Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Menenangkan Tiara


__ADS_3

Tiara malah menangis sesenggukan. Nina akhirnya keluar dari kamar Tiara. Mencari keberadaan Bu Nastiti yang ternyata sedang menonton televisi di ruang keluarga bersama suaminya.


"Bu!" terdengar panggilan Nina yang diikuti tubuhnya yang berjalan tergesa-gesa.


"Ada apa, Nin?" tanya Bu Nastiti.


"Nina tidak tahu lagi musti bagaimana untuk membujuk non Tiara supaya bobo. Dia terus saja menanyakan Mama Nanad," jawab Nina.


"Ya sudah, biar ibu yang membujuknya. Kamu kembali ke dapur saja," timpal Bu Nastiti.


"Terima kasih, Bu," sahut Nina.


"Ibu ke kamar Tiara dulu ya, Pak. Atau Bapak mau kita bareng ke kamar Tiara?" tawar Bu Nastiti.


"Ayolah, kita bareng saja," sahut Pak Baskoro.


Kedua pasangan paruh baya tersebut melangkah bergandengan tangan menuju ke arah kamar Tiara. Sampai di kamar, mereka masih mendapati Tiara yang sedang menangis. Bu Nastiti duduk di tepi kasur Tiara yang tanpa beralas ranjang tersebut.


"Sayang, Tiara kenapa nangis. Bobo ya, Yangkung dan Yangti temani." Bu Nastiti mulai mulai mencoba membujuk sambil mengelus lembut rambut Tiara, namun Tiara masih bergeming tidak menghiraukan bujukan sang nenek.


Bu Nastiti memandang ke arah suaminya, memberi isyarat menanyakan bagaimana lagi untuk merayunya. Pak Baskoro hanya mengedikkan bahunya.


"Ya udah, sekarang bilang Tiara mau apa?" Bu Nastiti pasrah.


"Mama Nanad," jawab Tiara.


Bu Nastiti mendesah pelan, "Mama Nanad masih sakit, Sayang, jadi tidak bisa menemani Tiara. Nanti kalau Mama Nanadnya sudah sembuh, pasti dia temenin Tiara," tuturnya.


Tiara malah semakin mengeraskan suara tangisannya. "Aya mau Mama Nanad, Mama Nanad, Mama Nanad, huuuu ...." teriaknya dalam tangis.


'Rasya ... Rasya, kamu tega banget sama Tiara. Dia itu tidak bersalah kenapa harus jadi korban? Sejak kecil ia tidak pernah merasakan belaian kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri, sekarang ada seorang gadis yang menyayanginya seperti anaknya sendiri melebihi kasih sayang dari ibunya sendiri malah kamu sia-siakan,' batin Bu Nastiti ikut menangis.


"Sudah malam, Tiara sayang. Kalau kamu seperti ini terus nanti bisa sakit, bobo ya eyang putri ninaboboin. Atau Tiara mau eyang putri panggilkan Mama Pipim, mau?" bujuk Bu Nastiti.


"Mama Pipim?" tanya Tiara antusias menghentikan tangisnya.


"Iya, Tiara mau Yangti panggilkan Mama Pipim?" tanya Bu Nastiti sekali lagi memastikan. Tiara mengangguk senang.


"Sebentar ya, mudah-mudahan Mama Pipim belum tidur," ucap Bu Nastiti penuh harap.


Bu Nastiti lalu merogoh ponselnya dari dalam saku celananya dan menelpon Prima.


"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Prima dengan suara serak, mungkin dia baru bangun dari tidur.


"Wa'alaikumussalam, Prima. Maaf ibu mengganggu waktu tidur kamu ya?" ucap Bu Nastiti sungkan.


"Prima belum tidur kok, Bu. Baru selesai mengerjakan tugas untuk dikumpulkan besok siang, cuma Prima memang sudah mengantuk. Ada apa, Bu?" tutur Prima diakhiri pertanyaan.


"Ibu mau minta tolong sama kamu, Prima. Kamu bisa ke rumah ibu sekarang juga tidak? Tiara ngambek enggak bisa tidur kalau tidak dininaboboin sama Mama Nanad. Barusan ibu nawarin dia katanya mau kalau mama Pipim yang ninaboboin. Bisa ke sini ya, Sayang?" ucap Bu Nastiti panjang lebar memohon.


"Duh, tapi ini sudah malam, Bu. Prima enggak berani bawa motor ke rumah ibu malam-malam begini sendirian," jawab Prima agak tidak enak.


"Biar dijemput sama Supri saja ke situ ya. Sekalian bawa baju ganti dan perlengkapan kuliah kamu saja biar besok pagi sekalian berangkat dari sini, ya?" timpal Bu Nastiti.


"Baiklah, Bu. Prima mau siap-siap," sahut Prima mengiyakan.

__ADS_1


"Ya sudah sampai nanti, ibu mau panggilkan Supri dulu," ucap Bu Nastiti.


Bu Nastiti memutus panggilannya, lalu mencari keberadaan Supri di kamarnya. Ia mengetuk pintu seraya memanggil nama Supri.


"Ada apa, Bu?" tanya Supri saat membuka pintu.


"Tolong jemput non Prima di rumahnya ke sini " jawab Bu Nastiti.


"Tapi saya tidak tahu alamat rumahnya Bu," ucap Supri.


"Ibu kirim nomor WhatsApp nya ke WA kamu, nanti kamu minta share lok saja sama dia ya," timpal Bu Nastiti.


"Baik, Bu." Supri mengangguk. Ia pun langsung ke luar menuju garasi untuk mengambil mobil yang sudah ia masukan di sana.


Bu Nastiti kembali lagi ke kamar Tiara. Di kamar Tiara, Pak Baskoro sedang membacakan cerita, meskipun tidak didengar oleh Tiara. Beberapa saat kemudian Rasya masuk juga ke dalam dan duduk di sisi ranjang di kamar putrinya tersebut.


"Kenapa kamu jadi begini sih, Tiara? Dulu cuma papa elus-elus kepala kamu dan nyanyikan lagu Nina bobo kamu langsung tertidur," ucap Rasya heran.


***


Di rumah Prima.


"Yah, Prima mau minta ijin ke rumah Mas Rayan. Sebentar lagi Pak Supri - sopir keluarganya akan datang menjemput Prima," ucap Prima meminta ijin pada sang ayah.


"Ada apa malam-malam begini kamu ke sana? Bukankah kamu bilang Rayan sudah di Australia?" cecar sang ayah.


"Keponakannya Mas Rayan yang ibunya masuk penjara rewel, Yah. Dia nangis terus tidak mau tidur," jawab Prima. "Sekalian Prima diminta menginap di sana, besok berangkat kuliah dari sana juga," imbuhnya.


"Tunggu sebentar jangan pergi dulu," pinta Ayah Prima.


Sementara Prima menunggu Pak Supri datang, Prima juga menunggu sang ayah. Ayah Prima menghilang menuju ke belakang, tidak tahu apa yang dia lakukan saat ini. Lima menit kemudian ia kembali dengan wajah yang bersih seperti sehabis wudhu. Di tangannya memegang kantong plastik es berisi air putih melangkah mendekati Prima.


"Air ini sudah ayah bacakan do'a, nanti kamu pindahkan ke dalam gelas. Minumkan ke anak itu dengan sendok sebanyak tiga kali dan usapkan di ubun-ubun kepala anak itu sebanyak tiga kali juga," perintah sang ayah kepada Prima menyerahkan sebungkus air putih yang dipegangnya.


"Iya, Yah. Sudah? Itu saja?" tanya Prima.


"Ada lagi, dalam posisi tiduran atau kamu gendong anak itu, kamu elus-elus ubun-ubun anak itu sambil dibacakan sholawat yang kamu bisa," jawab sang ayah. "Atau kalau kamu kamu tidak keberatan dan dalam keadaan suci dari hadas, kamu bisa bacakan surat Alfatihah, ayat kursi, Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Falaq masing-masing sekali saja," imbuhnya.


"In sya Allah, Yah. Prima pamit, sepertinya Pak Supri sudah sampai," pamit Prima seperti mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumahnya, kemudian mencium punggung tangan ayahnya.


Prima keluar dari rumahnya dengan menggendong tas di punggungnya, sementara kantong plastik berisi air dari ayahnya ia cangking di tangan kanannya. Sampai di halaman, Pak Supri sudah menunggu. Melihat kedatangan Prima, Pria berusia 40 Tahunan tersebut membukakan pintu depan untuk calon menantu majikannya.


"Terima kasih, Pak," ucap Prima seraya masuk ke dalam mobil, lalu duduk.


"Sama-sama, Non," sahut Supri sembari menutup pintu.


Prima meletakkan kantong plastik yang dibawanya di dashboard mobil. Pak Supri masuk dan duduk di kursi kemudi, lalu mulai menjalankan mobil.


"Non Prima jam segini belum tidur?" tanya Supri membuka percakapan.


"Kebetulan belum, Pak. Saya baru selesai mengerjakan tugas kuliah untuk dikumpulkan besok siang," jawab Prima.


"Oo ... jadi merepotkan ya," ucap Supri seolah mewakili keluarga majikannya.


"Tidak apa-apa, Pak. Keluarga Mas Rayan 'kan nantinya bakal jadi keluarga saya juga," timpal Prima.

__ADS_1


"Aamiin ... mudah-mudahan Allah mengabulkan ya, Non," ucap Supri menimpali.


Mobil yang membawa Prima kini telah memasuki pelataran rumah Pak Baskoro dan berhenti di depan teras. Prima keluar dari dalam mobil tanpa melupakan air dalam kantong plastik yang ia taruh di dashboard mobil. Sementara Pak Supri menyimpan mobil tersebut ke garasi.


"Assalamu'alaikum," ucap Prima saat masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamar Tiara.


"Eh, Mama Pipim sudah sampai, Sayang," Bu Nastiti memberikan tahukan Tiara bahwa Prima telah datang saat melihat kedatangan Prima.


"Pak, Bu," sapa Prima kemudian mencium punggung tangan kedua orang tua kekasihnya secara bergantian.


Prima melepas dan menaruh tas ranselnya di sisi ruangan. "Sebentar ya, Tiara Sayang," ucapnya pada Tiara lalu keluar dari kamar.


Prima melangkah menuju ke arah dapur untuk mengambil gelas dan sendok. Setelah mendapatkan kedua benda tersebut, Prima langsung menuang air dalam kantong di plastik yang dipegangnya ke dalam gelas. Gelas yang sudah berisi air putih tersebut ia pindahkan ke meja makan. Ia lalu mengambil air wudhu di kran khusus tempat wudhu yang ada di dekat mushola kecil rumah tersebut.


Prima kembali menghampiri ruang makan untuk mengambil gelas tadi. Sampai di dalam kamar Tiara, Prima meletakkan gelas yang dibawanya di atas nakas.


"Bu, boleh minta kain gendongan buat gendong Tiara?" tanya Prima pada Bu Nastiti.


Bu Nastiti segera mengambilkan apa yang diminta Prima dari dalam lemari. "Ini, Sayang," ucapnya seraya menyerahkan kain gendongan yang masih terlipat.


Prima menerima kain tersebut lalu menggendong Tiara. Ia mulai melakukan seperti yang telah disampaikan oleh ayahnya.


Rasya yang melihat kegiatan yang dilakukan oleh Prima hanya tersenyum. 'Anak jaman sekarang kok masih ada juga yang pakai gituan? Apa anak bule bisa mempan dengan ritual seperti itu?' batinnya.


Setelah beberapa menit, Tiara terlihat mulai tenang. Melihat hal itu terjadi, Rasya kembali ke kamarnya. Prima membaringkan Tiara di tempat tidurnya.


"Prima, kamu mau tidur di sini sekalian atau di kamar sebelah? Kamar sebelah juga kosong." Bu Nastiti memberikan penawaran.


Prima menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut. "Di sini saja, Bu. Takutnya nanti Tiara bangun lagi," jawabnya.


"Ya sudah, ibu sama bapak mau kembali ke kamar kami," pamit Bu Nastiti.


"Iya, Bu. Silakan," jawab Prima.


Kedua pasangan paruh baya tersebut keluar dari kamar Tiara tanpa lupa menutup pintu.


"Calon menantu kita kali ini beda sekali ya Bu dengan mantan menantu kita yang satu itu," ucap Pak Baskoro saat mereka telah berada di dalam kamar.


"Ini memang benar-benar calon menantu kita, Pak. Kalau yang satu itu 'kan cuma menantu palsu. Anaknya saja nyusahin," timpal Bu Nastiti.


"Hus, kamu jangan ngomong begitu, Bu," cela Pak Baskoro.


"Ibu jadi ingin ke Sukorejo, Pak. Melihat anak-anaknya Rania. Kapan mereka ke sini lagi?" gumam Bu Nastiti.


*****


Beberapa Hari Kemudian Nadia mendapatkan surat pemberitahuan yang dikirim dari kampusnya via pos.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2