
Pagi ini mentari nampak bersinar cerah. Gumpalan awan putih terlihat jelas di langit yang biru. Burung-burung berkicau bersahutan menyambut suasana ini, penuh harapan besar bahwa hari ini mereka akan mendapatkan rejeki tanpa adanya hujan yang menghalangi.
Kira-kira hampir tiga bulan sudah Nadia menghirup oksigen di kota Jakarta. Pagi ini Nadia berangkat kuliah sambil menerima panggilan telepon dari kakaknya, Nadhif, yang juga sedang kuliah sambil bekerja di Bandung.
"Nad, kamu sudah cek uang untuk bayar kos-kosan yang kakang kirimkan, sudah masuk atau belum?" tanya sang kakak.
"Belum, Kang. Nadia belum sempat cek, kan Nadia belum punya ATM. Kalau mesti cek langsung ke Customer Servis kan harus bolos kuliah, udah gitu antriannya lama, Nadia malas ah. Kalau kirimannya banyak sih enggak apa-apa," keluh Nadia.
"Bikin lah ATM sekalian bikin M-banking biar mudah melakukan transaksi!" perintah Nadhif.
"Memangnya nanti uangnya enggak habis buat bayar administrasi doank?" sergah Nadia.
"Siapa tahu nanti suatu saat kamu butuh, kan sudah punya," cetus Nadhif.
"Iya, nanti Nadia bikin kalau ada waktu senggang. Kakang enggak berangkat kerja?"
"Nanti Siang, Kakang hari ini ambil sift siang sampai malam. Pagi ini kakang mau ke kampus bimbingan bab terakhir skripsi. Do'ain Kakang ya, Nad, mudah-mudahan skripsi kakang langsung di ACC. Biar tanggal 30 bulan ini kakang bisa ikut ujian sidang," tutur Nadhif meminta dukungan sang adik.
"Pasti Kang, Nadia do'akan semoga skripsi kakang hari ini di ACC, terus lulus ujian dengan nilai terbaik, aamiin ...."
"Aamiin ..., terimakasih Nad. Oh iya, minggu depan kakang mau ke Jakarta untuk menghadiri undangan pesta ulang tahun perusahaan tempat kakang bekerja, nanti kamu temani kakang ya, Nad. Kakang enggak tahu mau ajak siapa buat partner kakang soalnya."
"Ikut menghadiri pesta itu, Kang?" tanya Nadia yang kaget.
"Iya," jawab Nadhif singkat.
"Tapi Nadia kan enggak punya baju buat ke pesta, Kang. Apa nanti enggak malah bikin kakang malu. Baju-baju Nadia itu beli di serba 35 ribu semua, kang."
"Kamu coba pinjam ke teman kuliah atau teman satu kostan kamu dulu, kalau enggak dapat nanti kakang berangkat dari sini pagi, biar bisa mengantar kamu beli baju yang pantas ke pesta. Atau kakang belikan dari sini saja gimana?" tawar Nadhif.
"Enggak ah, Kang. Kalau kakang yang beli dari Bandung nanti takutnya enggak sesuai model sama ukurannya, kan sayang. Biar nanti Nadia minta antar teman Nadia buat beli gaunnya. Yang penting uang yang kakang kirim tambahin donk!" pintanya.
"Waduh, Kakang udah enggak ada uang, Nad. Uangnya kan sudah kakang kirim ke kamu dan Mamak buat bayar uang sekolah adik-adik. Ada sisa sedikit buat cadangan kakang bayar ujian."
"Ya udah, Kakang enggak usah pikirkan. Biar Nadia pakai uang Nadia saja, Kang. Nadia masih ada simpanan kok. Kan Nadia juga dapat transport dari kampus," tutur Nadia.
"Alhamdulillah, ya sudah kakang tutup ya. Kakang mau siap-siap."
"Iya, Kang."
"Wa'alaikumussalam."
Nadia menyimpan ponselnya di kantong tas punggungnya.
"Telepon dari siapa hayoo?"
Prima yang tiba-tiba sudah berada di belakang Nadia mengagetkannya seperti jelangkung. Ternyata Nadia sudah sampai di kampus.
__ADS_1
"Duh, Prima ngagetin aja dech," sungut Nadia.
"Telepon dari siapa sih, Nad? Kok kayak ada gaun-gaun pengantin? Kamu punya pacar? Sejak kapan, Nad? Kamu diajak nikah," Prima yang kepo memberikan pertanyaan beruntun, tetapi Nadia masih bingung mau menjawab mulai dari mana.
"Duh, mau mulai dari mana ya ngomongnya?"
"Dari tadi duh ... duh ... melulu."
"Aku bingung mau mulai cerita dari mana soalnya, Prima Putri Aprilia. Masuk ke kelas aja dulu, Yuk! Biarkan teman kamu ini duduk dulu."
Nadia menggandeng tangan prima agar mengikutinya masuk ke dalam kelas. Kali ini ia memilih bangku yang ada di pojokan tidak seperti biasanya. Sedangkan Prima memilih duduk di depannya dan sekarang menghadap menyerong ke samping. Nadia mulai menceritakan pokok pembicaraannya tadi dengan sang kakak.
*******
Saat ini Rayan berada di gedung ARD's Corp atas perintah Pak Baskoro untuk menyerahkan sebuah berkas kepada Ardi, petinggi perusahaan tersebut.
"Kenapa tidak Bapak kamu sendiri yang mengantarkan kemari, Ray? Apa dia tidak kangen dengan sahabatnya ini?" tanya Ardi sang petinggi ARD's Corp saat ini. Dia papanya Bramantyo dan juga papa tiri Tania (lihat Menikah dengan Sepupu).
"Bapak kebetulan sedang ada pertemuan dengan klien dari Singapura, Om?" sahut Rayan.
"Oh iya, Ray. Mengenai pertunangan kamu dengan Aghni, tidak usah kamu pikirkan. Om sadar, mungkin kalian memang belum berjodoh. Om tidak memaksa, Om tidak mau pernikahan kalian nanti seperti yang dialami oleh Bram dan Niken yang saat ini entah seperti apa hubungan mereka," ungkap Ardi.
"Iya, Om, terima kasih. Rayan juga lagi pedekate sama seorang gadis. Tetapi Rayan juga perlu membicarakan hal ini dengan Aghni terlebih dahulu," timpal Rayan.
"Pedekate?" tanya Ardi yang bingung dengan istilah anak muda jaman sekarang.
"Minggu depan saat perayaan ulang tahun ARD's Corp, Om minta Aghni untuk pulang. Kamu bisa bicara dengan Aghni setelah itu, Ray," tutur Ardi.
"Iya, Om. Terima kasih atas pengertian Om," ucap Rayan. "Oh iya, Om. Saya lagi melakukan penelitian tentang Prospek usaha Persupiran, kalau Om butuh seorang sopir untuk sementara di perusahaan atau di rumah, tolong kasih tahu saya ya, Om," pintanya.
Ardi seketika tertawa terbahak-bahak. "Kamu ini aneh kok, Ray. Masa anak Pak Baskoro, pewaris perusahaan Baskoro Groups kok ngelamar kerja jadi sopir?" celanya.
"Gimana lagi ya, Om? Sudah berkali-kali saya mengajukan judul skripsi, berkali-kali pula ditolak oleh dosen pembimbing saya. Hanya judul penelitian tentang sopir itu yang diterima," keluh Rayan.
"Iya, nanti kalau ada lowongan, Om akan kabari," janji Ardi.
"Terima kasih, Om. Kalau begitu saya pamit, Om Ardi pasti lagi sibuk," pamit Rayan.
"Sibuk apa, Ray. Kesibukan Om kan cuma duduk-duduk saja." Ardi merendah. "Terima kasih ya, Ray. Sampaikan salam Om sama Bapak kamu," lanjutnya.
"In sya Allah, Om. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Rayan keluar dari ruangan Ardi menuju ke lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Ia memperhatikan lift yang bertanda panah turun, saat pintu lift terbuka ia memasukinya, pintu pun kembali tertutup. Pintu lift terbuka kembali saat ia berada di lantai dasar. Saat ia keluar dari lift ia sudah berada di lantai dasar.
Hari ini Rayan tidak ke kampus, karena belum ada bahan untuk membuat bab 2 skripsinya. Ia masih menunggu konfirmasi dari teman-teman atau partner bisnis bapaknya yang membutuhkan jasa sopir.
__ADS_1
Rayan mengemudikan mobilnya meninggalkan gedung ARD's Corp, mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kantor pusat Baskoro grup. Ia langsung memarkirkan mobilnya di basemen parkir, jauh berbeda seperti sang kakak yang menghentikan dan meninggalkan mobil di depan lobi. Lalu meminta pak satpam untuk memarkirkan di basemen parkir.
Rayan langsung menuju ke ruangan Pak Baskoro di lantai 13. Namun, di depan ruangan dia bertemu dengan Linda, lalu bertanya kepada gadis tersebut.
"Linda apa Bapak sudah kembali ke ruangannya?" tanya Rayan.
"Belum, Mas Rayan. Om Baskoro bilang mau sekalian ajak kliennya makan siang di Planet coffee and Resto," sahut Linda.
"Oh, Kalau begitu aku ke bawah ya." Rayan hendak pamit ke ruangan Direktur, tetapi langkahnya terhenti saat Linda mencegahnya.
"Tunggu, Mas Rayan!"
Rasya pun menghentikan langkah kakinya, menoleh kembali ke arah Linda. Ia mengangkat kedua alisnya sebagai isyarat bahwa ia bertanya 'ada apa?'
"Ini ada berkas yang harus Mas Rayan periksa dan tanda tangani. Daripada nanti aku turun ke lantai 7, mendingan Mas bawa saja deh sekarang."
Linda meminta Rayan untuk membawa sekalian berkas yang harus pemuda itu tanda tangani, karena ia capek dan malas kalau harus naik turun dari lantai 13 ke lantai 7.
"Huh, untung yang jadi sekretaris saudara sepupuku sendiri. Kalau orang lain, sudah aku suruh pihak HRD untuk mencari orang menggantikan posisi kamu, Lin. Jadi pegawai kok tidak sopan menyuruh majikannya membawa berkas sekalian," gerutu Rayan. Namun, ia tetap melangkahkan kakinya menghampiri Linda kembali dan mengambil berkas yang harus ia periksa. Linda hanya bisa nyengir kuda.
"Nah, itu dia, Mas. Waktu itu aku pernah menawari Mas Rasya, apa dia memerlukan seorang sekretaris? Dia bilang sama aku suruh tanya sama Mas Rayan saja, karena Mas Rasya akan sibuk di kampus, dan yang menggantikannya di sini Mas Rayan. Jadi sekarang, apa Mas Rayan butuh seorang sekretaris?" tutur Linda.
"Emmm ... boleh juga, aku memang butuh seorang sekretaris. Apa kamu punya rekomendasi?" sahut Rayan kemudian bertanya.
"Nanti biar pihak HRD yang menyeleksinya, Mas."
"Kelamaan, Linda. Kalau kamu sudah punya teman atau saudara yang mau jadi sekretaris kan besok atau lusa sudah bisa meringankan pekerjaan kamu," timpal Rayan.
"Iya dech, Mas. Nanti sekalian saya coba cari," sahut Linda.
Rayan pun akhirnya meninggalkan Linda, turun ke bawah di lantai tujuh. Masuk ke ruangan menaruh berkas di meja, lalu menghempaskan pantatnya di sofa.
"Sekretaris? Tiap hari ketemu. Kira-kira Prima mau enggak ya kerja paruh waktu jadi seorang sekretaris pribadi ku?" gumam Rayan. Namun, kemudian ia sangkal sendiri pertanyaannya, "Tapi kadang Prima ada jadwal sampai jam tiga sore. Orangtuanya juga pasti mampu untuk memenuhi kebutuhannya, walaupun mereka cuma seorang pegawai negeri. Eh dua orang Ding, ayah dan bundanya."
"Justru yang butuh pekerjaan itu sebenarnya Nadia, karena orangtuanya cuma mengirimi beras setiap bulannya. Sementara untuk membeli ini itu dia harus bekerja keras sendirian, tetapi Nadia juga sudah bekerja jadi sekretaris Mas Rasya, meskipun pekerjaannya KAKT, kadang ada kadang tidak."
Rayan terus bermonolog sendiri memikirkan dan membandingkan kedua sahabat gadisnya tersebut. Kenapa tidak menanyakan pada teman seangkatan kamu yang sudah lulus kuliah saja sih, Rayan? Pasti mereka banyak yang mau bekerja menjadi sekretaris di perusahaan sebesar dan sebonafit Baskoro Groups.
Ia meraih berkas yang tadi diambilnya dari meja Linda, lalu memeriksa berkas-berkas tersebut, mencocokan dengan file yang sudah dikirimkan kepadanya via email.
.
.
.
TBC
__ADS_1