Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Tak Sengaja Membalas


__ADS_3

Nadia langsung menghempaskan tubuhnya di kasur saat ia sampai di kamar kostnya. Ia teringat rencana jalan-jalannya bersama Prima yang tadi sempat gagal gara-gara ia mendapat tugas dadakan dari pak dosen. Mungkin saja Prima masih mau melanjutkan rencana mereka, secara sekarang kan masih terhitung pukul tiga sore. Nadia merogoh ponselnya dari dalam kantong tas ranselnya, masih dalam posisi tiduran. Ia melakukan video call terhadap Prima. Kini nampak di layar ponsel kentangnya wajah cantik sahabat yang belum genap satu bulan ini dikenalnya.


"Udah selesai, Nad?" tanya Prima yang melihat Nadia seperti dalam posisi rebahan.


"Iya, ini udah di kamar kost. Jalan-jalannya sekarang saja ya, Prim. Mumpung belum sore banget," ungkapnya.


"Memangnya kamu nggak capek apa?" sergah Prima dengan pertanyaan.


"Capek sih dikit, tapi aku lagi senang. Tadi pekerjaanku udah dibayar separo sama Pak Rasya," tutur Nadia dengan girang.


"Wow, asik donk bakal dapat cipratan," seru Prima tak kalah girang.


"Beres, nanti aku bayarin makan sama bensin deh Prim. Terus kalau mau aku beliin baju, tapi yang di serba 35 ribu aja ya," janji Nadia.


"Oke deh, Udah cepetan sana mandi terus siap-siap. Aku sampai di situ harus sudah siap lho ya," titah Prima.


"Oke, sampai ketemu nanti." Nadia langsung menutup panggilan video callnya.


Secepat kilat ia mengambil handuk dan baju ganti, lalu berjalan cepat ke belakang menuju ke kamar mandi. Kali ini ritual mandinya ekspres karena ia harus sholat ashar dulu sebelum Prima sampai.


Selesai mandi dan sholat, Nadia mencari kerudung yang matching dengan pakaiannya untuk dipakai. Saat ia melolos kerudung, ia melihat kerudung putihnya dari semenjak ia SMA yang warnanya tidak putih lagi. Terbersit di dalam pikirannya untuk mewarnai kerudung tersebut dengan pewarna tekstil supaya warnanya lebih menarik.


'Nanti coba tanya Prima dech tempat penjual bahan pewarna tekstil,' batin Nadia saat mengenakan kerudung. Ia kini sudah siap untuk berangkat. Nadia meraih tas selempang kecil, memindahkan uang dan ponsel ke dalamnya, lalu ke luar dari kamar. Setelah mengunci pintu kamar, ia memutuskan untuk menunggu Prima di teras.


Sesaat setelah Nadia duduk di kursi teras, motor matik milik Prima dengan sang empunya yang bertengger di atasnya pun tiba.


"Helm!" seru Prima ke arah Nadia tanpa turun dari motornya.


Nadia yang paham akan maksudnya segera berucap, "Oh iya lupa, aku ambil dulu sebentar."


Nadia masuk ke dalam rumah kembali, sesaat kemudian ia muncul dari balik pintu dengan kepala sudah mengenakan helm dan melangkah menghampiri Prima.


"Kita mau kemana?" tanya Prima menanyakan tujuan mereka saat ia sudah melajukan motornya dan Nadia membonceng di belakangnya.


"Ke pasar yang waktu itu bareng Mas Rayan saja ya," usul Nadia.


"Oke, tapi kalau nanti pulangnya kemalaman aku enggak berani nganter," timpal Prima.


"Iya, nanti kalau kemalaman aku naik ojek online saja," sahut Nadia. "Oh iya, Prim, kamu tahu enggak toko yang menjual pewarna tekstil?" lanjutnya bertanya.


"Nanti kita tanya di pasar, memangnya buat apaan?" tanya Prima balik.


"Kerudung-kerudung putihku warnanya udah enggak cemerlang lagi, rencananya sih mau aku warnai dengan teknik celup ikat, biar ada motifnya gitu, 'kan lebih menarik kalau dipakai. Terus aku mau beli kerudung putih yang baru," terang Nadia mengungkapkan rencananya.

__ADS_1


"Wah, ide bagus tuh. Aku juga punya beberapa kerudung putih yang udah usang warnanya, tetapi bahannya masih bagus. Kalau hasilnya bagus, nanti aku warnai juga punyaku," timpal Prima.


Motor yang mereka naiki telah memasuki kawasan pasar. Nadia sempat memperhatikan deretan toko yang berjajar di depan pasar. "Prim, nanti kita ke toko itu ya. Itu ada toko kerudung, terus di sebelahnya ada toko serba 35," pinta Nadia.


"Iya, sekarang kita cari tempat parkir dulu lah," sahut Prima.


Setelah memarkirkan motornya, Prima dan Nadia berjalan menuju ke toko yang tadi ditunjukkan oleh Nadia, toko kerudung dan serba 35 ribu.


"Kita ke serba 35 dulu atau ke toko kerudung lebih dulu, Nad?" tanya Prima sebelum mereka sampai di depan toko.


"Ke toko kerudung dulu aja," sahut Nadia antusias.


"Kalau menurut aku kok ke serba 35 dulu ya, Nad. Kita cari kaos atau baju dulu, setelah dapat baru kita cari kerudung yang matching dengan baju yang kita beli di serba 35," cetus Prima.


"Ah iya juga ya, yuk ke serba 35 dulu!" ajak Nadia.


Mereka nampak memasuki toko pakaian serba 35 ribu. Mencari dan memilih dengan jeli baju yang harganya murah dengan kualitas bagus. Nadia mengambil beberapa kaos pilihannya.


"Jangan banyak-banyak, kamu harus menabung buat beli laptop juga kan, Nad," cegah Prima melihat temannya antusias memilih baju.


"Iya, aku juga udah mikir beli laptop, tetapi aku juga butuh baju buat gonta-ganti kuliah. Soalnya dari kampung aku cuma bawa beberapa helai saja. Setiap sore hari aku harus mencuci baju yang seharian kupakai, pagi hari aku harus menyeterika. Cuci kering pakai, begitu seterusnya, hahaha ..." sahut Nadia panjang lebar diselingi tawa.


"Hahaha ..., ada-ada saja kamu, Nadia," decak Prima.


Setelah mantap dengan pilihannya, mereka langsung membayar kepada pelayan toko.


"Sama-sama, Mbak. Oh iya, kalau mau beli pewarna kain di mana ya, Mbak?" sahut Nadia kemudian bertanya barangkali pelayan tadi mengetahui.


"O, kira-kira 5 toko di sebelah kiri toko ini ada toko bahan-bahan kimia, Mbak. Mungkin Mbak bisa tanya di situ," sahut pelayan toko ramah.


"Kalau begitu terima kasih atas informasinya, Mbak. Kami permisi. Ayo, Prima!" sahut Nadia beralih ke arah Prima.


Mereka menuju ke toko kerudung yang ada di sebelah kanan toko yang mereka masuki tadi. Seorang pelayan datang menyambut kedatangan mereka saat mereka masuk ke dalam toko tersebut.


"Selamat datang, Kakak-kakak. Silakan dipilih-pilih. Kakak-kakak mau cari kerudung instan, kerudung segi empat atau pashmina?" sapa pelayan tersebut.


"Aku cari kerudung segi empat saja, Mbak," sahut Nadia.


"Mari ikut saya, Kak!" ajak pelayan tadi.


Nadia dan Prima membuntuti si pelayan. Mereka dibawa ke rak penjualan kerudung segi empat. Di sana terlihat kerudung dengan berbagai ukuran, dari yang lebarnya 110 x 110 cmsampai yang lebarnya 140 x 140 cm. Dari yang model pinggirannya dijahit kelim, rawis, laser cut, ada juga yang rajut crocket. Dari yang polos hingga motif semua ada harganyapun terjangkau membuat Nadia bingung.


"Mbak, aku mau cari kerudung yang bahannya menyerap keringat, ukurannya 125 cm ada?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Ada, Kak. Ini bahannya katun voal, kakak mau cari warna apa?" sahut si pelayan menunjukkan beberapa helai kerudung di gantungan, lalu bertanya.


"Warna putih satu, Mbak. Terus lainnya warna yang cocok sama baju ini ya, Mbak," sahut Nadia.


"Sebentar saya carikan stoknya ya, Mbak. Kalau yang ini kosong Mbak bisa pilih bahan yang lain," pamit pelayan tersebut.


Pelayan tersebut masuk ke dalam untuk melihat stok apakah kerudung yang diminta oleh Nadia ada atau tidak. Sebentar kemudian dia muncul kembali dengan membawa beberapa kerudung yang masih terbungkus plastik di tangannya.


"Maaf, Kak. Yang bahan seperti tadi kebetulan stok warna yang Kakak minta kosong, tetapi ini ada bahan lain lebih halus dari yang tadi, harganya lebih mahal 5 ribu rupiah, gimana?" ungkap si pelayan.


"Iya, Mbak tidak apa-apa, yang penting warnanya sesuai," sahut Nadia. "Kamu mau ambil ini juga kan buat seragam, Prim?" tanyanya beralih ke Prima.


"Enggak ah, Nad. Stok kerudungku di rumah masih banyak," tolak Nadia.


"Ya udah kalau enggak mau. Tolong bungkus yang tiga ini ya, Mbak," pinta Nadia pada pelayan toko.


Pelayan toko itu pun membungkus kerudung yang dipilih Nadia. Nadia membayar total belanjaannya. Setelah itu mereka keluar dari toko tersebut. Tujuan selanjutnya adalah ke toko bahan kimia untuk membeli pewarna kain. Sebelum pulang mereka sekalian mampir makan di warung sate. Baru setelah itu Prima mengantarkan kembali Nadia pulang ke kostan sebelum Maghrib tiba.


Malam harinya sebelum tidur, Nadia hendak mengeksekusi beberapa kerudung putihnya untuk diwarnai. Tadi sore di toko bahan kimia ia membeli 3 warna pewarna kain. Merah marun, kuning kunyit dan hijau toska. Sekarang ia mau mencoba warna merah marun terlebih dahulu. Iya sudah meminta ijin kepada Mbak Rumi akan meminjam panci untuk merebus kain dan pewarna tersebut.


Nadia hendak memberi motif pada kain yang akan dicelupkan ke dalam zat pewarna tersebut. Maka sebelum kain tersebut dicelup, ia terlebih dahulu menjelujur kerudungnya dengan benang jagung, lalu mengikatnya kuat-kuat supaya air tidak bisa masuk. Saat dia mau mengambil ember di tempat mencuci baju, kain yang mau ia warnai ia tenteng juga. Saat itulah si Sari yang suka titip melihatnya di tempat mencuci.


"Nadia, aku nitip ya," ucap Sari yang membawa baju di tangannya juga.


"Tapi, Mbak ---."


Belum selesai Nadia berucap, Sari sudah memotongnya. "Please! Satu setel saja, ini harus aku pakai sift malam besok. Dan aku nggak punya waktu. Ini aku udah mau berangkat lagi, tolong ya, Nad," ucapnya memohon.


"Ya udah kalau maksa," Nadia akhirnya mengalah dan meraih baju tersebut dari tangan Sari. Blus berwarna ungu muda dan celana berwarna lavender.


"Makasih ya, Nad," seru Sari menghambur pergi.


"Makasih melulu tetapi tidak tahu terima kasih," gerutu Nadia.


Nadia menaruh baju sari tersebut ke dalam ember bercampur dengan kerudungnya. Kemudian membawanya ke dapur. Air rebusan pewarna tekstil di dalam panci sudah mendidih. Ia memasukan satu persatu baju dan kerudung ke dalam panci tersebut secara bergantian. Setelah 5 menit dan dirasa warna sudah menyatu dengan kain, ia mematikan kompor.


Nadia mengambil kembali satu persatu kain dari dalam panci dan dipindahkan ke dalam ember. Ia kemudian membawa kain-kain tersebut ke luar rumah untuk dijemur.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Tararengkiuuh yang udah baca😘😘😘


__ADS_2