
Hujan memang berkah, tetapi kadang bisa membawa bencana seperti banjir dan tanah longsor. Semoga kita semua selalu terhindar dari bahaya yang mengancam.
"Raka, mau ikut Eyang Putri tidak?" tanya Bu Nastiti saat mereka di ruang keluarga menonton home teather suatu malam.
Pemuda yang sedang sibuk dengan aplikasi belajar online di ponselnya tersebut menoleh. "Kemana, Eyang?"
"Ke Bandung, Kita serbu rame-rame papa kamu," jawab Bu Nastiti tersenyum.
"Ikut dong. Om Rayan juga ikut?"
"Om Rayan kan mau bulan madu," sahut Bu Nastiti.
"Kapan, Eyang?"
"Apanya? Bulan madunya? Kamu mau ikut?"
"Ih, Eyang, masa bulan madu diintilin. Maksud Raka Kita ke Bandungnya kapan?"
"Besok pagi, Kita gantian nyetir ya!" cetus Bu Nastiti.
"Pak Lek Hamdan sama Bu Lek Rania ikut juga ya, Eyang?"
"Bu lek sih ikut, tetapi Pak Lek Eyang tidak tahu," sahut Bu Nastiti.
"Berarti harus siap-siap dari sekarang donk, Eyang. Raka ke kamar dulu deh, biar tidurnya nggak kemalaman," ucap Raka.
Bu Nastiti mengangguk tersenyum memandangi cucu tertuanya yang kini telah beranjak remaja. Ia tidak menyangka ternyata telah mempunyai seorang cucu yang sudah sebesar itu setelah kehilangan Tiara yang dibawa oleh ayahnya.
*****
Sudah beberapa hari Nadia berada di Bandung. Selama itulah Nadia hanya berdiam diri di dalam vila. Sekalinya keluar cuma jalan ke danau yang sekarang sudah dibangun sebagai tempat wisata. Tidak jauh dari danau didirikan saung-saung oleh pengelola rumah makan.
Saat ini mereka hendak menyantap sarapan pagi di ruang makan, memang sudah agak kesiangan sih. Nadia membantu Bi Titin menyiapkan sarapan pagi.
"Alis kamu diapain, Sayang?" tanya Rasya yang melihat bulu alis istrinya agak berbeda dari biasanya pagi ini.
"Anu, aku bosan di dalam rumah terus beberapa hari ini. Jadi aku belajar tutorial make up dari YouTube. Pagi ini aku praktekan deh. Gimana, Mas? Bagus enggak?" Nadia menceritakannya dengan antusias.
"Bagus sih," sahut Rasya singkat. "Tapi Mas lebih suka wajah alami kamu tanpa dicoret-coret seperti biasanya," lanjutnya.
Seketika senyum yang sempat terbit di bibir Nadia mendadak redup. 'Huh, bisa nggak sih menghargai usaha orang?' Nadia mendengus dalam hati.
Sesaat tidak ada obrolan di antara mereka. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar.
"Mas, aku mau minta ijin ke luar. Ada janji ketemu sama teman," ucap Nadia menyela kesunyian saat sarapan mereka selesai..
"Sejak kapan kamu punya teman di Bandung?" tanya Rasya curiga. Sebab selama di Bandung sejak dulu Nadia tidak pernah keluar tanpa dirinya.
"Dia temanku dari Indramayu, Mas."
"Memangnya kamu udah sembuh nifasnya?"
"Udah. Udah bersih kok, aku udah mandi besar tadi pagi."
"Biar Mas antar, mau ketemuan sama temen kamu di mana?"
"No no no! Aku mau bawa mobil sendiri, Mas. Buat apa Mas dulu nyuruh aku ikut kursus nyetir, kalau ujung-ujungnya dianter terus sama Mas," tolak Nadia.
"Sayang, kamu cantik dech dandan kayak gitu. Mas anterin ya?" Rasya masih tetap membujuk istrinya.
"Tau gini sih mendingan enggak usah minta ijin sekalian," Nadia memandang suaminya dengan kesal. 'Huh, tadi saja bilang lebih suka wajahku alami tanpa make up,' dengusnya dalam hati.
"Ya udah Nanad bantu Bi Titin cuci piring dulu ya. Mas bisa mandi dulu, belum mandi kan?" ucap Nadia. Namun, di dalam benak perempuan muda itu terbersit ide.
__ADS_1
"Kamu mau berangkat jam berapa?" tanya Rasya.
"Mungkin pukul 10 atau 11 sekalian nunggu waktu makan siang sekalian soalnya," sahut Nadia sembari menumpuk piring kotor.
"Baiklah, tunggu Mas mandi sebentar ya," ucap Rasya. Lelaki itu bangkit lalu pergi meninggalkan Nadia yang kini sedang membersihkan meja makan.
Nadia membawa piring dan peralatan makan lainnya yang kotor ke dapur. Ia meletakkannya di wastafel. "Mungkin Mas Rasya sedang mandi, sebaiknya aku ke kamar saja mengambil kunci mobil," cetusnya.
Tanpa mencuci piring seperti yang dikatakannya kepada Rasya, Nadia cepat-cepat pergi ke kamarnya. Pelan ia membuka pintu kamar. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
"Mas, masih lama nggak?" tanya Nadia dengan suara dikeraskan, tetapi matanya mencari letak pria itu meletakkan kunci mobil.
"Mas baru masuk, Sayang," terdengar Rasya menyahut. Rupanya Rasya mendengarnya juga. Orang Nanad cuma pura-pura tanya kok Pak Dosen hihihi.
"Di mana kunci mobilnya sih? Mas Rasya primpen amat nyimpan kunci mobil saja. Memangnya di sini ada maling?" gumam Nadia.
Seisi kamar sudah Nadia geledah, kunci itu tidak ditemukannya. Nadia membuka pintu yang menghubungkan antara kamar dengan balkon, di sana juga tidak ada.
"Kayaknya tadi pagi Mas Rasya sudah memanaskan mobil. Apa mungkin kuncinya ia tinggal di mobil? Ah, benar-benar teledor suamiku itu. Kenapa aku harus capek-capek naik ke atas kalau benda yang aku cari ada di bawah?" Gerutu Nadia dalam hati.
Dengan langkah cepat Nadia keluar dari kamar. Beberapa menit kemudian terdengar suara deru mobil. Lama-kelamaan suara itu terdengar semakin menjauh.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Rasya keluar dengan handuk kimono membungkus tubuhnya. Temperatur udara Bandung yang lebih rendah dari Jakarta membuat ia merasa kedinginan kalau ia hanya mengenakan selembar handuk melilit di pinggangnya seperti jika ia mandi di Jakarta. Tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambut.
Rasya termangu di depan pintu kamar mandi memperhatikan seisi kamarnya, tidak ada wanita tercintanya berada di sana. "Tadi kayak ada suara istriku, kenapa sekarang tidak ada? Apa pendengaran ku salah? Ataukah kamar ini ada penunggunya karena lama tidak ditempati?" Benak Rasya bertanya-tanya.
"Nadia kan tadi bilang mau mencuci piring, masa secepat itu dia sudah selesai nyuci piringnya," batin yang lain menepis pikirannya sendiri.
Tanpa merasa curiga apapun Rasya mendekati lemari pakaian lalu membuka dan mengambil beberapa pakaian untuk dipakainya. Ia pun dengan santai memakai pakaian tersebut lalu merapikan penampilannya. Karena dalam pikiran Rasya, Nadia sedang mencuci piring di dapur.
Setelah rapi, Rasya keluar dari kamar turun ke lantai bawah langsung menuju ke dapur.
"Sayang, kamu di mana?" Tidak ada sahutan.
"Iya, Bibi lihat dia?"
"Tadi kayaknya tergesa-gesa bawa mobil ke luar, Den," sahut Bi Titin.
"Astaga, Nanad!" pekik Rasya. Rasya seketika terhenyak kaget. Ternyata tadi benar suara Nadia yang masuk ke dalam kamar.
"Ya udah, Bi Titin. Tolong buatkan minuman nanti bawa ke kebun ya," pinta Rasya.
"Baik, Den," sahut Bi Titin.
"Ini sih namanya mau ke kebun pakai mandi dulu," ucap Rasya melangkah ke luar vila menuju kebun belakang.
*****
Suasana sejuk kini menyapa saat rombongan Bu Nastiti bersama anak dan cucunya yang berangkat tadi pagi dari Jakarta sekarang sudah tiba di Bandung. Mereka mampir dulu di sebuah rumah makan untuk beristirahat sejenak sambil makan siang.
Mereka mengambil duduk di kursi out door supaya bisa menikmati suasana kota Bandung yang masih terasa sejuk meskipun hari telah beranjak siang.
Bu Nastiti dan Raka memilih untuk mengambil makanan matang yang sudah tersedia di meja prasmanan. Sementara Rania masih menunggu pesanan Zidan - anaknya yang meminta makan nasi dengan telur mata sapi plus kecap. Anak kecil itu memang lagi senang-senangnya makan dengan lauk tersebut.
Saat sedang menikmati makannya, mata Raka menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal. "Eyang, lihat perempuan itu!" ucapnya pada sang Eyang Putri dengan gestur muka menunjuk ke arah seseorang.
"Mana?"
"Itu yang pakai setelan warna peach," tunjuk Raka pada seorang wanita yang diyakini sebagai Nadia. Wanita itu kini sedang berjalan memasuki rumah makan dengan kedua tangan memeluk lengan seorang pria.
"Iya, Eyang sudah lihat. Itu kayak Mama Nanad," terka Bu Nastiti.
"Iya, mirip banget sama Tante Nanad, tapi kok sama pria lain? Itu kan bukan Papa, Eyang," timpal Raka.
__ADS_1
"Coba kamu foto, tapi jangan dari depan ya. Kamu curi foto dari belakang. Nanti sampai di villa kita kamu tunjukin ke papa kamu," suruh Bu Nastiti.
"Baik, Eyang," sahut Raka.
Raka pun bangkit tanpa menghabiskan makanannya terlebih dahulu, mengejar sosok perempuan itu masuk ke dalam rumah makan. Raka sejenak mencari keberadaan wanita tadi dari warna pakaian yang ia kenakan. Akhirnya ketemu juga. Untung kedua orang tadi memilih meja bukan di tempat khusus yang tertutup, sehingga Raka bisa langsung menemukan keberadaannya.
Setelah mengambil posisi yang tepat, Raka segera membidik beberapa kali sepasang manusia yang kini sedang duduk bersanding dengan tangan kini berangkulan. Beberapa saat kemudian datang seorang gadis sebaya dengan wanita tadi, dia duduk di hadapan mereka. Sebelum keberangkatan diketahui oleh mereka, Raka segera meninggalkan tempat itu, kembali ke tempat ia bersama Eyang putrinya makan.
"Sudah?" tanya Bu Nastiti.
"Sudah, Eyang. Kok Eyang terlihat biasa-biasa saja?" sahut Raka lalu bertanya.
"Maksud kamu?"
"Maksud Raka Eyang tidak marah melihat menantu Eyang bergandengan mesra dengan perempuan lain?" tutur Raka. "Eyang sudah kenal dengan laki-laki yang bersama Tante Nanad ya?" tebaknya.
"Kenapa Eyang harus marah? Yang berhak marah itu kan Papa kamu," ucap Bu Nastiti santai. "Habiskan makanan kamu! Kita lanjutkan lagi perjalanan kita. Sepertinya adik sepupumu juga sudah selesai makan tuh," suruhnya.
"Bayi makannya cepet amat," ucap Raka lalu memegang sendok dan garpu yang tadi ia taruh di atas piring demi mengejar perempuan yang diyakini sebagai Nadia.
Setelah selesai urusan di rumah makan, mereka meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan. Masih membutuhkan waktu 30 untuk sampai di villa. Mobil yang kini dipegang kendali oleh Raka tersebut telah sampai di gerbang villa. Masuk dengan pelan lalu berhenti. Bi Titin tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka.
"Bibi sendirian? Den Rasya mana, Bi? Kok cuma Bibi yang ada di villa?" cecar Bu Nastiti ketika ditunggu lama hanya Bi Titin yang keluar menyambutnya.
"Den Rasya dan suami Bibi masih di kebun, Nya. Sementara Neng Nanad tadi pamit keluar mau ketemu temannya," tutur Bi Titin.
"Oo ... Bibi bikin kopi jahe kan?" tanya Bu Nastiti.
"Iya, seperti biasanya, Nya," sahut Bi Titin.
"Bagus. Oh iya, kenalkan, Bi ini Raka anaknya Rasya dan ini Rania adiknya Rasya," ucap Bu Nastiti memperkenalkan anak dan cucunya. Mereka lalu saling bersalaman satu sama lain. Mereka masuk ke dalam rumah.
"Rasya, ibu sudah sampai di villa ini. Kamu sudah selesai belum ambil duriannya?" tanya Bu Nastiti dalam sambungan telepon.
"Sudah kok, Bu."
"Ya udah cepetan pulang gih! Jangan lupa bawa pulang duriannya juga, anak sama keponakan kamu sudah tidak sabar pengin makan durian tuh." Bu Nastiti memutus sambungan telepon. Lalu meletakkannya di meja.
Dari pintu belakang Rasya tiba-tiba muncul. "Nih, siapa yang mau durian?" ucapnya meletakkan durian matang yang sudah dibukanya di atas karpet ruang tamu.
"Lho, Sya. Tadi ibu telepon kamu sudah di villa?" tanya Bu Nastiti.
"Rasya sudah di belakang villa, Bu," sahut Rasya santai.
Raka, Rania dan Zidan dengan antusias menikmati legitnya daging buah durian. Lalu Raka baru ingat kalau ia mau menunjukan jepretan kamera ponselnya kepada sang Papa.
"Pa, lihat ini! Papa kenal cewek ini tidak?" tanya Raka menunjukkan gambar di ponselnya. Rasya pun menerima ponsel tersebut dan mengamati gambar tersebut.
"Bukankah itu Tante Nanad, Pa?" tanya Raka lagi.
"Dari pakaiannya sih ini memang yang dipakai Mama Nanad tadi pagi," sahut Rasya dengan mata tak beralih sedikitpun dari layar ponsel. "Kamu jepret di mana ini?" tanyanya.
"Tadi waktu kita mampir di rumah makan Parahyangan ya, Eyang," sahut Raka meminta dukungan pada Eyang Putrinya. Bu Nastiti hanya mengangguk tersenyum.
Rasya pun segera mengembalikan ponsel tersebut kepada Raka. Lalu ia melakukan panggilan video kepada Nadia supaya bisa melihat langsung siapa orang yang bersama istrinya itu.
.
.
.
TBC
__ADS_1