Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Terciduk Juga


__ADS_3

"Begini dik Nadia, sebenarnya tidak ada lowongan pekerjaan di kantor ini, tetapi ada salah satu pegawai yang kebetulan sedang mengambil cuti melahirkan, itu pun sebagai office girl. Apa kamu bersedia menggantikan posisi office girl tersebut?" tutur Pak Andi dengan perasaan tidak enak untuk memberikan pekerjaan sebagai office girl pada teman anak bosnya.


"Saya bersedia, Pak. Tidak apa-apa jadi OG juga. Yang penting saya tidak menganggur selama libur kuliah," jawab Nadia tersenyum menampilkan lesung pipitnya membuat Pak Andi merasa lega.


"Alhamdulillah, tunggu sebentar. Saya akan panggilkan ketua kelompok kamu," ucap Pak Andi.


Pak Andi memegang gagang telepon kemudian menekan salah satu tombol. "Shofi, tolong ke ruangan saya!" perintahnya pada salah satu ketua kelompok OG.


"Baik, Pak," sahut Shofi.


Lima menit kemudian, Shofi telah sampai di depan pintu ruangan Pak Andi.


Tok tok tok


"Masuk, Shofi!" titah Pak Andi.


Shofi melangkah masuk, "Ada apa, Pak?" tanyanya masih dalam keadaan berdiri.


"Shofi, kenalkan ini Nadia. Dia yang akan menggantikan Vita sebagai OG selama dua minggu ke depan," tutur Pak Andi pada Shofi. "Nadia, kenalkan ini Shofi. Dia ketua kelompok OG kamu," lanjutnya beralih kepada Nadia.


Nadia dan Shofi saling berjabat tangan dan saling menyebut nama.


"Shofi, tolong kamu kasih Nadia seragam dan jelaskan apa saja pekerjaan yang harus dilakukannya," ujar Pak Andi kepada Shofi.


"Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi," pamit Shofi. "Ayo, Dik ikut Mbak!" ajak Shofi beralih pada Nadia.


Nadia mengangguk takdim kepada Pak Andi terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruangan, mengikuti langkah Shofi ke basecamp OG.


Pak Andi merasa bersyukur karena ternyata gadis itu mau menerima pekerjaan sebagai office girl, tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Bagaimana seandainya Pak Rasya tahu jika Nadia bekerja sebagai seorang office girl di perusahaan papanya? Apa benar ia akan mendapatkan SP dari orang nomor dua di Baskoro Groups tersebut?


"Ini seragam kamu, Dik," ucap Shofi menyerahkan satu stel seragam OG. "Sekarang Mbak akan jelaskan tugas kamu. Tugas kamu adalan mengantar barang atau pesanan, bisa berbentuk makanan, minuman, berkas-berkas atau pun benda lainnya yang dibutuhkan oleh pegawai kantor ini. Terkadang juga membuatkan minuman atau memfotokopi berkas. Intinya tugas kamu di sini adalah mengerjakan apa yang disuruh untuk kamu," imbuhnya menerangkan.


"Termasuk bersih-bersih juga ya, Mbak?" timpal Nadia bertanya.


"No, itu adalah tugas cleaning servis, bukan bagian kita," tukas Shofi. "Sekarang kamu paham 'kan?" tanyanya memastikan.


"Iya, Mbak. Saya paham sekarang," jawab Nadia.


"Sekarang kamu pakai pakaian seragam kamu, nanti kembali ke sini lagi. Kita briefing sekaligus pembagian tugas," suruh Shofi.


"Baik, Mbak," sahut Nadia.


Nadia pun menuruti apa yang diperintahkan kepadanya. Ia pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaian hitam putihnya dengan pakaian seragam OG, meletakkan barang-barangnya di loker khusus, kecuali ponselnya. Kemudian kembali ke basecamp duduk bergabung dengan OG yang lain untuk menunggu tugas yang akan diberikan kepadanya.


Sementara itu di rumah Pak Baskoro, Rasya sudah siap dengan pakaian kerja membalut tubuhnya, setelan celana dan tuxedo berwarna silver yang membuatnya semakin tampan. Ia berjalan menuruni anak tangga lalu menuju ke ruang makan. Di sana semua sudah berkumpul.


"Lho, Mas Rasya mau kemana pagi-pagi sudah rapi, bukanya kampus libur ya, Mas?" tanya Rayan agak heran melihat sang kakak sudah rapi.


"Mau ke kantor lah, Ray." Rasya menjawab santai.


"Apa kerjaan Mas mengoreksi hasil ujian sudah kelar. Kalau belum mendingan kakak kelarin dulu dech, urusan kantor Ray bisa handel sama Bapak kok, ya kan Pak?" tutur Rayan panik meminta dukungan sama Pak Baskoro.

__ADS_1


Pak Baskoro dan Bu Nastiti hanya tersenyum melihat kepanikan Rayan.


"Iya, Rasya. Kamu harus selesaikan itu tugas mengoreksi hasil ujian mahasiswa kamu. Bukankah kartu hasil studi harus sudah jadi sebelum mahasiswa masuk kembali?" timpal Pak Baskoro mendukung putra bungsunya. Rayan pun merasa lega ada yang membelanya.


"Ini kenapa jadi pada melarang Rasya pergi ke kantor sih? Kemarin-kemarin pada merengek-rengek nangis darah memintaku membantu pekerjaan kantor. Sekarang mumpung aku libur kan aku bisa membantu pekerjaan kantor, Pak, Ray. Koreksi hasil ujian 'kan bisa nanti malam sebelum tidur." Rasya mendramatisir ucapannya, keheranan melihat adik dan bapaknya menolaknya untuk pergi ke kantor.


"Bukan begitu, Mas. Kita enggak mau Mas Rasya terlalu memforsir tenaga buat bekerja yang akibatnya akan berdampak buruk terhadap kesehatan Mas Rasya sendiri," timpal Rayan.


"Mas Rasya tidak memforsir, Ray. Mas juga bisa jaga diri kok, tahu yang terbaik buat kesehatan Mas. Ibu melarang Rasya untuk pergi ke kantor juga?" tanya Rasya beralih pada sang ibu.


Bu Nastiti tersenyum menanggapi pertanyaan Rasya seraya berkata, "Ibu enggak mau ikut campur urusan kantor ya, ibu mau ke salon saja ah bareng Tiara, iya kan Sayang?"


Bu Nastiti mengelus-elus puncak kepala Tiara yang hanya di jawab anggukan oleh anak batita tersebut.


"Rasya tetap harus ke kantor, sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan," gumam Rasya yang masih bisa didengar oleh semua orang yang ada di ruang makan.


Perdebatan mereka kini berakhir. Mereka akhirnya menyelesaikan sarapan pagi dengan saling diam. Setelah selesai sarapan ketiga pria tersebut berangkat ke kantor sendiri-sendiri. Pak Baskoro diantar sopirnya Supriyanto, Rasya mengendarai mobilnya sendiri sedangkan Rayan mengendarai motornya.


Sebelum berangkat ke kantor, Rayan menyempatkan diri untuk menelpon Pak Andi.


"Ya, Mas Rayan?" tanya Pak Andi pada sambungan telepon.


"Bilang ke Shofie, tolong jangan tempatkan Nadia di lantai 7 atau 12. Mas Rasya hari ini berangkat ke kantor," titah Rayan.


"Baik, Mas. Ada lagi?" sahut Pak Andi bertanya.


"Sudah cukup itu saja, Pak. Terima kasih, assalamu'alaikum," Rayan mengakhiri panggilan.


"Wa'alaikumussalam, Mas," sahut Pak Andi.


Sedangkan Rasya, saat ini ia hampir sampai di kantor. Seperti biasanya, ia selalu memarkirkan mobilnya di depan lobi dan selanjutnya diambil alih oleh satpam. Sebelum masuk ke dalam kantor, Rasya menyempatkan diri menelpon seseorang.


"Assalamu'alaikum, Pak Rasya," sapa seseorang dalam sambungan telepon tersebut.


"Wa'alaikumussalam, Amir. Apa kamu sudah sampai di kantor? Saya mau membicarakan tentang yang tempo hari sudah kita bahas," ungkap Rasya menjawab sapaan seseorang yang ternyata bernama Amir.


"Saya sudah berada di ruangan saya, Pak," sahut Amir.


"Oke kalau begitu saya ke ruangan kamu saja, ini saya baru sampai lobi," tutur Rasya.


"Baik, Pak. Saya tunggu," ucap Amir.


Rasya langsung memutuskan sambungan teleponnya. Melangkah masuk ke dalam lobi lalu masuk ke dalan lift khusus direksi. Lift berhenti di lantai 5, pintu lift terbuka. Rasya keluar dari dalam lift dan melangkah menuju sebuah ruangan. Rasya mengetuk pintu yang masih terbuka dan langsung masuk ke dalam ruangan.


"Silakan duduk, Pak," Amir mempersilakan bos nya untuk duduk.


"Terima kasih, Amir," sahut Rasya. Ia pun duduk berhadapan dengan Amir.


"Rencananya Bapak mau merancang sendiri atau meminta bantuan pihak ke tiga, Pak?" tanya Amir pada bosnya.


"Saya Rasa, saya akan rancang sendiri saja villa itu, biar sesuai dengan keinginan saya. Lalu kita serahkan pada perusahaan kontraktor, tetapi saya sendiri yang akan memantau pembangunan vila tersebut. Saya juga minta bantuan kamu, Mir," tutur Rasya meminta dukungan.

__ADS_1


"Pasti saya akan bantu semampu saya. Sebentar, Pak," Amir menjeda. Ia memegang gagang telepon, mendekatkan ke telinga kanannya, lalu menekan sebuah tombol. "Dik, tolong buatkan dua kopi jangan terlalu manis, antar ke ruangan saya," perintah Amir.


"Baik, Pak," sahut seseorang di seberang sana.


"Lokasi villa itu kira-kira dimana, Pak?" tanya Amir.


"Di daerah Bandung barat, kebetulan di sana ada tanah milik keluarga yang tidak jauh dari perkebunan teh," tutur Rasya menjawab pertanyaan Amir.


Seorang OG membawa masuk dua cangkir kopi yang tadi dipesan oleh Amir. "Permisi, ini kopinya, Pak. Silahkan diminum," ucap OG tersebut mempersilakan.


Rasya yang seperti mengenal suara OG tersebut seketika menoleh. "Asa!" serunya.


Nadia yang mendengar namanya dipanggil juga menoleh ke arah orang yang memanggilnya. "Pak Rasya?" pekiknya.


"Sejak kapan kamu jadi seorang office girl?" Protesnya tidak suka.


"Saya kerja sejak hari ini, Pak," sahut Nadia tanpa merasa gengsi sedikitpun.


'Ternyata ini yang sejak tadi pagi disembunyikan oleh Rayan,' pikir Rasya.


"Siapa yang kasih kamu pekerjaan ini, Asa?" tanya Rasya lagi yang mulai geram.


"Dari pihak HRD, Pak. Kata Pak Andi adanya cuma lowongan OG, karena ada salah seorang OG yang sedang ijin cuti melahirkan," jawab Nadia sesuai apa yang didengarnya dari Pak Andi tanpa ada sesuatu yang ditutupi sedikitpun.


"Mulai sekarang kamu tidak usah kembali ke basecamp OG, di ruangan ini saja bantu Amir merancang sebuah vila," tutur Rasya yang lebih mirip sebuah perintah.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu mau mengganti seragam saya," pamit Nadia.


"Tidak usah, kamu tetap di sini!" tukas Rasya. "Biar ketua kelompok OG yang membawakan barang-barang kamu kemari," imbuhnya.


"Tapi kunci lokernya ada sama saya, Pak," jelas Nadia menunjukkan kunci loker yang dirogohnya dari dalam saku celana.


"Nomor berapa loker kamu?" tanya Rasya lagi.


Nadia menelisik kunci yang dia pegang. "Nomor 25, Pak," sahutnya.


"Amir suruh ketua kelompok OG untuk membawakan barang-barang di loker nomor 25 ke ruangan ini, suruh pakai kunci cadangan," perintah Rasya pada Amir.


"Baik, Pak," sahut Amir. Amir pun segera melaksanakan perintah tersebut.


Tidak berapa lama, Shofi datang membawakan barang-barang milik Nadia ke ruangan Amir. Nadia segera mengganti baju seragam OG yang baru dipakainya dengan pakaiannya kembali. Kemudian menyerahkan baju seragam OG dan kunci cadangan kembali kepada Shofi.


"Jadi sekarang tugas saya di sini apa, Pak?" tanya Nadia yang belum mengetahui tentang tugas yang harus dia kerjakan.


"Kamu bantu saya untuk membuat gambar rancang bangun sebuah villa," tukas Rasya.


"Apa? Saya ini sekolah di manajemen lho, Pak," ujar Nadia menjelaskan, padahal 'kan Rasya sudah tahu, orang dia dosennya.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2