
"Uhuk uhuk ..." Nadia tersedak.
Rasya segera menegakkan tubuhnya kembali. Setelah batuknya reda Nadia memperhatikan sekeliling, di matanya seperti berada di alam lain, semuanya terbalik. Nadia menjadi ketakutan.
"Tolong! Tolong aku!" teriak Nadia kencang.
Rasya segera membekap mulut Nadia dengan telapak tangannya. "He, enggak usah teriak-teriak! Nanti orang dengar bisa-bisa orang kira aku mau memperkosa kamu lagi," sergah Rasya.
Rasya membantu Nadia untuk duduk. Kembali Nadia memperhatikan sekeliling berusaha mengumpulkan satu per satu nyawanya yang masih tercecer di alam mimpi. Masih juga terasa asing karena suasana yang remang-remang.
"Sekarang sudah tahu belum, kamu berada di mana?" tanya Rasya.
"Ini di mana, Pak? Tiara dan Ibu, di mana mereka?" cecar Nadia masih dalam mode kebingungan.
"Sudah masuk duluan ke room spa. Kamu sih kalau tidur kayak kebo, dibangunin dari tadi enggak bangun-bangun," jawab Rasya.
"Kalau aku tidur kayak kebo, lalu bapak kayak apa?" sergah Nadia.
"Kaya kuda Nil kali," sahut Rasya asal. "Mau ikut ke spa apa mau nunggu di sini saja nih?" tanyanya.
"Ngapain di sini?" tanya Nadia.
"Bercinta," sahut Rasya dengan senyuman menyeringai.
"Bercinta itu kalau dua-duanya saling cinta. Kalau yang cinta cuma bapak, tetapi aku enggak apa namanya?" sergah Nadia.
"Kamu enggak apa? Coba menghadap sini kalau bicara, tatap mata orang yang kamu ajak ngomong," pinta Rasya menangkupkan wajah Nadia dengan kedua tangannya supaya Nadia menghadapnya.
Nadia mencoba menepis tangan Rasya. Namun, pegangan Rasya malah semakin kencang. "Ih, cinta kok maksa," seringainya.
"Kalau enggak dipaksa juga kamu pasti nggak bakalan mau ngaku. Coba bilang enggak cinta, tapi tatap mata aku," pinta Rasya lagi.
Nadia malah menutup mukanya dengan kedua tangannya seraya berkata, "Enggak mau!"
"Ayo keluar!" Rasya pun melepaskan tangannya. Berjalan meninggalkan Nadia yang masih di dalam mobil, tetapi sesekali masih menengok ke belakang. Hingga ia masuk ke dalam lift tiba-tiba Nadia cepat-cepat menerobos masuk sebelum pintu lift tertutup kembali secara otomatis.
Seperti biasa Nadia bersandar di dinding di belakang Rasya, memandangi punggung laki-laki itu dari belakang. Rasya menoleh ke belakang.
"Enggak cuci muka dulu kamu?" tanya Rasya.
"Nanti ditinggal," sahut Nadia mengerucutkan bibirnya.
Rasya tersenyum lalu bertanya, "Masa iya ke toilet harus ditungguin?"
Lift berhenti, pintu terbuka dan mereka keluar dari dalam lift. Rasya langsung melangkah menuju ke room spa khusus pria.
'Huh, kenapa enggak dianterin sih?' dengus Nadia kesal.
"Pak," panggil Nadia.
Rasya menoleh, "Pak, Pak. Kamu panggil siapa? Aku punya nama," sergahnya.
"Anterin," pinta Nadia tanpa memperdulikan protes Rasya.
"Ini masih siang, Nanad. Masa enggak berani masuk sendiri?" cicit Rasya.
"Kalau masuk sendiri nanti dapat tagihan, aku enggak bawa uang," ucapnya nyengir kuda.
"Kasih nomor rekening kamu," pinta Rasya.
Nadia menyerahkan ponselnya yang sudah tersimpan nomor rekening bank di sana. Rasya pun mengetik sesuatu.
"Nomor rekening kamu, Nanad?" Protes Rasya saat membaca nama penerima pemindahbukuan bukan Asa Nahdiana.
"Aku belum bikin kartu ATM, Pak. Itu punya kakakku, tapi kartu ATMnya udah ada sama aku kok. 'Kan Kang Nadhif udah di Cambridge daripada ATM nya mubazir," jelas Nadia.
__ADS_1
"Ya udah, ini segini saja. Besok siang Mas buatkan ATM atas nama kamu. Tapi kamu harus janji panggil aku Mas ya," pintanya dengan menaikturunkan kedua alisnya.
"Enggak mau, udah dibilang panggil Masnya kalau udah resmi. Lagian siapa juga yang minta dibikinin kartu ATM baru?" tolak Nadia.
Nadia lalu pergi meninggalkan Rasya dan melangkah menuju ke room spa khusus wanita.
"Halah pura-pura enggak mau dia," cicit Rasya sambil melangkah masuk ke room spa khusus pria.
Setelah 1,5 jam mereka menghabiskan waktu di room spa. Mereka lalu masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan mencari barang-barang hingga pukul sembilan malam. Pukul sepuluh malam barulah mereka sampai di rumah. Rasya langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Mengerjakan pekerjaan yang sejak kemarin tertunda akibat ia masuk rumah Sakit. Saat sedang membuka-buka berkas tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar.
"Masuk!" perintah Rasya.
Pintu pun dibuka dari luar ruangan, menampilkan seorang wanita seksi berpakaian kurang bahan. "Ini kopi, Mas. Saya sengaja buatkan kopi buat Mas Rasya." Perempuan itu berucap.
"Saya tidak mau kopi. Saya sudah selesai dan mau segera istirahat, tetapi terima kasih kamu sudah capek-capek membuatkan saya kopi," timpal Rasya. "Kalau tidak ada perlu sama saya silakan keluar," imbuhnya mengusir perempuan itu secara halus.
'Huh, aku udah bayar mahal obat itu malah nggak diminum,' gerutu perempuan itu kesal melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Rasya.
"Heh tunggu Lusi!" cegah Rasya.
Lusi pun menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Rasya. "Ya, Pak?" sahutnya dengan maksud bertanya ada apa.
"Ini kopinya bawa saja kembali, atau kamu saja yang minum. Saya takut malah enggak bisa tidur nanti kalau minum kopi," pinta Rasya.
'Apa? Aku harus meminumnya? Senjata makan tuan donk,' rutuk Lusi dalam hati.
"Ah iya, Pak," sahut Lusi yang lalu mengambil cangkir yang berisi kopi kembali, membawanya ke luar dari ruangan tersebut.
"Dasar! Celine sudah pergi dari hidupku, sekarang muncul lagi makhluk dengan spesies sejenisnya," gerutu Rasya.
Rasya menutup kembali laptopnya. Ia melangkah menghampiri saklar lampu dan menekannya. Klek, lampu ruangan tersebut seketika mati. Ia pun keluar dari ruangan dan melangkah menuju ke kamarnya.
Di dapur, Nadia yang sedang mengambil air putih untuk diminum merasa heran melihat kedatangan Lusi yang membawa cangkir kopi yang masih utuh dan menaruhnya di wastafel.
"Mbak Lusi darimana malam-malam begini kok pakai baju seksi? Dan itu kopi masih utuh kenapa dibuang?" cecar Nadia pada wanita pengasuh Tiara tersebut.
"Ye, ditanya baik-baik kok sewot," gerutu Nadia.
Nadia meletakkan gelas yang dipegangnya di wastafel dan melangkah meninggalkan dapur menuju ke kamarnya.
"Belum tidur kamu, Nad?" tanya Bu Nastiti yang tiba-tiba berpapasan dengan Nadia.
"Ini baru mau tidur, Bu," sahut Nadia tersenyum lalu melewati ibu paruh baya tersebut.
"Oh iya, Nad," ucap Bu Nastiti tiba-tiba. Nadia menghentikan langkahnya dan menghadap kembali ke arah Bu Nastiti.
"Ibu lupa bilang sama kamu kalau besok pagi ibu mau ke Sukorejo sama Bapak. Mau nengok cucu ibu yang baru lahir," ungkap Bu Nastiti menoleh ke arah Nadia.
"Oh jadi ibu ikut juga?" tanya Nadia.
"Iya dong. Ibu sudah kangen sama Rania adiknya Mas Rasya," jawab Bu Nastiti menampilkan senyumnya.
"Berapa lama ibu di sana?" tanya Nadia lagi.
"Mungkin sekitar satu Minggu, kamu enggak apa-apa 'kan di rumah tanpa ibu? Rencananya Tiara juga mau ibu bawa." Bu Nastiti memastikan.
"Yah, harusnya kan memang aku pulang ke kostan. Kenapa Tiara harus dibawa juga sih, Bu? Kan di sini aku jadi enggak ada teman, lagian Tiara kan sudah ada yang jagain, Mbak Lusi," sesal Nadia.
"Besok sekembali dari Sukorejo ibu ceritakan, deh. Sekarang sudah malam kamu istirahat saja ya. Ibu mau ambil air minum buat persediaan Bapak kalau malam terbangun," janji Bu Nastiti.
Nadia pun meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya. Setelah menutup pintu kamar, ia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur empuk. Ia meraih ponselnya, mengetikan sesuatu di sana.
[Pak Rasya udah tidur belum?]
send
__ADS_1
langsung mendapat balasan.
my Dosen killer
[udah]
[Kok bisa balas chat? udah gitu cepet banget lagi balasnya.]
send
my Dosen killer
[Kebangun gara-gara notif chat kamu. Aku kira ada pesan penting gak tahunya gak penting banget.]
[Oh, udah ada yang seksi dan bahenol lagi ya sekarang, jadi anggap aku udah gak penting lagi. Ya udah aku gak mau chat lagi]
send
Nadia menonaktifkan ponsel dan meletakkan ponsel pintarnya di atas nakas lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. "Bilang nggak penting, awas saja kalau dia nyari-nyari aku lagi," sungutnya.
Tiba-tiba pintu kamar Nadia diketuk dari luar.
Tok tok tok
"Nanad! Nanad! Nanad Sayang! Buka pintunya donk!"
Berulang kali Rasya mengetuk pintu dan memanggil nama penghuni kamar.
"Berisik amat sih orang pintu nggak dikunci juga," sungut Nadia dari balik selimut.
"Nanad, buka pintunya!" teriak Rasya lagi.
"Berisik!" balas Nadia.
Ceklek
Pintu kamar tersebut akhirnya dengan mudah dapat dibuka. "Ternyata pintu kamar tidak kamu kunci," gumam Rasya.
Rasya menutup pintu kembali lalu menghampiri ranjang. Menyibak selimut, tetapi ditutup kembali segera oleh Nadia. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya di belakang Nadia.
"Jangan salah paham!" bisik Rasya.
"Tadi cewek seksi itu bawa kopi, pasti dari kamar bapak 'kan?" tebak Nadia.
"Bukan cuma itu, dia juga telah memasukan sesuatu ke dalam kopi yang dibuatnya itu," timpal Rasya.
Nadia membalikkan tubuhnya menghadap Rasya. "Maksud Bapak?" tanyanya penasaran.
"Kamu tahu? tadi siang saat di perjalanan menjemput kamu, Tiara nangis-nangis enggak mau lagi diasuh sama perempuan seksi itu," tutur Rasya. "Makanya besok pagi ibu mau ajak Tiara juga ikut ke Sukorejo," imbuhnya.
Nadia masih khidmat mendengarkan penuturan Rasya.
"Tiara itu anak kecil yang masih polos, dia bisa membedakan mana orang yang baik dan mana yang jahat," ungkap Rasya lagi.
"Lalu kenapa Tiara tidak mau diasuh olehnya?" tanya Nadia.
"Perempuan itu suka mukul dan membentak Tiara kalau dia tidak nurut. Tadi saat Mas memeriksa cctv rumah ini untuk membuktikan kalau ucapan Tiara itu benar, ternyata memang benar, laku pas Mas lihat cctv dapur yang lagi on, Mas lihat dia sedang membuat kopi dan meneteskan cairan dari botol kecil ke dalam larutan kopi tersebut. Ternyata dia membawanya ke ruang kerja Mas," ungkap Rasya lagi.
"Dan bapak menolak untuk meminum kopi itu? Pantesan tadi dia aku tanya malah sewot," tebak Nadia. "Kenapa Bapak enggak usir saja dia?" tanyanya.
"Ini sudah malam, kasihan dia kalau harus mencari tempat tinggal dadakan malam-malam begini," jawab Rasya. "Tidur gih!" suruhnya.
"Mana bisa tidur kalau bapak masih di sini? Nanti pas aku tidur diapa-apain lagi," terka Nadia berprasangka.
"Nggak akan terjadi apa-apa sebelum kita halal, janji deh. Lagian aku sudah ngantuk banget ini, males kalau harus kembali ke kamar atas lagi," ucap Rasya.
__ADS_1
"Ya udah, tapi madep sana tidurnya," pinta Nadia sambil mendorong tubuh Rasya untuk membelakanginya. Ia pun meletakan sebuah guling sebagai pembatas tidur mereka.
Nadia bangkit untuk mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Kemudian ia berbaring membelakangi Rasya sehingga posisi mereka kini saling membelakangi.