Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Bertukar Durian


__ADS_3

Rasya pun naik ke lantai dua. Ia menahan tawa saat mendapati istrinya sedang duduk di tepi ranjang dengan tubuh berbalut sprei seperti kepompong. "Mang Dudungnya sudah pulang ke rumahnya, Sayang. Ini sudah maghrib soalnya," ucap Rasya pada Nadia.


"Terus sampai kapan aku jadi kepompong seperti ini? Terus nanti sholatnya gimana?" Tanya Nadia.


Rasya pun malah tersenyum genit mendekat ke arah Nadia. "Mas malah lebih suka kamu tidak memakai apa-apa, Sayang," ucapnya.


"Cari dong, Mas! Mungkin di lantai bawah," pinta Nadia tidak menggubris omongan ngawur dari suaminya.


"Nanti saja carinya, kita sholat maghrib dulu saja. Keburu habis waktu sholat maghrib nanti. Mas belum mandi juga soalnya." Rasya berucap sembari masuk ke dalam kamar mandi membuat Nadia mendengus kesal.


Nadia beringsut mengambil mukena parasut yang selalu dibawa di dalam tas selempang nya yang ia taruh di atas nakas tadi usai sholat ashar. Ia mengangkat mukena tersebut dan menerawangnya. "Masa sholat pakai mukena parasut yang tipis begini enggan pakai baju dalamnya?" gerutu Nadia.


Rasya keluar dari dalam kamar mandi masih mengenakan baju yang sama.


"Mas enggak mandi sekalian?" tanya Nadia yang memperhatikan suaminya masih memakai pakaian yang sama.


"Nanti saja, waktunya mepet ini. Sekarang kamu ambil air wudhu dulu! Kita sholat berjamaah," sahut Rasya lalu menyuruh istrinya untuk berwudhu.


Nadia pun mengubah balutan sprei di tubuhnya yang semula seperti kepompong, kini menjadi kemben. Rasya sempat menelan salivanya saat melihat istrinya membuka dan kembali membalut tubuhnya dengan sprei.


Nadia yang sudah memakai kemben segera melangkah menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Keluar dari kamar mandi Nadia langsung memakai mukenanya dan langsung berdiri di belakang Rasya yang sudah siap untuk bertindak sebagai imam.


Mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan pakaian seadanya, yang penting suci dari hadas dan najis serta menutup aurat sesuai dengan syarat sah dalam sholat.


Nadia mencium takzim tangan suaminya setelah selesai sholat. Rasya pun tanpa diminta meraih tengkuk istrinya lalu mencium keningnya. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya terhadap istri pertamanya.


Rasya tersenyum memandangi istrinya yang tengah membuka mukenanya. Ia sangat bersyukur dengan apa yang ia dapatkan saat ini. Seorang istri shalihah yang mencintai setulus hati tanpa memandang kaya atau pun miskin, muda ataupun sudah tua, duda atau pun perjaka. Apalagi di umurnya yang sudah dewasa dengan status duda ini ia bisa mendapatkan gadis yang masih perawan, meskipun dokter memvonisnya sebagai wanita yang mandul karena sebelah indung telurnya telah diangkat.


Sedangkan Nadia malah sewot melihat suaminya senyum-senyum terus memandanginya tanpa henti. "Mas senang ya melihat istrinya cuma pakai kemben kaya orang primitif di pedalaman hutan sana," gerutunya.


"Ish, siapa bilang? Kan Mas tadi udah bilang kalau Mas sukanya kamu enggak pakai apa-apa," elak Rasya.


"Ya udah, aku mau makan durian di lantai bawah, tetapi tidak pakai apa-apa," ancam Nadia.


"Eh, jangan dong, Sayang. Nanti kalau mang Dudung lihat gimana? Mas dong yang rugi. Tubuh polos kamu itu cuma Mas yang boleh menikmati," cegah Rasya.


"Makanya cari dulu dong kopernya," pinta Nadia lagi.


"Baiklah, tapi Mas mau cium dulu istri primitif Mas," ucapnya tersenyum jahil. "Kalau enggak ketemu kamu pakai baju yang tadi saja, Sayang. Kan baru dipakai dari tadi siang belum kotor," imbuh Rasya.


"Baju yang tadi siang udah basah, Mas. Tadi kecipratan air shower," timpal Nadia merajuk.


"Terus kalau ternyata kopernya enggak kebawa gimana? Memangnya tadi kamu udah memasukkan koper ke bagasi?" tanya Rasya yang malah membuat Nadia membelalakkan bola matanya.

__ADS_1


"Mas jangan sembarangan deh, tadi memang aku tidak memasukan koper ke dalam bagasi mobil. Tadi aku kan cuma packing pakaian kita doang. Mas bilang Mas yang mau bawa keluar kopernya 'kan bukan aku," ucap Nadia membenarkan ucapan suaminya.


"Waduh! Tapi tadi mas cuma bawa tas ransel punya Mas yang berisi laptop doang, Sayang. Jadi kamu enggak bawa koper kita keluar? Padahal kan cuma nyeret doang enggak pakai nyangkat," ujar Rasya menahan tawa.


"Jangan bilang Mas sengaja enggak bawa baju-baju aku, biar aku enggak pakai baju?" terka Nadia.


"Kalau iya kenapa?" Rasya malah bertanya tersenyum geli.


Mata Nadia membola, "Ih, jahat!" cebik Nadia sambil memukul-mukul dada bidang Rasya. Tawa pria itupun lepas sudah tanpa bisa ditahan lagi.


"Memangnya sweater yang tadi Mas pakaikan basah juga?" tanya Rasya setelah tawanya reda. "Kembenan gini terus luarannya dipakaikan sweater untuk sementara enggak apa-apalah. Nanti bisa pesan online," bujuknya.


"Di bukit dan hutan kayak gini mana ada toko yang mau delivery order, Mas?" cebik Nadia. "Lagian di sini Mas pasti belum punya langganan seperti di Jakarta," imbuhnya pesimis.


'Belum tahu saja dia,' batin Rasya. "Ayok turun! Mana sweater kamu?" ajak dan tanyanya.


"Di kapstok kamar mandi," jawab Nadia.


Rasya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil sweater milik istrinya ia lalu keluar lagi dan memakaikan sweater tersebut kembali ke tubuh istrinya tersebut. "Memangnya kamu enggak merasa kedinginan apa buka dada seperti ini?" tanyanya.


Mereka kini keluar dari kamar, menuruni anak tangga.


"Eh tunggu, Mas! Kapan Mas beli sweater ini? Aku kan enggak punya sweater kayak gini," tanya Nadia dengan penuh keheranan.


"Tadi pas perjalanan ke sini Mas mampir di toko pakaian dan minimarket untuk belanja bahan kebutuhan kita selama di sini," jawab Rasya.


"Kasih tahu enggak ya?" sahut Rasya sok imut. "Duriannya ada di dapur, Sayang. Mau dibawa ke sini atau kita makan di dapur saja?" tanyanya saat mereka sampai di ruang tengah.


"Bawa sini saja, Mas. Kita makan sambil nonton TV," sahut Nadia.


"Baiklah, Mas ambil dulu ya. Kamu tunggu di sini saja," pamit Rasya.


Nadia pun mengangguk dan duduk di sofa. Ia meraih remote TV dan menekan tombol on. Ternyata signal antena maupun TV kabel jelek ya. Hanya siaran parabola yang diterima di daerah perbukitan.


Rasya kembali ke ruang tengah dengan menenteng empat buah durian. ia lalu meletakkannya di lantai. "Enggak makan nasi dulu, Sayang? Bi Titin sudah masak banyak tuh. Sayang kalau enggak dimakan," tanyanya.


"Kalau makan nasi dulu, yang ada nanti enggak jadi makan durian karena udah kekenyangan. Makan durian itu juga tujuannya untuk menghangatkan badan, Mas," sahut Nadia menjawab pertanyaan Rasya. "Nanti makanannya dimasukan ke dalam kulkas saja, diangetin buat besok pagi," imbuhnya memberikan solusi.


Rasya mulai membelah salah satu durian yang baunya dirasa paling menyengat. "Cuci tangan dulu sana, Sayang! Sekalian ambil tisu di meja makan," suruhnya pada istrinya.


"Ada lagi enggak? Biar sekalian," tanya Nadia.


"Bikin kopi krimi late," sahut Rasya tersenyum. "Kopinya masih di kantong kresek ya," imbuhnya.

__ADS_1


Nadia bangkit dari duduknya, melangkah menuju ke ruang makan. Ia terkejut saat mendapati banyak sekali kantong kresek teronggok di lantai ruang makan tidak jauh dari meja makan. Nadia yang penasaran dengan isi kantong kresek tersebut pun akhirnya mendekat dan membuka satu persatu isi dari kantong kresek tersebut.


Nadia kembali terkejut ketika melihat isi dari kantong kresek yang mayoritas berwarna putih tersebut. Ternyata isinya handuk dan pakaian lengkap ada di kantong tersebut. Juga makanan instan di dalam kantong kresek yang lain.


Nadia mengambil satu stel baju piyama berbahan satin beserta baju dal*aman wanita langsung memakainya di tempat itu. Tidak ada siapa-siapa juga, pikirnya. Lalu kembali memakai sweater sebagai outer. Ia kemudian mengambil 2 sachet kopi instan krimi late lalu melangkah menuju ke dapur.


Sementara di ruang tengah, Rasya sedang membelah durian dengan menggunakan pisau. Ia tersenyum setelah sepuluh menit kemudian melihat istrinya muncul telah berganti kostum, bukan dari suku primitif lagi. Nadia meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi dan tisu di atas meja, lalu ia duduk di sofa.


"Suka 'kan sama pilihan Mas?" tanya Rasya melirik Nadia.


"Suka tidak suka, nemunya cuma ini," jawab Nadia santai.


"Kok cuma ini? 'Kan Mas beli banyak," tanya Rasya.


"Pas aku buka kantong kresek yang pertama, nemunya ini. Langsung aku pakai," jelas Nadia lagi.


Nadia langsung mengambil durian yang sudah terbuka dan menyantapnya. "Enak," ucapnya.


Rasya bangkit membawa durian yang sudah dibelah dan duduk di samping Nadia. "Mau biar lebih enak?" tanyanya dengan senyum menyeringai. Ia meletakkan durian yang dipegang di atas meja. Mengambil dan ********** di dalam mulut. Nadia masih menunggu apa yang akan dilakukan suaminya.


Rasya lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Nadia, ******* bibir istrinya tersebut lalu mendorong sebagian durian yang ada di dalam mulutnya ke mulut Nadia. Nadia pun menyesap durian tersebut dan menelannya. Beberapa saat mereka bertukar saliva dan durian.


"Gimana? Lebih enak 'kan?" tanya Rasya setelah tautan bibir mereka terlepas.


Nadia mengangguk tersipu sambil menjilat bibirnya yang masih belepotan dengan sisa durian. Njelehi🤣🤣🤣, author.


Rasya kembali mengambil durian, menggigit dan mengunyahnya di dalam mulut. "Mau lagi?" tanyanya memandang ke arah istrinya. Nadia pun mengangguk sambil menikmati durian yang dikunyahnya sendiri.


Beberapa saat kemudian Rasya kembali melakukan hal yang sama seperti tadi, bertukar durian. Bahkan kini durasi yang mereka lakukan lebih lama hingga hasrat laki-lakinya bangkit. Tangannya mulai menerobos masuk menyibak piyama yang dipakai istrinya. Mencari mainan squisy yang beberapa hari kemarin menjadi mainan favoritnya. Lenguhan dan ******* akhirnya lolos juga dari mulut Nadia.


Nadia mendorong dada suaminya. "Emmh ... Mas," ucapnya saat tautan bibirnya terlepas. "Masih sore, tangan Mas habis kena durian juga. Udah ah makan biasa saja," cebiknya.


"Tapi tongkat sakti punya Mas udah bangun ini," ucap Rasya penuh harap. ***** bira*inya sudah diubun-ubun.


"Tadi Mas bilang habis isya. Ini juga belum masuk waktu isya'. Di sini udaranya dingin banget Mas. Nanad malas ah kalau harus mandi junub malam-malam," tutur Nadia mencoba membujuk suaminya agar bersabar untuk memasukkan tongkat sampai sehabis sholat isya'.


Rasya menghembus napas kesal. "Huft ... sabar ya, Cung. Tunggu sampai pemilik goa surgamu sholat isya'!" ucapnya menghibur tongkat saktinya.


Nadia tersenyum geli melihat kelakuan suaminya. Sebenarnya dia juga menginginkan, tetapi masih bisa menahan.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2