Titian Cinta Nadia

Titian Cinta Nadia
Membantumu


__ADS_3

Nadia kembali terjaga dari alam mimpi, ia mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan dengan ruangan kamarnya yang gelap. Ia memang terbiasa tidur dalam kegelapan, ia tidak bisa tidur jika lampu masih terang benderang. Nadia lalu meraba ponselnya yang sedang diisi daya, dua puluh menit lagi pukul empat pagi. Mau tidur lagi sebentar lagi subuh.


"Lebih baik aku menyetrika baju yang nanti mau kupakai saja, kalau siang dikit bisa-bisa ngantri sama yang lain," pungkasnya, lalu meletakkan kembali ponselnya di meja.


Nadia meraba saklar, seketika kamarnya menjadi terang. Ia keluar dari kamar menuju ke belakang untuk menguras kembali kemihnya dan mencuci muka. Kemudian mempersiapkan perlengkapan untuk menyetrika. Dua hari libur akhir pekan ternyata ia malas juga untuk merapikan pakaiannya. Hari ini tepat satu minggu Nadia menjalani masa kuliahnya. Dan hari ini juga dia harus mengumpulkan tugas membuat makalah yang diberikan oleh Pak Rasya.


Saat kumandang azan subuh mulai terdengar, teman-teman kostnya satu persatu mulai ke luar dari kamar.


"Hai, Nad. Nitip satu ya," pinta Sari yang baru dari arah kamar mandi melihat Nadia sedang menyeterika.


"Maaf sudah subuh, Mbak. Aku mau sholat, setrika sendiri saja ya," tolak Nadia pada sari yang memang kebiasaan suka nitip kalau ada anak kost lain yang sedang menyeterika baju.


"Aku udah terlanjur ambil air wudhu nich, satu saja, Nad. Please!" tak jera juga Sari masih memohon.


"Boleh, asal dibayar seporsi bubur ayam," Nadia memberikan syarat. "Ya udah bawa sini, beneran satu saja ya. Tanganku sudah pegal nich," perintahnya.


"Makasih, Nad. Aku ambil dulu bajunya ya," seru Sari girang. Ia segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil baju.


Tidak berselang lama Sari keluar dengan beberapa hanger baju di tangannya. Nadia semakin jengah dengan tingkah teman kostnya tersebut. "Katanya cuma satu?" protesnya.


"Iya, Nad. Blus satu, celana satu, kerudung satu," sahut Sari cengengesan.


Nadia memutar bola matanya malas. Dengan berat hati ia terpaksa menyeterika tiga helai baju milik teman kostnya tersebut. "Sekalian saja dalaman sama seprai satu-satu juga. Menyebalkan," gerutunya. "Kalau aku bukan orang baik, sudah kubiarkan baju-baju ini terbakar," Nadia terus saja mengomel sambil menyeterika.


"Sepertinya sekali-kali tuh cewek perlu dikasih pelajaran deh, bukan bermaksud dendam sih, cuma buat dia jera saja," cetus Nadia.


Selesai menyetrika baju, Nadia membawa lipatan bajunya ke dalam kamar, sementara punyanya si Sari dibiarkan saja di tempat semula, biar diambil sendiri sama pemiliknya. Nadia meletakkan bajunya di tempat tidur. Ia mengambil handuk dan baju ganti, lalu kembali ke kamar mandi untuk mandi dan berwudlu.


Seperti janjinya, matahari selalu terbit tepat waktu, menampakkan sinarnya yang cerah pagi ini. Burung-burung bernyanyi riang menyambut kehadirannya. Para pekerja melangkah dengan optimis ke tempat mereka bekerja.


Pagi ini Nadia sudah siap untuk berangkat kuliah. Ia keluar dari kamarnya dengan tas ransel di punggungnya. Dari arah pintu, Devi tergopoh-gopoh membawa tas kresek bening berisi kotak sterofoam menghampirinya.


"Nad, ini bubur ayam kamu," ucap Devi menyerahkan bungkusan yang dipegangnya.


Nadia menerimanya seraya berucap, "Terimakasih, Mbak."


"Dua belas ribu ya, mana uangnya?" timpal Devi menengadahkan tangan.


"Lho kok? Enggak dibayar sama Mbak Sari, Mbak?" tanya Nadia kaget.


"Enggak tuh. Dia bilang kamu nitip minta dibelikan bubur, tetapi belum ngasih uang," papar Devi.


"Asem banget memang tuh cewek, ini kan bubur upah aku nyetrikain bajunya dia, Mbak." gerutu Nadia namun tetap mengambilkan uang dari dalam saku tasnya.


"Lagian kamu mau-maunya nyetrikain bajunya dia," cerca Devi.


"Mbak Sarinya mana?" tanyanya sambil menyerahkan uang tersebut kepada Devi.


"Udah berangkat kerja dia," jawab Devi ngeloyor pergi ke kamarnya.


Nadia duduk di kursi ruang tamu. Ia meletakkan bungkusan bubur ayam yang baru di terimanya di atas meja, membuka dan menikmatinya dengan perasaan dongkol. "Kalau tahu mesti bayar, mendingan makan nasi di kantin kampus saja, udah murah enak lagi," gerutunya.

__ADS_1


"Udah selesai makannya? Berangkat bareng yuk!" ajak Devi yang baru saja ke luar dari kamarnya.


"Tunggu sebentar ya, Mbak. Aku mau ambil air minum dulu," sahut Nadia yang kemudian melepas tas punggungnya, menaruhnya di kursi, lalu membawa wadah bekas buburnya sekalian ke belakang.


Devi menunggu Nadia di teras sambil memakai sepatu. Sesaat Nadia keluar dari dalam rumah menghampirinya.


"Ayo, Mbak!" ajaknya.


Devi bangkit dan melangkah beriringan dengan Nadia. Mereka menyusuri jalan gang diselingi gurauan. Hingga tak terasa mereka telah sampai di kampus karena asik mengobrol. Mereka berpisah karena harus masuk ke ruangan kelas masing-masing.


Sampai di kelas, Nadia langsung ditodong oleh Radit dan Prima. "Lo enggak lupa sekalian bawa makalah gue dan prima 'kan, Nad?" tanya Radit menyambut kedatangan Nadia.


"Enggak lah masa iya lupa? udah aku bawa semua kok, punya kamu dan Prima," jawab Nadia sambil mencari kursi yang kosong, lalu duduk. Ia membuka isi tasnya, mengambil makalah milik Radit dan Prima. "Nih punya kamu, Dit," ucapnya menyerahkan makalah kepada Radit. "Yang ini punya kamu, Prima," lanjutnya menyerahkan makalah kepada Prima.


Tidak berselang lama, dosen yang mengampu jam mata kuliah pertama pun memasuki ruangan. Mereka mengikuti perkuliahan hingga akhir. Hingga jadwal berikutnya, tidak seperti minggu lalu yang gugup, kali ini Rasya memasuki kelas dengan penuh wibawa.


"Tugas yang saya kasih minggu lalu, tolong dikumpulkan ya!" perintah Rasya langsung sesaat setelah salamnya dijawab oleh mahasiswa. "Tidak ada kata lupa!" tukasnya.


"Sudah jadi kok, Pak," sahut salah seorang mahasiswa.


"Bagus, ayo taruh di meja saya!" suruh Rasya.


"Nitip, Dit," ucap Nadia pada Radit yang berdiri hendak mengumpulkan makalahnya di meja dosen. Radit menerimanya, teman-temannya yang lain pun juga ikutan nitip seperti Tania.


Rasya memulai memberikan materi kuliah, melanjutkan minggu lalu. Selama dua jam para mahasiswa mengikuti dengan hidmad. Jika ada salah seorang mahasiswanya yang mengantuk, ia tidak segan-segan melempar tutup spidol boardmarker yang dipegangnya. Wah, kalau ada spidol boardmarker cepat kering, itu pasti karena tutupnya hilang dibuang sama Pak Rasya.


Di menit terakhir, Rasya mengakhiri materi kuliah kali ini tanpa tugas. Namun, sebelum ia keluar dari ruangan, ia memberikan perintah kepada Nadia. "Asa, tolong kamu bawa semua makalah ini ke ruangan saya!" ujarnya.


"Kamu tidak mau? Ya udah, aku kasih kamu nilai E untuk tugas kamu," ucapnya semena-mena lalu keluar dari ruangan tanpa memperdulikan perasaan Nadia.


"Dasar dosen killer, Ortodok, diktaktor!" umpat Nadia. Namun, ia hanya menabung nama-nama binatang penghuni Ragunan dalam hati saja.


"Sssttt ... udah, aku bantu yuk," ucap Prima menenangkan Nadia dengan menawarkan bantuan.


Dengan perasaan dongkol Nadia mengambil separoh makalah yang terkumpul di meja dosen. Sementara separoh lagi diambil dan dibawa oleh Prima.


"Kenapa hari ini orang-orang banyak membuatku dongkol sih? Dari bangun tidur sudah diminta nyetrikain baju milik teman kos, sekarang disuruh bawa beban seberat ini," sungut Nadia.


"Tidak usah mengeluh begitu, seakan-akan kamu mendapat beban hidup yang berat saja. Jalani saja dengan ikhlas supaya tindakanmu dinilai ibadah, insya Allah kamu akan mendapat balasan yang setimpal," ucap Prima menirukan ucapan seorang ustadzah saat melangkah menyusuri koridor.


"In sya Allah, Ustadz Bary Prima," sahut Nadia.


"Enggak usah ditambah 'Bary' juga keles, lagian sejak kapan Bary Prima jadi ustadz?" bantah Prima.


Nadia hanya terkekeh. Sampailah mereka di depan ruang dosen, ruang rektor ada di dalam ruang dosen. Kebetulan ruangan itu saat ini sedang terbuka, sehingga mereka tidak harus susah-susah mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum, Maaf Bu, Pak, saya mau mengantarkan tugas ke ruangan Pak Rasya," ucap Nadia memohon ijin pada para dosen yang ada di ruangan tersebut.


"Silakan, Mbak. Itu ruangan Pak Rasya," ucap salah seorang dosen.


"Terimakasih, Pak, Bu," sahut Nadia.

__ADS_1


Nadia mendorong daun pintu ruang rektor yang terbuat dari kaca dan alumunium. Kemudian masuk ke dalam ruangan. Rasya tengah duduk di kursi kebesarannya.


"Assalamu'alaikum, maaf, ini makalahnya ditaruh di mana, Pak?" tanya Nadia.


"Wa'alaikumussalam, taruh saja di meja situ," sahut Rasya menunjuk ke meja dekat sofa. "Asa, kamu duduk di situ. Dan kamu Prima, kamu boleh keluar," lanjutnya.


Nadia kembali terkaget. "Kenapa cuma Prima yang boleh keluar, Pak?" tanyanya heran.


"Sudah nurut saja! Kamu boleh keluar, Prima," ulang Rasya.


"Terimakasih, Pak," ucap Prima. "Aku tunggu di kantin ya, Nad," bisiknya pada Nadia, ia lalu keluar dari ruangan.


"Pak Rasya enggak tahu apa kalau perutku sudah lapar banget tadi pagi cuma sarapan bubur ayam," gerutu Nadia dengan kepala menunduk.


"Saya mendengar, Asa. Kamu tidak usah khawatir, saya sudah pesankan makan siang buat kamu," ungkap Rasya.


Nadia memberanikan diri mendongakkan kepalanya, "Sebenarnya maksud Bapak apa menahan saya di sini?" tanyanya.


"Bawa makalah kamu kemari, lalu kamu koreksi semua makalah punya teman-teman kamu?" titah Rasya.


Nadia kembali kaget, "Sebanyak ini, Pak?" tanyanya.


"Kamu tenang saja, saya akan membayar tenagamu. 50 ribu per makalah, bagaimana?" tawar Rasya.


"Tapi, Pak," cegah Nadia.


"Kurang? 75 ribu per makalah," timpal Rasya.


"Maksud saya ...."


"100 ribu per makalah dech, itu sudah harga tertinggi ya," pungkas Rasya


'Wah, 100 ribu per makalah? Jumlah makalah ini sama punyaku 40, berapa tuh uangnya,' batin Nadia senang.


"Saya setuju, Pak. Maksud saya, apa pekerjaan ini boleh saya bawa pulang?" tanya Nadia pelan.


"Tidak! Saya tidak mau pekerjaan yang tertunda-tunda. Kamu harus menyelesaikannya di sini, sampai malam juga saya akan tunggu," tukas Rasya.


"Baiklah," sahut Nadia akhirnya.


"Mana makalah punya kamu? Bawa sini!" tagih Rasya.


Nadia segera meloloskan sampul makalah yang dikenalnya, hanya ada tiga yang warnanya sama, punya dia, Prima dan Radit.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Semoga syukah 😘


__ADS_2