
Nadia mendekati Aghni yang tengah duduk beralaskan tikar di bawah sebuah pohon nangka.
"Hai, Aghni. Kamu tinggal di kota ini ternyata," sapa Nadia.
"Hai Kak Nanad, ternyata kamu adiknya Kak Nadhif ya?" sapa Aghni balik.
"Iya, pas Kang Nadhif hadir di ultah ARD's Corp kan ngajak aku. Waktu itu aku belum kenal sama kakak kamu, Tania," ungkap Nadia.
"Oo ..." Aghni hanya ber-o ria, padahal teringat jelas olehnya bahwa pada malam itu kakak seibu nya yang saat itu bekerja sebagai pelayan dalam pesta tersebut memang belum mengakui mamanya sebagai ibu kandungnya. Dan pada malam itu juga menurut yang ia dengar Tania telah digagahi oleh kakak seayah nya, Bram karena telah meminum jus buah yang mengandung obat perangsang. Aghni bergidik ngeri mengingat kejadian itu.
"Kamu kok bisa sama Kang Nadhif sih, Aghni? Kalian pacaran ya?" Aghni hanya menanggapi pertanyaan Aghni dengan tersenyum.
"Kak Nadhif 'kan manajer di minimarket milik papaku, Kak Nanad. Lagian sekarang mumpung di masih di sini, soalnya dua bulan lagi dia mau dikirim ke Cambridge oleh Om aku," kilah Aghni yang belum mau mengakui kalau mereka pacaran.
"Apa?" seru Nadia bertanya. "Cambridge? Kok aku enggak tahu," imbuhnya kaget.
"Memangnya Kak Nadhif belum cerita ke Kakak." Aghni balik bertanya.
"Belum," sahut Nadia singkat.
"Setelah acara wisuda S1 nya, Kak Nadhif akan berangkat ke Cambridge untuk melanjutkan S2 di Harvard University, mungkin juga S3 langsung di sana," tutur Aghni mengira-ngira.
Nadia mengambil tiga bungkus es buah beserta sedotannya, ia memasukkan es buah tersebut ke dalam kantong kresek. "Aku mau tanya sama Kang Nadhif, kamu mau ikut ke danau enggak, Aghni?" tuturnya mengajak Aghni.
"Ikut dong," sahut Aghni.
"Oh iya, nanti malam Mas Rayan sama Pipim mau nyusul ke sini," tutur Nadia saat mereka berjalan di jalan setapak.
"Oh ya? Bakal ramai donk di sini," timpal Aghni.
Kini mereka telah sampai di gubuk yang ada di danau. Nadia mendekati sang kakak dan duduk di sampingnya.
"Jangan dekat-dekat kakang, Nad. Nanti kena kail," cegah Nadhif.
"Ah Kang Nadhif enggak asik. Masa sama Aghni boleh dekat-dekat sama adik sendiri enggak boleh," cebik Nadia.
"Bukan begitu maksud kakang, sana lihat dari belakang saja duduk bareng Aghni," perintah Nadhif.
"Aghni bilang Kakang mau ke Cambridge?" tanyanya memastikan.
"In sya Allah, Dek, tapi masih dua bulan lagi," sahut Nadhif membenarkan.
"Mamak sudah tahu?" tanya Nadia lagi.
"Kakang belum sempat ngomong sama Mamak dan Mimik. Wong kakang di kasih kabar oleh Pak Ardan baru tadi pagi pas jemput Aghni ke sini," jawab Nadhif.
"Di sana berapa lama, Kang?"
"Kakang belum tahu, Nad. Tanya pacar kamu saja yang sudah pernah," suruh Nadhif.
"Pacar? Nadia enggak punya pacar. Pacar yang mana?" tanya Nadia balik. Memang ia tidak punya pacar, hubungannya dengan Pak Rasya entah sebutannya apa, enggak ada status apapun.
"Tuh, yang lagi mancing di sana," tunjuk Nadhif ke arah Rasya yang duduk agak jauh dari mereka. Nadia pun menoleh ke arah Rasya yang tengah sibuk memancing.
"Dia bukan pacarku, Kang. Dia itu dosen aku, dan juga udah punya istri dan anak. Memangnya kakang mau adik kakang yang manis ini menjadi madu?" sergah Nadia.
__ADS_1
"Jadi madu nanti tambah manis kali, Dek." canda Nadhif. Nadia malah cemberut. "Ya udah deh. Tanya sama Pak Rasya saja yang sudah pernah kuliah sampai S3 di sana," suruh Nadhif lagi.
"Es buah kakang ada sama Aghni tuh, aku mau ambil es buah buat Pak Rasya," tunjuk Nadia.
Nadia pun bangkit dan melangkah menghampiri Rasya, duduk di sampingnya. "Pak Rasya mau es buah?" tawarnya pada pria tersebut.
"Suapi ya," pinta Rasya.
Nadia membuka tutup cup gelas mika es buah yang dipegangnya, lalu memasukan sendok plastik dan sedotan ke dalamnya. Menyodorkan sedotan ke bibir Rasya bergantian ke bibirnya sendiri. Selanjutnya menyuap potongan buah ke mulut Rasya bergantian bergantian dengan mulutnya sendiri.
Rasya tersenyum memandangi gadis di sampingnya, rasanya gimana gitu, enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Bapak kenapa senyum-senyum?" tanya Nadia yang terpaksa membalas dengan tersenyum pula.
"Kalau makan pakai bekas bibir orang lain, itu katanya sama saja dengan berciuman, Asa." ucap Rasya masih menampilkan senyumnya.
Nadia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Berarti saya sudah berciuman dengan Bapak donk," ucapnya shock.
"Yah, padahal aku pengen ciuman pertama ku hanya dengan suamiku," sesal Nadia.
"Anggap saja aku ini suami kamu," ucap Rasya enteng dengan tersenyum jahil.
"Ih." Nadia hanya mencebik.
'Sabar, Asa. Tidak sampai liburan semester yang akan datang, kita pasti sudah sah menjadi suami istri. Tinggal nunggu putusan dari pengadilan agama paling tidak satu atau dua bulan lagi,' janji Rasya dalam hati. Rasya melanjutkan acara memancingnya.
Matahari kini tepat berada di atas kepala, bayangan benda tak nampak dari pandangan mata. Mereka memutuskan untuk menghentikan acara memancingnya kali ini. Mereka mengemas barang-barang dan meninggalkan gubuk. Sampai di tepi danau, dari arah lain Amir mendekat dengan membawa ikan pancingannya yang tidak kalah banyak.
Mereka memutuskan untuk menyerahkan hasil pancingan mereka kali ini kepada Mang Dudung, supaya bisa dimasak untuk lauk makan orang-orang yang ikut jamaah Manaqib nanti malam. Setelah itu mereka pulang ke tempat masing-masing. Rasya, Nadia dan Amir kembali ke hotel, sementara Nadhif kembali ke kontrakan dengan mengantar Aghni terlebih dahulu ke rumah Omnya.
Sekitar pukul tujuh malam, Prima dan Rayan telah sampai di hotel. Mereka juga mengajak istri dan anak dari Amir. Mereka tidak memesan kamar untuk menginap. Prima bergabung di kamar Nadia, sementara Rayan bergabung di kamar kakaknya - Rasya. Tentu saja istri dan anak Amir bergabung di kamar Amir yang memang dari awal sudah memesan kamar khusus untuk keluarga.
Saat ini Rasya dan Nadia sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamar mereka yang terhubung.
"Asa, mana nomor rekening bank kamu? Biar saya transfer honor kamu," pinta Rasya.
"Ada di tas ransel saya, Pak. Tetapi saya tidak punya kartu ATM," sahut Nadia.
"Tidak apa-apa, hari Jum'at besok 'kan kamu masih libur, kamu bisa antri di bank untuk mengambilkan uangnya," cetus Rasya. Soalnya saya sedang tidak pegang uang tunai banyak," ucap Rasya memberi alasan.
Rasya membuka dompetnya, "cuma ada dua juta," ucapnya.
"Itu juga sudah banyak. Memangnya honor saya berapa, Pak?" tanya Nadia penasaran.
"Biasanya seorang arsitek itu membandrol rancangannya seharga 100 ribu hingga satu juta rupiah per meter persegi," tutur Rasya.
"Tapi saya 'kan bukan arsitek, Pak. Sepertinya dua juta sudah cukup buat saya untuk upah kerja selama sepuluh hari," timpal Nadia.
"Ya sudah, ini kamu pegang dulu. Nanti kalau saya sudah tarik tunai, saya tambahi," ucap Rasya menyerahkan uang yang dipegangnya kepada Nadia.
"Sepertinya di bawah ada mesin ATM, Pak. Di samping pintu masuk," tutur Nadia yang merasa seperti melihat Mesin ATM di lantai satu.
"Yuk temani! Sekalian kita jalan ke luar. Ini 'kan malam terakhir kamu di kota ini. Selama di sini juga kita belum pernah jalan-jalan ke luar, cari tempat-tempat yang asyik buat nongkrong," cetus Rasya.
"Kan selama ini Bapak sibuk," sergah Nadia.
__ADS_1
"Makanya mumpung sekarang kamu masih di sini, saya akan tunda pekerjaan saya." Rasya masih berusaha membujuk. "Gimana?" tanyanya lagi. Nadia pun menjawab dengan anggukan.
"Ambil jaket kamu sana!" suruh Rasya.
Nadia masuk ke dalam kamarnya, mengenakan jaket dan tas selempang nya.
"Mau kemana, Nad?" tanya Prima.
"Enggak tahu, Pak Rasya ngajak aku jalan-jalan ke luar. Ikut yuk!" ajak Nadia.
"Enggak ah, takut ganggu kalian. Mending aku istirahat buat perjalanan pulang besok," tolak Prima.
"Ya udah, aku berangkat ya," pamit Nadia.
"Hati-hati!" pesan Prima.
"Oke, Bos," sahut Nadia dengan mengacungkan ibu jarinya sambil melangkah ke pintu.
Saat Nadia menutup pintu, Rasya sudah menunggunya di depan kamar, mengulurkan tangan kanannya untuk Nadia. Nadia menyambut uluran tangan tersebut. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan senyum menghiasi bibir masing-masing hingga sampai di basemen parkir. Tangan mereka terlepas saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Nadia saat mobil tengah melaju membelah jalanan kota.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri," sahut Rasya tanpa berpaling dari jalanan yang ada di depannya.
Hingga akhirnya Rasya memarkir mobilnya di area parkir tempat wisata malam di Bandung.
Nadia membaca sekilas sebuah papan nama, "Dago Tea House."
Rasya kembali menggandeng tangan Nadia untuk masuk ke dalam. Mereka masuk ke dalam stand kuliner.
Mereka memilih tempat untuk duduk. Mereka duduk berhadapan. Di kejauhan nampak terlihat pemandangan kerlap-kerlip kota Bandung pada malam hari.
"Mau makan apa, Asa?" tanya Rasya.
"Sebenarnya sih, saya pengen makan cilok, Pak." Nadia menjawab dengan berbisik.
"Hahaha ... Masa jauh-jauh kemari cuma mau makan cilok. Di sini ada banyak sekali kuliner dari masakan tradisional sampai hidangan Asia-Afrika," tutur Rasya.
"Ya udah, aku pengen kuliner yang terkenal dari kota ini saja deh, Pak. Bolu susu atau pisang bolen," Nadia akhirnya menentukan pilihan.
"Yakin mau menghabiskan dua-duanya?" tanya Rasya lagi memastikan.
"Emm ... Pisang bolen saja deh," keputusan Nadia akhirnya setelah menimbang-nimbang.
Saat seorang pelayan menghampiri, mereka langsung memesan pisang bolen dan dua gelas teh hangat.
Pesanan pun segera datang, karena mereka tadi telah menyantap makan malam, maka untuk pisang bolen mereka hanya memesan satu porsi saja hanya untuk menuruti keinginan.
.
.
__ADS_1
.
TBC