memutus panggilannya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Asih.
Saat itu kebetulan Rasya datang ke kantin untuk membeli makan siangnya yang terlambat. Asih yang melihat kedatangan Rasya pun memanggilnya.
"Pak Rasya!" panggil Asih.
"Asih, Nasi plus lauk seperti biasa ya, minumannya teh manis panas saja." Rasya menyampaikan pesanannya.
"Sebentar, Pak. Ini ada masalah yang lebih genting dari yang bapak pesan," timpal Asih
"Masalah yang lebih genting apa selain mengisi perut yang lapar? Udah lapar banget ini, Sih. Buruan!" gerutu Rasya yang sudah sangat lapar.
"Barusan Mbak Rumi bilang kalau Nadia pamit mau makan bakso beranak jontor katanya. Padahal dia kan baru sembuh dari operasi, Pak," jelas Asih.
"Apa? Nadia mau makan bakso beranak jontor? Dimana?" cecar Rasya.
"Mungkin di jalan raya depan, Pak. Yang di samping Ardimart itu ada warung bakso lesehan baru," tutur Asih mengira-ngira sesuai penuturan Mbak Rumi.
"Ini semua gara-gara kamu sih, Sih. Coba tadi kamu yang antar kopi pesanan ku ke ruangan ku, pasti nggak akan begini jadinya," gerutu Rasya menyalahkan Asih sambil berlalu melangkah pergi.
"Kok jadi saya yang disalahkan sih, Pak. Aneh," gerutu Asih juga.
Rasya mempercepat langkahnya menuju ke area parkir khusus pegawai. Ia segera membawa mobilnya keluar dari area kampus. Melajukan mobil dengan kecepatan penuh menuju tempat yang diceritakan oleh Asih. Hanya butuh lima menit ia kini telah sampai ke tempat yang dituju.
Rasya memarkirkan mobilnya asal. Ia langsung keluar dari mobil dengan segera. Ia masuk ke dalam mencari tempat yang diduduki Nadia.
"Anak itu, apa koma selama satu bulan masih kurang cukup buat dia?" gerutu Rasya setelah mendapati keberadaan Nadia yang duduk di meja lesehan sendirian.
Seorang pelayan baru saja mengantarkan pesanan baksonya. Nadia langsung menambahkan bumbu-bumbu pelengkap dan tiga sendok sambal cabe setan. Rasya mendekati gadis itu lalu duduk di depannya.
"Mau apa Bapak kemari? Mau mata-matain saya?" cecar Nadia.
"Jangan makan sama cabenya, makan baksonya saja," titah Rasya tanpa mempedulikan pertanyaan Nadia.
"Saya enggak minta Bapak yang bayar, saya makan juga pakai mulut sendiri. Apa peduli bapak?" sergah Nadia.
"Nanti perut kamu bisa sakit, Nanad. Apa masih kurang kamu membujur kaku seperti mayat hidup selama satu bulan di rumah sakit?" cicit Rasya. Nadia terdiam tidak menjawab.
"Kamu marah sama saya?" tanya Rasya lagi.
"Memangnya siapa saya berhak marah sama Bapak?" sergah Nadia.
__ADS_1
"Tadi mata Ifada klilipan tidak bisa melihat, saya cuma membantu meniupnya supaya matanya bisa melihat lagi," tutur Rasya.
"Saya tidak peduli," ucap Nadia.
"Tidak peduli kenapa marah? Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh tanya langsung sama Ifada," ucap Rasya yang lalu menyodorkan ponselnya. Sudah tertera nama Ifada di layar ponsel tersebut untuk ditelpon.
"Tidak perlu," tolak Nadia.
Ia sebenarnya sudah percaya, tetapi karena egonya terlalu tinggi ia jadi malu untuk mengakuinya.
"Ini sudah terlanjur dipesan, sayang 'kan kalau tidak dimakan mubazir. Hal yang mubazir itu dibenci sama Allah, temannya setan. Atau bapak saja yang makan?" lanjutnya.
Rasya membelalakkan matanya.
"Kenapa kaget gitu? Nggak berani makan pedas? Cemen," cela Nadia. "Ya udah kalau bapak nggak mau makan aku makan nih," lanjutnya mengancam.
Rasya merebut mangkok itu, "iya aku makan, tetapi tunggu sampai pesanan bakso baru kamu datang, kita makan sama-sama," cegahnya.
"Mas, bakso uratnya satu mangkok, tanpa mi ya," ucap Nadia memesan kembali baksonya kepada seorang pelayan. "Sama teh manisnya satu lagi," imbuhnya.
Sebelum menyantap bakso beranak jontor tersebut, Rasya mengirim pesan kepada beberapa orang. Tidak menunggu waktu lama, bakso pesanan Nadia kembali datang. Pelayan meletakkan mangkok berisi bakso dan teh manis tersebut di depan Nadia.
"Ini minuman buat Bapak, silakan dinikmati," ucap Nadia tersenyum senang, akhirnya bisa ngerjain orang yang tadi sempat membuat hatinya kepanasan.
Mereka pun menikmati bakso tersebut hingga habis. Namun, tiba-tiba Rasya merasakan perubahan pada tubuhnya, rasanya sangat tidak nyaman. Keringatnya bercucuran, perutnya seperti diaduk-aduk, dan sakit yang teramat sangat di ulu hatinya.
"Kamu jangan kemana-mana, di sini saja sampai Pak Supri datang menjemput. Aku mau ke toilet dulu. Baksonya biar aku yang bayar." Rasya memberikan pesan terhadap Nadia sekaligus pamit. Ia lalu berdiri dan meninggalkan gadis itu sendirian tanpa menunggu jawaban dari Nadia.
"Dia kenapa? Kok aneh. Orang dia saja disini kenapa harus menunggu Pak Supri segala sih?" gumam Nadia.
Tidak lama kemudian, dari pintu masuk muncul Supri diikuti dua orang berpakaian seragam serba hitam di belakangnya. Pria itu mendekati Nadia.
"Barusan dia pamit ke toilet, Pak. Ada apa?" jawab serta tanya Nadia penasaran.
"Kalian berdua silakan cari Pak Rasya di toilet." Pak Supri memberikan perintah kepada dua bodyguard yang mengikutinya.
"Siap, Pak," sahut keduanya.
Nadia memandangi mereka dengan penuh keheranan.
"Mari ikut saya, Non. Kita tunggu Mas Rasya di mobilnya," ajak Supri.
Nadia pun bangkit dari duduknya dan mengikuti ajakan Supri, karena tadi Rasya juga berpesan demikian. Ia bertambah heran saat sampai di depan warung tersebut sudah ada mobil ambulan yang menunggu dengan bed dorong di depan pintu masuk serta dua orang perawat yang sedang menunggu.
"Mari masuk ke mobil, Non Nadia," ucap Supri membukakan pintu di samping sopir untuk Nadia.
"Ini ada apa, Pak?" tanya Nadia yang masih keheranan.
"Masuk saja, Non. Kita tunggu di dalam mobil." Pak Supri masih menunggu Nadia untuk masuk.
Nadia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan gelisah memandang ke arah pintu warung lesehan. Tidak lama kemudian kedua bodyguard tadi membopong tubuh Rasya dan menaikan ke atas bed dorong yang langsung didorong ke dalam mobil ambulan. Mobil ambulan tersebut langsung melaju meninggalkan lokasi saat ini.
"Itu Pak Rasya kenapa dibawa pakai mobil ambulan, Pak?" tanya Nadia yang terlihat mulai khawatir.
"Kita ikuti saja mobil ambulan itu, Non," sahut Pak Rasya mulai melajukan mobil tanpa menjawab pertanyaan Nadia.
__ADS_1
'Apa yang terjadi dengan, Pak Rasya?' gumamnya dalam hati.
Mobil ambulan sampai di rumah sakit, mereka langsung membawa Rasya ke dalam rumah sakit. Saat Pak Supri menghentikan mobilnya, Nadia langsung keluar dari dalam mobil saat akses pintu dibuka. Nadia langsung mengejar kedua perawat yang membawa Rasya. Rasya langsung dibawa masuk ke UGD. Nadia yang hendak ikut masuk ke dalam langsung ditahan oleh seorang perawat.
"Maaf, Nona. Silakan tunggu di luar," ucap perawat tersebut.
Nadia menunggu dengan gelisah duduk di depan ruang UGD. Sebentar berdiri, lalu duduk lagi. Ia merasa sangat takut terjadi sesuatu terhadap Rasya, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk menelpon Bu Nastiti, ibu kandung Rasya.
"Assalamu'alaikum, Nadia," sapa Bu Nastiti lembut di sambungan telepon.
"Wa'alaikumussalam, Bu. Pak Rasya ...." jawab Nadia tersendat karena menangis.
"Kenapa malah menangis? Mas Rasya kenapa, Sayang?" cecar Bu Nastiti.
"Pak Rasya masuk rumah sakit, Bu. Hiks hiks ..." sahut Nadia kembali terisak.
"Inna lillahi wa Inna ilaihi roji'un. Kamu yang tenang ya, Sayang. Ibu segera ke situ," ucap Bu Nastiti menenangkan Nadia.
"Iya, Bu," sahut Nadia.
Sambungan telepon pun terputus. Pak Supri yang baru saja tiba di depan ruang UGD mendekat ke arah Nadia.
"Belum keluar ruangan Mas Rasya nya, Non?" tanyanya kepada Nadia.
"Belum, Pak. Memangnya apa yang terjadi sama Pak Rasya, Pak? Dia kenapa, Pak?" cecar Nadia
Pak Supri duduk di kursi tidak jauh dari tempat Nadia duduk.
"Sebenarnya sejak masih SMA Mas Rasya punya riwayat penyakit Gastritis kronik, lambungnya tidak bisa menerima makanan yang terlalu pedas," jelas Pak Supri.
"Astaghfirullah Al'Adzim," pekik Nadia. Ia kembali menangis tergugu merasa bersalah.
Hingga Bu Nastiti sampai di tempat tersebut, tetapi belum ada perawat atau dokter yang keluar juga. Nadia menghambur memeluk wanita yang telah melahirkan kekasihnya tersebut. Bu Nastiti membalas pelukan gadis itu seraya menepuk-nepuk pundaknya.
"Sudah, tidak usah sedih. Tidak akan terjadi apa-apa sama Mas Rasya," ucap Bu Nastiti menghibur gadis tersebut, membawa Nadia untuk duduk.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan UGD dibuka dari dalam. Seorang dokter dan seorang pegawai medis keluar dari ruangan tersebut. Bu Nastiti mendekat ke arah dokter. Nadia mengikutinya memegang lengan perempuan paruh baya tersebut.
"Bagaimana keadaan anak saya, dokter?" tanya Bu Nastiti.
dokter tersenyum seraya menjawab, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Bu. Anak Ibu sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Untung saja tadi langsung bisa kami tangani. Saya permisi."
"Terima kasih, dokter," ucap Bu Nastiti.
Bu Nastiti dan Nadia kembali duduk. Menunggu perawat yang akan memindahkan Rasya ke ruang rawat inap keluar dari ruang UGD.
"Memangnya tadi Mas Rasya kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?" Bu Nastiti mencoba mengorek keterangan kepada gadis yang masih setia bergelayut di pundaknya.
"Tadi Nadia pulang ke rumah Mbak Rumi, Bu. Tiba-tiba pengen banget nyobain bakso di warung bakso baru depan komplek. Nadia nawarin Mbak Rumi mau enggak makan bakso beranak jontor? Eh, Mbak Rumi malah ngelarang Nadia makan bakso itu. Katanya baru sembuh dari operasi enggak boleh makan makanan yang pedas-pedas." Nadia menjeda kalimatnya.
"Nadia pergi saja nggak peduli omongan Mbak Rumi. La wong dokter yang memeriksa Nadia saja waktu itu bilang enggak ada pantangan makan kok," imbuh Nadia.
.
.
__ADS_1
.
TBC