Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Urusan Mendadak


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kegiatan perkuliahan kini tengah berjalan sebagaimana mestinya. Tania mengambil kelas sore untuk mengejar semester yang tertinggal. Nadia pun selalu menemaninya setiap ia mengambil jadwal kuliah sore.


Siang itu di kantin nampak ramai, udara terasa begitu gerah di badan. Nadia memasok tubuhnya dengan semangkok bakso dan segelas cantel besar es teh. Di sela ia menikmati bakso di kantin Mang Ujang bersama kedua sahabatnya Tania dan Prima, Nadia sambil berbalas chat dengan suaminya.


SuamiQ


[Sayang, ternyata hari ini Mas ada jadwal ngisi kelas ekstensi akhir pekan sampai pukul sepuluh malam. Kamu mau Mas antar pulang atau nunggu di ruangan Mas saja?]


Anda


[Aku mau nemenin Tania ambil jadwal kuliah sampai sore saja, Mas. Nanti sore jam 5 aku ke ruangan Mas.]


SuamiQ


[Udah makan belum?]


Anda


[Ini lagi makan bakso sama Tania dan Prima. Mas udah makan?]


SuamiQ


[Belum. Istriku enggak mau menyuapi.]


Anda


[Memangnya udah pesan makanan?]


SuamiQ


[Udah, tinggal nunggu yang mau menyuapi Mas saja.]


Anda


[Sebentar ya, Mas. Aku habiskan baksoku dulu. Kasihan kan kalau enggak habis ☺️.]


SuamiQ


[Iya, Sayang. Mas akan sabar menunggu.]


Nadia segera menghabiskan baksonya. "Aku ke ruangan Pak Rasya dulu ya, Tan, Pim," pamitnya pada Tania dan Prima.


"Minumnya enggak dihabiskan dulu, Nad?" cegah Tania.


"Aku bawa saja sekalian sama gelasnya, nanti tolong bayarin ya!" jawab Nadia diakhiri permintaan.


"Iya, nggak usah khawatir. Udah sana layani Paksu, jangan sampai pak Rasya minta disuapi sama Bu Siska," sahut Tania menakuti sahabatnya sambil tersenyum.


"Ih, amit-amit deh. Kalau sampai itu terjadi, bakalan habis tuh burung dosen killer," gerutunya sambil berlalu. Melangkah menuju ruang rektor yang ada di lantai tiga.


"Assalamu'alaikum," ucapnya saat memasuki ruang dosen.


"Mau apa, Mbak?" tanya Bu Siska sinis tanpa menjawab salam dari Nadia.


"Saya ada perlu sama Pak Rasya, Bu. Beliau tadi pesan es teh." Nadia menjawab dengan menunjuk es teh dalam gelas cantel yang dibawanya dari kantin. Untung tadi sebelum keluar dari kantin sudah ia tambah lagi dengan air mineral sehingga gelas es teh yang sudah ia minum sebagian kini menjadi penuh kembali.


Nadia menyerobot masuk ke dalam ruang rektor tanpa mempedulikan tanggapan dari Bu Siska kembali. Memangnya siapa dia? Sampai di dalam ruangan terlihat olehnya sesosok pria tengah berbaring di sofa tetapi ia yakin itu bukan suaminya. Nadia mendekati sosok tersebut menelisik siapa gerangan yang tertidur di sofa ruangan suaminya.


"Pak Tomi?" ucap Nadia.


Tomi adalah saudara sepupu Rasya yang juga berprofesi sebagai seorang dosen.


Mendengar namanya disebut Tomi yang belum tidur pun membuka matanya. "Ada apa, Nad?" tanyanya.


"Kenapa Pak Tomi ada di ruangan Pak Rasya? Pak Rasya mana? Katanya mau makan siang," cecar Nadia sambil meletakkan gelas es tehnya di meja. Di sana sudah ada box berisi makanan yang sudah di pesan oleh Rasya.

__ADS_1


"Tuh, lagi absen siang," jawab Tomi menunjuk ke arah Rasya yang tengah melaksanakan sholat dhuhur. "Kamu tunggu saja ya. Saya mau numpang tidur," imbuhnya. Laki-laki yang umurnya lebih muda tiga tahun dari Rasya tersebut segera memiringkan badannya menghadap sandaran sofa membelakangi Nadia.


Nadia duduk di sofa yang lain sambil kembali menyesap es tehnya. Tiba-tiba ada yang menutupi kedua matanya dari belakang.


"Maas, nanti bisa tumpah loh es teh aku," ucapnya manja.


"Kalau esnya tumpah kena baju kamu kan bisa dilepas," sahut Rasya masih belum mau melepas tangannya.


"Ada Pak Tomi di sini loh." Nadia mengingatkan.


Rasya melepaskan tangannya dari mata Nadia, namun ia beralih menangkup rahang istrinya tersebut hingga Nadia mau tak mau harus mendongak ke atas. Pria itu mengecup lembut kening Nadia.


"Pulang Yuk!" ajaknya.


"Kok pulang?" Nadia protes. "Aku udah janji mau nemenin Tania kuliah, Mas," imbuhnya.


"Bilang saja kamu ada keperluan mendadak, lagian kan ada Prima. Mas siang ini kosong, jadwal nanti malam jam delapan," tutur Rasya.


"Kok bisa kosong, sebelumnya kan enggak?" Nadia masih heran.


"Ada perubahan jadwal di kelas semester 1, karena ada dosen yang tabrakan di dua kelas, makanya dia minta jamnya Mas. Jadwal Mas diganti besok pagi," ungkap Rasya.


"Oo ... " Nadia hanya ber-o ria.


"Jadi mau kan Mas ajak pulang?" Tagih Rasya lagi.


"Kemana? Ke rumah ibu?" Nadia malah balik bertanya.


"Ke tempat tinggal terdekat," sahut Rasya.


"Masa ke rumah Mbak Rumi?" Nadia menebak sekaligus protes.


"Kenapa tidak? Yang penting kan Mas masih bisa celup-celupan di sana," sahut Rasya menyeringai.


"Tadi bilang minta disuapi makan siang." Nadia mencebik.


"Lalu itu?" Nadia menunjuk box makanan yang ada di meja dengan maksud bertanya itu box makanan punya siapa?


"Oh, itu punya Tomi," jawab Rasya. Ia menggeser tubuhnya sehingga kini ia berada di depan Nadia dengan posisi berjongkok. "Ayo, mau donk yang!" pintanya lagi dengan tatapan menghiba.


Melihat suaminya begitu memelas hati Nadia pun luluh. "Tapi jangan di rumah Mbak Rumi juga kali. Di sana isinya kan para jomblowati, suami Mbak Rumi juga lagi ada proyek di luar kota. Lagian kamarku enggak kedap suara, Mas. Malu kan," pinta Nadia panjang lebar.


"Oke, ayo!" Rasya menyanggupi dengan semangat.


Nadia hendak menghabiskan es tehnya, tetapi tidak habis juga. Ia lalu meletakkan gelas yang masih berisi es teh tinggal setengah tersebut di atas meja. Ia bangkit berdiri menggendong tasnya.


"Aku keluar duluan ya, Mas. Mau sekalian pamit sama Tania. Tunggu aku di mobil saja," pamit Nadia.


"Iya, ini gelasnya enggak sekalian dibawa, Sayang?" tanya Rasya mengingatkan.


"Oh iya," sahut Nadia yang langsung mengambil kembali gelas es tehnya. "Mas enggak mau minum es teh? Mubazir ini masih separo," tanyanya pada sang suami.


"Enggak," sahut Rasya singkat. "Bawa ke kantin langsung saja, nanti sampai di kantin pasti kamu haus lagi karena udah jalan kaki ke sana. Terus kamu habiskan saat udah sampai di kantin," cetusnya.


"Iya juga," ucap Nadia. Muncul sisi usil di benak gadis itu. Ia mendekatkan gelas tersebut kembali ke bibirnya meminum air dan mengulum es batunya di dalam mulut. Lalu mendekati suaminya yang kini sudah berdiri. Nadia berjinjit mengalungkan sebelah tangannya di leher suaminya sedangkan tangan satunya masih memegang gelas. Meskipun postur tubuhnya tinggi, tetapi tetap saja lebih tinggi dari Rasya - suaminya.


Sejenak gadis yang menurut Rasya sekarang mulai nakal itu menyesap bibirnya dan mentransfer es batu dari dalam mulutnya ke mulut Rasya.


"Nakal kamu sekarang," ucap Rasya setelah tautan bibir mereka terlepas. Nadia hanya tersenyum sambil menjulurkan lidahnya lalu keluar dari ruangan tersebut dengan segera.


Sementara Rasya menyambar kunci mobil dan tas laptop lalu keluar juga dari ruangan tersebut. Ia langsung menuju ke area parkir khusus pegawai tempat ia meninggalkan mobilnya.


Rasya langsung masuk dan duduk di kursi kemudi, menunggu sang istri dengan santai. Semilir angin tidak sengaja membelai lembut wajah lelahnya, angin yang berasal dari pepohonan di luar area parkir seakan ikut menenangkan jiwanya. Tidak berselang lama kemudian Nadia membuka pintu kiri depan, lalu masuk dan duduk di samping Rasya.


"Sudah?" tanya Rasya memastikan.

__ADS_1


"Sudah apanya?" Nadia malah balik bertanya.


"Pamitan sama Tanianya lah," sahut Rasya.


"Kirain kalau jawab sudah disuruh turun. Sudah kok Mas Rasya Suamiku Sayang," jawab Nadia.


Rasya pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. "Mau mampir ke rumah Rumi ambil pakaian ganti dulu enggak?" tanyanya sebelum melewati gang tempat kost Nadia.


"Iya boleh," sahut Nadia.


Rasya membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang menuju ke tempat kost Nadia. Sampai di sana Nadia hanya sebentar mengambil baju ganti saja lalu kembali masuk ke dalam mobil.


Rasya kembali melanjutkan perjalanan. Hanya butuh waktu lima belas menit ia kini telah sampai di tempat yang dituju. Ia memarkirkan mobilnya di basemen parkir sebuah apartemen.


Rasya menggandeng tangan Nadia masuk ke dalam lift. Lift berhenti di lantai 12. Setelah menemukan unit apartemen miliknya, ia memasukan beberapa digit angka untuk membuka akses pintu masuk.


Rasya mengajak Nadia untuk masuk ke dalam apartemen. Ia menutup dan mengunci pintu kembali. Nadia langsung duduk di sofa. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang saat ini ia tempati. Matanya menelisik memindai perabot yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Ini apartemen punya siapa, Mas?" tanya Nadia pada suaminya yang kini telah duduk di sampingnya.


"Punya Mas Rasya, Sayang. Dulu saat masih lajang Mas mengumpulkan uang gaji sebagai dosen untuk membeli apartemen ini. Mas beli apartemen ini karena lebih dekat dengan kampus, tetapi ibu melarang Mas untuk tinggal di apartemen. Dan sekarang apartemen ini Tomi yang menempati," ungkap Rasya.


Nadia kembali mengalungkan lengannya ke leher suaminya. "Aku sudah siap," ucapnya menawarkan.


"Mau di tempat ini? Enggak di kamar saja?" tanya Rasya sambil tersenyum.


"Terserah Mas saja, pokoknya aku sudah siap," sahut Nadia kekeuh.


Tanpa ba-bi-bu lagi Rasya segera meraih tubuh istrinya dan membawa masuk ke dalam kamar. Bisa berabe kalau tiba-tiba Tomi pulang dan melihat mereka main celup-celupan di sofa ruang tamu.


*****


"Sayang, minggu depan Mas diundang untuk mengisi kegiatan seminar di Surakarta, kamu mau ikut enggak?" ungkap Rasya pada Nadia saat mereka telah selesai acara celup-celupan.


"Berapa hari, Mas? Kalau aku ikut kuliahku bolong dong. Lagipula kasihan Tania tidak ada yang nemenin kuliah sore," sahut Nadia.


"Cuma tiga hari, nanti kita mampir ke rumah Mbah Kakung di Klaten kalau kamu ikut," cetus Rasya.


"Memang Mbah Kakung masih ada?" tanya Nadia yang terkejut karena Rasya belum pernah cerita tentang kerabatnya sebelumnya.


"Sudah tidak ada sejak lima tahun lalu, tetapi rumah peninggalannya ditempati sama adiknya ibu," jawab Rasya.


"Maaf ya, Mas. Nanad enggak bisa nemenin," sesal Nadia. "Oh iya, Mas. Ibu pernah bilang, dulu sewaktu SMA Mas pernah pacaran sama teman sekolah Mas. Apa dia tinggal di Klaten juga?" imbuhnya bertanya.


"Iya, cuma beda kecamatan, kenapa?" jawab Rasya.


"Kenapa kalian sampai putus? Biasanya cinta pertama kan paling berkesan," tanya Nadia penasaran mengungkit kembali kisah masa lalu Rasya.


"Dia dipaksa menikah dengan pemuda pilihan orang tuanya. Bahkan ketika ijazah kami belum dibagikan," ungkap Rasya.


"Wah, berarti belum terima ijazah sudah ijab sah dong," canda Nadia.


Rasya malah menampilkan wajah datarnya teringat kisah cintanya yang kandas. Nadia yang melihat perubahan pada mimik muka suaminya kini tangannya terulur mengelus lembut pipi Rasya.


"Kenapa ini muka jadi sedih? Sekarang kan sudah ada aku yang akan selalu setia mendampingi dan menghibur Mas," ucap Nadia tersenyum.


"Bilangnya setia mendampingi, tadi diajak enggak mau," Rasya mencebik.


Mau aja, Nad. Ntar Rasya nostalgiaan sama mantan malah sakit hati kamu jadinya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Terimakasih yang sudah baca, like n komen 😘😘😘


__ADS_2