Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tak Dapat Menahan


__ADS_3

Rasya menghembuskan napas lalu menyugar rambutnya dengan kasar.


"Astaghfirullah al'adzim, Nadia. Kenapa harus aku yang selalu menjadi penyebab penderitaan kamu?" Sesalnya.


Rasya kembali menekan tombol interkom untuk menghubungi Ifada, staf bagian administrasi.


"Ya, Pak Rasya?" sapa Ifada.


"Tolong kamu cetak biodata Asa Nahdiana, lalu segera bawa ke ruangan saya!" titah Rasya.


"Baik, Pak," jawab Ifada. Rasya langsung memutus sambungan.


"Aku harus menemui gadis itu secepatnya. Aku terlalu egois hingga membendung keinginanku untuk melihatnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia juga merindukan aku? Asa, aku rindu padamu. aku rindu kebersamaan kita. Rindukah juga kamu padaku?" gumam Rasya merutuki kebodohannya yang telah menyia-nyiakan gadis yang menaruh hati padanya. Beberapa saat kemudian.


Tok tok tok


"Masuk!" perintah Rasya.


Seorang perempuan berhijab dengan pakaian kerja dan stofmap di tangannya masuk ke dalam ruangan. "Ini data yang anda minta, Pak," ucap Ifada.


"Silahkan duduk, Ifada!" perintah Rasya lagi.


Ifada meletakkan stofmap yang ia pegang di atas meja di hadapan Rasya.


"Dalam persyaratan pemberian beasiswa memang seorang mahasiswa penerima beasiswa tidak boleh mengajukan cuti, Pak," jelas Ifada.


"Iya, Saya tahu. Sebagai gantinya semua biaya kuliahnya hingga ia tamat saya yang akan menanggungnya, ambil dari gaji saya, dan beritahu kepada mahasiswi tersebut, kalau beasiswanya telah dikembalikan. Tolong rahasiakan ini, jangan sampai gadis itu tahu kalau ini dari saya pribadi," tutur Rasya memberikan perintah.


"Baik, Pak. Maaf Pak, saya kok jadi penasaran. Sebenarnya siapa gadis itu? Sepertinya bapak peduli sekali dengan dia," tanya Ifada.


"Kamu ini mau tahu banget atau mau tau aja?" jawab Rasya berbelit-belit.


"Ih, Pak Rasya ternyata suka berteka-teki," ucap Ifada terkekeh.


"Kamu pernah dengar tentang berita penusukan yang melibatkan mantan istri saya 'kan, Ifada?" tanya Rasya.


"Iya, Pak. Itu sekitar dua bulan yang lalu."


"Gadis yang kamu cabut beasiswanya itu korban penusukan tersebut," jawab Rasya.


"Astaghfirullah al'adzim," lirih Ifada.


"Dia terpaksa cuti kuliah karena mengalami koma selama sebulan lebih dan masih butuh waktu untuk masa penyembuhan. Sayalah orang yang harus bertanggung jawab atas musibah yang menimpanya," imbuh Rasya.


"O, begitu. Tapi saya seperti menangkap sesuatu yang lain di mata Bapak," tebak Ifada.


"Ah, sok tahu kamu," elak Rasya.


"Pasti dia mahasiswi spesial buat Bapak yang membuat istri bapak menjadi cemburu dan menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa gadis itu. Saya jadi penasaran seperti apa gadis itu, gadis yang telah membuat hati Pak Rasya porak-poranda, hahaha …." Ifada mengeluarkan analisanya diakhiri dengan kekehan.


"Analisa kamu itu terlalu berlebihan, Ifada," cicit Rasya.


"Hahaha, Pak Rasya tidak mau jujur sama diri-sendiri. Saya permisi dulu dech, Pak," pamit Ifada.

__ADS_1


"Silahkan, Ifada. Terima kasih sudah membantu saya," sahut Rasya.


"Kembali kasih, eh Maksud saya sama-sama, Pak," jawab Ifada terkekeh lalu keluar dari ruangan tersebut.


Rasya hanya tersenyum menanggapinya, memandangi punggung wanita berhijab tersebut hingga hilang di balik pintu. Ia membuka stofmap yang berisi selembar biodata Nadia. Rasya membaca dengan teliti setiap detail data tersebut.


"Indramayu," gumam Rasya. Ia lalu meraih ponselnya yang terletak di meja di hadapannya, mengambil foto alamat Nadia dengan kamera ponselnya tersebut. Lalu menelpon seseorang.


"Assalamu'alaikum, Mas Rasya," suara Pak Supri, sopir pribadi Pak Baskoro terdengar dari ujung telepon.


"Wa'alaikumussalam, Pak. Nanti jam empat sore antarkan saya ke Indramayu ya, Pak. Kita ketemu di rumah," tutur Rasya.


"Baik, Mas Rasya," sahut Pak Supri.


"Sekarang bapak istirahat saja, karena nanti malam kita akan pulang langsung ke Jakarta," tukas Rasya.


"Iya, Mas Rasya," sahut Pak Supri.


Rasya pun menutup panggilan setelah mengucap salam. Azan Dzuhur baru saja berkumandang. Namun sepertinya Rasya sudah tidak betah untuk menunggu hingga pukul empat sore untuk pergi ke Indramayu. Sebenarnya pukul satu siang ia masih ada jadwal untuk mengisi kuliah di ruang kelas semester VII, tetapi karena ia sudah tidak bisa konsentrasi, ia meminta kepada asisten dosennya untuk mengisi jam kuliahnya.


Rasya melajukan mobilnya keluar dari gerbang kampus. Ia membawa mobilnya tersebut menuju ke sebuah rumah sakit, memarkirkan di area parkir. Dengan tergesa-gesa Rasya berjalan melewati koridor menuju ke ruang rawat inap khusus anak-anak.


Dengan pelan Rasya membuka pintu sebuah ruangan. Nampak seorang gadis kecil tergolek lemah di sebuah brangkar dengan selang infus menempel di kaki kanannya. Bu Nastiti duduk di kursi samping brangkar.


Rasya melangkah mendekat menghampiri brangkar lalu mencium kening Tiara yang masih terlelap beberapa saat. Raut kesedihan nampak di wajahnya. "Maafkan Papa, Nak," ucapnya pelan.


Pandangan Rasya beralih ke Bu Nastiti. "Apa Tiara sudah mau makan, Bu?" tanyanya.


"Tadi pagi cuma minum jus apel saja," jawab Bu Nastiti. "Kamu jam segini sudah pulang, apa tidak ada jam mengajar?" tanyanya.


"Kapan kamu siap untuk menjemput Nadia?" tanya Bu Nastiti to the poin.


"Nanti sore bakda Ashar, in sya Allah Rasya minta Pak Supri untuk diantar ke sana, Bu. Sekarang Rasya mau sholat dan langsung istirahat di rumah," jawab Rasya. "Ibu pasti belum sholat dan makan siang? Ibu sholat dan makan siang dulu saja, biar Rasya yang jaga Tiara di sini," imbuhnya.


"Baiklah, Ibu keluar dulu ya. Ibu mau sholat di mushola rumah sakit saja," pamit Bu Nastiti, Rasya mengangguk. Bu Nastiti mengambil mukena, lalu keluar dari ruangan tersebut.


Rasya duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Bu Nastiti. Ia membelai lembut rambut putri semata wayangnya sambil menyandarkan kepalanya di bantal di samping Tiara.


Tiara membuka matanya karena merasa terusik. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beradaptasi dengan ruangan. "Papa," panggilnya dengan suara lemah.


"Iya sayang," Rasya menegakkan kepalanya. "Papa mau jemput Mama Nanad untuk Tiara," tuturnya.


"Benalan, Pa?" tanyanya girang dengan senyum menghiasi wajah pucat imutnya.


"Tapi ada syaratnya," timpal Rasya.


Wajah sumringah Tiara kini berubah cemberut. "Salat apa, Pa?" tanyanya.


"Tiara harus makan!" bujuknya.


"Iya, Pa. Aya mau makan," jawab Tiara antusias kembali tersenyum.


"Papa suapi ya?" Tiara mengangguk. Rasya membantu Tiara untuk duduk. Ia lalu mengambil baki yang ada di atas nakas, lalu kembali duduk di kursi semula. "Baca do'a sebelum makan dulu, Sayang," pintanya.

__ADS_1


Tiara membaca do'a yang diminta oleh papanya dengan lancar walaupun dalam logat khas cadelnya. Setelah selesai, Rasya mulai menyuapkan air putih dengan sendok ke mulut Tiara supaya tidak tersedak, kemudian menyuapkan bubur yang disediakan oleh rumah sakit. Tiara dengan antusias menerima sesuap demi sesuap bubur yang diberikan oleh papanya.


'Ternyata gadis itu memberikan pengaruh yang besar bagi Tiara,' batin Rasya sambil terus menyuapkan bubur ke mulut Tiara.


"Pesawat ke enam segera meluncur ke markas, uwinguwinguwing..." ucapnya dengan suara keras, mengangkat sendok dengan gerakan berkelok-kelok menuju ke mulut Tiara. Setelah Tiara kembali membuka mulutnya, Rasya malah menyuapkan bubur tersebut ke mulutnya sendiri.


"Papa culang, Papa lapal?" seru Tiara tersenyum.


"Iya, Papa lapar. Makanya ayo habiskan buburnya sebelum Papa yang makan, Sayang," sahut Rasya. Namun ketika Rasya menyuapkan kembali ke mulut Tiara, Tiara sudah mengunci rapat mulutnya, ia sudah tidak berselera makan lagi.


"Tiara sudah kenyang?" tanya Rasya lagi. Tiara hanya mengangguk. "Ya sudah, habiskan dulu minumnya, setelah itu Tiara bobok lagi ya, Sayang!" perintahnya. Rasya mengambil gelas yang berisi air putih, lalu mendekatkan ke bibir Tiara. Tiara hanya meminumnya sedikit.


Rasya membantu putrinya berbaring. ia mengelus-elus kening Tiara hingga ke rambut. Namun Tiara sudah tidak mengantuk lagi. Hingga Bu Nastiti masuk kembali ke dalam ruangan.


"E ... , cucu Eyang sudah bangun," tutur Bu Nastiti.


"Udah donk, udah makan juga lho, Eyang Putri," timpal Rasya mewakili Tiara untuk menjawab.


"Wah peningkatan, mau ketemu sama Mama Nanad ya harus mau makan biar cepat sehat. Ya kan, Sayang?" Tiara mengangguk senang.


"Ibu sudah di sini, kamu kalau mau pulang sekarang saja. Katanya mau istirahat," suruh Bu Nastiti.


"Ibu sudah makan?" tanya Rasya.


"Sudah barusan di kantin rumah sakit," jawab Bu Nastiti.


"Kok cepat sekali?" tanya Rasya.


"Ibu takut kamu kelamaan menunggu," jawab Bu Nastiti.


"Ya sudah, Papa mau jemput Mama Nanad ya, Sayang. Tiara baik-baik sama Eyang ya!" pamit Rasya pada putrinya. Tiara mengangguk, Rasya mencium keningnya.


"Rasya pamit, Bu," pamit Rasya mencium punggung tangan Bu Nastiti.


"Hati-hati ya, sampaikan salam Ibu buat Nadia dan keluarganya," pesan Bu Nastiti.


"In sya Allah, Bu," sahut Rasya. Ia pun segera keluar dari ruangan tersebut. Kini di ruang rawat inap Tiara hanya tinggal Tiara dan Bu Nastiti.


Bu Nastiti duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Rasya. "Nanti kalau Mama Nanad sampai, Tiara jangan minta gendong ya, Sayang. Pinggang Mama Nanad kan baru sembuh," tutur Bu Nastiti pada Tiara. Tiara mengangguk.


"Aya mau Mama Nanad nina bobo tulus baca celita," sahut Tiara.


"Tiara harus berdo'a supaya supaya Papa bisa membujuk Mama Nanad untuk tinggal bareng Tiara, syukur-syukur Papa mau nikah sama Mama Nanad, biar Mama Nanad jadi Mama Tiara beneran," bujuk Bu Nastiti. Tiara hanya mengangguk walaupun ia sebenarnya belum mengerti apa yang diucapkan Bu Nastiti.


Sementara itu, Rasya yang telah sampai di rumahnya menaruh tas laptopnya di ruang kerja. Ia lalu menuju ke kamarnya, menerobos masuk ke dalam kamar mandi, mengambil air wudhu untuk sholat dhuhur.


Usai sholat dhuhur duda tetapi perjaka tersebut membaringkan tubuhnya di sofa, menyalakan televisi di kamarnya yang sudah lama sekali tidak pernah dinyalakan karena terlalu sibuk di luar rumah. Ia ingin tidur siang supaya nanti malam tidak mengantuk, sehingga ia bisa bergantian dengan Supri menyetir mobil.


Namun, manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Wajah Nadia kini malah hadir menghantuinya, semakin ia memejamkan mata semakin wajah itu seperti terlihat nyata.


"Aku mau tidur dulu, Asa. Nanti baru menemui kamu. Kalau kamu terus menggangguku mana bisa aku tidur? Pergi Asa, pergi," gerutunya.


Orang tidak pernah tidur siang mana bisa tidur, Pak?-Author.

__ADS_1


Maaf bab ini kurevisi, ada yang tertinggal 🙏


__ADS_2