Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Lembur


__ADS_3

"Oh iya, satu lagi Mas. Meskipun yang pertama jawaban Mas Rayan tidak memuaskan. Kenapa Mas Rayan mengajak aku jalan? Memangnya Mas Rayan tidak punya teman atau Pacar?" tanya Nadia lagi.


Mendengar pertanyaan Nadia, Rayan mendesah pelan. Sementara Prima ikutan fokus menunggu jawaban darinya. "Mana ada cowok setampan aku tidak punya pacar? Aku sudah tunangan kok," kilahnya sambil menunjukkan cincin platina yang melingkar di jari manis kirinya. Mendengar hal itu Prima menunduk, nampak semburat kecewa di wajahnya. Minuman yang mereka pesan pun datang.


"Hahaha, kirain. Memangnya tunangan Mas Rayan enggak cemburu Mas jalan sama para cewek?" tanya Nadia lagi. Prima kembali mengangkat wajahnya menunggu jawaban dari pemuda yang ada di depannya.


"Mana mungkin dia cemburu? Dia saja enggak suka ketemu aku makanya sekarang tunanganku lebih memilih pindah sekolah di Bandung. Kita tunangan karena dijodohkan." Mendengar ucapan Rayan, Nadia hampir saja memuncratkan es teh yang dia teguk. Wajah Prima juga kembali berbinar. "Terus masalah teman, teman-teman seangkatanku itu sudah pada kerja, ada juga yang melanjutkan S2 di luar negeri. Jadi di kampus ini ya aku sudah tidak punya teman lagi," imbuhnya.


"Mas Rayan ini ternyata mahasiswa abadi ya?" cicit Nadia bernada ejekan. "Jadi Mas Rayan bukan semester delapan donk?" sergahnya.


"Emang bukan semester 8, kemarin yang aku tunjukan ke kamu itu kartu tahun lalu tahu," timpal Rayan membenarkan ucapan Nadia.


"Wah, ternyata masih ada kesempatan kita berdua buat jadi kandidat calon istrinya Mas Rayan loh, Prima," ujar Nadia pada gadis cantik di sampingnya.


"Dih, mana mungkin aku suka sama kutilang darat kayak kamu, kalau si Prima sih ... lumayan masuk kategori kayaknya," cerca Rayan membandingkan penampilan kedua gadis tersebut tanpa memperdulikan perasaan keduanya.


Nadia mengerucutkan bibirnya. "Mas Rayan jahat banget sih, ngomong kayak knalpot enggak pakai penyaring, enggak enak di rasanya di kuping," gerutunya.


"Makanya makan yang banyak, biar isi tuh pipi. Enggak cuma seperti kulit yang membalut tulang doang," sergah Rayan. "Habiskan segera es kalian, kita segera berangkat. Entar kemalaman lagi," perintahnya.


"Lah, teka-teki perintah ospeknya kan belum jadi daftar barang, Mas," protes Nadia.


"Salah sendiri dari tadi cuma ngobrol. Coba buka catatannya!" Rayan malah menyalahkan.


Nadia dan Prima merogoh buku dari dalam tas mereka. "Coba kamu baca, Prim!" titah Nadia.


"Nomor satu, memakai kalung yang terbuat dari mutiara Hitam yang harum baunya dan enak rasanya," ucap Prima membaca catatan di bukunya.


"Memangnya ada mutiara yang berbau harum? Bisa dimakan lagi," timpal Nadia.


"Jangan diartikan saklek gitu, Nadia," sergah Rayan.


"Sekarang kita cari benda bulat berwarna hitam yang baunya harum dan enak dimakan, banyak orang yang suka," usul Prima nampak berfikir serius. Nadia dan Rayan juga berfikir.


"JENGKOL!" seru Nadia dan Rayan kompak seperti paduan suara lagu mars.


"Hahaha, kompak banget kalian. Jangan-jangan kalian jodoh, atau paling tidak jadi ipar," ujar Nadia menertawakan Nadia dan Rayan.


'Aamiin," ucap Nadia dalam hati. "Jadi benar atau enggak jawabannya jengkol?" tanyanya.

__ADS_1


"Emm ... , kayaknya jengkol masuk akal. Secara jengkol yang sudah tua kan warna kulit arinya kehitaman, terus baunya menyengat dan juga rasanya enak banyak yang suka," tutur Prima menguatkan pendapatnya.


"Kalau nanti salah bagaimana?" tanya Nadia khawatir.


"Sekali-kali salah enggak apa-apa lah, paling juga dihukum lari keliling lapangan atau cium tangan senior yang berlawanan jenis," sahut Rayan.


"Ya udah aku catat nomor satu jengkol nih. Lanjut, Prim," titah Nadia.


Prima pun melanjutkan kembali membaca perintah berupa teka-teki yang dicatatnya. Hingga mereka selesai menerjemahkan semua perintah menjadi daftar barang yang harus dibeli. Mereka segera beranjak menuju ke tempat parkir. Mereka keluar dari gerbang, motor Prima melaju membuntuti motor Rayan yang berada di depan.


Rayan memarkirkan sepeda motornya di basemen parkir sebuah mall. Begitupun Prima yang membuntutinya. Dengan ragu-ragu Nadia turun dari motor, wajahnya seketika pucat, pikirannya tiba-tiba terfokus pada isi kantongnya. Uangnya untuk jatah satu bulan bisa habis sekarang juga kalau belanja di mall.


"Mas, kok ke mall sih?" Nadia nampak protes kepada Rayan.


Rayan menampilkan senyumnya semanis mungkin. "Tenang saja nanti aku yang bayarin, asalkan kalian jangan jauh-jauh dari aku," ucapnya seperti menjawab kekhawatiran Nadia.


Mereka beranjak meninggalkan basemen parkir menuju ke dalam mall, tempat yang mereka tuju untuk pertama kali adalah galeri buku. Rayan langsung menuju ke rak penjualan buku, sementara Nadia dan Prima menuju ke rak display ATK dan pernak-pernik. Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan di galeri buku, mereka kemudian menuju ke bagian penjualan sayuran untuk mencari jengkol mentah dan kawan-kawannya.


*****


Sementara itu, Rasya yang belum mulai ada jadwal mengisi kuliah di kampus, siang hari ia membantu bekerja di perusahaan Baskoro Groups, perusahaan yang didirikan oleh Bapak Baskoro, ayahnya Rasya dan Rayan.


Menjelang waktu sholat Maghrib, Rasya ada sedikit waktu senggang sebelum melaksanakan sholat maghrib. Ia teringat dengan sahabatnya yang berjanji akan membantu meretas email Celine dalam waktu satu jam. Namun, sampai sekarang terhitung sudah hampir satu minggu belum terdengar juga kabarnya. Rasya memutuskan untuk menghubungi kembali teman prianya tersebut. Meraih ponsel yang ia taruh di atas meja, lalu mendial nomor telepon Doddy.


"Alhamdulillah baik, gimana kabar pekerjaan yang aku kasih, kamu bilang nggak pakai lama, ini sudah hampir satu minggu kamu belum kirim ke email aku hasilnya?" tanya Rasya dengan seberondong pertanyaan.


"Tenang saja, semuanya sudah beres kok, tetapi maaf aku tidak bisa kirim data-data tersebut ke email, kita butuh ketemu langsung, Brow. Rencananya aku akan balik ke Indonesia akhir minggu ini. Kita ketemuan saja nanti, gimana?" tutur Doddy panjang lebar.


"Oo ... begitu? Oke kita ketemu akhir minggu ini," ucap Rasya menyanggupi.


"Oke, sampai ketemu di Indonesia, Brow."


"Sampai ketemu nanti, aku tutup teleponnya ya," Rasya langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Doddy.


Rasya memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Ia hendak ke kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum sholat maghrib. Sejak pertemuan malam itu dengan Celine, ia sekarang lebih berhati-hati. Ia tidak tenang jika meletakan ponselnya sembarangan meskipun itu di ruangan privasinya. Celine bisa melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa saja yang ia mau.


Suasana kantor nampak lengang, hanya ada beberapa karyawan yang lembur saja yang ada di sana. Karena jam kerja kantor hanya sampai pukul lima sore.


Usai sholat maghrib di dalam ruangan kerjanya, Rasya keluar menuju ke pantry hendak membuat kopi latte tanpa gula kesukaannya. Saat sampai di pantry ia mendapati seorang gadis yang juga sedang membuat minuman di sana.

__ADS_1


"Belum pulang kamu, Lin?" tanya Rasya pada Linda, sekretaris Pak Baskoro sekaligus saudara sepupunya tersebut.


"Eh, Mas Rasya ngagetin aja dech," sergah Linda kaget.


"Kamu ini lagi melamun ya, masa enggak dengar langkah kakiku?" cicit Rasya membuka lemari dinding untuk mengambil kopi instan yang ia mau.


"Hehe ... , iya mungkin, Mas. Masih ada laporan belum selesai aku revisi yang akan dipakai Om Baskoro meeting besok pagi, Mas," tutur Linda.


Rasya menyobek kemasan kopi instan, memasukkan ke dalam cangkir yang diambilnya dari rak piring, lalu menambahkan air panas dari dispenser. "Kalau aku bisa bantu nanti aku bantu," tawarnya sambil mengaduk minumannya. "Kamu bawa ke ruangan ku saja laporannya dan laptop kamu," imbuhnya, lalu ia berlalu kembali ke ruang kerjanya.


"Makasih ya sebelumnya, Mas," seru Linda yang tertinggal di belakang Rasya. Rasya tidak mempedulikan ucapan Linda. Ia terus masuk ke dalam ruang kerjanya.


Rasya meletakkan cangkir kopinya di meja, menghempaskan bokongnya di sofa dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa tersebut. Ia masih mengenakan baju koko dan sarung, kopiah juga masih bertengger di kepalanya. Ia nampak berfikir sejenak, punya pekerjaan yang mapan, kekayaan warisan dari orang tua yang juga melimpah, ia juga termasuk orang yang taat beribadah, selalu mengingat sang pencipta, tetapi kenapa bisa punya istri seperti Celine yang tidak bisa diatur, berpakaian norak yang suka memperlihatkan aurat, suka menghamburkan uang untuk membeli barang-barang mewah yang tidak penting. Celine tidak pernah mau melayaninya sebagai seorang suami. Jika mereka bertemu hanya uang saja yang dia mau. Apa selama ini ia kurang bersyukur? Apa sedekahnya masih kurang? Atau memang Celine bukan jodohnya?


Linda beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tidak didengar oleh Rasya. Akhirnya dia nyelonong masuk tanpa ijin sang pemilik ruangan.


"Mas Rasya, ini laporannya," ucap Linda secara tiba-tiba menunjukkan buku yang dipegangnya.


"Eh, Linda." Rasya tergagap kaget karena kedapatan sedang melamun.


"Maaf, Mas. Tadi aku sudah mengetuk pintu berulang kali, tetapi Mas Rasya tidak juga menyahut," ucap Linda.


"Kalau baca laporan yang belum kamu revisi bisa sampai malam nggak kelar-kelar tugas kita, Lin. Kamu bawa laptop kamu saja ke sini, kamu tunjukkan langsung bagian mana saja yang harus direvisi, kita kerjakan sama-sama," cetus Rasya.


Linda paham apa yang dimaksud Rasya. "Di buku itu juga sudah aku lipat dan tandai bagian yang harus direvisi kok, Mas, tetapi jika Mas Rasya maunya begitu, baiklah aku akan ambil laptopku dulu," pamit Linda dan segera keluar untuk mengambil laptopnya.


Linda kembali ke dalam ruangan Rasya dengan laptop yang sudah terbuka di tangannya. Melihat kedatangan Linda kembali di ruangannya, Rasya menepuk sofa yang kosong disampingnya, memberikan kode agar Linda duduk di sana. Linda pun duduk di samping Rasya. Aroma harum tubuh Rasya yang baru mandi menguar hingga tercium ke hidung Linda. Linda merasa rikuh duduk sedekat itu dengan Rasya, walaupun ia tahu Rasya hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang adik, namun aroma tubuh yang keluar dari tubuh Rasya ia sangat menyukainya.


"Sekarang kamu tunjukan bagian mana saja yang harus direvisi," perintah Rasya.


"Mas Rasya lihat saja bagian buku itu yang sudah aku lipat dan tandai," pinta Linda balik.


Saat Rasya membuka dan meneliti bagian dari buku laporan yang diberikan oleh Linda, saat itulah Linda bisa memandang dan memperhatikan wajah Rasya dari jarak yang dekat.


'Kasihan Mas Rasya, punya istri tetapi sering tidur di kantor," batin Linda.


.


.

__ADS_1


.


Semoga syukah 😘😘😘


__ADS_2