
Siang itu usai rapat dengan para dosen, Rasya langsung pulang ke rumah. Sesuai janjinya ia akan mengantar Nadia mengunjungi orang tuanya ke Indramayu.
Waktu masih menunjukkan lewat pukul 12 siang saat laki-laki yang baru genap berusia 35 tahun sampai di rumah orang tuanya.
Rumah itu terlihat sepi meski masih ada banyak orang yang menempati. Hanya celoteh Zidan yang terdengar menghiasi. Anak berusia 2 tahun tersebut satu-satunya penghuni yang berhati riang semenjak kepulangan mereka dari Bandung. Terutama sejak kedatangan sepasang suami istri kemarin yang merupakan adik dan adik ipar dari Pak Baskoro.
Rasya menghiraukan celoteh anak kecil itu yang bersahutan dengan ibunya, Rania di ruang keluarga. Ia bergegas menuju ke kamarnya di lantai dua, mengecek keadaan istrinya.
Rasya yang baru saja membuka pintu kamar tampak terkejut melihat koper besar sudah berdiri di samping ranjang. Penasaran, ia membuka lemari pakaian yang digunakan Nadia untuk menyimpan barang-barangnya, termasuk pakaiannya, Kosong. Namun ia tidak melihat wanitanya berada di dalam kamar. Dari kamar mandi juga tidak terdengar gemericik air. Di mana Nadia?
Rasya menghampiri pintu balkon yang nampak terbuka. Di balkon tersebut Nadia duduk di kursi panjang membelakanginya. Rasya menghampirinya, mengecup singkat puncak kepalanya dari belakang. Lalu mendaratkan pantatnya di kursi berhadapan dengan Nadia.
"Kamu bawa semua barang-barang mu, Sayang?" tanya Rasya.
"Tidak semua," sahut Nadia.
"Lalu kenapa lemari kamu kosong?"
"Sebagian sudah aku pindahkan ke lemari di kamar yang dulu aku tempati di lantai bawah."
"Kenapa?" tanya Rasya menuntut penjelasan.
"Buat jaga-jaga kalau suatu saat Linda juga menempati kamar ini," sahutnya tenang, tetapi di matanya tersimpan kepedihan.
Rasya langsung berpindah duduk di samping Nadia dan merengkuh tubuh wanita rapuh itu. "Itu tidak akan terjadi, Sayang," ucapnya.
"Dulu Celine juga menghuni kamar ini, Mas." Nadia mengingatkan.
"Walaupun Linda berhasil menghuni kamar ini, tetapi akan kupastikan cuma kamu satu-satunya yang menghuni hatiku," ucap Rasya yakin.
Mereka diam, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Bukankah kalimat yang diucapkan Rasya sudah jelas meskipun dia tidak mengatakan ia tidak akan menikahi Linda.
"Mas, minta antar Pak Supri atau Mas Joko saja ya? aku takut Mas kecapean kalau Mas Rasya sendiri yang nyetir," ucap Nadia. Dari ucapannya dapat Rasya lihat sepertinya ia sekarang lebih baik dari sebelumnya. Senyum sudah terbit di bibirnya.
Tatapan Rasya begitu dalam ke mata Nadia. "Melihat kamu tersenyum begini, kamu makin cantik," ucapnya mengabaikan pertanyaan gadis itu.
Nadia memutar bola matanya jengah. "Ditanya apa jawabnya apa."
"Hahaha ... iya-iya. Gitu saja ngambek bikin gemas deh," ucap Rasya tanpa bisa mengendalikan tangannya untuk mencubit bibir Nadia.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di bibir Nadia. Semula memang kecupan singkat, lama-lama menjadi ciuman yang menuntut. Nadia mendorong dada Rasya, tetapi bukannya menjauh dada itu malah semakin mengikis jarak.
"Mas, jangan di sini ih. Malu kalau ada yang lihat," tolak Nadia.
"Malu sama siapa? Rumah ini kan jauh dari tetangga. Yang dekat dengan kamar kita cuma kamar Rayan. Rayan kan masih bulan madu," sergah Rasya tak peduli.
"Bulan madu kok lama amat nyampai sebulanan?" sergah balik Nadia.
"Mana Mas tahu, kalau pulang paling ke rumah mertuanya," tebak Rasya asal. Ia tidak peduli lagi biarpun nanti ada yang memergoki mereka sedang berciuman. Yang penting mumpung saat ini hati Nadia sedang dalam keadaan baik-baik saja tidak terkontaminasi dengan masalah pelik yang saat ini mereka hadapi yakni tentang gadis gila yang mengusik hubungan mereka, Linda.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Rasya kembali melanjutkan kegiatannya. Ia kembali memegang tengkuk Nadia, tetapi tiba-tiba saja ....
Plug
"Aw!" pekik Rasya
Sebuah benda kenyal mendarat di pelipis Rasya langsung terpental dan jatuh ke bawah.
"Apa tadi, Mas?" tanya Nadia yang melihat sekilas.
"Tidak tahu, sepertinya buah rambutan yang dijatuhkan burung atau kelelawar," terka Rasya.
__ADS_1
"Masa siang-siang ada kelelawar mencari makanan sih?" Nadia tetap tidak percaya.
Plug
Kembali lagi sebuah benda mendarat, kali ini mendarat di pangkuan Nadia. Nadia mengamati benda tersebut. "Ini kan buah duku, tapi kalau bekas kelelawar kok masih mulus sih, Mas?" sergahnya. Nadia memperhatikan sekitar. Dari kamar sebelah terdengar tawa cekikikan. Suaranya seperti laki-laki dan perempuan. "Kayak ada orang di kamar Rayan. Apa mereka udah balik, Mas?" tanyanya.
"Mungkin," sahut Rasya kesal. "Dasar adik kurang ajar," gerutunya. "Berangkat sekarang saja yuk, Sayang," ajaknya pada Nadia dengan wajah datar.
"Tunggu, Mas! Nanad mau ketemu sama Pipim, boleh?" pintanya membuat Rasya mengangguk. "Nanad juga mau pamitan sama Ibu, Mas," ucapnya lagi dengan raut wajah sedih.
"Iya, Sayang. Nanti kita pamit bareng sama ibu," sahutnya membuat Nadia tersenyum. "Mas tunggu di bawah ya," ucapnya. Nadia mengangguk.
Rasya pergi meninggalkan Nadia. Sementara Nadia melangkah menuju ke pintu kamar Rayan di balkon tersebut. "Pipim...." panggilnya ragu. "Aku mau ngomong sama kamu," ucapnya.
Prima yang di dalam kamar ditahan oleh Rayan. "Mas, biarin aku keluar," bisiknya. Namun, Rayan tetap menahannya dengan memeluknya. Ia takut Nadia membalasnya atas kejahilan mereka.
"Pim, aku tahu kamu di dalam. Sebentar saja," pinta Nadia lagi.
Nadia mendudukkan bokongnya di kursi. Prima membuka pintu karena Rayan akhirnya melepaskannya. Ia duduk di samping Nadia dan memeluknya.
"Maaf, Nad. Waktu itu aku tidak tahu kejadian yang menimpa kamu. Aku dikasih tahu Mas Rayan saat kamu sudah sampai di Bandung," ucap Prima.
"Tidak apa-apa, Pim. Aku mau pamit pulang kampung, mungkin dalam waktu yang lama," ucap Nadia dengan raut wajah sedih membuat Prima terkejut.
"Gimana dengan kuliah kamu? Sayang Nad, tinggal satu semester lagi habis itu kita skripsi," ucap Prima bertanya.
"Tidak tahu, mungkin aku mau ngajar di MI kampung ku saja. Aku bisa kuliah lagi dengan jurusan yang sesuai," sahut Nadia tanpa berani menatap ke wajah Prima.
"Pak Rasya sudah tahu rencana kamu?" tanya Prima lagi.
Nadia menggeleng, "Aku belum cerita soal ini. Aku cuma bilang kangen Mamak sama Mimik dan Mas Rasya mau mengantar aku."
"Aku sama Tatan pasti bakalan kangen sama kamu. Tolong pikirkan sekali lagi, Nad. kita udah susah payah melewati kuliah selama tiga tahun, sayang kalau kamu mulai lagi di jurusan yang berbeda dari nol," Prima masih berusaha untuk merayu.
"Iya, nanti aku pikirin sambil jalan. Aku pamit ya, Pim. Sudah ditunggu Mas Rasya sama Pak Joko tuh di bawah," tunjuk Nadia.
"Pim, jangan sedih gitu. Aku masih bisa berkunjung ke sini kok, atau kamu sama Mas Rayan juga bisa berkunjung ke kampung ku," ucap Nadia mengelus punggung Prima.
Akhirnya Prima mau melepaskan pelukannya tanpa kata dan membiarkan Nadia pergi meninggalkan dirinya. "Mas, Nanad mau pergi!" serunya memanggil Rayan yang ada di dalam kamar.
Rayan keluar dari kamar memeluk Prima yang memandang ke bawah dari belakang. "Loh, kita kan baru saja pulang dari bepergian juga. Kamu mau kita pergi lagi? Yang kemarin belum puas?" tanya Rayan yang malah tersenyum jahil membuat Prima heran dengan otak suaminya ini. Mereka memang belum mengetahui masalah yang menimpa Rasya dan Nadia.
Nadia menghampiri ibu mertuanya yang saat ini tengah berada di ruang makan sedang membantu mempersiapkan makan siang dibantu Nina.
"Bu, Nadia pamit mau berangkat ke Indramayu," ucap Nadia.
"Makan siang dulu, Sayang. Ini sudah siap kok tinggal nunggu kumpul semua," ajak Bu Nastiti.
"Nanad enggak lapar, Bu. Enggak selera makan," tolaknya. Nampak kesedihan di raut wajah perempuan paruh baya itu yang prihatin dengan ujian yang menimpa anak menantunya yang kini di hadapannya.
"Sedikit saja, Sayang. Sejak pagi kamu belum makan apa-apa 'kan?" bujuk Bu Nastiti. Nadia menggeleng.
Rasya yang sejak kedatangan Nadia di ruang makan sudah berdiri di ambang pintu yang terhubung dengan ruang tengah nampak terkejut. Ia tidak tahu kalau istrinya sejak pagi belum makan apa-apa. Pria itu mendekat dan memegang kedua bahu istrinya.
"Makan dulu, Sayang. Temani Mas," bujuknya
"Tapi Nanad enggak lapar, Mas," tolak Nadia.
"Ya udah kalau kamu enggak mau makan. Suapi Mas saja ya!" Rasya kembali membujuknya membuat Nadia mencebik kesal, tetapi ia menuruti kemauan suaminya juga.
Bu Nastiti membungkus makanan dalam kotak makan dan menyimpannya di dashboard mobil. Supaya nanti saat dalam perjalanan menantunya lapar, ia bisa langsung memakannya.
Nadia duduk di kursi di samping Rasya. Ia mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk, lalu mulai menyuapi suaminya dalam diam. Namun, Rasya yang jahil mengambil sendok dan menyuapi istrinya. Karena bibirnya udah terlanjur basah kena kuah, Nadia akhirnya menelan juga apa yang disiapkan oleh Rasya meski hanya sampai tiga suapan.
__ADS_1
Setelah nasi di piring habis, Nadia langsung bangkit menghampiri kursi tempat Bu Nastiti duduk dan mencium punggung tangannya. Ia langsung keluar tanpa mempedulikan Rasya mau nambah atau tidak. Barang-barangnya yang mau dibawa sudah siap di bagasi mobil.
Rasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah aneh istrinya. Ia pun mengikuti hingga ke mobil dan duduk di samping istrinya yang sudah duduk di kursi belakang. Mobil pun segera melaju.
Dalam perjalanan, Nadia tiba-tiba merasa perutnya bergejolak. "Mas, ada kantong kresek enggak?" tanyanya.
Rasya mengernyit heran, "Buat apa?" tanyanya. Tidak biasanya istrinya ini mabuk kendaraan saat perjalanan jauh.
"Perutku mual banget, Mas. Kepalaku juga pusing," sahut Nadia.
Rasya juga bingung, sementara mereka saat ini sedang berada di jalan tol, tidak mungkin berhenti sembarangan, bisa bahaya nanti. "Tahan sebentar, kita berhenti di rest area terdekat." bujuknya.
"Mana bisa ditahan, Mas. Cari apa kek paper bag atau apa, masa enggak ada satu pun?" Gerutu Nadia berusaha menahan rasa mualnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Itu mungkin akibat dari kamu yang telat makan," tuduh Rasya.
"Hoek ... Hoek."
"Astaga, Nanad! Jadi kotor nih mobilnya," gerutu Rasya. Namun, hanya itu yang ia ucapkan. Karena rasa sayang terhadap wanita yang lebih dari dua tahun ini menemani hidupnya mengalahkan rasa jijik akibat cairan muntahan yang keluar dari mulutnya.
Rasya dengan telaten membersihkan cairan yang mengenai bibir, kulit dan tangan Nadia serta pakaiannya dengan tisu. Setelah itu ia membiarkan Nadia tidur di atas pangkuannya. Memijit pelan kepala Nadia supaya bisa mengurangi sakit kepalanya.
*****
Sementara di rumah sakit tempat Linda dirawat. Purnomo dan Windarti sedang menemui dokter yang menangani Linda anaknya.
"Suaminya Bu Linda ada Pak, Bu?" tanya dokter yang membuat Lek Pur dan Lek Win saling berpandangan, lalu kembali menatap dokter tersebut.
"Maaf, dok. Linda anak saya belum bersuami," sahut Lek Win.
"Oo, begini Pak, Bu. Linda tidak boleh banyak beban pikiran karena itu bisa mempengaruhi perkembangan janin yang ada dalam kandungannya."
"Apa, dok? Linda hamil?" seru Lek Pur dan Lek Win hampir bersamaan. Dokter mengangguk membuat mata Lek Win berkaca-kaca.
"Pak, Rasya harus menikahi Linda," rengek Lek Win.
"Tapi belum tentu yang menghamili Linda itu Rasya, Bu," timpal Lek Win.
"Bapak pikir anak kita itu perempuan murahan yang tidur dengan sembarangan pria?" sergah Lek Win tidak terima.
"Maaf, Pak, Bu, jika tidak ada keperluan lagi silakan anda berdua bisa keluar. Pasien saya sudah mengantri," ucap dokter yang merasa terganggu dengan perdebatan mereka.
"Maaf, dokter. Kami permisi," ucap Lek Pur tidak enak hati.
Lek Pur langsung menggamit lengan Lek Win, mengajaknya keluar. Mereka pergi ke ruangan rawat Linda. Sampai di sana, terlihat Linda sedang menerima telepon dari seseorang. Ia langsung mematikan ponselnya saat menyadari kedatangan kedua orang tuanya yang baru masuk. Lek Win duduk di samping brangkar memandangi putri semata wayangnya.
"Linda, jujur sama ibu siapa yang menghamili kamu?" desak Lek Win. Linda nampak terbelalak mendengar pertanyaan tersebut, tetapi ia segera dapat menetralisir kekagetannya. Ia langsung mengubah mimik mukanya dengan raut wajah sedih.
"Linda tidak punya teman pria selain Mas Rasya dan Mas Rayan, Bu. Ibu kan tahu sendiri," ucap gadis itu dengan berurai air mata penuh kebohongan.
"Linda, bapak mengenal mereka dengan baik. Tidak mungkin mereka berbuat asusila apalagi terhadap adik sepupunya sendiri. Apa kata kakek mu kalau tahu berita ini?" sangkal Lek Pur.
"Jadi bapak sama ibu tidak percaya sama Linda? Anak kandung bapak dan ibu sendiri hiks hiks ..." Linda semakin histeris. "Kenapa bapak menyelamatkan Linda? Lebih baik Linda mati karena tidak dipercaya oleh kalian," sergahnya. Linda semakin histeris. Ia mencoba mencabut jarum infus di tangannya.
"Linda, jangan bertindak bodoh kamu, Nak!" seru Lek Win. Lek Pur segera menekan tombol emergency. Tidak lama kemudian dokter dan dua orang perawat datang ke ruangan tersebut.
Setelah diberi suntikan penenang, Linda akhirnya tertidur. Suster kembali memasang jarum infus di tangan perempuan itu. Lek Pur dan Lek Win pun menghela napas lega.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Terima kasih semuanya😘