Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Menghadiri Pesta


__ADS_3

Hari ini Nadhif kakaknya Nadia dan ketiga orang rekan kerjanya bersama partner mereka, berangkat dari Bandung dengan menaiki pesawat. Dari perusahaan mereka mendapatkan voucher transportasi, akomodasi serta menginap selama dua hari dua malam di Merysta Hotel.


Mereka sampai di hotel dan melakukan cek in kamar hotel pada pukul dua siang. Sesampai di kamar, Nadhif menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia meraih ponsel untuk menghubungi adiknya hendak memberitahukan bahwa ia sudah sampai di hotel.


"Assalamu'alaikum, Kang. Ada apa?" tanya Nadia langsung dalam sambungan telepon tanpa basa-basi.


"Wa'alaikumussalam, Nadia. Kakang sudah sampai di Jakarta, sekarang sedang istirahat di hotel," ungkap Nadhif.


"Oh, ya udah. selamat istirahat ya, Kang. Nadia lagi mau nyuci baju."


"Oh iya, nanti kamu bawa baju ganti ya. Kakang jemput jam lima. Pulang dari pesta menginap di hotel sama Kakang saja. Besok pagi Kakang antar pulang ke kostan," tutur Nadhif.


"Sekamar, Kang?" tanya Nadia tidak percaya kalau dia akan tidur satu kamar dengan kakak laki-lakinya.


"Iya, kenapa? Masa kamu takut tidur satu kamar sama kakak kamu sendiri?" sergah Nadhif.


"Hehe ... iya, 'kan sejak Kakak sekolah SMP kita sudah tidak pernah tidur bareng lagi, Kang. Jadi gimana gitu?" timpal Nadia.


"Nadia, Nadia, kakang ini kakak kandung kamu, wali kamu, orang yang harus melindungi kamu, masa ia kakang akan berbuat macam-macam sama kamu." sergah Rayan.


"Iya, Kang. Nadia mau kok. Jarang-jarang kan dapat kesempatan menginap di hotel mewah gratis," Nadia akhirnya menyetujui usulan kakaknya.


"Kamu tenang saja, Nad. Kakang dapat kamar hotel suit room kok dengan dua kasur singel yang terpisah. Ya udah, kamu terusin nyuci bajunya. Kakang mulai mengantuk nih kayaknya, uwaw ...," Rayan berkata sambil menguap karena mengantuk. "Nanti jam 5 kakang ke situ, assalamu'alaikum," imbuhnya mengakhiri panggilan.


"Wa'alaikumussalam, Kang," sahut Nadia.


Setelah menutup sambungan telepon, Nadhif langsung tertidur lelap karena rasa lelah dan kantuk yang menderanya akibat perjalanan jauh. Sementara Nadia kembali melanjutkan acara mencuci bajunya.


********


Pukul 4 sore lebih Nadia sudah mulai bersiap-siap karena pukul 5 kakaknya Nadhif berjanji akan menjemputnya. Ia mengenakan setelan blus lengan panjang dan celana baggy yang kemarin dibelinya bersama gaun. Sementara gaun dan kerudung yang akan dipakai nanti malam beserta keperluan yang lain ia masukkan ke dalam tas ransel. Untung ia mempunyai sepatu rajut yang bisa ia pakai untuk acara santai maupun formal, sehingga ia tidak perlu membawa sepatu atau sandal lagi.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Nad, jemputan kamu udah datang tuh," seru Anisa teman kost Nadia dari luar.


"Iya, sebentar lagi, Nis. Tolong suruh tunggu sebentar ya!" sahut Nadia.


Tak lama Nadia keluar dari dalam kamar dengan dandanan sudah rapi.


"Siapa sih, Nad? Cakep juga tuh cowok," tanya Anisa kepo.


"Kakakku yang kuliah di Bandung, yuk ah. Tolong nanti bilang ke Mbak Rumi kalau aku udah dijemput sama kakakku ya, Nis!" pinta Nadia.


"Siip ..." sahut Anisa menyanggupi.


Nadhif menunggu adiknya di teras, Nadia meraih punggung tangan sang kakak, lalu menciumnya. Mereka bersama menghampiri mobil. Mobil tersebut disediakan oleh Merysta Hotel bagi para penginap yang membutuhkan transportasi untuk jarak dekat.


"Acaranya jam berapa, Kang?" tanya Nadia saat mobil sudah melaju.


"Jam sembilan malam," jawab Nadhif. "Mamak berapa kali ke Jakarta jenguk kamu?" imbuhnya bertanya.

__ADS_1


"Baru dua kali, Kang. Kenapa?" sahut Nadia lalu bertanya.


"Tidak apa-apa. Hanya saja, sekarang 'kan kamu jauh dari Kakang dan Mamak. Kamu harus bisa jaga diri. Kamu masih lanjutin latihan silat kamu, kan?"


Nadia tidak pernah menceritakan pada sang kakak kalau beberapa bulan yang lalu ia sempat berkelahi dengan komplotan preman hingga ia jatuh sakit. Ia tidak ingin kakaknya khawatir.


"Nadia tidak tahu di sini perguruan silat yang Nadia ikuti di mana," sahut Nadia.


"Memang di kampus kamu tidak ada?"


"Tidak tahu juga," sahut Nadia yang memang tidak pernah mengikuti kegiatan yang ada di kampusnya selain kuliah. "Nanti aku coba tanya sama Mas Rayan deh," imbuhnya.


"Siapa itu Mas Rayan?" tanya Nadhif memiringkan kepalanya.


"Cuma teman, kakak angkatan di kampus," sahut Nadia.


"Cuma teman?" tanya Nadhif mengulang kata Tania.


"Iya, Kang. Beneran cuma teman," sahut Nadia lagi.


"Iya udah deh, terserah kamu," pasrah Nadhif.


"Oh iya, gimana skripsinya, Kang? Sudah di-ACC?" tanya Nadia mengingat satu minggu yang lalu kakaknya bilang mau bimbingan bab terakhir.


"Belum, Dik. Masih banyak yang harus direvisi, sementara kakang sekarang makin sibuk dengan pekerjaan di toko, enggak punya waktu buat memperbaiki skripsi," jawab Nadhif malas kesibukannya sebagai salah seorang manager di Ardimart cabang ITB semakin padat, sebenarnya cabang Coblong namun karena letaknya tidak jauh dari sekolah terkenal tersebut hingga dikenal dengan cabang ITB.


"Ya harus diluangkan lah, Kang. Kalau ditunda-tunda nanti kakang akan malah semakin malas juga buat memperbaikinya," Nadia menasehati sang kakak.


"Lantai berapa, Kang?" tanya Nadia pada sang kakak saat mereka berada di lift.


"Tiga belas," jawab Nadhif singkat.


Nadia terhenyak mendengar jawaban sang kakak yang singkat itu. Tiga belas? Angka yang dipercaya sebagai angka keramat selain 4. Dasar Nadia emang suka paranoid, semoga saja tidak terjadi hal-hal yang buruk.


*******


Malam harinya.


"Dik, mau makan malam di restoran sekarang atau delivery? Atau nanti saja sekalian turun ke tempat pesta?" Tanya Nadhif pada sang adik sambil melipat sajadahnya saat mereka telah selesai melaksanakan sholat isya'.


"Delivery saja, Kang. Nadia udah lapar banget soalnya," jawab Nadia.


"Ya sudah, kakang pesan dulu." Nadhif menekan tombol interkom yang tersedia di sudut ruangan. Menekan kode restoran, lalu mulai memesan makanan, dari kode interkom yang tersambung tersebut sudah tambak terlihat nomor kamar dan lantai berapa pesanan dilakukan.


Tidak lama kemudian makanan yang dipesan oleh Nadhif pun datang. Setelah menghabiskan makan malam, Nadia dan Nadhif segera bersiap diri untuk menghadiri pesta.


"Sudah siap?" tanya Nadhif melihat sang adik yang sudah rapi. Nadia mengangguk.


Nadhif menggandeng tangan adiknya ke luar dari kamar, memasuki lift turun ke bawah. Tempat berlangsungnya acara ada Ballroom hotel di lantai dasar.


Di tempat acara pesta, suasana ballroom hotel yang luas dan megah dihiasi lampu-lampu yang gemerlap serta dekorasi tanaman hijau dan bunga-bunga yang menyejukkan mata. Di bagian depan terdapat panggung hiburan dan di setiap sudut di letakan layar monitor LCD. Kursi ditata melingkar di setiap meja. Di sisi kanan dan kiri terdapat meja yang di tersedia makanan dan minuman.

__ADS_1


Saat memasuki ballroom, Nadhif mencari keberadaan ketiga rekan kerjanya beserta istri mereka. Namun, karena jumlah tamu yang hadir ratusan orang keluar masuk silih berganti, sehingga ia tidak menemukannya.


Tiba-tiba Nadia melihat sosok Rayan tengah duduk di kursi yang ditata melingkari meja yang berbentuk bundar. "Mas itu Mas Rayan temanku." Nadia langsung menarik tangan sang kakak mendekati meja yang diduduki oleh Rayan. Dengan terpaksa Nadhif mengikutinya.


Setelah mereka mereka dekat, ternyata Rayan tidak sendirian, tetapi ada sang kakak juga di sana. Perasaan Nadia menjadi gugup tiba-tiba, tetapi ia sudah terlanjur mendekat dan tatapan mereka sudah bertemu.


"Mas Rayan, kok enggak ajak Prima?" tanya Nadia pada Rayan.


"Enggak lah, Nad. Tunanganku itu anaknya yang punya pesta ini, dan kami belum putus. Masa iya aku sudah menggandeng cewek lain," sanggah Rayan.


"Oh iya, kenalin Mas Rayan, Pak Rasya, ini kakakku Kang Nadhif." Nadia akhirnya bisa menyapa Rasya juga. "Kang kenalin ini Mas Rayan kakak angkatanku, dan di sebelahnya itu Pak Rasya, dosenku," ucapnya memperkenalkan.


Nadhif pun menjabat tangan keduanya bergantian sambil menyebutkan nama.


"Silakan duduk!" Rasya mempersilakan Nadhif dan Nadia duduk di kursi yang kosong di hadapan mereka.


Nadhif duduk di hadapan Rasya, sementara Nadia duduk di hadapan Rayan. Sesekali Rasya nampak mencuri pandang memperhatikan Nadia, tetapi Nadia tidak sekalipun berani memandang ke arah Rasya.


Para tamu undangan telah hadir memenuhi ruangan, gemerlap lampu redup-terang mengikuti musik yang dimainkan oleh grup band terkenal itu, suara penyanyi papan atas juga terdengar melengkapi musik yang, lagu-lagu romantis mengalun syahdu di awal pesta tersebut.


Sesaat permainan musik dan penyanyi dihentikan untuk menyambut kehadiran orang nomor satu di ARD's Corp di ruangan pesta tersebut, Ardiansyah, Aghni dan Dewi muncul dari pintu tengah, berjalan dengan anggun dan berwibawa di atas karpet merah.


Suasana yang sesaat hening, kini menjadi riuh oleh tepuk tangan sorak sorai para tamu, serta bunyi ceklak-ceklek dan lampu kamera para tamu dan wartawan. Beberapa bodyguard mengiringi mereka dari belakang. Mereka diarahkan untuk duduk di kursi bagian paling depan tengah samping kiri.


Dua orang pembawa acara mulai memandu jalannya acara. Acara di mulai dengan pembacaan basmallah dilanjutkan sambutan dari perwakilan pimpinan dewan direksi.


Selanjutnya acara inti adalah sepatah kata dari pemilik ARD's Corp yang disampaikan oleh Ardiansyah dan pemotongan tumpeng. Ardi maju ke podium yang ada di atas panggung. Ia mulai membacakan pidato dadakan tanpa teksnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh," terdengar ucapan salam dari bibir Ardi sebagai pembuka pidato. Jawaban salam pun terdengar dari penjuru seluruh hadirin.


Ardi pun melanjutkan kalimatnya, "Sebelum saya menyampaikan sepatah dua patah kata, ijinkan saya berkata jujur, bahwa saya merasa grogi berada di podium yang kecil ini dengan panggung sebesar ini, di hadapan kalian yang jumlahnya hingga 1000 lebih undangan, Saya ini merasa seperti seekor kutu, dengan kata lain saya mati kutu di hadapan kalian,"


Gerrrr ...


Suara tawa dan tepuk tangan riuh pun seketika terdengar menyambut seloroh Ardi.


"Saya sudah terbiasa berhadapan dengan klien dari manapun, saya percaya diri. Tetapi kali ini kumpulan dari para klien berada di hadapan saya, luar biasa."


Tepuk tangan serempak kembali terdengar.


"Ungkapan syukur sedalam-dalamnya kami sanjungkan kehadirat Allah SWT, dalam satu generasi Ardiansyah Corporation atau yang lebih kita kenal dengan nama ARD's Corp telah tumbuh dari perusahaan minimarket dan perhotelan menjadi perusahaan terpadu yang beroperasi di Indonesia dan dua negara lain di Asia. Bisnis kami juga telah berkembang guna menyediakan kebutuhan bagi seluruh lapisan masyarakat dari kalangan bawah hingga menengah ke atas di masa kini."


"Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan kerja keras dan dedikasi kalian sehingga ARD's Corp menjadi perusahaan hingga sebesar ini. Dari pemegang saham, Dewan direksi, jajaran manajemen, seluruh relasi bisnis serta seluruh pegawai dan pelayan sebagai ujung tombak perusahaan ini yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu. Tanpa kalian kami bukan apa-apa."


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2